
Di dalam mobil....
"Nona, mau kemana Anda selanjutnya?" Tanya Theo.
"Bertemu dengan kekasihmu." Balas Sally.
"Apakah Nona serius?" Tanya Theo.
Sally mengangguk dan berkata, "aku juga ingin melihatnya."
"Baiklah, kalau begitu." Ucap Theo dengan raut wajah begitu bahagia.
'Dia pasti begitu bahagia, karena akhirnya bisa bertemu dengan kekasihnya setelah lima tahun.' ucap Sally dalam hati.
"Bagaimana kalian berdua bisa bertemu?" Tanya Sally.
"Awal pertemuan kami sebenarnya tidak bagus." Ucap Theo dengan wajah yang tersenyum.
"Bagaimana bisa?" Tanya Sally dengan wajah penasaran.
"Ketika Nona pertama kali datang ke kota ini dulu untuk bisnis, saya mengikuti Nona kemari. Tapi, Nona tiba-tiba menghilang. Saya berusaha mencari Nona dan berhenti di sebuah toko bunga, semenjak saya tahu Nona sangat menyukai bunga. Saya mencoba bertanya padanya tentang Nona. Dia mengatakan tidak tahu, hingga saya menjadi marah dan putus asa sampai meneriakinya dengan kasar. Lalu saya membeli bunga darinya kemudian kembali memberikan bunga itu padanya sebagai permintaan maaf. Saya tidak punya tempat untuk tinggal, dan jika saya kembali tanpa membawa kabar tentang Nona, maka Tuan Besar akan memecat saya. Jadi dia memberikan saya tempat di rumahnya, sejak saat itu kami saling menyukai." Ujar Theo panjang lebar.
"Wow, kau berteriak seperti itu padanya, kapan kau akan mengontrol emosi mu itu?" Tanya Sally.
Theo tersenyum.
"Kapan Nona bisa tersenyum lagi." Theo balik bertanya.
Sally duduk bersandar di kursinya dan berkata, "itu tidak akan pernah terjadi."
"Kita sudah sampai Nona." Ucap Theo.
Sally tengah tidur, perjalanan menuju rumah Jenny membutuhkan waktu yang lama karena lokasinya yang begitu jauh dari kota hingga membutuhkan waktu yang lebih lama untuk tiba kesana.
"Waahh, rumah ini indah sekali." Ucap Sally saat ia keluar dari dalam mobil. "Tamannya juga sangat indah." Sambungnya.
"Selamat datang Nona." Ucap Jenny menyapa Sally.
Sally menjabat tangan Jenny.
"Jangan terlalu formal." Ucapnya.
'Dia sangat cantik, seperti yang dikatakan Theo.' ucap Jenny dalam hati saat pertama kali menatap Sally.
Sementara itu, Theo terlihat malu-malu berdiri di dibelakangnya saat pandangannya bertemu dengan Jenny. Sally berbalik menatap Theo dan terkejut melihat ekspresi Theo yang seperti itu.
"Apa dia benar-benar bodyguard ku?" Ucap Sally memutar mata.
"Jangan terlalu jahat begitu Nona." Balas Theo seraya mengikuti langkah Sally.
Jenny mengajak Sally dan Theo masuk ke dalam rumah. Dan menyajikan camilan beserta minuman.
Sally meminta Jenny untuk duduk di dekatnya.
"Aku datang kemari karena ingin memberikan kalian berdua saran." Ucap Sally.
Theo dan Jenny saling menatap satu sama lain lalu mengangguk.
"Kami akan menerima apapun saran Nona." Ucap keduanya bersamaan.
"Kalian berdua akan bertunangan minggu depan." Ucap Sally dengan tersenyum.
Mereka berdua tampak terkejut, namun juga terlihat begitu bahagia.
"Theo, kau menjagaku seperti kakakku sendiri. Jadi, tidak bisakah kau membiarkanku menjadi bagian dari hari bahagia mu?"
__ADS_1
Jenny memegang tangan Sally dan berkata, "terima kasih Nona."
