
William dan Sally duduk di dalam pesawat. Sepanjang hari, Sally tidak berbicara pada William, begitu juga dengan William. Dia tidak bertanya apapun kepada Sally. Sally hanya sibuk dengan pekerjaannya di laptopnya tanpa memperhatikan William sedikitpun.
Akhirnya mereka tiba di bandara Perancis.
"Jangan ikut aku sekarang!" Ucap Sally saat keluar dari dalam bandara.
"Kau tidak bisa menghentikan aku." Balas William seraya memegang tangan Sally.
"CEO Sally..." Seorang pria berpakaian serba hitam memanggil Sally.
"Apakah kau asistennya Tuan Nathan?" Tanya Sally.
"Benar Nona, mari ikut dengan saya." Balas pria itu seraya menunjukkan ke arah mobilnya..
Asisten Nathan menghalangi langkah William dan berkata, "Tuan, anda tidak boleh pergi kesana."
"Apakah kau tahu siapa aku?" Ucap William dengan marah.
"Saya minta maaf Tuan, tapi anda tidak bisa pergi kesana." Ucap asisten itu lagi.
William mendengus kesal kemudian mengeluarkan rokoknya.
Sementara itu, seorang pria lainnya membuka pintu mobil untuk Sally agar ia bisa duduk di dalamnya.
"Senang bertemu dengan anda, CEO Sally." Ucap Nathan.
Nathan adalah CEO dari perusahaan besar di Perancis
"Senang berjumpa dengan anda juga." Balas Sally dan tidak duduk di dalam mobil.
"Ayo kita makan siang dan mengobrol." Ucap Nathan dengan tersenyum.
"Tentu saja, aku bisa pergi tapi aku membawa seseorang bersamaku." Ucap Sally.
"Tidak apa-apa, asisten ku akan mengirimnya ke hotel." Ucap Nathan lagi dengan senyuman yang tetap terpancar dari wajahnya.
"Kalau begitu, biarkan aku bicara dengannya lebih dulu." Ucap Sally lalu bergegas berjalan ke arah William.
"Hei, kau bisa pergi ke hotel." Ucap Sally.
"Kenapa? Aku tidak mau." Balas William.
"Pria itu tidak suka dengan orang banyak, jadi kau lebih baik pergi saja." Ucap Sally dengan menghela napa.
"Dengan satu syarat." Ucap William dengan tersenyum.
"Apa?" Tanya Sally.
"Kau harus berkeliling negara ini bersamaku setelah kau menyelesaikan urusan bisnismu." Ucap William lalu mengerlingkan matanya.
Sally menghela napas dan berkata, "baiklah."
William lalu memeluk Sally dengan sangat erat dan berbisik di telinganya.
"Berhati-hatilah, jangan percaya pada siapapun disini."
Sally membalas pelukan William dan berkata, "aku tahu."
__ADS_1
William mencium kening Sally dengan lembut dan berkata, "aku akan menunggumu."
Sally berbalik kemudian kembali berjalan ke arah mobil dan duduk di dalamnya.
Nathan meminta pada supir untuk segera jalan.
"Kekasih mu itu sangat penyayang." Ucap Nathan.
Wajah Sally merona dan berkata, "tidak, tidak. Dia hanyalah seorang teman, hannya teman saja."
"Oh, jadi aku masih punya kesempatan." Ucap Nathan dengan sangat perlahan.
Nathan membawa Sally menuju sebuah restoran mewah dan begitu terkenal, kemudian memesan makanan.
"Kenapa kau setuju untuk bekerjasama denganku?" Tanya Sally.
"Karena ini adalah kamu." Ucap Nathan dengan tersenyum, dengan telapak tangan berada di dagu dan sikunya berada di atas meja.
"Apa kau mengenal aku?" Tanya Sally.
"Aku sudah mendengar hal tentang dirimu, dan kau juga adalah leader dari geng Wolf." Ucap Nathan.
"Apa yang kau inginkan?" Tanya Sally secara langsung dengan ekspresi dingin.
"Kau benar-benar orang yang to the poin. Aku suka itu." Ucap Nathan seraya tersenyum.
Makanan pun tiba...
"Cobalah makanan ini. Ini adalah makanan terbaik di Perancis." Ucap Nathan.
"Rasanya sangat enak." Ucap Sally.
Tiba-tiba, Sally merasa pusing. Dia melihat Nathan yang tersenyum menatapnya. Tapi kemudian Sally tak sadarkan diri.
Nathan mendekat ke arah Sally kemudian menggendongnya di lengannya.
