
***
Devano dan Delima menikmati makan sorenya dengan diam.
Sebenarnya Devano sedikit heran dengan perubahan sikap Delima setelah ia
mengatakan akan dijodohkan. Bolehkah ia berharap jika itu artinya Delima
memiliki perasaan padanya?
Setelah selesai makan, Delima segera membersihkan meja dan
melakukan tugas mencuci piringnya. Devano masih menunggu di meja makan dan
menatap Delima dalam diam.
“Kau kenapa?”, tanya Devano saat Delima kembali duduk di
meja makan.
“Tidak apa-apa, kak.”, jawab Delima sambil menunduk.
Devano menghela napas, “Ikut aku.”
Delima beranjak dan mengikuti Devano ke ruang tengah. Devano
membuka gorden dan menatap pemandangan kota yang terlihat dari jendela besar
apartementnya. Delima berdiri di belakang Devano terkejut saat tiba-tiba Devano
berbalik dan merengkuh pinggangnya. Refleks kedua tangan Delima mencengkeram
kedua lengan Devano.
CUP
DEG
Jantung Delima serasa berhenti berdetak, napasnya seketika
sesak ketika Devano menempelkan bibirnya.
“Aku akan menolak perjodohan itu.”, ucap Devano lirih.
Keningnya ia tempelkan di kening gadis manis di depannya. Delima hanya diam tak
bergerak.
Devano akan menolak perjodohan itu.
“Aku ingin kau menjadi milikku.”
“Aku bukan barang.”
Devano menjauhkan kepalanya setelah mendegar perkataan polos
Delima. Ia menatap gadis didepannya dengan gemas. Ia ingin mencubit pipinya!
“Hahaha!”, Devano tergelak. Namun setelah itu ia mencium
kening Delima.
“Maksudku. Aku hanya menginginkan dirimu dalam hidupku!”,
ucap Devano mantap.
Delima menatap pria di depannya bingung. “Jadi aku akan
selamanya bekerja disini? Menjadi ART? Tidak mau!”
Delima mengerucutkan bibirnya sebal.
Devano melongo, serasa ingin menjatuhkan rahangnya mendengar
perkataan Delima.
__ADS_1
“Bu-bukan itu. Maksudku.. Aiiishh!”, Devano memeluk tubuh
kecil itu gemas.
“Ish! Sesaaaak!”
“Dengar.”, Devano berbisik membuat Delima terdiam. “Aku akan
menolak perjodohan ini, aku ingin kau tetap disampingku karena aku menyukaimu
dan kau akan tetap bersamaku!”
Ck. Sungguh tidak romantis menurut Devano. Seharusnya ia
mengatakannya sambil makan malam
romantis atau sambil memberikan bunga. Tapi bagaimana lagi. Ya sudahlah. Ia
sudah tidak sabar mengutarakannya. Keburu ditikung Marvel kan payah.
Jantung Delima berdebar semakin membabi buta. Gila!Ini gila!
Devano menyukai dirinya? Apakah ini mimpi? Kepala Delima terus memikirkan
perkataan Devano barusan.
“Kenapa kau diam saja?”, tanya Devano. “Atau.. Kau memang
tidak menyukaiku? Karena aku menyebalkan? Iya?”
Delima menggeleng,”Aku.. aku hanya terkejut. Aku. Aku..”
Delima melepas tangan Devano dari tubuhnya kemudian pergi
menjauhi pria itu. Devano kebingungan. Apakah artinya ia ditolak? Miris.
Delima megambil tas kecilnya di sofa kemudian berjalan cepat
menuju pintu keluar.
apartement. Wajahnya sudah semerah tomat.
What? Devano mengerjapkan matanya. Jadi bagaimana? Dia
ditolak atau bagaimana sih?
Devano mengambil ponselnya.
“Halo! Kenapa kau pergi?! Jadi bagaimana?!”, tanya Devano
kesal.
‘Bagaimana apanya! Kenapa menelponku!’, jawab Delima di
seberang sana.
TUUT
Telepon dimatikan dari seberang.
Rasanya Devano makin galau karena ia belum tahu apakah
Delima juga memiliki perasaan yang sama atau tidak.
Delima tergesa-gesa masuk ke dalam taxi yang ia pesan.
“Jalan pak.”
Diperjalanan Delima tampak mengipas wajahnya yang terasa
panas. Kemudian meremas tangannya. Bibirnya ia gigit dengan gemas.
“Ish! Apa itu sebuah pernyataan cinta?”, guman Delima. “Kenap
tadi langsung kabur? Kak Devano pasti salah paham.”, lanjutnya. Delima menghela
__ADS_1
napasnya pelan. Ia yakin Devano pasti akan salah paham.
.
.
.
“Kak Marvel!”, Delima berteriak saat berhasil membuka pintu
kamar kakaknya membuat sang kakak yang sedang melamun di atas ranjang terlonjak
kaget.
“Mengagetkan saja!”, protes Marvel.
HUUUUFFTT
Delima menjatuhkan tubuhnya di samping Marvel.
“Kenapa? Adikku ini aneh sekali tiba-tiba kemari. Tumben.”
“Kakak yang aneh. Melamun terus. Jangan kelamaan berpikir,
nanti Shera diembat orang lain!”
“Apa-apaan? Tidak boleh!”, Marvel menutup mulutnya dengan
tangan.
Sial keceplosan.
“Hehehe. Iya kan Kakak menyukai Shera kan?”, Delima menggoda
Marvel dengan menyolek-nyolek punggung lebar kakaknya yang telah duduk di tepi
ranjang,
Marvel menghela napas. “Kata Tuan Adrew, mereka akan kembali
ke negara K seminggu lagi jika Shera membaik.”
Delima mengangguk. “Lalu?”
“Entahlah, kakak bingung. Kakak sangat sedih saat ia meminta
maaf.”
Keduanya terdiam.
“Sudahlah sana kembali ke kamarmu. Sudah makan?”
Delima mengangguk, “Sudah sama kak Devano.”, menyebut nama
Devano seketika wajahnya memerah lagi.
“Wajahmu merah. Kamu sakit? Aneh.”, tanya Marvel kebingungan
saat melihat wajah adiknya merona.
“Ti-tidak kok. Aku baik-baik saja. Cuma kepanasan, ya
kepanasan.”
Delima menjawab dengan terbat-bata. Akhirnya ia memutuskan keluar
dari kamar Marvel dan menuju kamarnya sendiri.
Di dalam kamar, Delima merenung.
“Kak Devano mau mebatalkan perjodohan ini. Maka aku juga
harus bisa menolak.”
To be continued
__ADS_1