
William menundukkan kepalanya di bahu Sally dan kemudian mencium bahu itu.
"Hentikan." Ucap Sally.
"Aku kedinginan." Ucap William dan kemudian menaruh kepalanya di pundak Sally.
"Hei.. hei, jangan pingsan." Ucap Sally.
William lalu jatuh di pangkuan Sally, saat Sally berbalik.
Sally lalu membantu William tidur dengan baik dan menutupi tubuh William dengan bajunya yang koyak.
Hari sudah menjadi gelap, Sally bergetar karena ketakutan.
Wanita dingin dan kuat itu hanya takut kepada kegelapan. Dia memeluk William dengan erat dengan tubuhnya yang masih bergetar.
"Aku tidak mengambil kesempatan, tapi hanya untuk membuat tubuh kita menghangat." Ucap Sally dalam ketakutan.
Perlahan Sally tertidur. Di tengah-tengah malam, William terbangun dan begitu terkejut karena melihat Sally memeluk dirinya dan tertidur dengan nyenyak. William tersenyum dan mencium kening Sally.
Tiba-tiba William melihat sebuah bayangan besar. Itu adalah seekor harimau di hadapan mereka.
"Hey... hey... ayo bangun." Ucap William kepada Sally.
"Argh... Biarkan aku tidur." Ucap Sally.
"Jika kau tetap tertidur sekarang, maka kau tidak akan bisa untuk melihat anak kita." Ucap William.
Sally lalu bangun dan menjadi kesal kepada William karena mengatakan anak kita. Dan ketika matanya melihat kearah harimau itu, Sally mulai berbicara.
"Apakah aku sedang bermimpi?"
"Aku juga berharap ini adalah mimpi." Ucap William.
Sally memegang tangan William dengan erat. William pun melihat sebuah tongkat kayu yang ujungnya tajam. Dia mengambil tongkat itu dan hendak menyerang harimau itu, tapi kemudian Sally menghentikannya.
Harimau itu tengah mengaum kesakitan.
"Apa yang kau lakukan?" Ucap William.
"Dia sedang melahirkan." Ucap Sally dan berjalan mendekat kearah harimau itu.
"Hentikan." Ucap William.
Sally mengusap punggung harimau itu dan kemudian induk harimau itu melahirkan seekor bayi harimau. Tapi sayangnya induk harimau itu mati karena kesakitan.
Sally menutup tubuh bayi harimau itu dengan pakaiannya yang tersisa.
"Dia menangis." Ucap William.
"Karena ibunya mati." Ucap Sally dan mengusap kepala bayi harimau itu.
"Apa yang mau kau lakukan dengan harimau kecil itu?" Tanya William dan mencoba bertahan karena bau amis dari darah yang berasal dari harimau itu.
Hujan akhirnya berhenti, Sally dan William keluar dari dalam gua dengan bayi harimau mereka.
"Ini milikku sekarang." Ucap Sally seraya melihat kearah harimau kecil itu.
Harimau kecil itu bergetar tapi kemudian Sally memeluknya dengan erat dan tersenyum kearah harimau kecil itu.
__ADS_1
"Nona Muda....." Teriak Roni dari atas gunung, setelah melihat mereka dia lalu turun ke bawah.
Mereka semua lalu turun kebawah, Roni membawa banyak penjaga bersamanya.
"Apa anda baik-baik saja Nona?" Tanya Roni.
"Aku baik-baik saja." Ucap Sally tanpa memperhatikan ke arah Roni dan hanya menatap bayi harimau itu dengan tersenyum di wajahnya.
Tapi kemudian Sally tiba-tiba mematung saat William memegang tangannya lalu berkata kepada Roni untuk membawa bayi harimau itu bersama mereka dan mengubur tubuh induk harimau itu yang masih berada di dalam gua.
William lalu membawa Sally ke rumah sakit dengan cepat.
Sally lalu berada di ruang perawatan.
"Bagaimana kau bisa menemukan kami?" Tanya William kepada Roni dan mengambil bayi harimau itu dari tangannya.
"Kami melacak ponsel anda dan akhirnya mendapatkan dimana lokasi keberadaan anda." Balas Roni.
"Dia sangat menggemaskan." Ucap William dengan tersenyum menatap bayi harimau itu.
"Anda juga terluka cukup parah Tuan." Ucap Roni.
"Aku tidak apa-apa." Balas William.
"Pergilah dan rawat luka mu." Ucap Tuan Flynn, Papa Sally yang baru tiba di rumah sakit kepada William.
"Oh, hai papa mertua." Balas William.
"Diam." Ucap Tuan Flynn dan kemudian mengambil harimau itu dari tangan William.
"Ini adalah cucu anda. Jadi anda harus menjaganya dengan baik." Ucap William dengan tersenyum dan kemudian pergi untuk mengobati luka nya.