"Tolong jangan berkata seperti itu. Jika Theo memang kakakku, maka kau adalah kakak ipar ku." Ucap Sally tersenyum. "Apa aku boleh meminta sesuatu?" Tanya Sally lagi.
"Apapun itu Nona." Balas Jenny.
"Bukan apa-apa. Aku hanya ingin berada disini satu hari saja." Ucap Sally.
"Bagaimana bisa Nona ingin menginap di rumah kecil saya yang seperti ini." Ucap Jenny dengan wajah panik.
"Ku mohon." Balas Sally dengan suaranya yang menggemaskan.
Tentu saja Jenny tak bisa menolak permintaan Sally. Ia lalu menyiapkan kamar untuk Sally kemudian beralih ke dapur untuk memasak.
Sally keluar dari rumah Jenny, rumah itu terletak dekat dengan pantai. Sally pergi ke pantai, menikmati udara segar dari angin yang berhembus dan pemandangan pantai yang juga begitu indah.
'Apakah dia akan menemukan ku disini? Mengingat sekarang dia sudah menjadi ketua dari geng itu, jadi dia pasti bisa melakukannya. Bagaimana dengan para bandit itu? Apa keputusanku untuk menginap disini salah? Bagaimana jika orang-orang itu datang kemari?' ucap Sally dalam hati.
Tiba-tiba terdengar suara tembakan. Sally berbalik kembali dan berlari menuju rumah Jenny.
'Sial, seharusnya aku tidak datang kemari. Ku harap kalian berdua baik-baik saja.'
Sally mengkhawatirkan keselamatan Theo dan Jenny.
Dia berlari dengan cepat masuk ke rumah Jenny, dan begitu terkejut saat mendapati Jenny yang sudah bersimbah darah dengan Theo yang memeganginya.
Sally melihat bayangan dari belakang rumah. Ia mengeluarkan senjata api miliknya lalu mengarahkannya kesana.
Belum sempat pria itu menarik pelatuknya, Sally sudah lebih dulu menembak kakinya, hingga pria itu terkapar di lantai.
Ada lebih banyak lagi yang datang dari arah belakang semak-semak. Sally lalu meminta Theo untuk membawa Jenny masuk ke dalam rumah. Theo menolak hingga membuat Sally berteriak padanya dan kembali memintanya membawa Jenny masuk ke dalam rumah. Kemudian Theo pun masuk dan kembali keluar, namun dia mendapati semua pria itu sudah tergeletak di tanah karena luka tembak ditubuh mereka.
"Nona, apa Anda baik-baik saja?" Tanya Theo.
Sally masuk ke dalam rumah.
Tak butuh waktu lama, ambulan tiba. Sally memerintahkan kepada Theo untuk membawa Jenny menuju rumah sakit.
"Saya tidak bisa meninggalkan Anda seorang diri disini Nona." Balas Theo.
Sally menatap Theo tajam dan mengatakan, "pergi sekarang juga."
Rahang Theo mengeras, ia lalu masuk ke dalam ambulan. Theo lalu menghubungi Papa Sally dan menceritakan insiden yang terjadi. Papa Sally langsung berusaha menelepon Sally tapi tak bisa terhubung."
Sally keluar dari dalam rumah Jenny setelah mengisi ulang peluru dalam senjata api miliknya.
'Sial, baterai ponselku mati. Untung saja aku bisa menelepon ambulan tepat waktu. Ku harap kau baik-baik saja Jenny.' ucap Sally dalam hati, lalu memperbaiki ikatan rambutnya.
"Pengecut, ayo maju." Teriak Sally.
Tempat itu memang sepi, hanya ada rumah Jenny saja.
Mereka semua keluar dan mengelilingi Sally. Mereka semua mengenakan pakaian serba hitam dengan wajah yang tertutup masker hitam juga.
"Katakan selamat tinggal hari ini." Ucap salah seorang pria.
Sally tersenyum.
