Cerita Cinta Mafia

Cerita Cinta Mafia
7. Menjadi Wanitaku


__ADS_3

"Dasar wanita...." Ucap William seraya masuk ke dalam kamarnya.


William pergi ke balkon kamarnya, kemudian melompat ke balkon kamar Sally. Pintu balkon Sally tak terkunci, William pun dengan mudah masuk ke dalam.


Sally tengah mandi.


Sally keluar dari dalam kamar mandi dengan tubuh yang ditutupi handuk. Dia begitu terkejut saat melihat William duduk di depannya di tempat tidur.


"Apa yang kau lakukan disini?" Teriak Sally.


William berdiri lalu berkata, "ini sudah tengah malam dan kau bahkan tidak mengunci pintu balkon mu."


"Well, body mu tidak buruk." Ucap William setelah melihat tubuh Sally dari atas ke bawah.


"Dasar mesum!" Ucap Sally seraya menutup mata dengan kedua tangannya.


William kemudian memegang lengan Sally dan menariknya mendekat.


Sally berusaha melepaskan dirinya dari William.


"Kau tahu tubuhmu sangat lelah. Lalu kenapa kau membuang-buang energi mu?" Ucap William berbisik dengan lembut di telinga Sally.


Jantung Sally berdebar begitu kencang, ia merasa pipinya memanas.


William tersenyum melihat wajah Sally yang merona.


"Lepaskan." Perintah Sally.


"Katakan apa yang sudah terjadi padamu hari ini?" Tanya William.


"Akan aku ceritakan, tapi lepaskan aku dulu." Ucap Sally.


William melepaskan pegangannya pada tangan Sally kemudian melangkah mundur.


"Berikan aku waktu untuk mengenakan pakaian dulu, boleh kan?" Tanya Sally.


"Aku tidak masalah kau berpenampilan seperti itu." Balas William tertawa.


Sally menatap William dengan wajah yang serius.


"Bajingan." Ucap Sally kesal.


Sally kembali masuk ke dalam kamar mandi dengan tangan yang membawa pakaian.


Setelah selesai berganti pakaian, Sally keluar dari dalam kamar mandi. Ia mendapati William tengah berbaring di tempat tidur miliknya sambil memakan anggur yang tersedia diatas meja samping tempat tidur.


"Pertama-tama, duduk dengan benar dan jangan makan makanan milikku." Ucap Sally lalu duduk diatas tempat tidur.


William duduk dengan benar, kemudian berkata, "anggurnya manis sekali."


"Apa yang kau inginkan?" Tanya Sally setelah memijit keningnya beberapa saat.


"Aku hanya ingin tahu, apa yang terjadi padamu hari ini." Ucap William.


"Aku yakin, sebenarnya kau sudah tahu semuanya, sejak kau mengirim serangga-serangga milikmu untuk mengikuti aku." Ucap Sally.


William tak merespon, ia justru duduk dan pandangan yang fokus pada Sally tanpa berkedip sedikitpun.


"Iiihh, baiklah. Akan aku katakan, tapi setelah itu kau harus keluar dari kamarku." Ucap Sally.


William mengangguk dengan wajah yang menggemaskan, "baik." Jawabnya.


Sally memberitahu William tentang insiden itu kemudian mulai menceritakan semua yang terjadi.


William terlihat begitu marah.

__ADS_1


'Beraninya mereka menyerang wanitaku. Dasar manusia sampah yang tak berguna.' ucap William dalam hati.


Sally menepuk pundak William, lalu berkata, "sekarang pergilah."


"Aku tidak pernah berjanji untuk pergi." Balas William lalu kembali berbaring diatas tempat tidur Sally.


"Kau itu, serius lah...." Teriak Sally namun ia kembali terlihat tenang.


Sejak pagi Sally sudah begitu lelah, ia butuh istirahat. Sally lalu berbaring disamping William.


"Berani menyentuh rambutku sedikit saja, maka kau tidak akan pernah bisa menggunakan jari mu lagi." Ancam Sally dengan sorot mata yang menunjukkan aura mematikan.


Sally berbalik memunggungi William, dan tak lama setelah itu ia langsung tertidur lelap.


William menatap wajah Sally dengan tersenyum.


"Kau benar-benar wanita yang galak." Ucapnya.


William memeluk Sally yang tertidur lelap dari belakang, kemudian tidur dengan posisi seperti itu.


***********


Pagi berikutnya, Sally bangun karena silau cahaya matahari yang mengenai wajahnya.


"Siapa yang membuka gorden?" Teriak Sally seraya menutup mata dengan tangannya.


William tertawa kecil lalu menutup gorden kembali.


"Tidurlah lebih lama sampai aku mencapai kesepakatan dengan pria tua itu." Ucap William kemudian keluar dari kamar Sally.


Oliver tengah berdiri di depan pintu dengan senyum lebar di bibirnya.


"Apa?" Ucap William.


William memukul kepala Oliver dengan keras dan berkata, "jangan berpikir yang macam-macam."


