Cerita Cinta Mafia

Cerita Cinta Mafia
26. Batal Bertunangan


__ADS_3

Sementara itu di rumah sakit...


Jasmine tengah berada di ruang gawat darurat dan tengah dilakukan pemeriksaan terhadapnya, dengan William yang berada di depan ruangan itu menunggu.


Oliver datang dan memperlihatkan dia tentang berita yang tersebar di media massa. Dimana berita itu adalah ucapan yang dikatakan Sally terhadap dirinya tadi, di tempat pertunangan.


"Sial." Ucap William. "Oliver, aku akan pergi. Tolong jaga dia untukku." Ucap William dan dengan cepat berjalan keluar dari rumah sakit.


'Kenapa gadis tidak tahu malu ini muncul lagi? Aku tidak memberitahukan semuanya kepada William tentang apa yang dia lakukan di belakangnya, karena dia sudah menghilang waktu itu. Tapi kali ini, aku akan memberitahu William semuanya. Sally pasti merasa dikhianati dan dia bukanlah tipe wanita yang akan duduk dan menangis begitu saja.' ucap Oliver dalam hati dan menghela napasnya.


Di sisi lain Sally datang ke perusahaannya masih menggunakan gaun pertunangan nya. Semua karyawan tengah membicarakan dirinya. Tapi tiba-tiba mereka semua berbicara dengan bersama-sama saat melihat kedatangan Sally.


"CEO, kami bersama anda." Sally tersenyum dan kemudian masuk ke dalam lift.


Max tengah pergi keluar untuk perjalanan bisnis. Sekretaris Sally datang ke ruangan Sally dan bertanya kepadanya.


"Apakah anda ingin saya membawakan anda kopi?"


"Belikan pakaian kerja untukku." Ucap Sally seraya melihat ke bawah meja dengan ekspresi yang sedih.


'Apa yang sebenarnya baru terjadi kemarin? Mereka terlihat begitu bahagia.' ucap sekretaris Sally dalam hati dan kemudian keluar untuk membelikan pakaian untuk Sally.


William datang ke perusahaan Sally. Dia berjalan dengan begitu cepat ke arah ruangan Sally.


"Sally!" Ucap William ketika dia masuk ke dalam ruangan Sally.


Sally tampak terkejut melihat William yang terlihat begitu kelelahan bernapas.


"Apa yang kau inginkan?" Tanya Sally dengan ekspresi yang dingin.


William mendekat kearah Sally dan memeluknya dengan erat, tapi Sally langsung mendorongnya dan berkata, "jangan sentuh aku."


"Maafkan aku Sally, tolong dengarkan aku." Ucap William.


"Maaf, itu hal yang sangat mudah untuk dikatakan bukan? Pertama, kau bilang aku mencintaimu kemudian sekarang, aku minta maaf." Ucap Sally dengan tersenyum dingin.


"Kumohon dengarkan aku. Aku pergi ke rumah sakit." Ucap William.


"Oh ya, jadi dia jatuh di suatu tempat atau membuat dirinya sendiri terluka." Ucap Sally dan melipat tangannya di dada.


"Dia bukanlah tipe orang yang seperti itu. Aku kenal dia dengan baik." Ucap William.


"Lalu untuk apa kau datang kemari? Kau seharusnya diam di sana menemani wanita simpanan mu itu, atau kau berencana untuk menjadikan aku sebagai simpanan mu." Ucap Sally.


"Cukup!!!" Teriak William dengan keras. "Dengarkan aku, ku mohon dengarkan aku dulu." William kemudian tampak tenang dan berkata dengan perlahan.


"Apa kau tahu apa yang aku kenakan saat ini?" Tanya Sally dengan tertawa dingin.


"Gaun pertunangan." Ucap William.


Sally tertawa kecil dan berkata, "jadi kau tahu hari apa ini?"


"Aku tidak pernah berpikir bahwa Jasmine akan terluka begitu parah. Dia terjatuh dari tangga pagi ini ketika aku sedang bersiap-siap untuk pergi ke acara pertunangan kita." Ucap William berusaha menjelaskan semuanya kepada Sally.


"Bagaimana bisa kau berkata bahwa dia jatuh. Dia bukanlah anak kecil." Ucap Sally.


"Kenapa kau tidak mempercayai aku? Dia sekarang berada di ruang gawat darurat. Lalu untuk apa dia harus menyakiti dirinya sendiri?" Ucap William.


"Mana aku tahu. Kalau begitu kenapa kau ada di sini. Pergilah bersamanya, dia membutuhkanmu." Ucap Sally dan berjalan keluar dari dalam ruangannya.


