Cerita Masa Laluku

Cerita Masa Laluku
21. Kehidupanku


__ADS_3

Pukul 11 malam, aku sudah berada didalam kamar untuk berganti pakaian. Dibantu oleh April dan Sania. Sedangkan Rika dan Bunga sudah kembali kerumahnya. Sedangkan Rini sudah tertidur pulas didalam kamar Alva karena merasa cukup lelah dengan aktifitas hari ini.


Jangan berfikir macam-macam ya, karena Alva sangat menghormati cewek yang benar-benar dicintainya. Jadi dia ga bakalan ya ngelakuin hal yang bukan-bukan pada Rini, soalnya sepupu aku banyak juga yang menginap dan juga ikut tidur dikamar Alva.


Selesai membantuku berganti pakaian dan membersihkan wajahku yang benar-benar full makeup, April dan Sania berpamitan dan tidur dirumah April.


"Wouyy.. nganten !" Teriak April pada Dillah yang masih betah mengobrol diluar bersama para bapak-bapak.


"Ngapah ?" Sahutnya.


"Noh, bini udah nungguin dikamar. Buruan lah jangan ongkoh be diluar ! Hahahaha"


"Hahahaha"


Dillah tersenyum menahan malu karena ejekan April dan Sania. Ia mengepalkan tangannya dan mengacungkan pada April dan Sania. "Gue gibeng mencret lo !"


April dan Sania berlarian kecil sambil tertawa, juga dengan para pria paruh baya yang bersama dengan Dillah.


"Udah sana Dil, istirahat !" Suruh bapakku padanya.


Aku sebenarnya melihat semua kejadian tersebut dari depan pintu, tapi saat Dillah mengangguki ucapan bapak aku segera masuk kedalam kamar dan berpura-pura bermain Hp mengecek SMS yang masuk memberiku selamat.


"Udah selesai ?" Tanya Dillah berbasa basi. "Udah !" Jawabku sambil mengangguk.


"Tunggu bentar ya, kakak ganti baju dulu. Habis itu kita perang !" Goda Dillah padaku sambil menarik turunkan alisnya.

__ADS_1


"Apa sih ?" Sahutku tersenyum malu.


Dillah menyambar handuk serta pakaian ganti yang sudah aku rapikan kedalam lemari, ia segera membersihkan diri dikamar mandi.


Setelah selesai ia langsung menyerang ku tanpa aba-aba dan membuatku pasrah menerima serangan-serangan hangat darinya.


×××××


Jumat sore, aku sudah bersiap dengan tas besar berisikan pakaianku yang akan aku bawa pindah kerumah baruku bersama Dillah.


Rumah baru, bukan rumah orang tua Dillah. Dillah menabung selama beberapa tahun dari awal ia bekerja di pabrik hingga sekarang, untuk masa depan nya. Dan benar terbukti, jika ia akan memboyongku kerumah miliknya.


Rumah sederhana disebelah perumahan yang letaknya tak jauh dari tempat Dillah bekerja. Rumah berukuran 6×9 meter dengan ukuran tanah 100 meter persegi.


Rumah yang cukup luas untukku tinggali berdua dengan Dillah. Rumah yang memiliki dua kamar, satu ruang tamu, mushola kecil serta ruang keluarga dan dapur yang terhubung dengan halaman belakang.


Dillah mencium kening ku. "Buat istri tercinta, apa sih yang ga ?" Aku hannya mengangguk mengiyakan.


Kami berdua beristirahat dikamar depan yang sudah tersedia kelengkapan, seperti kasur, lemari, dan meja rias. Bahkan, Dillah telah mengisi penuh lemari pakaian kami, dan begitu banyak pakaian yang tersedia untukku.


×××××


Hari-hari ku jalani dengan begitu sempurna sebagai seorang istri yang hanya berdiam dirumah. Mulai dari bangun tidur, menyiapkan sarapan, membantu suami bersiap, mengantar suami berangkat hingga depan pintu, memasak untuk makan malam, menunggu suami pulang, dan tidur bersama. Hanya itu yang aku lakukan setiap hari hanya ditemani Hp milikku.


Kini usia pernikahanku sudah menjelang lima bulan, dan belum ada tanda-tanda aku hamil. Tapi untung nya suami, orang tua serta mertuaku tak menuntut ku untuk segera hamil.