"Bajingan." Ucap Tuan Flynn dengan matanya yang tampak marah. "Aku ingin semua detail nya. Temukan apa yang sudah terjadi di dalam gua." Ucap Tuan Flynn kepada Roni.
"Aawww.... Kau begitu menggemaskan." Ucap Tuan Flynn yang perasaannya langsung berubah setelah melihat bayi harimau itu.
'Siapa yang berada dibalik semua ini?' ucap Tuan Flynn dalam hati seraya mengusap kepala bayi harimau itu.
**************
Sally bangun dan menemukan dirinya berada di ranjang rumah sakit. William tengah tidur siang dengan kepalanya yang berada di tempat tidur Sally dan dirinya yang tengah duduk di sebuah kursi.
Sally mengusap kepala William dengan lembut dan tersenyum.
William merasakan sentuhan tangan Sally dan berkata, " tidak baik untuk menyentuh seseorang saat orang itu tertidur."
Sally menjadi merona dan mencoba untuk menarik tangannya dari William. Tapi William langsung memegang tangan Sally dengan begitu erat.
"Le... Lepaskan..." Ucap Sally.
William memindahkan tangan Sally mendekat ke bibirnya dan mencium tangan Sally dengan lembut.
Sally menundukkan kepalanya karena malu dan gugup.
Sementara William tersenyum dan berkata, "aku senang bahwa kau baik-baik saja."
"Dimana anakku?" Tanya Sally secara tiba-tiba.
William tertawa terbahak-bahak mendengarkan ucapan Sally.
__ADS_1
"Diam lah." Ucap Sally dengan mata yang malas.
"Anak mu sedang bersama papamu." Ucap William dengan tertawa kecil.
"Bawa dia kepadaku." Ucap Sally dengan mengalihkan pandangannya.
William menyentuh kepala Sally dan berkata, "tunggu sebentar."
William lalu keluar untuk membawa bayi harimau itu masuk ke dalam ruangan Sally.
"Apakah dia sudah bangun sekarang?" Tanya Tuan Flynn.
"Iya." Jawab William.
Tuan Flynn lalu bergegas masuk ke dalam untuk melihat putrinya bersama dengan bayi harimau itu.
William menghela nafas dan meminta asistennya untuk menanyakan kepada dokter tentang keadaan Sally.
"Putri kesayangan Papa." Ucap Tuan Flynn dan memeluk Sally dengan erat.
"Pa, luka ku sakit." Ucap Sally.
"Maafkan Papa." Ucap Tuan Flynn dan duduk di kursi.
Sally mengambil bayi harimau itu lalu mengusap kepalanya.
Beberapa jam kemudian Sally bisa keluar dari dalam rumah sakit. Papanya membawanya kembali ke villa.
"Bos, Nona Sally sudah keluar dari rumah sakit." Ucap Asisten William memberitahu nya.
"Ayo kita temukan penghianat diantara kita sekarang." Ucap William.
Dia duduk di dalam mobil, dia meminta supir untuk membawanya kembali ke basemen.
Karena Sally terluka, jadi tidak ada seorangpun yang memberitahu nya tentang pertemuan yang terjadi secara tiba-tiba di basemen itu. William dan keempat leader geng lainnya tiba di waktu yang bersamaan.
"Apakah dia baik-baik saja?" Tanya Kai kepada William.
"Setelah melukai nya, kau tidak perlu tahu tentang dirinya apakah baik-baik saja atau tidak." Ucap William lalu masuk ke dalam.
"Kai, apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita tidak mungkin membunuh Papa kita sendiri kan?" Tanya Michael.
"Kita juga tidak bisa melihat Sally mati." Ucap David.
"Apakah kita harus menculik Papa kita sendiri dan membiarkan mereka menjauh dari Sally?" Ucap Charly.
Mereka semua lalu melihat kearah Charly secara bersamaan dan berkata, "omong kosong."
Mereka lalu masuk ke dalam.
"Bos, geng Lion lah yang menyebabkan semua kecelakaan ini." Ucap assisten William kepadanya.
William menghela napas dan berkata, "aku akan mengunjungi dia suatu hari nanti."
"Kenapa kalian tidak mengirimkan para orang tua kita pergi berlibur saja?" Ucap William kepada keempat leader geng itu.
"Lebih tepatnya menculik mereka." Ucap assisten William.
Kai, David dan Michael melihat kearah Charly dan menunjukkan jempol mereka sebagai tanda ide yang diberikan Charly tadi adalah ide yang bagus.
__ADS_1
"Aku tidak bisa membunuh mereka, karena mereka sudah melakukan banyak hal yang baik untuk keluargaku. Tapi itu bukan berarti bahwa mereka bisa melakukan apapun yang mereka inginkan." Ucap William dengan penuh kemarahan.
Bersambung.....