"Aaauuu..." Ucap Oliver dengan memegangi kepalanya yang sakit.


"Berikan beberapa hadiah dariku untuk pria tua itu." Ucap William pada Oliver dengan wajah serius.


"Apakah mereka menyebabkan masalah lagi?" Tanya Oliver.


"Mereka seharusnya tidak menyakiti nya." Ucap William dengan senyuman marah.


'Sial ini tentang Nona Sally. Aku mendapat kabar bahwa Sabrina akan datang ke hotel ini dan aku tidak sabar untuk melihat drama diantara mereka.' ucap Oliver dalam hati.


"Kenapa kau tersenyum?" Tanya William dengan memicingkan matanya.


"Tidak ada." Balas Oliver lalu pergi untuk melakukan tugas yang diberikan William padanya.


William menghela napas kemudian pergi untuk menyiapkan sarapan untuk Sally.


William masuk ke dalam kamar Sally. Ponsel elena terdengar berdering. William lalu mengambil ponsel itu. Ia tampak tersenyum karena itu panggilan dari Papa Sally.


Suara nada dering yang terdengar membuat Sally bangun dan meminta William memberikan ponsel itu kepadanya.


Sally menjawab panggilan itu sambil mengusap matanya.


"Halo!" Ucap Sally dengan suara yang mengantuk.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Sang Papa yang terdengar khawatir.


"Aku baik." Balas Sally.


"Jangan keluar kemanapun." Ucap Sang Papa dengan suara yang tegas.

__ADS_1


"Yang benar saja? Aku bukan tipe orang yang takut terhadap mereka.Kenapa aku harus mengurung diriku dan membiarkan mereka berkeliaran di mana-mana." Ucap Sally.


"Aku tahu kau kuat, tapi jangan menghadapi musuh mu secara terang-terangan." Ucap Papa Sally.


"Tenang saja Pah." Ucap Sally.


Tiba-tiba William mengambil ponsel dari tangan Sally lalu memutuskan sambungan telepon itu.


"Kenapa kau mematikannya?" Tanya Sally dengan wajah heran.


"Ini waktunya untuk sarapan." Ucap William tersenyum.


"Helloo! Sekarang pergilah, kau benar-benar membuatku kesal." Ucap Sally seraya berdiri diatas tempat tidurnya.


William menghela napas lalu berkata, "baiklah."


William keluar dari kamar Sally.


'Huh! Aku pikir dia tidak akan mau keluar. Terserahlah aku tidak perduli.' ucap Sally dalam hati.


Sally lalu melihat ke arah sarapan yang dibawakan oleh William, dia tersenyum.


"Kenapa aku malah tersenyum?" Tanya Sally pada dirinya sendiri, kemudian pergi ke arah lemari mengambil baju ganti


Setelah itu Sally berganti pakaian.


Beberapa saat kemudian, Sally turun dari kamarnya setelah selesai sarapan.


Roni ada di sana menunggu dirinya, kemudian membukakan pintu mobil untuk Sally.


Sally masuk lalu duduk di dalam mobil. Roni meminta sopir untuk segera jalan


"Kau yang menggantikan posisi Theo untuk sementara waktu bukan?" Tanya Sally.


"Bukan sementara waktu Nona. Tuan Besar akan memecat Theo karena kejadian kemarin." Ucap Roni.


Sally menjadi terkejut lalu menelpon Papanya untuk meminta tidak memecat Theo. Sally terus bersikeras agar Theo tidak dipecat. Papanya pun setuju, tapi Roni yang bertugas menjadi pengawal nya sementara Theo menjadi asistennya.


Sally pun setuju.


Setelah bicara dengan Sang Papa, Sally bertanya kepada Roni, "bisakah kau mencarikan aku dua buah vila yang berdekatan satu sama lain?"


"Tentu saja Nona." Balas Roni.


Sally bergegas menuju rumah sakit, Jenny sudah sadar dan sedang berbicara dengan Theo.


Sally masuk ke ruang perawatan lalu meminta maaf kepada Jenny.


"Tolong Nona ini semua bukan salah Nona." Ucap Jenny.


"Theo jangan katakan tidak atas apapun yang akan aku lakukan." Ucap Sally.


Theo mengangguk.


Sally membayar semua tagihan rumah sakit Jenny kemudian membawa keduanya ke sebuah vila yang sudah dibeli nya dan diberikan atas nama Theo.


"Nona saya tidak bisa menerima semua ini." Ucap Theo dengan wajah yang tertunduk.


"Aku tidak memberikannya kepadamu tetapi kepada Jenny, mengingat rumahnya yang hancur karena kejadian kemarin." Ucap Sally seraya menyerahkan kunci villa kepada Jenny.


Jenny terlihat masih lemah, ia menerima kunci yang diberikan Sally.


'Dia sangat baik. Kenapa ada seseorang yang ingin membunuh orang yang sangat baik seperti dirinya?' ucap Jenny dalam hati


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2