
***
Devano mengejar Delima hingga ke dalam mansion. Ia celingukan kesana kemari dan melihat siluet tubuh gadis itu di sisi barat. Kemudian mengikutinya sambil berjalan cepat.
Delima masuk ke dalam sebuah ruangan. Kamar tamu yang ditempati gadis itu.
Devano merasa beruntung karena pintu kamar itu tidak ditutup rapat oleh penghuninya. Saat Devano masuk, ia melihat Delima berdiri di depan jendela yang terbuka. Menatap taman tempat pesta diselenggrakan.
Delima meremas kedua tangannya disamping tubuhnya. Bibirnya ia gigit dengan kita mencoba menahan air mata supaya tidak menetea di pipinya.
Delima sadar jika ada seseorang yang mengikutinya. Maka dari itu ia tidak boleh menangis saat ini.
Devano berhenti tepat di belakang Delima dengan napas sedikit memburu. Menatap bagian belakang kepala gadis itu lembut. Ia menyesal karena sedari kemarin mengabaikan gadis yang sedang berdiri didepannya.
"Delima.."
Gadis itu diam.
"Delima.."
Dan masih diam.
Sebenarnya jantung Delima sudah berdebar sejak panggilan pertama. Dirinya begitu hafal dengan suara itu.
Delima terperanjat ketika tangan orang tu memegang kedua bahunya dari belakang. Kemudian dengan cepat memutar tubuhnya dan menjatuhkannya kedalam pelukan orang itu.
Delima memejamkan matanya. Membuat air mata yang sedari tadi menggenang jatuh. Ke pakaian orang yang memeluknya.
"Jangan menangis kumohon.." lirih Devano.
Ia mengecup pelan puncak kepala Delima. Menghirup wangi shampoo yang menguar dari rambut hitam gadis itu.
"Maafkan aku," ucapnya. "Maafkan aku karena mengabaikanmu sejak kemarin. Bukan maksudku-"
Devano terdorong kebelakang.
Gadis itu menolaknya?
"Jika anda sudah mempunyai kekasih. Untuk apa membawa saya kesini sebagai kekasih pura-pura." Suara Delima tercekat di akhir kalimat. Suaranya lirih dan bergetar.
Membuat jantung Devano makin berdebar. Berdebar karena merasa berasalah.
"Bu.. bukan seperti itu.. aku.."
"Apa tujuan anda membawa saya kemari, Tuan?".
"Delima dengarkan aku!"
Delima tersenyum tipis. Dirinya berjalan pelan menuju ranjang dan duduk di tepi.
Devano kemudian segera mengikutinya. Menatap gadis itu yang masih diam menatap ke arah jendela.
Devano makin merasa bersalah. Keegoisannya membuat gadis itu menjadi salah paham.
Devano kembali mendekati Delima. Dengan cepat memeluknya sebelum gadis itu menolak dirinya. Beberapa detik kemudian Devano sedikit melonggarkan pelukannya. Mengambil pipi gadis itu dan menariknya membuat kedua bibir dua insan itu menyatu lembut.
Delima membulatkan matanya. Jantungnya berdebar kencang. Apa yang sedang terjadi? Dirinya merasa blank.
__ADS_1
Tautan bibir terlepas. Devano menatap Delima lembut. Sedangkan yang ditatap, menatap pria itu dengan mata yang masih membulat kaget.
Napas Devano sedikit terengah. Menahan suatu gejolak keinginan terhadap gadis itu.
"Kau tau. Aku juga uring uringan sejak kemarin." Devano berkata lirih didepan wajah Delima. Napas pria itu yang beraroma mint berhembus pelan menerpa wajahnya.
"Aku hanya-, aku hanya sedang menahan diriku." Devano melanjutkan. Suaranya makin berat. Menatap gadis didepannya dengan tatapan mendamba. Ia ingin memiliki gadis ini! Sungguh!
"Delima..."
Setelah mengatakan itu, Devano kembali meraup bibir gadis manis didepannya.
Delima masih tidak bisa mencerna semua ini.
Perasaannua campur aduk. Sedih, senang, berdebar. Menjadi satu.
Pria didepannya ini mengecupnya dengan lembut. Membuat Delima makin tidak bisa berpikir lagi.
Dirinya diam saja merasakan kelembutan yang diberikan pria itu. Dia belum pernah berciuman dengan siapapun kecuali di dalam mimpi waktu itu.
Tangan pria itu berpindah dari pipi ke pinggangnya. Meremas pinggangnya lembut. Mendorong tubuhnya hingga keduanya terbaring di atas ranjang.
