Cerita Masa Laluku

Cerita Masa Laluku
1. Awal kisah


__ADS_3

Sebelumnya aku mau memperkenalkan diriku. Namaku Desiana Maurina. Usiaku kini sudah hampir 29 tahun dan aku sudah memiliki dua orang anak.


Disini aku mau sedikit bercerita tentang pengalaman cinta pertamaku yang terbilang Cinta monyet tapi serius yang b****erakhir menyedihkan. Dan cerita ini berawal dari saat aku libur setelah ujian SMP ku, aku pergi kerumah saudaraku untuk menghadiri acara sunatan sepupuku.


Dan disinilah kisah ku dimulai.


×××××


Tahun 2007


Disalah satu kota. Aku yang baru datang bersama Bapak dan Ibuku dari kota lain siang itu langsung disambut hangat oleh keluarga ibuku. Mereka memeluk dan mencium kedua pipiku yang terlihat sedikit chubby karen berat badanku yang kembali naik.


"Teteh !" Panggil seorang lelaki yang usianya terpaut tiga tahun dibawahku. Aku tersenyum manis sambil melambaikan tanganku padanya. "Baru sampai teh ?" Tanyanya. Sebut dia Fikri.


Aku mengangguk dan kemudian menyodorkan tanganku padanya sambil terkekeh kecil. Ia yang memang diajarkan sopan santun sedari kecil pun langsung meraih tanganku dan menciumnya. Kemudian bergantian mencium punggung tangan Bapak dan Ibuku.


"Ayo masuk dulu." Ucap tanteku mengajak kami bertiga masuk kedalam rumahnya dan mempersilahkan kamu duduk.


Fikri yang baru pulang sekolah pun langsung berganti pakaian dan duduk di sebelah ku mengajak ku mengobrol ala orang dewasa, hahaha. padahal usiaku waktu itu masih 15 tahun dan usia Fikri masih 12 tahun. Entah obrolan apa kami pun tak mengerti, hanya asal bicara saja. Namun yang aku dengar dari para orang tua yang sedang mengobrol, mereka menggunakan bahasa sunda. Tapi kami bukan berada dikota Bandung tentunya.


"Assalamualaikum." Ucap seorang pria sekitar usia 20 tahunan diambang pintu sambil tersenyum. "Waalaikum salam." Sahut kami serempak.


Dengan sopan pria tersebut mengalami satu persatu tangan orang tuaku dan tanteku juga kakak sepupuku. Terakhir Fikri yang mencium punggung tangannya.


"Tumben udah pulang ? Biasanya juga nanti sore." Tanya Fikri menoleh kearah pria tersebut.


Panggil saja dia Dillah. Pria berusia 20 tahun, memiliki tubuh kekar dengan tinggi 182 CM. Rambut sedikit ikal, alis mata yang tebal, bibir yang tipis dan mata yang sedikit sipit.


Aku hanya terdiam menyaksikan obrolan kedua pria berbeda generasi ini. Sambil sesekali ikut tertawa ketika pria tersebut melontarkan candaan nya pada Fikri.


"Fik, saya tinggal dulu ya. Saya belum solat soalnya." Ucapnya yang diangguki Fikri.


"Habis solat langsung makan ya Dil, Bibi udah masak tuh !" Ucap tanteku padanya. Ia tersenyum dan mengiyakan ucapan bibi nya.

__ADS_1


×××××


Sekitar pukul empat sore, Fikri mengajakku berkeliling halaman belakang rumah tanteku yang terhubung langsung dengan sungai yang cukup besar. Entah mengapa aku sangat tertarik melihatnya, banyak pria paruh baya dan bahkan pria muda yang sedang asik memancing berjejer disepanjang sungai. Aku begitu gembira melihat hamparan hijau tanaman padi yang baru ditanam.


Aku tak tahu kenapa tidak hanya aku dan Fikri, tapi ada dua anak kecil sekitar usia 10 tahun dan enam tahun ikut bersama aku dan Fikri. Aku baru menyadarinya setelah aku duduk disalah satu batu besar yang ada dipinggir sungai.


"Ki. Lo sering main kesini ?" Tanyaku tanpa ragu mengeluarkan kata keseharian ku dirumah. Padahal tadi sewaktu dirumah tanteku, aku selalu memakai kata aku, dan saya. Hahaha


Fikri mengangguk. Ia menunjuk salah satu gubuk kecil yang hanya beratap terpal biru diseberang sungai. "Biasanya saya sama yang lain kesana."


Aku hanya mengangguk. Kemudian aku kembali menatap lurus pada sungai dan mulai melamun hingga beberapa menit aku tersadar karena mendengar teriakan seorang pria dari belakang ku.


"Dek. Ayo pulang udah hampir maghrib !" Bentak nya. Anak kecil yang tadi bersamaku langsung bangun dan berlari kearahnya sambil terus memandang sinis padaku.