"Kau akhirnya datang kepadaku, cintaku." Ucap Nathan dan membawa Sally ke dalam mobilnya.
**********
Dan kemudian, setelah beberapa jam....
Sally terbangun dan mendapati dirinya berada si sebuah rumah.
Sally mencoba untuk bangun, namun Nathan memegang tangannya dan berkata, "kau pikir, kau mau pergi kemana?"
"Apa yang sudah kau lakukan?" Teriak Sally.
"Pria itu datang kemari untuk mencari mu." Ucap Nathan tertawa.
"Apa?" Sally begitu terkejut.
"Dia terlihat seperti dia ingin membunuh." Ucap Nathan lagi.
"Dimana dia?" Tanya Sally dengan tatapan marah.
"Dia sedang tengah menonton kita." Ucap Nathan dengan tersenyum.
__ADS_1
'Ini adalah sebuah kamar. Bagaimana William bisa menonton kamu? Apakah dia bekerja untuk William? Lalu kenapa William harus datang kemari untuk membunuhnya?' ucap Sally dalam hati.
Nathan menarik Sally mendekat ke arahnya dan melihat ke arah cermin yang sebesar dinding itu. Dimana orang yang berada diluar cermin itu bisa melihat orang yang ada di dalam ruangan. Sementara orang yang berada di dalam ruangan itu tak bisa melihat orang yang berada di luar.
"Apa yang kau lakukan?" Sally mencoba melepaskan pegangan tangan Nathan, tapi tangan Sally sudah diikat keduanya.
Nathan mencium Sally tepat di bibirnya kemudian melihat kearah cermin dan menyeringai.
Di luar kamar itu, Nathan membuat William duduk dan menunggu.
Sebelumnya, saat Sally belum bangun...
William datang ke kediaman Nathan sejak dia menaruh GPS di ikat rambut Sally. William memegang kerah kemeja Nathan dan menanyakan dimana keberadaan Sally.
"Jika kau mau dia hidup, maka bersabarlah dan lihatlah dengan hati-hati." Ucap Nathan dengan tertawa
Dia lalu meminta William untuk duduk dan menunggu Sally. William tengah duduk di depan cermin itu. Dia bisa melihat semua yang terjadi, tapi dia tidak dapat melakukan apapun.
Rahang William mengeras dan dia menggemertukkan giginya.
'Sialan kau bajingan, kau berani menyentuhnya. Lihat saja jika dia sudah berada di sisiku dan aku akan membuatmu mengetahui siapa aku yang sebenarnya.' ucap William dalam hati.
Sementara itu di dalam kamar....
"Kau sangat manis." Ucap Nathan dengan tersenyum.
"Diam lah!" Teriak Sally penuh dengan amarah.
"Kau ingin tahu dimana dia berada bukan?" Tanya Nathan pada Sally. "Lihat, dia bisa melihat kita tapi kau tidak bisa.,"
Nathan menunjuk dengan jemarinya ke arah cermin dan memperlihatkannya pada Sally.
Perlahan Sally dapat melepaskan ikatan tangannya dan kemudian dia meninju Nathan tepat di wajahnya.
"Beraninya kau." Ucap Sally dengan penuh amarah.
Kemudian, secara tiba-tiba William masuk dengan mendobrak pintu. Nathan menjadi termenung sekaligus terkejut. Dia memanggil anak buahnya tapi tidak ada respon apapun.
"Hmmmppphhh... Mereka semua sudah mati." Ucap William dengan seringai kejam di wajahnya.
William lalu menggendong Sally di lengannya dan Sally sendiri melingkarkan tangannya di leher William dan membiarkan kepalanya bersandar di bahu William.
"Apakah dia menyakitimu?" Tanya William.
Sally menggelengkan kepalanya dengan perlahan. William lalu membawa Sally keluar dari dalam kamar itu, sementara Nathan tampak begitu marah. Dia terbangun tiba-tiba dan mengambil senjata apinya.
"Berhenti disana." Ucap Nathan pada mereka berdua
Sally melihat Nathan yang memegang senjata. Sally tersenyum ke arah Nathan dan berkata, "dasar kekanakan."
Sally melepaskan jepitan rambutnya dan melemparnya lalu meminta kepada William untuk berlari.
William berlari dengan sangat cepat seraya menggendong Sally di lengannya, sementara Nathan masih berdiri mematung dengan ekspresi terkejut dan sebuah senyuman yang muncul di wajahnya.
"Ini adalah wilayah kekuasaan ku, hari ini atau besok, kau akan datang kepadaku." Ucap Nathan seraya melihat ke arah jepit rambut Sally
Bersambung....
__ADS_1