Delima memejamkan matanya erat. Gerakan pria itu dibibirnya semakin menuntut. Delima merasa kewalahan. Baru kali ini dirinya merasakan sensasi seperti ini. Seperti ada ribuan kupu-kupu yang terbang di dalam perutnya.
Tangannya yang sedari tadi meremas bajunya sendiri berpindah ke lengan berotot pria itu dan meremasnya dengan sedikit kuat ketika pria itu menggigit bibirnya pelan.
"Eum..."
Devano tersadar akan perilakunya dan langsung menghentikan kegiatan itu.
Delima membuka kelopak matanya pelan.
"Kenapa.."
"Aku tidak bisa menahannya, Ima.."
"Ima?" Delima berkata lirih.
Devano tersenyum menatap wajah gadis didepannya yang sangat merah. Panggilan yang manis bukan?
"Aku tidak menganggapmu sebagai kekasih pura-pura.."
Devano kembali tersenyum kemudian mengecup sekilas bibir itu lagi membuat Delima memejamkan matanya.
"Ayo. Kita kembali ke pesta."
Devano kemudian menuntun Delima untuk berdiri. Merapikan beberapa anak rambut yang berantakan. Mengusap pipi gadis itu yang sedikit basah karena air mata.
"Apa perlu dandan lagi?"
Delima menggeleng. Otaknya masih nge-lag. Belum bisa mencerna kejadian barusan yang terjadi pada dirinya. Jantungnya masih berdebar. Napasnya sedikit memburu. Ia malu.
"Tapi lipstikmu hilang"
Wajah Delima semakin memerah. Tentu saja. Ulah siapa?
"Duduk dulu aku panggilkan Cloe."
__ADS_1
Devano kemudian keluar dari kamar itu.
Delima memegang dadanya yang sedari tadi berdisko tidak karuan. Kemudian tangannya berpindah memegang bibirnya.
"Tadi itu... apa yang kami lakukan?"
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Bibirnya ia gigit pelan. Bekas pria itu masih terasa disana. Bahkan wangi tubuh pria itu serasa menempel di tubuhnya.
Tak lama kemudian Devano kembali membawa Chloe. Delima yang sedang duduk langsung menunduk.
Delima terperanjat ketika pria bernama Cloe berjongkok di depannya.
"Wow apa yang terjadi nona? Wajah anda kenapa menjadi seperti ini?" Ucap Cloe dengan bahasa asing.
Cloe terheran karena make upnya agak sedikit berantakan. Tatapan mata Cloe mengarah ke bibir Delima yang memerah. Bukan hanya bibirnya tapi kulit disekitar bibir gadis tu juga sedikit merah.
Cloe kemudian menatap Devano. Berdiri kemudian bersedekap di depan dada.
"Hem.. Anda ini sedikit berlebihan huh?" Ucap Cloe dengan bahasa asingnya.
Devano memutar bola matanya malas.
"Segera perbaiki riasannya. Kami akan turun." Devano juga menjawab dengan bahasa asing.
"Baiklah-baiklah. Untung saja saya msih disini. Iya kan Tuan Muda?"
Delima yang tidak paham hanya diam dan menunduk. Masih merasa malu jika menatap Pria yang barusan melakukan hal...... Delima menggelengkan kepalanya pelan.
"Ima.. Cloe akan memperbaiki riasanmu. Aku akan menunggumu di ruang tamu."
Setelah mengatakan itu, Devano keluar dari kamar tamu itu.
***
Devano berjalan cepat ke kamarnya. Ia menguncinya dan dengan tergesa masuk ke dalam kamar mandi pribadinya. Ia bermonolog didepan cermin yang tergantung di sisi tembok.
"Apa yang aku lakukan." Devano mengusap wajahnya sedikit kasar.
"Hampir aja aku memperk*sanya." Lanjutnya
Devano menghembuskan napasnya kasar.
Baru kali ini ia merasakan sensasi seperti ini. Sebagai pria dewasa dan normal, siapa yang tidak tergoda pada gadis yang dicintai?
Eh?
Bahkan hanya dengan berciuman membuat tubuhnya didatangi geleyar panas yang entah dari mana datangnya.
"Aku harus menyelesaikannnya sekarang juga."
Devano kemudian melakukan sesuatu disana.
***
Hayoo para pembaca tolong jangan berpikir macam-macam ya. Devano hanya sedang main remote control kok 😄
__ADS_1