
Sebelumnya saat Sally meninggalkan perusahaannya...
'Apa-apaan ini. Kenapa lokasi yang diberikan selalu saja berubah?' ucap Sally dalam hati saat mengendarai mobilnya.
Kapanpun saat Sally sudah dekat pada arah lokasi yang dituju, lokasi itu selalu saja berganti. Sally pun menghentikan mobilnya. Dia lalu memarkirkan mobilnya dengan penuh kemarahan.
"Apa-apaan ini? Ini sudah terlalu kelewatan. Aku tidak akan mengikuti petunjuk ini lagi." Ucap Sally dengan begitu marah.
'Tunggu dulu, lagi... Sekarang lokasinya sudah berhenti. Tapi kenapa tempat ini sangat familiar? Bukankah ini adalah pabrik yang terbengkalai dimana Jasmine pergi? Ah ternyata kau Jasmine!' ucap Sally dalam hati dengan rahang nya yang mengeras.
Sebelum Sally berbalik dia kembali menerima pesan dari nomor yang sama dengan yang mengiriminya pesan sejak tadi.
Sally lalu melihat ke arah arloji yang dia gunakan.
"Ini sudah lebih dari satu jam. Roni pasti sudah mengikuti ku sekarang." Ucap Sally pada dirinya sendiri.
Sally kemudian mengirim pesan pada Roni, tentang alamat pabrik terbengkalai itu. Sally pun meminta Roni untuk pergi ke lokasi dimana Saly pergi.
Sally kemudian tengah dalam perjalanan menuju pabrik terbengkalai itu.
Pabrik yang terbengkalai itu berada dekat bukit. Sally tengah mengendarai mobilnya dengan perlahan karena jalanan itu lumayan sempit. Apalagi digunakan untuk dua jalur dengan sisi kanannya terdapat jurang. Sally pun terus melajukan mobilnya dengan perlahan, mengingat jalanan itu sangat berbahaya.
Tapi tiba-tiba sebuah truk datang ke arahnya dan saat Sally mencoba untuk berpindah arah, tiba-tiba sebuah mobil muncul dari belakangnya. Sally pun terjebak di antara kedua mobil dan truk itu. Tidak ada pilihan lain baginya selain kecuali membiarkan mobil itu terjatuh ke jurang yang berada di sisi kanan Sally.
Sally akhirnya berhasil menghindari truk itu. Tapi mobil yang berada di belakangnya malah menabrak Sally dengan keras. Dan karena hal itu mobil yang dikendarai Sally terjatuh ke jurang. Jurang itu memang tidak terlalu dalam, tapi mobil itu bisa saja meledak kapanpun.
Sally pun dengan cepat melompat keluar dan dia tampak terluka parah.
'Sial, aku tidak akan memaafkannya kali ini. Kau seharusnya tidak memprovokasi Geng Lion Jasmine sayang. Kau sudah salah pilih.' ucap Sally dalam hati dengan seringai jahat di wajahnya.
"Ahhh..." Sally tiba-tiba merasakan sakit.
Sebuah ranting kayu yang tajam ternyata menusuk kakinya.
Sally menarik ranting kayu itu keluar dari kakinya. Setelah hal itu, kakinya pun berdarah dengan begitu parah.
Sally menggunakan celana jeans dan sebuah baju yang kainnya sangat sulit untuk di robek agar dia bisa mengikat kakinya supaya bisa untuk mengurangi pendarahan. Sally kemudian berusaha berdiri dan menemukan ponselnya.
"Ah, ketemu juga." Ucap Sally.
__ADS_1
Namun saat matanya melihat ponselnya berada di tanah, dia langsung mengambil ponsel itu dan ponsel itu tampak rusak. Sally kembali membuang ponsel itu dengan penuh kemarahan.
"Sial." Ucap Sally dengan marah.
'Tenanglah, tenanglah. Aku harus tenang agar bisa keluar dari sini. Aku merasa ingin memotong kaki ini.' ucap Sally dalam hati mencoba untuk berdiri.
Luka di kaki Sally tampak semakin parah dan mulai berubah membiru. Tapi bagaimana pun juga, Sally tetap berusaha agar bisa memanjat naik ke atas bukit.
Sally berusaha menahan sakit dan akhirnya bisa berdiri.
