
Di sisi lain ketika Sally masuk ke villa nya, MK dan Alyssa muncul di depannya. Mereka berdua tampak begitu khawatir terhadap keadaan Sally. Terutama untuk MK. Sally tahu kenapa dia bisa begitu khawatir tapi untuk Alyssa, Sally tidak mengerti kenapa dia bertingkah seperti itu.
Mereka berdua lalu membantu Sally untuk duduk di sofa.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya MK dengan air matanya yang menggenangi pelupuk matanya.
"Aku baik-baik saja." Balas Sally.
Dia kemudian melihat kearah Alyssa dan bertanya kepada mamanya.
"Kenapa dia masih ada di sini?" Tanya Sally kepada mamanya.
"Sayang, jangan jahat begitu. Dia adalah tamu kita." Ucap Nyonya Maria dan memberikan jus jeruk untuk diminum Sally.
Alyssa lalu duduk di samping Sally dan berkata, "terima kasih."
"Aku sudah bilang kemarin dan itu kompensasi untuknya." Ucap Sally dengan ekspresi dingin.
"Bolehkah aku tinggal disini untuk beberapa hari lagi?" Tanya Alyssa.
"Kenapa aku harus mengizinkan mu?" Tanya Sally.
Dari arah belakang Nyonya Maria menepuk kepala Sally dengan perlahan dan berkata, "apanya yang kenapa. Dia bisa tinggal di sini selama yang dia mau." Ucap Nyonya Maria.
"Terimakasih Tante." Ucap Alyssa dengan tersenyum.
Setelah beberapa saat, William datang ke villa Sally.
Sally tengah beristirahat di kamarnya. William melompat naik dan bergantung di pagar besi balkon kamar Sally dan naik lewat sana.
Saat William hendak membuka pintu balkon, Sally lebih dulu membuka pintu itu dan terkejut melihat William berada di sana.
Sally menghela napas dan berkata, "apa yang kau lakukan disini?"
"Kau terlihat lebih baik dari sebelumnya." Ucap William.
"Apakah kau sudah puas melihatku? Bisakah kau pergi sekarang?" Ucap Sally.
William lalu masuk ke dalam kamar Sally dan duduk di tempat tidurnya.
"Ayolah, aku baru datang kemari dan kau sudah meminta aku untuk pergi." Ucap William.
Sally mulai merasa kesal.
"Hei, itu tunangan mu juga ada disini." Ucap Sally.
William menarik tangan Sally dan membuatnya duduk di pangkuan nya.
"Tentu saja aku tahu itu. Kau berada di hadapanku." Ucap William dengan tersenyum.
Sally berusaha untuk bangun dari pangkuan William.
"Jangan pergi atau lukamu bisa terbuka lagi." Ucap William.
Sally pun tidak bergerak sedikitpun. Hal itu membuat William tersenyum ke hadapannya dan berkata, "aku suka saat kau patuh."
Sally melihat kearah William dan berkata dengan dingin, "aku benci ketika kau berbicara omong kosong."
"Kau akan mendapatkan mobilmu besok. Tapi kau tidak dibolehkan untuk pergi ke manapun sampai lukamu bisa sembuh." Ucap William dengan ekspresi yang serius.
__ADS_1
"Biarkan aku duduk ditempat tidur dulu." Ucap Sally dengan perlahan.
William memeluk Sally dengan erat kemudian membuatnya duduk di tempat tidur. William memeluk Sally seraya tertidur di sampingnya.
'Jika saja aku tidak terluka, maka aku akan melempar mu keluar dari dimana kau datang.' ucap Sally dalam hati dengan menatap William.
'Aku akan memenangkan hatimu tidak peduli bagaimana pun itu.' ucap William dalam hati seraya menutup matanya.
Nyonya Maria mengetuk pintu kamar Sally dan berkata, "sayang, buka pintunya. Mama membawakan mu sup."
"Pergilah sekarang." Ucap Alia terbangun dari atas tempat tidur dengan raut wajah yang panik pada William.
"Ini baru saja malam." Ucap William dan tidak bangun dari atas tempat tidur.
"Sally..." Ucap Mama Sally memanggilnya lagi.
"Pergi." Ucap Sally lagi.
"Aku akan pergi hanya jika kau mau mengabulkan permintaanku." Ucap William dan bangun dari tempat tidur.
"Apa itu?" Tanya Sally.
"Ayo kita pergi berkencan besok." Ucap William dengan tersenyum.
Mama Sally kembali mengetuk pintu.
"Baiklah, aku akan pergi." Ucap Sally seraya melihat kearah pintu.
William tersenyum dan kemudian berdiri untuk pergi. Sally melihat kearah lain. William tiba-tiba mendekat kearah Sally dan mencium pipi Sally yang membuat Sally termenung.
William lalu melompat dari atas balkon, sementara Sally tengah memegang pipinya.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Mama sally seraya masuk ke dalam dan menaruh sup itu di atas meja di samping tempat tidur Sally.
