Cerita Cinta Mafia

Cerita Cinta Mafia
19. Basemen Diserang


__ADS_3

William menaruh tubuh Sally di atas tempat tidur dengan perlahan dan menyingkirkan rambut Sally dari wajahnya.


Sally menepis tangan William dan berkata, "jangan sentuh aku."


William mengangkat kedua tangannya dan berkata, "baiklah."


"Makan malam akan siap dalam waktu setengah jam lagi. Jadi turunlah kebawah untuk makan." Ucap William seraya berjalan keluar.


"Aku sedang tidak berselera." Ucap Sally seraya menaruh kepalanya di lututnya sendiri.


William lalu berjalan keluar dan menutup pintu.


"Bawa makanan itu kepadanya saat sudah siap." Ucap William kepada salah seorang pelayan yang berdiri di luar tepat di depan pintu.


"Tuan Muda, siapa nona itu?" Tanya kepala pelayan.


William berjalan pergi ke ruang kerja tanpa mengatakan apapun.


William duduk di kursinya. Ruang belajarnya lebih besar dari kamarnya dengan banyak buku di dalamnya dan hanya satu meja dengan satu kursi.


William membuka laci meja dan mengambil sebuah bingkai foto.


"Apakah kau akan kesal sekarang karena aku sudah jatuh cinta kepada orang lain." Ucap William saat melihat kearah foto itu.


William membiarkan bingkai foto itu berdiri di atas meja.


"Jatuh cinta itu, tidak mungkin. Dia itu berbeda tapi bagaimana bisa aku jatuh cinta kepada orang lain." Ucap William dan menutup matanya.


Di sisi lain Sally tengah mendapat panggilan telepon dari leader gang lainnya. Itu adalah sebuah panggilan group.


"Ada apa sekarang?" Tanya Sally saat menjawab telepon itu.


"Kau dimana sekarang?" Tanya Kai.


"Ada apa? Kenapa? Apakah semuanya baik-baik saja?" tanya Sally.


"Ada penyerangan di basemen kita. Banyak orang-orang kita yang meninggal dan aku sudah menelpon bos tapi dia tidak menjawab panggilan ku." Ucap Kai.


"Apa?" Ucap Sally dengan begitu terkejut.


"Kami akan segera kesana." Ucap Sally dan menutup sambungan telepon.

__ADS_1


Sally berjalan keluar dengan cepat dan menanyakan kepada pelayan tentang dimana keberadaan William.


"Nona, Tuan Muda berada di ruang belajar." Ucap kepala pelayan itu.


"Dimana ruangan itu?" Tanya Sally dengan bergegas.


Kepala pelayan itu sebenarnya enggan untuk memberitahu Sally tapi dia kemudian menunjuk ke arah ruangan belajar itu. Sebelumnya tidak ada seorangpun yang boleh memasuki ruang belajar itu kecuali, William itu sendiri.


Sally masuk ke dalam ruangan itu dan William tengah tertidur. Sally mendekat ke arah William dan memanggil namanya. Tapi tidak ada respon apapun. Tangan William tengah memegang bingkai foto itu. Karena penasaran Sally melepaskan tangan William dan melihat kearah bingkai foto itu tapi kemudian William bangun dan memegang tangan Sally dengan erat.


"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya William penuh kemarahan.


"Ada penyerangan di basemen, aku datang kemari untuk memberitahukan mu hal itu." Ucap Sally dengan tangan yang merasa kesakitan


William masih memegang tangan Sally dengan penuh kekuatan.


William melepaskan tangan Sally dan berkata, "kau tetaplah di sini. Aku akan pergi melihat keadaan di sana dan jangan datang ke ruang belajar ini lagi."


Sally mengusap tangannya dan berkata, "kau tidak bisa mengontrol diriku. Aku bukan burung dan ini adalah tanggung jawab ku juga untuk melindungi orang-orang ku." Ucap Sally dan berjalan keluar dari ruang belajar itu.


"Dan aku juga tidak tertarik dengan kehidupanmu." Ucap Sally dan berjalan keluar kembali ke kamar tadi untuk mengganti pakaiannya.


'Sial, aku tidak bermaksud untuk menyakiti nya.' ucap William dalam hati dengan ekspresi yang merasa bersalah.


Sally duduk di dalam mobil dan memasang sabuk pengaman nya. William melihat ke arah tangan Sally di mana tadi dia memegang nya dengan erat tadi. Pergelangan tangan Sally tampak membiru.