Aku yang memang belum pernah melihatnya pun hanya balas menatap sinis padanya, hingga ia menghilang dipertigaan jalan raya.


"Judes amat tuh orang, pake liat-liat gue lagi. Pengen gue colok kali tuh matanya !" Gerutu ku pada pria tersebut yang didengar Fikri.


"Emang gitu teh orang nya, biarin aja dia mah !" Sahut Fikri sambil menunjukkan wajah datar nya.


"Hai.." Sapa Dillah padaku sambil duduk di sebelah ku. "Hai juga !" Sahutku tersenyum kecut mengingat kejadian tadi dipinggir sungai.


"Kenalin, aku Dillah !" Ucapnya sambil menyodorkan tangannya. Aku meraihnya dan menyebutkan namaku. "Desi."


"Aku udah tahu nama kamu." Sahutnya. "Eh.." Aku sedikit terkejut.


"Tadi aku denger mereka panggil kamu, Des, Desi. Begitu." Lanjutnya menjelaskan. Hanya hanya ber oh ria saja tanpa mau melanjutkan obrolanku.


"Minta nomor HP nya dong !" Godanya sambil tersenyum padaku.


"Ga punya hp, tapi punya kartunya !" Jawabku polos. Karena memang betul, aku memiliki kartu cellular tapi aku tak memiliki Handphone. Lalu bagaimana bisa ? Ya aku pinjam Handphone temanku lah. Hahaha


Mungkin dari kalian ada yang pernah mengalami masa ini, sama sepertiku dulu.

__ADS_1


"Yaudah gapapa, nanti kan bisa pinjem HP temen buat buka SMS dari aku." Sahutnya. Aku mengangguk dan kemudian aku mulai menyebutkan nomor HP ku.


"Nih aku ketik ya SMS nya terus aku kirim ke nomor kamu." Ucapnya memperlihatkan ketikan SMS nya padaku melalui Handphone Nokia type 6600 miliknya.


Wuih.. 66 HP nya, gilaaaaa !! Batinku mengagumi.


Karena waktu dimasa remajaku, sudah memiliki HP Nokia type 2300 aja rasanya udah berasa jadi orang kaya sekampung, apa lagi punya HP Nokia type 6600 udah berasa kaya anak orang kaya beneran. Hahaha


"Udah aku kirim tapi pending." Ucapnya padaku. "Iyalah !" Sahutku ketus.


"Maaf ya yang tadi sore aku kaya orang marah sama kamu ? Soalnya ga suka aja liat adek aku main dipinggir sungai, takut dia nyemplung doang !"


Aku menoleh, kemudian mengangguk. "Gapapa."


"Kamu masih sekolah ?" Tanya nya lagi. "Tinggal nunggu surat kelulusan aja." Sahutku.


"Lulus SMP apa SMA ?" Tanyanya lagi. "SMP masuk SMA." Sahutku lagi singkat.


Ia terus bertanya tentang diriku, sampai aku yang merasa bosan ditanya akhirnya melontarkan pertanyaan juga padanya. Ia menjawab semua pertanyaan-pertanyaan ku. Sama sepertinya yang bertanya tentang diriku, akupun bertanya tentang dirinya.


×××××


Keesokan harinya.


Tamu mulai berdatangan satu persatu. Karena tadi sehabis subuh, anak bungsu tanteku bari saja dikhitan. Mulai dari ibu-ibu wali murid tempat dimana anak tanteku bersekolah SD, hingga rekan kerja suami tanteku bergantian berdatangan. Aku menjadi sedikit sibuk karena ditugaskan melayani para tamu, mengambilkan minuman, mengambilkan makanan ringan dan sebagainya. Padahal aku tak dijadikan pager ayu yang ada didepan prasmanan. (Jika dikampung ku).


Hingga sore hari menjelang aku belum selesai mengantarkan makanan ringan dan minuman, sampai aku melewatkan solat dzuhurku.


"Tan. Izin dulu ya, mau dzuhuran sebentar lanjut ashar. Soalnya udah mau masuk waktu ashar ni." Izinku pada tanteku. Tanteku mengangguk dan menyuruhku segera melakukan sholat, ia meminta maaf padaku karena telah membuatku sibuk sampai lupa dengan kewajibanku.


Setelah selesai sholat ashar, aku kembali melayani para tamu yang sudah datang. Walau kini jumlahnya tak sebanyak tadi pagi hingga siang. Tapi tetap saja aku merasa lelah.


Pukul lima sore hari aku baru bisa menselonjorkan kakiku didalam kamar yang aku tempati. Baru lima menit aku duduk, pintu kamar ku sudah diketuk oleh seseorang.

__ADS_1


Klik. Aku membuka handle pintu dan terkejut dengan seorang yang ada dihadapanku.


"Astaghfirullah." Ucapku memegang dadaku.


__ADS_2