Cerita Cinta Mafia

Cerita Cinta Mafia
18. Ketakutan


__ADS_3

Sudah sore hari menjelang malam....


"Hari ini sangat menyenangkan." Ucap Sally seraya meregangkan tangannya.


William pergi dan membuka pintu mobil untuk Sally.


"Aku sangat mengantuk." Ucap Sally dengan dirinya yang setengah mengantuk.


Dia lalu membaringkan kepalanya di kursi mobil dan menutup matanya.


William ikut masuk dan duduk bersama dengan Sally di dalam mobil.


"Sangat ceroboh." Ucap William dan membuat Sally menggunakan sabuk pengaman nya. "Bodoh." Ucap William lagi seraya tertawa dan mulai menjalankan mobilnya.


Beberapa jam kemudian Sally terbangun dan tampak termenung melihat dimana dirinya berada.


"Kau mau membawaku pergi kemana?" Tanya Sally kepada William.


"Ke rumah ku." Jawab William.


"Hentikan mobilnya." Ucap Sally dalam rasa ketakutan.


"Hari ini belum berakhir, kita masih dalam waktu berkencan." Ucap William.


Sally menghela napas.


'Baiklah, aku tidak akan mengatakan apapun lagi.' Ucap Sally dalam hati.


Beberapa menit kemudian mereka tiba di rumah William.


Sally keluar dari dalam mobil dengan matanya yang tampak begitu terkagum-kagum.


"Ini seperti sebuah istana." Ucap Sally setelah melihat rumah William.


"Apa kau suka?" Tanya William.


"Ini sangat indah." Balas Sally dengan tersenyum.


William memegang tangan Sally dan berkata, "ayo kita masuk ke dalam."


Semua pelayan dan pengawal membungkuk di hadapan mereka berdua.


Kepala pelayan di rumah William berdiri di hadapan mereka. Dia membungkuk kepada mereka seperti biasa dan memberikan salam.


"Apa untuk menu makan malam hari ini?" Tanya William.


"Tuan apa yang anda inginkan untuk makan malam?" Tanya kepala pelayan itu.


William melihat kearah Sally dan dia berkata, "apapun itu."


"Ayo, aku akan menunjukkan padamu sekeliling rumah." Ucap William yang membuat semua pelayan bahkan kepala pelayan itu tampak terkejut.


William tidak pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya. William lalu menunjukkan seluruh rumah kepada Sally.


"Jadi bagaimana menurutmu?" Tanya William.


"Ini sungguh sangat bagus, desainnya sangat indah." Balas Sally.


Tiba-tiba suasananya menjadi berubah. Wajah William berubah menjadi sedih.


"Apakah aku mengatakan sesuatu yang salah?" Tanya Sally.


"Tidak, mari izinkan aku untuk menunjukkan satu hal lagi padamu." Ucap William dengan menarik tangan Sally.


William meminta Sally untuk menutup matanya ketika dia membawa Sally ke taman rumahnya nya. Taman itu dipenuhi dengan bunga dengan jenis dan warna yang juga berbeda.

__ADS_1


Sally membuka matanya dan dia begitu bahagia saat melihat semua bunga itu.


"Ini... Ini semua sangat indah." Ucap Sally saat melihat sekeliling taman itu.


William menjentikkan jarinya dan berkata, "mulailah."


Tiba-tiba beberapa lampu taman hidup yang membuat taman itu menjadi semakin indah.


"Apakah kau juga suka menanam bunga?" Tanya Sally.


"Ini semua aku lakukan untukmu sayang." Ucap William dengan tersenyum.


Sally menjadi begitu bahagia dan semuanya terjadi secara tiba-tiba.


"Kenapa... kenapa kau melakukan semua ini?" Tanya Sally.


William berlutut dengan satu kaki dan berkata, "karena aku mencintaimu."


Sally menjadi terkejut, tapi kemudian perasaannya berubah menjadi kacau. Dia pun berbalik dan berkata, "cinta bukanlah seperti permainan anak-anak dan hati itu tidak diciptakan untuk dilukai."


Sally lalu pergi masuk ke dalam rumah dan mengambil tasnya dari atas sofa.


"Kau mau pergi kemana?" Tanya William dengan memegang tangan Sally.


"Sudah cukup sekarang." Ucap Sally.


"Di sini bukan di tengah kota dan tidak ada taksi atau apapun disini." Ucap William.


"Berikan aku kunci mobil mu." Ucap Sally.


"Mobilku hanya berfungsi jika menggunakan sidik jari ku." Ucap William seraya menjulurkan tangannya.


"Apa yang kau inginkan?" Tanya Sally dengan suara yang terdengar sedih.


"Tetaplah disini hanya untuk hari ini saja." Ucap William dengan mata yang penuh harap.


"Ayo kita lakukan satu hal." Ucap William dengan tersenyum.


"Apa itu?" Tanya Sally.


