CEO Dan Office Girl

CEO Dan Office Girl
Chapter 38 (Mengutarakan)


__ADS_3

***


Devano dan Delima menikmati makan sorenya dengan diam.


Sebenarnya Devano sedikit heran dengan perubahan sikap Delima setelah ia


mengatakan akan dijodohkan. Bolehkah ia berharap jika itu artinya Delima


memiliki perasaan padanya?


Setelah selesai makan, Delima segera membersihkan meja dan


melakukan tugas mencuci piringnya. Devano masih menunggu di meja makan dan


menatap Delima dalam diam.


“Kau kenapa?”, tanya Devano saat Delima kembali duduk di


meja makan.


“Tidak apa-apa, kak.”, jawab Delima sambil menunduk.


Devano menghela napas, “Ikut aku.”


Delima beranjak dan mengikuti Devano ke ruang tengah. Devano


membuka gorden dan menatap pemandangan kota yang terlihat dari jendela besar


apartementnya. Delima berdiri di belakang Devano terkejut saat tiba-tiba Devano


berbalik dan merengkuh pinggangnya. Refleks kedua tangan Delima mencengkeram


kedua lengan Devano.


CUP


DEG


Jantung Delima serasa berhenti berdetak, napasnya seketika


sesak ketika Devano menempelkan bibirnya.


“Aku akan menolak perjodohan itu.”, ucap Devano lirih.


Keningnya ia tempelkan di kening gadis manis di depannya. Delima hanya diam tak


bergerak.


Devano akan menolak perjodohan itu.


“Aku ingin kau menjadi milikku.”


“Aku bukan barang.”


Devano menjauhkan kepalanya setelah mendegar perkataan polos


Delima. Ia menatap gadis didepannya dengan gemas. Ia ingin mencubit pipinya!


“Hahaha!”, Devano tergelak. Namun setelah itu ia mencium


kening Delima.


“Maksudku. Aku hanya menginginkan dirimu dalam hidupku!”,


ucap Devano mantap.


Delima menatap pria di depannya bingung. “Jadi aku akan


selamanya bekerja disini? Menjadi ART? Tidak mau!”


Delima mengerucutkan bibirnya sebal.


Devano melongo, serasa ingin menjatuhkan rahangnya mendengar


perkataan Delima.

__ADS_1


“Bu-bukan itu. Maksudku.. Aiiishh!”, Devano memeluk tubuh


kecil itu gemas.


“Ish! Sesaaaak!”


“Dengar.”, Devano berbisik membuat Delima terdiam. “Aku akan


menolak perjodohan ini, aku ingin kau tetap disampingku karena aku menyukaimu


dan kau akan tetap bersamaku!”


Ck. Sungguh tidak romantis menurut Devano. Seharusnya ia


mengatakannya sambil  makan malam


romantis atau sambil memberikan bunga. Tapi bagaimana lagi. Ya sudahlah. Ia


sudah tidak sabar mengutarakannya. Keburu ditikung Marvel kan payah.


Jantung Delima berdebar semakin membabi buta. Gila!Ini gila!


Devano menyukai dirinya? Apakah ini mimpi? Kepala Delima terus memikirkan


perkataan Devano barusan.


“Kenapa kau diam saja?”, tanya Devano. “Atau.. Kau memang


tidak menyukaiku? Karena aku menyebalkan? Iya?”


Delima menggeleng,”Aku.. aku hanya terkejut. Aku. Aku..”


Delima melepas tangan Devano dari tubuhnya kemudian pergi


menjauhi pria itu. Devano kebingungan. Apakah artinya ia ditolak? Miris.


Delima megambil tas kecilnya di sofa kemudian berjalan cepat


menuju pintu keluar.


apartement. Wajahnya sudah semerah tomat.


What? Devano mengerjapkan matanya. Jadi bagaimana? Dia


ditolak atau bagaimana sih?


Devano mengambil ponselnya.


“Halo! Kenapa kau pergi?! Jadi bagaimana?!”, tanya Devano


kesal.


‘Bagaimana apanya! Kenapa menelponku!’, jawab Delima di


seberang sana.


TUUT


Telepon dimatikan dari seberang.


Rasanya Devano makin galau karena ia belum tahu apakah


Delima juga memiliki perasaan yang sama atau tidak.


Delima tergesa-gesa masuk ke dalam taxi yang ia pesan.


“Jalan pak.”


Diperjalanan Delima tampak mengipas wajahnya yang terasa


panas. Kemudian meremas tangannya. Bibirnya ia gigit dengan gemas.


“Ish! Apa itu sebuah pernyataan cinta?”, guman Delima. “Kenap


tadi langsung kabur? Kak Devano pasti salah paham.”, lanjutnya. Delima menghela

__ADS_1


napasnya pelan. Ia yakin Devano pasti akan salah paham.


.


.


.


“Kak Marvel!”, Delima berteriak saat berhasil membuka pintu


kamar kakaknya membuat sang kakak yang sedang melamun di atas ranjang terlonjak


kaget.


“Mengagetkan saja!”, protes Marvel.


HUUUUFFTT


Delima menjatuhkan tubuhnya di samping Marvel.


“Kenapa? Adikku ini aneh sekali tiba-tiba kemari. Tumben.”


“Kakak yang aneh. Melamun terus. Jangan kelamaan berpikir,


nanti Shera diembat orang lain!”


“Apa-apaan? Tidak boleh!”, Marvel menutup mulutnya dengan


tangan.


Sial keceplosan.


“Hehehe. Iya kan Kakak menyukai Shera kan?”, Delima menggoda


Marvel dengan menyolek-nyolek punggung lebar kakaknya yang telah duduk di tepi


ranjang,


Marvel menghela napas. “Kata Tuan Adrew, mereka akan kembali


ke negara K seminggu lagi jika Shera membaik.”


Delima mengangguk. “Lalu?”


“Entahlah, kakak bingung. Kakak sangat sedih saat ia meminta


maaf.”


Keduanya terdiam.


“Sudahlah sana kembali ke kamarmu. Sudah makan?”


Delima mengangguk, “Sudah sama kak Devano.”, menyebut nama


Devano seketika wajahnya memerah lagi.


“Wajahmu merah. Kamu sakit? Aneh.”, tanya Marvel kebingungan


saat melihat wajah adiknya merona.


“Ti-tidak kok. Aku baik-baik saja. Cuma kepanasan, ya


kepanasan.”


Delima menjawab dengan terbat-bata. Akhirnya ia memutuskan keluar


dari kamar Marvel dan menuju kamarnya sendiri.


Di dalam kamar, Delima merenung.


“Kak Devano mau mebatalkan perjodohan ini. Maka aku juga


harus bisa menolak.”


To be continued

__ADS_1


__ADS_2