__ADS_1


Hari ini tepat aku seminggu melakukan puasa romadhon. Sebelumnya aku sudah berkunjung kerumah bapak ibuku untuk munggahan.


(Ada yang tau ga munggahan apa maksudnya ? Tapi aku susah si buat jelasin apa itu munggahan 🤣🤣 pokoknya kalo disini sih udah jadi tradisi ya setiap mau puasa tuh pasti bawain sembako, atau yang lainnya ke orang tua.)


Setiap satu bulan sekali di hari sabtu aku selalu pulang kerumah bapak ibuku. Karena aku tak punya alasan untuk tak datang kecuali memang sedang sakit, karena jarak tempuh rumah orang tuaku dan aku hanya beberapa jam menggunakan motor. Jadi aku selalu datang. Kalo untuk kerumah orang tua Dillah si aku bisa saja setiap waktu jika aku mau.


Sore ini, aku sedang mencari takjil bersama dengan Dillah disebuah lapangan pinggir kota yang memang setiap tahunnya menjadi pasar dadakan. Aku berjalan mencari kolak serta gorengan, juga es buah. Aku bukan tak sempat membuatnya, melainkan memang Dillah yang mengajakku untuk berkeliling.


Saat aku tengah memilih, tanpa sengaja aku menabrak bahu seorang wanita. Aku segera meminta maaf padanya.


"Iya gapapa. Aku juga ga lihat tadi." Sahutnya sambil menepuk lenganku.


Setelah kepergian wanita itu aku menoleh mencari sosok Dillah tapi sayangnya ia tak asa dibelakang ku. Aku sih cuek aja, aku fikir Dillah sedang membeli sesuatu. Aku bertemu Dillah disebuah penjual es cendol, kulihat wajahnya sedikit berkeringat dan agak terlihat pucat. Aku langsung menghampirinya dan segera mengajaknya pulang.


Sesampainya dirumah, Dillah langsung berlari kekamar mandi, ia mencuci wajahnya. Setelahnya ia membantuku menyiapkan makanan yang telah kami beli untuk berbuka puasa.


×××××


Idul fitri. Aku melaksanakan solat idul fitri di masjid dekat rumah orang tua Dillah. Karena dua hari sebelum hari idul fitri, aku dan Dillah memutuskan untuk menginap dirumah orang tua Dillah. Aku dan Dillah berkeliling sekitaran rumah orang tua Dillah untuk melakukan sungkeman, termasuk dengan om dan tanteku yang memang letak rumahnya tak jauh dari rumah orang tua Dillah.


Aku, Dillah dan seorang adik Dillah kini sedang berada di rumah tanteku, kami memang sengaja berlama-lama disana. Tanteku bilang, mereka akan ikut kami pulang kerumah orang tuaku untuk menginap barang semalam. Aku jadi bisa membawa adik bungsu Dillah, dan bisa dibawa tanteku pulang bersama.


Sore hari kami berkunjung kerumah kakek nenek Dillah di desa sebelah. Sudah menjadi rutinitas keluarga Dillah sedari habis dzuhur sampai malam berkumpul dirumah nenek kakek Dillah. Juga tentunya bersama dengan om dan tanteku juga.


Suasana idul fitri pertamaku bersama keluarga besar suamiku sangat berbeda dari tahun-tahun kemarin. Walau aku dan Dillah sudah menikah sebelumnya, tapi aku dan Dillah sama-sama idul fitri dirumah masing-masing. Dan hari ketiga idul fitri barulah Dillah datang ke rumah ku dan memboyong ku kerumahnya untuk bertemu seluruh keluarganya dengan aku dan Dillah yang bermain.

__ADS_1


Setelah larut malam. Dillah mengajakku pulang kerumah kami, karena kami hatus bersiap untuk pulang kerumah orang tuaku besok siang. Aku dan Dillah menggunakan motor tentunya, sedangkan adik bungsu Dillah ikut dengan mobil tante dan om ku.


Selesai bersiap, aku dan Dillah memutuskan untuk kembali menginap dirumah orang tua Dillah. Karena besok kami akan berangkat dari sana bersama.


__ADS_2