Cerita Cinta Mafia

Cerita Cinta Mafia
13. Kecelakaan


__ADS_3

Sally menjadi begitu terkejut ketika dia melihat mobilnya sudah menghilang.


"Dasar kau bajingan." Teriak Sally dari luar basemen.


"Apa kau memanggilku sayang?" Ucap William dari belakang dirinya.


"Dimana mobilku?" Teriak Sally dengan marah.


"Kau memarkir nya di jalan yang salah. Jadi tadi ada sebuah truk derek yang datang dan membawanya pergi." Ucap William dengan tersenyum.


Sally lalu memegang kerah baju yang digunakan William secara tiba-tiba. Para pengawal William hendak menghentikan Sally. Tapi kemudian William mengangkat tangannya dan berkata, "dia akan menjadi kakak ipar kalian, jangan macam-macam. Dia bahkan bisa membunuh kalian semua jika dia mau."


"Sangat memalukan." Ucap Sally dan mendorong William dengan perlahan.


"Sally, kami bisa mengantar mu." Ucap David.


Tapi kemudian William menatap ke arah mereka. Mereka semua lalu tiba-tiba langsung duduk di dalam mobil mereka dan pergi menjauh.


William pergi dan membuka pintu mobilnya untuk Sally.


Sally tidak punya pilihan lain kecuali untuk pergi bersama William.


"Bos, biarkan saya yang mengendarai mobil." Ucap Assisten William.


"Aku ingin menghabiskan waktuku berduaan bersama tunangan ku." Ucap William dan duduk di kursi pengemudi.


Sebelum menyalakan mobil, William menerima sebuah panggilan telpon dari seseorang dan orang itu berkata, "Tuan, ada dua bom di dalam mobil Nona Sally dan kami sudah menjinakkannya."


Rahang William mengeras, tapi dia tetap berusaha tersenyum. Dia kemudian berkata, "buat seluruh mobil itu anti peluru dan tambah beberapa pengamanan di dalamnya." Ucap William dan kemudian menutup sambungan telepon.


"Kemana kita harus pergi istriku?" Tanya William seraya menghidupkan mesin mobilnya.


"Jangan panggil aku seperti itu." Ucap Sally dengan penuh kekesalan.


"Sayang, manis ku, baby, cintaku, pujaan hatiku..." Ucap William mulai menggoda Sally.


"Hentikan." Ucap Sally dengan wajahnya yang merona merah.


"Jadi yang mana yang bisa aku pakai untuk memanggilmu?" Tanya William dengan tersenyum.


"Tidak satupun." Balas Alia dengan dingin.


William tertawa dan bertanya, "kau ingin makan apa untuk makan siang ini?"


"Terserah." Balas Alia seraya melihat keluar dari jendela mobil.


Setelah beberapa menit kemudian....


'Apa-apaan ini? Kenapa rem nya tidak berfungsi?' ucap William dalam hati dengan wajah yang panik.


Sally kemudian melihat kearah william dan bertanya, "ada apa?"

__ADS_1


"Apa kau khawatir kepadaku?" Tanya William dengan tersenyum, tapi di dalam hatinya dia tengah ketakutan.


Mobil semakin melaju dengan cepat.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Alia dengan keras.


"Rem nya tidak berfungsi." Balas William.


"Apa?" Teriak Sally karena terkejut.


William memutar mobil itu dan mengendarainya kembali ke arah basemen.


Basemen itu berlokasi di tempat yang sunyi, jauh dari kota. Di sana ada sebuah gunung yang berada di belakang basemen. William tengah berkendara menuju ke sana.


"Pegang tanganku." Ucap William kepada Sally.


"Aku tidak takut." Ucap Sally.


William tersenyum dan berkata, "aku mencintaimu."


Ucapan William membuat Sally mematung. Mobil kemudian terjatuh dari atas gunung. William masih tersenyum pada Sally. Mereka berdua lalu melompat dari dalam mobil. Sally jatuh di atas sebuah batu besar yang membuat punggungnya terluka dengan parah. Punggungnya dipenuhi darah.