Saat Sally keluar, Oliver menelpon William dan berkata bahwa Jasmine sudah bangun. William bergegas keluar dari dalam ruangan Sally. Dan saat itu, Sally tengah berdiri di depan ruangannya.


William berhenti dan berkata, "aku akan kembali lagi. Jadi kau harus menunggu aku." Ucap William dan berjalan keluar dengan cepat.


"Hah...." Sally menghela napas dan kemudian mengambil pakaian dari sekretaris nya dan pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya itu.


Saat dia keluar, dia meminta kepada sekretaris nya untuk membuang gaun pertunangan nya itu.


Sementara itu di rumah sakit...


"Tunggulah, dia akan datang. Kenapa kau bertingkah seperti ini?" Ucap Oliver kepada Jasmine.


Jasmine tengah membuang semua barang yang berada di ruangan rumah sakit. Oliver memegang tangan Jasmine dengan keras dan berkata, "jangan bertingkah aneh. Aku sudah tahu dirimu yang sebenarnya.


Jasmine pun menjadi tenang dan wajahnya berubah pucat.


Tiba-tiba William masuk ke dalam ruangan itu dan bertanya, "apa yang terjadi?"


Jasmine langsung mendorong Oliver dan memeluk William.


"Ada apa Jasmine?" Tanya William kepadanya.


"Dia tengah mencoba untuk memaksa aku melayani nya." Ucap Jasmine dengan raut wajah yang ketakutan.


"APA??? Apa kau sudah gila! Kapan aku melakukan hal itu." Ucap Oliver.


"Cukup!! Keluar dari sini dan jangan pernah berada di dekatku selamanya." Ucap William kepada Oliver dengan wajah yang marah.


"Kau sudah menjadi begitu buta dan penuh kebodohan karena dirinya." Ucap Oliver.


Saat Oliver keluar dari dalam ruangan itu, Jasmine tersenyum dengan licik arahnya.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya William kepada Jasmine, dan Jasmine menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, William menyalakan televisi untuk Jasmine menonton. Itu adalah tayangan channel berita di televisi dimana Sally tampak berdiri di acara pertunangan nya dan berkata kepada William.


"Jangan pernah muncul di hadapanku lagi."


Jasmine tersenyum penuh kemenangan dan kemudian dia membuat wajah yang sedih dan bersalah lalu berkata, "aku minta maaf, karena aku dia jadi salah paham."


"Ini bukan kesalahanmu. Istirahatlah untuk beberapa saat. Aku akan pergi menemui dokter dan kembali nanti." Ucap William dan keluar dari ruangan itu.


"Ini adalah kemenangan pertama ku." Ucap Jasmine dengan tersenyum setelah William keluar.


Di tempat lain Kai dan yang lainnya datang ke perusahaan Sally. Mereka semua tengah duduk di ruangan Sally dan meminum kopi. Sementara Sally tengah menyelesaikan beberapa pekerjaannya.


"Sally, ayo kita pergi ke taman bermain." Ucap David.


Sally menghentikan kegiatannya yang sedang mencatat sesuatu di kertas, dia mulai mengingat tentang waktu yang dia habiskan bersama William di taman bermain.


"Aku tidak tertarik." Ucap Sally kemudian melanjutkan pekerjaannya lagi.


"Kalau begitu, ayo kita pergi ke Swiss. Bukankah itu adalah tempat favoritmu?" Ucap Michael.


"Aku sedang tidak ingin pergi jalan-jalan. Jika kalian mengatakan satu hal lagi, maka kalian semua boleh pergi." Ucap Sally.


"Apa yang harus kita lakukan?" Mereka semua tengah berdiskusi termasuk Kai.


Mereka ingin membuat Sally kembali bersemangat.


"Ayo kita bahwa dia pergi ke klub." Ucap Charly.


"Iya benar, dia mungkin akan merasa lebih baikan." Ucap David setuju.


Obrolan mereka terdengar oleh telinga Sally. Dia menaruh pulpen nya dengan keras dan berkata, "ayo kita pergi."


Mereka semua lalu berdiri dan berkata, "itulah sahabatku."


Sally menghela napas dan berkata kepada sekretaris nya, "minta Max untuk menghandle semua dokumen itu ketika dia kembali nanti."


Sekretaris Sally mengangguk ke arahnya dan berkata, "jaga diri anda."


