
Tak kusangka, ternyata kedua orang tua Dillah. Maksudku mertuaku kini sudah ada bersama dengan keluarga mempelai sedang mengobrol dengan beberapa tamu. Aku dan Dillah yang baru datang mencium punggung tangan kedua mertua serta yang lainnya.
"Lama banget si. Ketinggalan akad jadinya kan kamu !" Gerutu ibu Dillah.
"Kan Desi sekolah dulu bu, jadinya Dillah nungguin dia dulu. Ini kan hari sabtu !" Jelas Dillah pada ibu mertuaku.
"Yaudah sana kalian makan dulu. Dil, ajak pacar kamu makan sana !" Titah tante Dillah padanya. Dillah menurut dan mengajakku kemeja prasmanan.
Walau sebenarnya tadi kami sudah makan saat perjalanan dan masih kenyang, tapi kami merasa tak enak jika menolak. Akhirnya kami hanya mengambil kue basah dan buah yang sudah diiris kecil. Sampai kedua mempelai keluar setelah berganti pakaian, baru kami menghampiri dan memberikan selamat. Aku memberikan kado yang sempat tadi kami beli dijalan pada mempelai wanita yang memang sepupu Dillah.
"Makasih. Cepat nyusul ya a', teh." Ucapnya pada kami.
"Insya Allah. Doain aja biar tahun depan a'a sama teh Desi bisa nyusul kamu sehabis teh Desi lulus sekolah nanti."
"Amin.." Ucapku dan si pengantin bersamaan. Aku tersenyum pada Dillah.
×××××
Kini aku dan Dillah sudah dalam perjalanan pulang, tapi sebelumnya Dillah mengajakku ke suatu tempat yang entah dimana. Aku mengedarkan pandangan ku kesemua penjuru dan sedikit terkejut melihat plang pada sebuah bangunan berlantai dua yang cukup besar tersebut.
"Hotel." Ucapku menggumam dan fikiran ku kesana kemari. "Mau ngapain kak kesini ?"
__ADS_1
"Mau menuhin kewajiban kakak sebagai suami."
Aku mengerutkan kening mencerna kata-katanya. Sejurus kemudian aku memukul kencang lengan Dillah. "Fiktor ihh.."
"Ko fiktor sih Des. Kan kamu istrinya kakak, jadi wajar dong kakak minta jatah. hehehe"
Rasanya aku sangat malu jika harus berhadapan dengan situasi ini. Tapi apalah dayaku yang tak dapat menolak keinginan suamiku. Hingga kami menghabiskan waktu semalaman kami untuk bergulat di ranjang hotel. Dan tak lupa sebelumnya aku memberi kabar pada bapakku melalui telpon jika aku menginap dirumah sepupu Dillah.
Berbohong. Ya aku memang berbohong, karena tak mungkin aku mengatakan yang sebenarnya pada bapakku.
Pagi menjelang dan aku segera beranjak kekamar mandi, dan berganti pakaian yang sudah kami beli sebelum ke hotel. Pantas saja Dillah menyuruhku memilih pakaian, ternyata dia memang sudah merencanakan ini toh. Fikirku.
Setelah Dillah sudah selesai, aku dan Dillah keluar dari Hotel dan menuju pulang kerumahku. Ada rasa takut dan juga malu, karena aku berbohong pada bapakku. Tapi untungnya bapakku percaya padaku. Hmm.. Tapi tetap saja rasanya ada yang mengganjal.
"Assalamualaikum." Ucap kami berdua setelah sampai dirumahku.
"Waalaikum salam." Sahut Alva.
"Bapak sama ibu kemana Va ?" Tanyaku yang tak menemukan kedua orang tuaku. "Kondangan !"
Aku hanya menganggukkan kepala. Aku segera menuju dapur dan membuahkan teh untuk Dillah dan juga Alva dan tak lupa untukku juga tentunya. Aku mengirim SMS pada April dan Sania untuk sayang kerumahku, seperti biasa kami akan berkumpul pada hari minggu.
