
Hari-hari pun berlalu. Keluarga Sally menjadi sempurna dengan kembalinya Samuel kakaknya berkumpul dengan orang tua mereka. Musuh utama mereka Nathan sudah ditangkap oleh polisi, dan geng Lion sekarang sudah dipimpin oleh orang yang tepat yaitu Samuel kakak Sally.
Hari ini William hendak mengajak Sally pergi ke suatu tempat. Dia mengikatkan kain hitam di mata Sally dan menyuruhnya duduk di dalam mobil.
"Kemana kau akan membawaku?" Tanya Sally sambil menyentuh matanya.
"Apakah sangat ketat? Haruskah aku melonggarkan nya? Apakah kau merasa nyaman?" Tanya William pada Sally karena merasa khawatir.
Sally tersenyum dan berkata, "aku baik-baik saja."
William lalu menyalakan mobilnya dan pergi dari villanya.
"Apa kau sudah mengirim pesan kepada orang tuaku bahwa kau akan membawaku pergi?" Tanya Sally saat William sedang mengemudikan mobilnya.
"Iya, aku sudah memberitahukan kepada Samuel." Ucap William.
Beberapa menit kemudian, Wiliam menghentikan mobilnya. Dia kemudian menggendong Sally.
"Jangan curang." Ucapnya berpikir bahwa Sally akan mengintip.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Sally pada William dengan senyuman di wajahnya.
William lalu menurunkan Sally dan membuatnya berdiri. Lalu dia melepaskan kain dari mata Sally.
Perlahan Sally membuka matanya dan dia tampak begitu terkejut karena ternyata William membawanya ke pantai tempat di mana Jenny, kekasih Theo bodyguard nya dulu tinggal. William telah memerintahkan beberapa orangnya untuk menghiasi area pantai itu dengan bunga.
Sebuah dinding kayu besar berada di depan Sally dengan dihiasi bunga mawar merah dan di tembok itu tertulis 'Maukah kau menikah denganku?'
__ADS_1
William kemudian berlutut di hadapan Sally. Dia memegang sebuah cincin berlian di tangannya.
"Sally, maukah kau menikah denganku? Aku ingin menjalani seluruh hidupku bersamamu dan hanya denganmu. Aku mencintaimu sebanyak langit memiliki bintang. Apakah kamu bersedia bersamaku?" Ucap William saat melamar Sally.
William terkejut saat melihat ke arah Sally saat menyadari ada air mata yang terjatuh ke pipi Sally.
"Kenapa kau menangis?" Tanya William khawatir.
Sally juga berlutut dan memeluk William.
"Tentu saja aku bersedia." Ucap Sally.
"Lalu kenapa kau menangis? Jika aku melihat air matamu, itu membuat hatiku hancur." Ucap William dengan ekspresi sedih.
Sally memberikan kecupan di dahi William dan berkata, "aku sangat bahagia hingga air mataku keluar. Terima kasih... terima kasih banyak." Ucap Sally.
Di depan tembok itu ada satu sofa dan meja kecil. Di atasnya di taruh beberapa makanan ringan dan juga minuman. William membuat Sally duduk di sofa dan menatap wajahnya dengan penuh semangat. Sally terkekeh dan membenturkan kepalanya dengan lembut.
"Ayo kita berfoto." Ucap William dengan bersemangat.
"Aku tidak suka di foto." Ucap Sally.
Lalu William menatap Sally. Dia membuat ekspresi menggemaskan di wajahnya dengan mata berbinar.
"Kumohon." Ucap William.
"Sally menghela nafas dan berkata, "baiklah."
__ADS_1
Kemudian mereka berdua berfoto bersama saling menyadarkan kepalanya di pundak William dan dia memeluknya.
Tak Butuh waktu lama hari pun menjadi gelap. Malam datang kemudian banyak lampu menyala di tempat itu. Sally bangkit untuk melihat pemandangan dan dia merasa sangat senang.
"Aku pikir aku akan membawamu di malam hari, tapi...."
William tidak bisa menyelesaikan ucapnya karena Sally melompat ke arah William dan mencium pipinya.
"Terima kasih." Ucap Sally dengan tersenyum di wajahnya.
William terus menatap Sally dengan senyuman menggoda di wajahnya.
"Ada apa?" Tanya Sally.
William menatap wajah Sally dan berkata, "aku seharusnya meletakkan tempat tidur juga di sini."
Sally langsung merona dan berkata, "kau tidak tahu malu."
"Wajahmu memerah." Ucap William sambil tersenyum.
"Kau berhalusinasi." Ucap Sally dan memalingkan wajahnya dari William.
...----------------...
Beberapa bulan kemudian, Sally dan William pun menikah. Pernikahan keduanya benar-benar menyatukan dua leader mafia yang hebat. Keduanya bahkan disebut sebagai Raja dan Ratu mafia.
...TAMAT...
__ADS_1