Mereka semua lalu pergi bersama-sama. Mereka masing-masing mengendarai mobil mereka dengan tipe dan warna yang berbeda. Mereka semua berhenti di salah satu klub terkenal dan masuk bersama ke dalamnya.


Manajer klub itu melihat mereka dan keluar untuk menyambut kedatangan mereka.


"Wow... Wanita itu sangat seksi." Ucap salah seorang pria berbicara tentang Sally.


Kai dan ketiga yang lainnya menatap ke arah mereka. Mereka pun menjadi terdiam.


Manajer klub itu membawa Sally dan teman-temannya menuju ruangan VIP. Mereka semua lalu membeli jenis wine yang mahal.


"Ayo mainkan sebuah permainan." Ucap David.


Sementara Sally tengah minum wine itu tanpa memperhatikan ke arah mereka.


"Hei pipi chubby, dengarlah kemari." Ucap Charly kepada Sally.


Kai duduk di samping Sally.


"Ayo kita bermain truth or dare." Ucap David.


"Ayolah, kita semua sudah mengenal satu sama lain dan mengetahui semua fakta yang ada pada diri kita semua. Jadi permainan itu tidak berguna, itu hanya akan menjadi permainan yang sangat membosankan." Ucap Charly.


"Bagaimana jika tantangan saja." Ucap Michael.


"Iya benar. Ayo kita lakukan itu saja." Ucap Charly dan yang lainnya pun setuju.


"Dan jika kita tidak bisa menyelesaikan tantangan itu, maka hukumannya kita harus minum wine." Ucap David.


"Baiklah, aku akan memulai lebih dulu." Ucap Michael dan menaruh gelas minumannya ke atas meja.


Mereka memulai memutar botol wine di atas meja dan itu berhenti berputar tepat dihadapan Charly pertama kali. Mereka semua lalu meminta Charly untuk menari karena Charly begitu bodoh dalam hal menari dan hal itu membuat semua teman-temannya tertawa terbahak-bahak.


Kali ini giliran Sally, mereka semua lalu melihat kearah Sally.


Sally bertanya, "apa? Aku akan meminum wine saja." Ucap Sally dan menyelesaikan meminum setengah botol wine.


"Hei, dia sudah mabuk. Ayo hentikan sekarang juga." Ucap David setelah melihat kearah Sally.


Suatu kebetulan bahwa Oliver juga ada disana. Dia tengah melewati ruangan itu dan melihat Sally bersama teman-temannya.


Oliver menelpon William tapi dia tidak mengangkat telepon darinya dan kemudian Oliver mengirim pesan bahwa Sally tengah berada di sebuah klub. Oliver bahkan mengirimkan foto sebagai bukti.


'Sial, wanita itu. Apa sebenarnya yang dia lakukan disana.' ucap William dalam hati dan bergegas menuju klub itu.


Jasmine bertanya kepada dokter tentang William, dan dokter itu menjawab bahwa William pergi dengan begitu tergesa-gesa.


Jasmine menggigit kukunya dengan matanya yang tampak begitu marah.


Di dalam klub, Sally sudah begitu mabuk yang membuatnya bahkan tidak bisa berdiri dengan benar. Kai memegang tangan Sally dan membantunya.


"Ayo, biarkan aku mengantar mu pulang." Ucap Kai.


"Tidak, aku tidak mau pergi." Ucap Sally.


Tiba-tiba william muncul. Dia menjadi begitu marah saat melihat Kai tengah memegang Sally. William lalu menarik Sally untuk berada di dekatnya.

__ADS_1


Sally melihat ke wajahnya dan berkata, "bajingand. Apa yang kau lakukan disini?" Ucap Sally dan menampar kedua pipi William.


William memegang tangan Sally dan berkata, "kenapa kau minum begitu banyak?"


Sally tertawa pelan dan berkata, "untuk melupakanmu."


Semua orang menjadi begitu terkejut.


"Kenapa?" Tanya William kepada Sally.


"Kau penjahat. Apa yang sudah kau lakukan kepadaku?" Ucap Sally.


Sally perlahan terduduk di lantai dan tampak menangis. Tidak hanya William, tapi semua teman Sally tampak begitu terkejut.


Dalam beberapa tahun ini, Sally tidak pernah menangis. Sally terus memukuli William dan menangis dengan keras.


"Kenapa.... Kenapa aku bisa jatuh cinta kepadamu." Ucap Sally dengan menangis.


William menjadi begitu terkejut.


"Tenanglah Sally." Ucap William.