__ADS_1
Bosan ? Oh tidak ada kata kamus bosan untukku dan juga kedua sahabatku. Walau kami dan kami lagi yang selalu bersama, tapi inilah kami yang sudah saling sangat menyayangi satu sama lain. Dan kami tahu waktu dan tempat dimana kami berada.
Pukul dua sore hari, Dillah berpamitan padaku juga Alva, karena bapak dan ibuku yang belum pulang. Aku dan Dillah masuk kedalam karena Dillah ingin memberi sesuatu untukku. Tapi nyatanya ia malah meminta jatah ciuman dariku. Oh my god.
Setelah beberapa menit kami saling menikmati, Dillah segera mencium kening ku. Lalu ia kembali memberiku uang jajan padaku sebesar dua ratus ribu rupiah. Dillah bilang untuk seminggu.
Aku ingin menolak, karena uang yang kemarin ia berikan masih ada sisa seratus ribu lagi. Karena aku juga masih diberikan uang oleh bapakku, jadi aku bisa menghemat uang yang diberikan oleh Dillah. Tapi aku kalah, karena memang kewajiban suami memberi nafkah pada istri, akhirnya aku pun mengambil uang yang diberikannya padaku. Aku berniat menabung uang tersebut untuk membayar uang ujian akhir ku nanti, jadi aku tak terlalu merepotkan ibu bapakku. Fikirku begitu.
Dillah sudah pergi dan menghilang di pelupuk mataku. Segera aku mengajak kakakku dan sahabatku untuk pergi ke tukang bakso langganan kami, dan aku bilang jika aku yang akan mentraktir mereka sambil menunjukkan uang lembaran lima puluh ribu pada mereka.
"Buset adek gue matre !" Cibir Alva dengan dan dan ya padaku. "Enak dong punya pacar, ada yang bagi duit. Emang lo Va, ku di ngebagi duit ! Hahaha" Balasku.
Ya, memang Alva selalu memberi uang pada gadis yang berstatus sebagai pacarnya setiap ia apel. Tapi Alva tak pernah memberinya banyak, hanya lima belas ribu. Itupun cukup besar untuk jajan jika di tahun 2009. Hahaha. Mungkin dari kalian yang memang tinggal di perkampungan pernah merasakan hal yang sama denganku ? Pasti ada dong, iya kan ? wkwkwkw
Tiga motor. Selalu, aku, Alva, April, Sania dan Deny tentunya. Aku tak pernah melupakan mereka. Walau kami berbeda umur, dan Alva adalah kakak kandungku, tapi sungguh dia adalah kakak sekaligus sahabatku. Orang yang selalu menyayangiku, melindungiku, tempat mengaduku seperti seorang sahabat. Ah. pokoknya Alva segalanya untukku.
Kami menikmati sore hari menjelang petang hanya di tukang bakso langganan kami, yang entah sampai kapan akan terus menjadi tempat paforit kami. Mudah-mudahan sampai kami menikah dan mempunyai anak kami akan selalu dapat bersama dan berbagi cerita disini. Dan semoga juga si mamang masih selalu diberikan kesehatan oleh sang pencipta alam semesta.
Pukul tujuh malam, aku dan yang lain sudah berada di rumah. Seperti biasa kami akan menghabiskan waktu kami untuk sekedar berkumpul, menikmati kopi moca susu kesukaan kami dan tentunya gorengan yang menjadi pelengkap. Sungguh, inilah keseharian kami yang tak pernah terlewatkan. Selalu, dan selalu ada. Walau terkadang teman-teman Alva menjadi pengacau saat berkumpul dirumahku dengan membawa beberapa botol minuman beralkohol, tapi kami tak pernah goyah iman. Hanya Alva dan Deny yang menikmati, aku, April dan Sania hanya kebagian melihat saja dan menikmati aroma bau khas dari minuman tersebut tanpa mau berniat menyentuh atau mencobanya barang setetes pun.
Ketika waktu hampir menunjukkan tengah malam, Deny mengantar Sania, dan April pun masuk ke dalam rumahnya. Juga dengan aku dan Alva. Karena besok Alva akan bekerja dan aku harus sekolah dan melaksanakan upacara.
__ADS_1