
***
Delima terbangun di malam hari karena suara hujan di luar rumah.
Delima terduduk di ranjang kemudian mengambil ponselnya.
"Tidak ada sinyal..." ucapnya.
Delima menepuk keningnya pelan.
"Kan ini di luar negeri.." Delima meringis. Merasa bodoh.
KLIK
Tiba-tiba lampu kamar itu mati membuat kamar tersebut menjadi gelap gulita. Jantung Delima mulai berdebar kencang. Dirinya memang cukup takut jika dihadapkan dengan mati listrik. Seperti saat ini.
Napas Delima mulai memburu. Keringat dingin mulai bercucuran. Ia ingin teriak tapi tidak bisa berteriak.
CKLEK
"Delima?" Seseorang tiba-tiba masuk ke kamar tamu dan membawa sebuah senter yang menyala. Orang itu mendekati ranjang. Delima langsung meloncat dari ranjang dan memeluk erat orang yang memegang senter. Membuat keduanya terjatuh di atas rajang.
KLIK.
Lampu kembali menyala temaram karena saat akan tidur, hanya lampu kamar yang Delima nyalakan. Dia insan disana saling menatap. Napas keduanya saling bersahutan. Begitu juga dengan detak jantung mereka berdua.
Devano menggeram pelan melihat bibir merah alami di depannya. Ia menahan sesuatu yang mendorongnya melakukan sesuatu pada bibir gadis dibawahnya. Ia ingin melakukannya tapi dirinya takut. Takut Delima marah padanya.
Saat kejadian di pesta ulang tahun Almira ia sudah pernah merasakan betapa lembutnya bibir itu. Tapi saat itu Delima langsung tertidur dan esoknya gadis itu terlihat bersikap biasa saja dan tidak mengungkit apapun. Sepertinya gadis itu tidak sadar jika ciuman itu nyata adanya.
__ADS_1
"Tidurlah.." ucap Devano lirih. Kemudian bangkit dari atas tubuh Delima.
"Terimakasih kak." Delima bangkit dan menunduk malu. Jantungnya masih berdebar karena kejadian tadi.
"Hm."
"Kakak kenapa? Marah?" Delima yang mendengan gumaman datar sontak mengajukan pertanyaan seperti itu.
"Tidak."
"Kakak marah? Kenapa marah?" Delima semakin penasaran. Dirinya takut pria didepannya marah walaupun entah karena apa. Mendengar jawaban datar dari pria didepannya menbuat Delima merasakan sesuatu yang tidak nyaman.
"Tidurlah." Devano kemudian berjalan keluar kamar tamu yang ditempati Delima, meninggalkan gadis itu.
Sebenarnya Devano bersikap seperti itu karena ia takut. Takut dia berbuat kebablasan. Ia menahan semuanya sejak tadi.
Delima menatap pintu itu sedih. Kenapa Devano menjadi berubah seperti itu dalam sekejap? Apa yang dirinya perbuat? Apakah karena tadi dirinya menarik tubuh pria itu sampai menindihnya? Bahkan ia tidak sengaja. Tapi sepertinya pria itu marah karena kejadian tadi.
Delima menatap jam dinding di kamar itu yang menunjukkan pukul lima pagi. Ia beranjak dari ranjang dan menuju kamar mandi.
Setelah merasa segar dirinya keluar kamar dan menuju dapur.
"Tante Regina?"
"Loh Delima. Sudah bangun? Sini bantu ibu masak. Ibu sedang memasakkan makanan kesukaan anak nakal itu. Kemarilah."
Delima kemudian mendekati Regina dan mulai menbantu wanita paruh baya yang masih terlihat muda dan cantik.
"Ibu aku pergi dulu dengan ayah." Devano tiba-tiba muncul menbuat dua perempuan yang berkutat di dapur menoleh ke arah sumber suara.
__ADS_1
Tatapan Delima dan Devano bertemu. Tapi Devano dengan segera memutuskannya kemudian berdehem.
"Kau ini kesini bukan untuk bekerja! Kenapa kau malah ikut ayahmu?"
"Tidak apa-apa ibu. Lebih baik masakkan saja besok. Hari ini aku mau ikut meninjau proyek ayah."
Setelah mengatakan itu Devano pergi dari dapur.
"Yasudah yuk masak untuk kita saja!" Ucap Regina semangat.
Delima hanya mengangguk kemudian meneruskan kegiatannya memotong wortel sambil menahan sesuatu dalam hatinya.
'Masih marah.'
Selesai memasak kini waktunya makan. Delima sedari tadi hanya mengaduk-aduk makannya.
"Kenapa tidak dimakan, nak? Tidak enak ya?"
"Ti-tidak. Bukan seperti itu tante.."
"Iya. Kalau ada pikiran yang mengganjal jangan sampai kamu malas makan. Kamu itu sedang berpikir jadi harus banyak makan!"
Inilah yang ia sukai dari ibu Devano. Beliau sangat perhatian. Ia menjadi sedikit bahagia. Sejak kecil dirinya tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu.
Delima mengangguk setelah mendapatkan nasehat dari Regina kemudian mulai memakan makanan disana.
"Nanti siang kamu harus ikut ibu ya. Kita harus berdandan yang cantik. Harus kita lakukan supaya pria-pria dirumah ini terpesoma pada kita hihihi."
Delima hanya tersenyum. Aura Regina begitu positif me buatnya sedikit melupakan ketidaknyamanan dalam hatinya.
__ADS_1
***