"Aku membencimu. Pertama si Mike itu dan sekarang kau. Apa yang seharusnya aku lakukan.... Karena orang seperti dirimu, para wanita menjadi takut untuk jatuh cinta lagi. Hanya saja kenapa kau tidak membiarkan aku sendiri? Aku tidak membutuhkanmu, tidak juga orang lain. Aku sudah bahagia dengan kesendirianku. Kenapa kau malah muncul ke hidupku." Ucap Sally dengan menangis.


Dan kemudian Sally tertidur. William lalu menggendong Sally. Tapi kemudian Kai menghalangi langkahnya dan meminta William untuk memberikan Sally kepadanya.


"Minggir." Ucap William.


"Aku tidak pernah melihatnya patah hati seperti ini. Kau tidak bisa membawanya setelah menyakiti nya." Ucap Kai dan yang lainnya juga mendukung dirinya.


"Menyingkir lah, atau kau tidak akan bisa berdiri dengan kakimu itu." Ucap William penuh ancaman.


"Ayo kita luruskan masalah ini." Ucap William menatap Sally dan berjalan keluar.


"Kai, kenapa kau membiarkan dia pergi?" Tanya Michael.


"Mereka butuh waktu berdua untuk menyelesaikan kesalahpahaman di antara mereka berdua." Ucap Kai.


William membawa Sally masuk kedalam mobilnya. Dia membuat Sally terduduk. Wajah Sally basah karena air mata. William mengusap wajah Sally dan berkata, "aku tidak akan pernah membiarkan dirimu menangis lagi."


William lalu duduk dan mulai menyalakan mesin mobilnya untuk berkendara kembali ke rumahnya. Dia lalu menelpon asistennya dan berkata kepadanya untuk menjaga Jasmine dan membawa Jasmine pulang ke apartemennya sendiri.


Saat William tiba di rumahnya, dia membawa Sally ke kamar dan meminta pelayan untuk menyiapkan makanan untuk mereka berdua.


"Tuan, wanita itu tidak baik untuk anda (Jasmine). Dan jangan sakiti wanita yang ini (Sally) karena dirinya." Ucap pelayan itu kepada William.


'Kenapa semua orang berkata bahwa Jasmine itu buruk?' ucap William dalam hati.


William berhenti berjalan di dekat tangga dan tampak berpikir, "bagaimana dia bisa jatuh?"


Tapi kemudian Sally terbangun dan tampak terkejut karena mendapati dirinya berada di rumah William.


William lantas masuk ke dalam kamar itu. sally melempar nya dengan bantal dan berkata, "jangan buat aku untuk membunuhmu."


William tertawa kecil melihat kearah Sally.


"Matamu tampak begitu bengkak." Ucap William.


Sally menjadi ingat apa yang sudah dia katakan di klub itu. Sally tertawa dan berkata, "bagaimana kau bisa begitu licik?"


William duduk di samping Sally dan bertanya, "apakah kau lapar?"


Sally berdiri dan dia bahkan berkata, "meski mati sekalipun. Aku tidak mau makan makan di sini."


William memegang tangan Sally dan bertanya, "kenapa?"


"Kau masih bertanya kenapa?" Balas Sally.


William melepaskan pegangan tangannya pada Sally dan berkata, "kenapa kau sangat membenci dirinya?" Tanya William.


"Kenapa kau selalu membelanya." Balas Sally bertanya balik.


"Karena aku tahu dia dengan baik." Balas William.


"Jika kau mempercayai nya begitu besar, lalu kenapa kau tidak menikah dengannya saja." Ucap Sally.


"Aku tidak mencintai dia sekarang." Ucap William dan kembali memegang tangan Sally.


"Dengar ya, apapun alasanmu, aku tidak perduli. Dan berikan kepadaku kunci mobilku." Ucap Sally.


"Ini sudah sangat larut dan aku tidak akan membiarkan mu meninggalkan aku." Ucap William dan berjalan keluar melewati pintu.


"Jadi kau akan mengunci aku disini?" Ucap Sally.


"Mungkin." Balas William dan berjalan keluar.


"Kau benar-benar bajingand." Teriak Sally dari dalam kamar.


Dia pergi untuk berusaha membuka pintu tapi itu sudah dikunci.


"Kita berdua perlu menjernihkan pikiran kita. Jika aku meninggalkanmu di luar sana, kau tidak akan pernah kembali kepadaku." Ucap William.


'Apa sebenarnya masalahnya mengunci aku di dalam sini? Apa dia pikir bahwa aku tidak bisa keluar dari sini? Hemmm.... dasar bodoh.' ucap Sally dalam hati kemudian melihat ke arah jendela.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2