Di sisi lain, William terjatuh di tanah. Dia merasa begitu pusing. Dia lalu melihat Sally yang berbaring kesakitan di batu yang berada di atas dirinya. William lalu memanjat naik untuk melihat Sally meski dia terluka. Tangan dan kakinya berdarah, tapi tetap saja dia memanjat naik untuk melihat Sally.


Sally tidak sadarkan diri karena kesakitan.


"Sally...." Teriak William.


Ketika William menyadari bahwa tangannya penuh dengan darah Sally, tangan William pun mulai gemetar.


Ada sebuah gua di depan batu itu, William lalu membawa Sally masuk ke dalam gua itu dan membuka pakaian Sally.


William mengusap darah itu dan mengikat punggung Sally dengan pakaiannya.


'Sial! Tenang William, semuanya akan baik-baik saja. Aku tidak akan membiarkan dirimu untuk meninggalkan aku secepat ini.' ucap William dalam hati seraya mencari ponselnya di luar gua itu.


Saat William tengah mencari ponselnya, tiba-tiba hujan mulai turun dan hujan begitu deras.


"Sial." Ucap William seraya berjalan kembali masuk ke dalam gua dengan rasa takut.


William lalu melihat ke arah Sally. Sally tampak gemetaran dan kemudian William menyalakan sebuah api di dekat Sally untuk tetap membuatnya merasa hangat.


"Untung saja aku masih punya korek api bersama ku." Ucap William.


Sally akhirnya tersadar kembali dan dia begitu terkejut karena melihat tubuhnya yang tidak mengenakan pakaian lagi. Hanya dadanya yang tertutup dengan bajunya yang sudah terikat. Dia kemudian menutup seluruh tubuhnya dengan pakaiannya yang berada di sisinya.


"Aku sudah melihat semuanya. Jadi, apa yang kau sembunyikan?" Ucap William yang tampak menghangatkan tangannya di arah api.


Sally melempar batu kecil yang berada di tanah.


"Apa kau mau membunuhku?" Ucap Williams setelah dia mengangkat batu itu.

__ADS_1


"Dasar aneh." Ucap Sally kesal.


William tertawa dan kemudian berkata, "jangan pergi kemana-mana atau lukamu akan terbuka lagi."


"Kita ada di mana?" Tanya Sally.


"Kita ada di dalam gua." Balas William.


Sally mendekat kearah api untuk menghangatkan dirinya sendiri dan kemudian pandangannya beralih kepada tangan William yang masih berdarah.


Sally tiba-tiba mendekat kearah William dan memegang tangannya.


"Kenapa kau tidak menghentikan pendarahan nya? Dasar bodoh." Ucap Sally dan merobek baju nya.


Dia kemudian membantu William untuk mengikat lukanya. William pun tersenyum melihat Sally yang peduli kepadanya seperti itu.


"Berhentilah tersenyum." Ucap Sally dan mengikat luka William dengan keras.


"Ah!" Ucap William dengan kesakitan.


Sally tersenyum dan berkata, "ini adalah balasan untukmu, itu saja."


Api itu kemudian mati karena angin yang berhembus keras.


"Sekarang bagaimana?" Ucap William dengan menghela napas.


"Ya nyalakan lagi." Ucap Sally.


"Sudah, tapi tidak bisa." Balas William.


Sally menjadi gemetar karena udara yang dingin. Dia pun memeluk tubuhnya sendiri. Pakaiannya juga sudah koyak karena dia merobek nya untuk mengikat luka di tangan William.


William tersenyum dan duduk di belakang Sally.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Sally dengan suaranya yang gemetar.


"Ada dua metode untuk menghangatkan diri." Ucap William dengan tersenyum.


"Apa itu?" Tanya Sally dengan suara yang terdengar bingung.


William tertawa dan menarik Sally mendekat ke arahnya.


"Peluklah aku sekarang." Ucap William.


"Kau... Dasar kau mesum." Ucap Sally dengan wajah yang merona.


"Lalu, apakah aku harus melakukan sesuatu hal yang mesum itu?" Ucap William dengan tersenyum dan menarik Sally dengan lebih erat lagi.


"Tidak, aku tarik kembali apa yang aku katakan. Kau itu pria yang gentleman." Ucap Sally dan memegang tangan William.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2