Cerita Cinta Mafia

Cerita Cinta Mafia
Akhir Dari Nathan


__ADS_3

Sally kemudian terkekeh dan berkata kepada Nathan.


"Bersedia? Kau memaksaku. Hmmm tunggu dulu, aku hanya bermain-main dengan orang bodoh sepertimu." Ucap Sally.


"Beraninya kau!" Teriak Nathan marah.


"Kau adalah seorang pembunuh." Ucap Samuel.


Tiba-tiba Nathan tertawa keras.


"Bukti apa yang kau miliki bahwa aku membunuh Papaku sendiri?" Ucap Nathan dengan percaya diri.


Samuel kemudian memutar sebuah rekaman dari ponselnya dan menaruhnya di dekat mikrofon agar semua orang dapat mendengarnya.


"Kau harus mati Papaku sayang. Jika kau tidak mati sekarang, lalu bagaimana aku bisa menjadi pemimpin berikutnya dari geng kita."


Itu adalah suara Nathan.


"Kau badjingand! Beraninya kau mencoba membunuh papamu sendiri. Kau tidak akan pernah bisa menjadi pemimpin berikutnya. Pemimpin berikutnya adalah anak angkat ku Samuel, bukan engkau. Kau akan membawa bencana jika kau mengambil alih kepemimpinan ku." Kata Papa Nathan dalam rekaman suara itu.


"Ternyata si Samuel brengsek itu lagi. Aku akan membunuhnya. Hmmmm tidak. Aku punya ide yang lebih baik. Aku akan membunuhmu dan menyalahkan Samuel atas kematian mu dan kemudian tidak akan ada halangan lagi di jalanku hahaha." Kata Nathan sambil tertawa seperti seorang yang sudah gila.


Dan kemudian setelah itu beberapa suara peluru terdengar dan rekaman pun berakhir di sana.


"Tidak... itu tidak mungkin. Itu bohong." Ucap Nathan terus mengucapkan kata-kata itu.


Polisi lalu membawa Nathan, namun William menghentikannya dan meninju wajah Nathan dua kali.


"Bersyukurlah aku tidak memotong tanganmu karena menyentuhnya." Ucap William kepada Nathan.


Semua orang yang hadir di dalam acara pesta itu berlutut dan menundukkan kepala mereka.


"Kami menyambut pemimpin baru Geng Lion." Ucap mereka semua kepada Samuel.


Nathan sudah dibawa pergi oleh polisi yang tersisa hanyalah para tamu undangan yang merupakan anggota geng Lion dan yang lainnya. Setelah itu Sally melihat ke arah Samuel.


Dia pun berkata, "pulanglah. Papa dan Mama sedang menunggumu." Ucap Sally kepada Samuel.

__ADS_1


Samuel pun menganggukkan kepalanya.


Setelah itu, Sally lalu berjalan pergi dengan William dengan memegang tangannya.


...----------------...


'Kenapa dia tidak bicara?' Ucap Sally dalam hati dan melirik ke arah William setiap 2 detik sekali.


William lalu menghentikan mobilnya di tempat parkir. Dia lalu berbalik ke arah Sally dan melepaskan sabuk pengamannya.


"Jelaskan." Ucap William dengan wajah yang serius.


"Jelaskan apa?" Tanya Sally dengan mengabaikan tatapan William.


William keluar dari dalam mobil dengan cepat dan membuka pintu di sisi lain di mana tempat Sally duduk.


"Keluarlah." Ucap William.


Sally mulai kesal dengan sikap William. Dia lalu eluar dari dalam mobil dan menutup pintu mobil dengan keras.


"Mengapa kau berbohong padaku?" Tanya William pada Sally dengan memegang tangan Sally erat.


"Aku tidak ingin berbohong. Tapi aku tidak punya pilihan lain." Balas Sally.


"Apakah kau tahu betapa khawatirnya aku? Pernahkah kau berpikir jika dia sampai melakukan sesuatu kepadamu? Pernahkah kau memikirkan aku dan kau tidak dalam posisi untuk marah." Ucap William.


Sally memegang satu tangan William dan berkata, "aku minta maaf."


William berbalik dan berkata, "Wow, maaf dan hanya itu?"


Sally lalu pergi ke depan William dan memeluknya.


"Aku tidak akan melakukan hal seperti itu lagi. Tolong maafkan aku." Ucap Sally dengan suara yang lembut.


William menghela nafas dan memeluk Sally kembali.


"Aku tidak bisa marah padamu. Apakah kau tahu itu?" Ucap William.

__ADS_1


Sally terkekeh dan berkata, "aku tahu."


"Aku ingin mendengar semuanya darimu tentang dua hari terakhir." Ucap William.


"Baiklah, kau tidak ingin aku memberitahumu dijalankan?" Tanya Sally.


William lalu membuka pintu mobil dan menyuruh Sally duduk di dalam.


Beberapa saat kemudian, William akhirnya membawa Sally ke hotel di mana tempat dia menginap semalam.


"Apa kau tidak lapar?" Tanya William pada Sally.


Kebetulan suara perut Sally terdengar keroncongan yang membuatnya merasa malu. William terkekeh.


"Aku sudah memesan beberapa makanan. Sampai makanan itu datang, kau harus menjelaskan semuanya." Ucap William dan duduk di sofa depan tempat tidur.


Sally lalu menjelaskan semuanya kepada William.


"Apakah dia menyentuhmu?" Tanya William.


Sally menatap William dan berkata, "bagaimana aku bisa membiarkan siapapun menyentuh diriku ketika aku menjadi milik orang lain." Ucap Sally dengan senyum di wajahnya yang membuat hati William berdebar.


William memeluk Sally dalam kebahagiaan dan berkata, "sebelum mengambil tindakan apapun, kau harus memberitahukan aku lebih dulu."


Sally menganggukkan kepalanya.


'Kau tidak dapat membayangkan betapa aku mencintaimu. Aku tidak mampu kehilanganmu.' Ucap William dalam benaknya dan memeluk Sally lebih erat.


"Aku bisa mati tercekik." Ucap Sally.


William lalu melepaskannya perlahan dan terus tersenyum.


"Jangan tunjukkan senyuman mu kepada orang lain selain aku. Jika kau menunjukkannya maka aku tidak akan menunjukkan belas kasihan ku kepadamu." Ucap Sally dengan dingin.


'Aku bersumpah bahwa aku tidak akan membiarkan dia tersenyum di depan wanita manapun.' ucap Sally dalam hati.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2