"Mari kita lihat, siapa yang akan mengatakan selamat tinggal." Ucap Sally dengan kedua tangan memegang senjata api dan diarahkan pada para pria itu.
"Sebelum menembak, aku mau kau berlutut." Ucap Sally pada pria yang berdiri dihadapannya.
"Kenapa?" Tanya pria itu.
"Itu adalah permintaan terakhirku." Ucap Sally menyeringai.
__ADS_1
Mereka semua tertawa, lalu pria yang dihadapan Sally itu berlutut sesuai permintaan Sally.
Sally melompat melewati pria itu dengan sekejap mata lalu menembaki mereka semua sebelum mereka sempat bertindak. Kemudian dia berlari menuju mobilnya karena ada lebih banyak musuh yang datang.
Sally mengebut. Mereka semua mengikuti dari belakang dengan mobil mereka dan terus menembaki mobil Sally.
Sally melihat mobil orang-orangnya berada di depannya. Dia pun menghentikan laju mobilnya.
"Nona, apa Anda baik-baik saja?" Tanya ketua tim.
"Aku baik." Balas Sally.
Orang-orang Sally lalu mengambil alih dan mulai beraksi.
"Nona, dimana Theo?" Tanya ketua tim yang bernama Roni itu.
"Dia pergi ke rumah sakit." Balas Sally seraya kembali mempersiapkan senjatanya.
"Kami bisa menangani semua tikus itu Nona. Anda lebih baik duduk dan berdiam saja di dalam mobil." Ucap Roni khawatir.
"Aku tidak mau dianggap jadi penakut." Ucap Sally seraya melompat ke atas mobil.
Musuh, berada tepat dihadapan mereka.
"Mereka menganggap ku sebagai kandidat selanjutnya, karena aku memang pantas mendapatkannya." Ucap Sally lalu mulai menembak.
Semua musuh terkapar karena ditembak Sally.
"Bersihkan semua kekacauan ini, dan katakan pada Pala tentang semuanya. Jangan biarkan satu orangpun bisa meninggalkan tempat ini." Sally duduk di dalam mobilnya kemudian melaju menuju rumah sakit.
"Dia memang layak untuk menjadi pemimpin selanjutnya." Ucap Roni setelah Sally pergi.
Roni mengirim dua orang pengawal mengikuti Sally untuk melindunginya.
Sally bergegas menuju ruang gawat darurat. Saat tiba disana, ia mendapati Theo yang tengah duduk di bangku yang ada di depan ruang gawat darurat. Saat Theo melihat Sally, dia segera berdiri.
"Nona, apa anda baik-baik saja?" Tanya Theo.
"Aku baik, bagaimana dengannya?" Tanya Sally balik.
"Dokter bilang, dia kehilangan banyak darah dan pelurunya sudah dikeluarkan." Jawab Theo.
Dokter keluar dari ruang operasi dan menanyakan apakah ada yang mempunyai golongan darah yang sama dengan Jenny. Sally dan Theo sama-sama menggelengkan kepala.
Sally lalu menelepon dokter terbaik dan meminta mereka untuk mengirimkan kantong darah untuk Jenny.
Beberapa saat kemudian, setelah darah didapatkan, operasi Jenny pun berhasil dilakukan.
Sally kembali ke hotel saat tengah malam. William tampak berdiri di lobi hotel, Sally tak menghiraukannya dan melewatinya begitu saja masuk ke dalam lift. William ikut masuk ke dalam lift.
"Kemana saja kau?" Tanya William.
"Bukan urusanmu." Balas Sally dingin.
William mendekat ke arah Sally membuat tubuh Sally terhimpit ke dinding lift. Kedua tangan William bertumpu pada dinding lift.
Sally menepis tangan William dengan lembut.
"Aku sedang tidak ingin berkelahi lagi." Ucap Sally.
"Lagi?" Tanya William.
Pintu lift terbuka, mereka sampai di lantai tempat kamar mereka.
Sally tak menghiraukan pertanyaan William dan masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Bersambung....