William mulai menjalankan mobilnya menuju ke basemen. Basemen berada dekat dari rumah William, jadi tidak membutuhkan waktu yang lama bagi William untuk tiba di sana.


Banyak dari para penjaga disana terluka dan beberapa di antara mereka juga meninggal.


"Oh ya Tuhan." Ucap Sally saat keluar dari dalam mobil. "Apa yang telah terjadi?" Tanya Sally kepada keempat leader lainnya.


"Kami baru tiba beberapa menit lebih cepat sebelumnya dari dirimu. Tapi saat kami tiba di sini, semuanya sudah seperti ini dan kami menemukan senjata yang merupakan milik dari geng Lion." Ucap Charly.


Setiap geng mempunyai simbol sendiri sebagai tanda pengenal mereka. Geng Lion mempunyai simbol seekor singa di senjata mereka, dan untuk geng William, di senjata mereka ada simbol serigala. Tidak hanya geng william tapi juga keempat geng lainnya.


William sangat marah dengan apa yang sudah dilakukan oleh geng Lion.


"Sally." Ucap David kemudian memegang tangan Sally dan menyentuh bagian yang tampak memar itu. "Apa yang terjadi?" Tanya David dengan khawatir bahkan yang lainnya juga melihat tangan Sally yang tampak membiru dan mereka semua menjadi khawatir terhadap Sally.


Sally melihat kearah William. William pun merasa bersalah atas apa yang sudah dia lakukan.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja." Ucap Sally. "Kai, bisakah kau mengantar aku pulang ke rumahku?" Tanya Sally.


"Tentu saja. Ayo kita pergi." Balas Kai dan memegang tangan Sally.


"Sally..." Panggil William.


Tapi Sally tidak berhenti berjalan dan pergi bersama Kai.


"Sial." Ucap William dengan rahang nya yang mengeras. "Bersihkan semua kekacauan ini dan kita akan kembali untuk memberikan pelajaran kepada mereka." Ucap William dan kembali ke rumahnya.


"Ada apa dengan mereka berdua dan Kai, apakah dia tidak takut terhadap pembunuh itu?" Ucap Charly.


"Sally adalah teman kita, dia juga akan melakukan pekerjaannya dengan baik. Jadi memangnya kenapa kalau dia itu adalah leader kita, dia tidak bisa membawa Sally dengan mudah." Ucap Michael.


Sementara itu di sisi lain....


"Sally, apakah kau baik-baik saja?" Tanya Kai dengan wajah yang tampak khawatir saat menyetir.


"Aku baik-baik saja." Balas Kai.


'Siapa sebenarnya wanita yang berada di bingkai foto tadi? Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Jika dia mempunyai seseorang yang dia cintai, lalu kenapa dia selalu menggangguku? Kenapa juga aku harus memikirkannya.' ucap Sally dalam hati.


"Kai, apakah kau menemukan sesuatu yang berhubungan dengan penculikan itu?" Tanya Sally.


"Aku masih mencari tahu tentang hal itu, jangan khawatir. Kami akan segera menemukan sesuatu tentang dia." Ucap Kai seraya memegang tangan Sally.


"Sally kenapa kau tidak mau menerima ku?" Tanya Kai secara tiba-tiba.


"Kau sudah seperti kakakku sendiri." Ucap Sally.


Kai terpaksa tersenyum di wajahnya dan berkata, "apakah kau menyukai dia?" Yang dimaksudkan Kai adalah William.


"Hatiku sudah terluka dan aku tidak punya kekuatan untuk melewati rasa sakit itu lagi." Ucap Sally dengan tertawa. "Kenapa kau tidak mencoba untuk mencari kekasihmu sendiri?" Tanya Sally kepada Kai.


"Sudah tidak ada ruang lain lagi untuk orang lain." Ucap Kai dengan tersenyum.


"Kai...." Ucap Sally.


"Tidak apa-apa, aku akan menunggu dirimu." Ucap Kai dengan tersenyum di wajahnya.


'Aku sudah mencintaimu sejak kita masih kecil. Dan hanya kau yang melihat aku sebagai kakakmu saja. Dan untuk memar di tanganmu itu, aku yakin itu adalah perbuatan si bajingan itu.' ucap Kai dalam hati dengan rahang nya yang mengeras.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2