Untungnya saat itu Roni tengah lewat menuju lokasi yang dikirimkan Sally.
Tiba-tiba saat dia melihat Sally. Roni langsung menghentikan mobilnya dan keluar dengan cepat dari dalam mobil.
"Nona...!!" Teriak Roni.
Roni lalu menggendong Sally di lengannya dan membawa Sally menuju rumah sakit.
"Roni berikan aku ponsel." Ucap Sally dalam mobil. "Saat aku datang kemari ponsel ku terjatuh di tanah." Ucap Sally.
"Nona, saya mohon jangan tutup mata anda." Ucap Roni dengan penuh khawatir dan tampak jelas dia merasa begitu ketakutan.
Beberapa saat kemudian, William tiba bersama dengan Oliver di rumah sakit.
"Dimana dia?" Tanya William kepada Roni.
Tangan William tampak begitu gemetar.
Dan kemudian dokter keluar dari dalam ruang gawat darurat.
William langsung mendekat pada dokter itu tentang keadaan Sally.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya William pda dokter.
"Dia sudah baik-baik saja sekarang. Sebelumnya dia kehilangan begitu banyak darah tapi untungnya kami mempunyai stok darah yang cocok dengannya. Oh ya, dan satu hal lagi. Jangan biarkan dia berjalan atau berlari dalam waktu 1 bulan. Jika dia terlambat sedikit saja di bawa kemari, maka tidak ada pilihan lain selain untuk mengamputasi kakinya. Kami tidak punya pilihan lain, selain hal itu sebelumnya, tapi sekarang tidak." Ucap dokter dan mengusap punggung William.
William langsung terduduk di kursi.
'Oh ya Tuhan, dia ketakutan! Aku tidak pernah melihat pria ini seperti ini sebelumnya! Dia benar-benar mencintai Sally. Oh ya Tuhan, tolong bantu mereka.' ucap Oliver dalam hati seraya melihat kearah William.
__ADS_1
Oliver lalu duduk di samping William dan berkata, "dia sudah baik-baik saja sekarang."
"Aku mau mengetahui siapa orang yang berada di balik semua ini." Ucap William dengan penuh kemarahan.
"Aku akan menemukan semua hal tentang ini. Jadi kau tenanglah dan masuklah ke dalam." Ucap Oliver.
William lalu berdiri dan membuka pintu. Dia berjalan masuk ke dalam dan mendekat menuju tempat tidur dan dia langsung terduduk di lantai.
William lalu memegang tangan Sally. Kepalanya berada disisi tempat tidur Sally.
Dia kemudian berkata, "aku minta maaf karena aku tidak bisa menjagamu dengan baik."
Air mata William terjatuh ke atas tangan Sally yang membuatnya terbangun.
William melihat kearah sally dan bertanya, "apakah kau baik-baik saja?"
Sally tersenyum dan berkata, "apakah kamu menangis?"
"Aku adalah seorang pria. Kenapa aku harus menangis." Ucap Williams seraya mengalihkan pandangannya kearah lain.
Sally memegang tangan William dan berkata, "ini adalah ulah Jasmine yang telah melakukan semua ini.
Mendengar hal itu William menjadi begitu terkejut. Rahangnya mengeras dan berkata, "kau istirahatlah mulai sekarang. Aku akan memanggil teman-temanmu dan mereka akan menjagamu. Dan satu hal lagi jangan pernah mencoba untuk berdiri." Ucap William kepada Sally dengan penuh penekanan.
Sally tertawa kecil dan berkata, "baiklah. Aku tidak akan mencobanya."
Sebelum pergi, William mencium kening Sally dan berkata,"aku mencintaimu."
Sally hanya terdiam tapi memberikan senyumannya.
William lalu berbalik dan keluar dari ruangan itu.
'Apakah dia menangis sebelumnya? Ternyata dia sangat mencintai aku.' Ucap Sally dalam hati dengan pipinya yang merona merah dan dia menutup mulutnya dengan tangannya sendiri.
Karena merasa begitu terkejut, jantungnya berdegup dengan begitu cepat. Karena hal itu, para perawat masuk ke dalam ruangan Sally dan tampak begitu panik.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja." Ucap Sally merasa begitu malu.
Bersambung....
__ADS_1