Nyonya Maria melihat kearah Sally, sementara Sally melihat kearah balkon.
"Ada apa?" Tanya Nyonya Maria dan berjalan ke arah balkon.
Sally menarik tangan Mama nya dan berkata, "Papa memanggil mama."
"Mama tidak dengar." Ucap Nyonya Maria.
"Tapi aku mendengarnya." Ucap Sally dan membuat mamanya keluar dari dalam kamar dan kemudian dia mengunci pintu kamarnya itu.
Sally lalu berjalan ke arah balkon dan melihat ke arah bawah.
William sudah pergi. Tiba-tiba dia melihat Alyssa berada di bawah. Alyssa melihat ke arah atas dan tersenyum, tapi Sally masuk ke dalam kamar dan menutup balkon nya.
"Ada apa dengannya?" Ucap Sally seraya mulai memakan sup yang dibawa mamanya itu.
Di sisi lain....
"Kenapa wanita itu masih tinggal bersama Sally?" Ucap William saat mengendarai mobilnya.
William akhirnya menghentikan mobilnya ketika dia tiba di perusahaannya.
"Bos, kami tidak menemukan apapun tentang Nona Alyssa." ucap assisten William.
"Dia bersama Sally." Ucap William dan pergi ke ruangannya.
__ADS_1
Sebelum masuk kedalam, sekretaris William berkata, "Bos, Tuan Aubrey ada di sini."
Sally masuk ke dalam ruangan nya setelah mendengarkan ucapan sekretaris nya itu.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya William kepada papanya.
"Dimana Alyssa? Aku mengirim nya kemari, jadi kalian berdua bisa menghabiskan waktu kalian bersama." Ucap Tuan Aubrey.
Tuan Aubrey berjalan mendekat kearah William dan mengangkat tangannya untuk menampar William. Tapi William lebih dulu memegang tangan papanya dan berkata,
"Tuan Aubrey, aku tidak butuh wanita manapun untuk menghabiskan waktu dengan ku. Aku sudah punya tunangan ku sendiri.... hmmm, tidak. Dia adalah istriku dan aku suka untuk menghabiskan waktuku dengannya." Ucap William kemudian menghempaskan tangan papanya itu dengan kasar.
"Kau bajingan dan anak yang kurang ajar." Ucap papa William dengan penuh kemarahan.
Tuan Aubrey lalu berjalan kearah pintu dan berkata sebelum pergi, "aku tidak akan terima putri dari pria itu sebagai menantu ku." Ucapnya dan kemudian menghempaskan pintu dan kemudian pergi.
"Aku akan lihat bagaimana kau menghentikan aku." Ucap William.
"Bos, geng Lion telah mengirimkan sebuah pesan." Ucap asisten William.
"Tunjukkan padaku." Ucap William.
Asisten William menunjukkan pesan itu kepadanya.
'Wanita mu itu sangat cantik. Kenapa kau tidak memberikan dia sebagai taruhan.' itulah yang tertulis di kertas.
William mengepalkan tangannya di kertas itu dan membuangnya ke dalam tempat sampah.
"Beraninya dia!" Ucap william dengan penuh kemarahan.
'Aku akan berurusan dengan mu setelah kencan ku selsesai. Tunggu geng Lion, tunggulah kau tidak akan pernah bisa untuk melihat wanitaku. Aku akan mencongkel matamu itu dan memberikannya kepada buaya sebagai makanan mereka.' ucap William dalam hati.
William lalu duduk di kursinya dan bertanya kepada asistennya.
"Apakah ada tempat yang sangat nyaman untuk sebagai tempat berkencan?" Tanya William.
Assisten William begitu terkejut. Dia bertanya kembali, "apa yang baru saja bos katakan?"
"Tempat apapun untuk bisa digunakan pergi berkencan." Ucap William lagi..
"Apakah saya salah dengar atau anda tengah demam?" Ucap asisten William lagi.
William mengambil pena nya kemudian melempar nya ke arah asistennya tapi asistennya dengan cepat menangkap pena itu.
"Tuan bisa membawa Nona Sally ke taman bermain ." Ucap assisten nya.
William melihat kearah asistennya dengan ekspresi yang dingin dan berkata, " apa kau benar-benar berpikir bahwa wanita dingin itu akan menyukai taman anak-anak." Ucap William.
"Hmmm... Lalu bagaimana dengan jalan-jalan dengan mobil?" Ucap asisten William memberikan ide lain.
"Kami baru saja selamat dari kecelakaan dan kau ingin kami pergi untuk mengendarai mobil lagi?" Ucap William.
"Kalau begitu Tuan pilih saja sendiri. Saya tengah sibuk." Ucap asisten William dengan kesal lalu berjalan keluar dari ruangan ya.
"Ada apa dengannya ?" Ucap William.
'Kalau begitu, aku akan menelpon Oliver. Dia bisa memberikanku beberapa ide.' pikir Wiliam.
Bersambung.....
__ADS_1