"Jika kau memelukku, maka kau akan menerima aku. Tapi jika kau tidak memelukku, maka aku tidak akan mengganggu mu lagi." Ucap William dengan wajah yang serius.


'Apa yang sedang coba dia lakukan. Sesuatu terasa tidak benar sekarang.' ucap Sally dalam hati.


"Jangan bilang bahwa kau takut." Ucap William dengan tertawa.


"Kenapa aku harus takut? Dan terhadap apa aku takut." Ucap Sally dengan penuh tanya.


"Pelayan, tunjukkan Sally dimana kamarnya, kamar yang ada di lantai atas." Ucap William.


Kepala pelayan itu menganggukkan kepalanya dan berkata, "lewat sini Nona."


Sally lalu naik ke lantai atas bersama dengan kepala pelayan itu yang menunjukkan kepadanya kamarnya.


"Apakah ini adalah kamar tamu?" Tanya Sally.


"Ini adalah kamar spesial." Ucap kepala pelayan itu.


"Baiklah, terima kasih." Ucap Sally dan masuk ke dalam.


Kamar itu memiliki sebuah tempat tidur berukuran sangat besar dan dengan lemari yang menyatu dengan dinding. Di sana juga ada ruangan untuk mengganti pakaian yang terpisah dengan kamar.


'Jika ini adalah untuk kamar tamu, lalu bagaimana dengan kamar utamanya. Ini terlihat seperti seseorang tinggal disini. Maksudku ini semua tidak terlihat seperti kamar tamu. Apakah bajingan itu mencoba menipu aku.' ucap Sally dalam hati.


Sally lalu masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


'Tubuhku bau karena berkeringat. Apakah aku bisa mandi di rumah aneh ini.' ucap Sally dalam hati seraya melepaskan pakaiannya.


Sally lalu mandi dan kemudian keluar menggunakan sebuah handuk putih.


Ada sebuah gaun malam di atas tempat tidur.


"Siapa yang menaruh ini di sini?" Tanya Sally lalu mengambil pakaian itu.


Sally mengganti pakaiannya dan penutup tubuhnya dengan handuk karena itu sangat dingin dan kemudian dia mengeringkan rambutnya.


Tiba-tiba listrik mati. Sally menaruh hair dryer yang baru dia gunakan itu kembali ke atas meja. Tangannya begitu gemetar.


Sally berteriak, "apa ada orang di sana?"


Tiba-tiba sebuah suara terdengar, itu seperti suara seseorang yang terjatuh.


"Hei.... apakah di sana ada orang?" Teriak Sally lagi.


Sally mencoba untuk menemukan ponselnya dan ketika dia menghidupkan cahaya lampu dari ponsel nya, tampak jendela terbuka dan tertutup karena tiupan angin yang berhembus.


Sally berjalan turun ke lantai bawah dan terkejut melihat seseorang berdiri.


"Siapa.... Siapa di sana?" Ucap Sally.


Lampu yang padam membuat Sally tidak bisa melihat wajah orang itu.


Dan tiba-tiba seseorang menyentuh Sally dari belakang dan saat Sally berbalik untuk melihatnya, tidak ada seorangpun di sana. Ponsel Sally terjatuh dari tangannya karena dia terkejut.


"Sial." Ucap Sally.


"Ada apa Sally?" Tanya William yang tiba-tiba memanggil namanya.


Orang yang berdiri di depan Sally sejak tadi adalah William. Sally bergegas berlari kearah William dan memeluknya dengan erat.


"Dasar bajingan, aku membencimu." Ucap Sally dengan seluruh tubuhnya yang gemetar hebat.


William memeluk Sally dan mencoba untuk menenangkan Sally.


"Tidak apa-apa, aku ada disini." Ucap William dengan sebuah senyuman penuh kemenangan di wajahnya.


Lampu kembali menyala.


"Apakah kau baik-baik saja?" Tanya William.


Sally kemudian tiba-tiba mendorong William dan berkata dengan marah.


"Ini semua ulah mu yang ingin membuat aku untuk memelukmu." Ucap Sally kesal.


"Aku sangat pintar." Balas William dengan tersenyum.


Rahang Sally mengeras dan berkata, "aku membencimu."


William tertawa dan berkata, "jadi aku menang."


"Menang atau kalah, aku membencimu." Ucap Sally dan berbalik untuk naik ke lantai atas.


William memegang tangan Sally dan tiba-tiba menggendong Sally di lengannya.


"Apa yang kau lakukan?" Teriak Sally.


"Jika kau berteriak lagi, maka aku akan mencium mu." Ucap William dengan tersenyum.


Sally kemudian tidak membuat suara apapun. William pun tersenyum penuh kemenangan dan membawa Sally kembali ke dalam kamar.


'Aku rasa, aku terlalu berlebihan. Dia masih gemetar sekarang. Aku tidak pernah berpikir bahwa seseorang akan begitu takut akan kegelapan. Dan apa alasan dari semua ini.' Ucap William dalam hati.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2