
Malam itu, Dillah kembali pulang dengan suasana hatinya yang benar-benar rumit. Ia menampakkan wajah kesalnya padaku, padahal disini yang menjadi korban adalah aku.
"Ga usah kamu ajak berantem aku lagi kak. Cukup kamu nyakitin aku !" Ucapku ketika ia memanggilku.
"Kakak ga bakalan marah sama kamu kalo kamu ga kasar sama Elisa, Des. Kakak cuma mau kamu ngertiin posisi kakak !"
"Lah, ga salah ya bilang ini ke Desi ? Bukannya tadi Desi diem aja dikamar ga gimana-gimana sama si Elisa. Kan dia duluan yang mulai sama Desi, ya enak aja dia udah nyakitin hati Desi terus nyakitin fisik Desi, masa Desi diem aja sih kak ! Wajar lah Desi cuma nampar dia doang." Elakku menahan amarah. "Kalo kakak pulang cuma buat ngajak Desi ribut, mending kakak ga usah pulang sekalian."
Dillah menghela nafas panjang. Ia menatapku sendu dan menitikan air matanya. "Maafin kakak. Tapi kakak mohon sama Desi jangan bersikap kasar sama Elisa, karna dia sekarang lagi hamil !"
DUARRRR
Aku menatap tajam pada Dillah, ingin rasanya aku memukul nya dan mencekiknya. Aku hanya bisa menahan air mataku untuk tidak menangis.
Brukk
Tubuhku ambruk begitu saja, sesak di dada ku tak kurasakan sama sekali, hingga aku tersadar aku sudah berada diruangan serba putih. Tangan ku terdapat selang infus dan di hidung ku ada selang oksigen yang menempel.
"Bu." Ucapku ketika yang kulihat pertama kali adalah ibu mertuaku.
"Des. Kamu udah bangun ?" Tanya nya mengelus sebelah pipiku.
"Desi kenapa bu ? Kenap Desi ada dirumah sakit, mana Azka ?"
"Kamu pingsan semalem, Dillah telpon ibu buat temenin kamu disini. Azka masih dirumah bu Nilam, tenang aja ya !"
"Kak Dillah ?"
"Dia lagi keluar beli sarapan."
"Bu. Desi ga kuat bu, Desi mau nyerah aja bu !"
Tangis ku kembali pecah, ibu mertuaku pun ikut menangis melihat aku. "Jangan bilang gitu Des. Ibu ga mau kamu pergi, ibu sayangnya sama kamu bukan sama Elisa !"
__ADS_1
"Tapi Elisa lagi hamil bu. Desi ga kuat bu kalo harus terus-terusan nahan sakit hati Desi. Desi bukan wanita berhati malaikat bu."
Aku dipeluk oleh ibu mertuaku dan menangis bersama. Ia tak mau aku pergi, pun begitu denganku. Tapi aku bukanlah wanita setegar itu, aku tak kuat harus terus-terusan menahan sakit hatiku.
~
Sore ini aku pulang dari rumah sakit, tapi bukan kerumahku melainkan kerumah mertuaku. Ibu beralasan jika dirumah kami, tak ada yang menjaga Azka karena kondisiku yang masih harus beristirahat. Walau sebenarnya aku bukan sakit karena demam melainkan karena terlalu tertekan.
Dillah masih ku diami, aku benar-benar tak mau berbicara padanya walau ia selalu berusaha membuatku membuka mulutku dan berbicara padanya. Mungkin aku egois dan salah, dan mungkin aku memberi kesempatan untuknya menjauh dariku.
Dua bulan berlalu, kehidupanku menjadi sangat hambar. Dillah yang membagi waktu untukku dan Elisa, hanya pulang setiap hari sabtu dan minggu. Bahkan kehangatan diantara kami berdua berubah menjadi dingin, bahkan Azka pun menjadi tak terlalu dekat dengan Pipi nya.
Malam ini, ini kali pertama aku melayani Dillah di ranjang semenjak pertengkaran kami. "Kakak kangen sama kamu !" Aku tak menyahut sama sekali. Tapi Dillah tak berhenti, ia tetap bermain dengan lembut untuk membangunkan gairahku. Sedikit terpancing permainannya, aku menjadi egresif seperti biasanya.
"Maafin kakak ya sayang." Ucap Dillah setelah pergulatan panas kami. Aku hanya diam tak menyahutinya. Rasanya masih belum bisa memaafkan nya.
Aku membelakanginya dan menitikan air mataku, Dillah memelukku dari belakang. "Jangan tinggalin kakak Des. Kakak ga sanggup kalo kamu pergi !"
"Please Des. Kakak mohon !"
"Gak kak. Desi mau tetap pisah dari kakak kalo kakak ga mau tinggalin Elisa. Dan Desi ga akan halangin kakak kalo mau ketemu sama Azka. Kakak bisa dateng kapan aja asal ga sama Elisa. Hari minggu Alva jemput Desi, nanti ayah sama ibu ikut kerumah buat serahin Desi. Seperti yang pernah dibicarain sama ayah kemarin !"
Dillah menangis sambil memelukku. Aku juga ikut menangis tak kuat menahan rasa sedih dalam hatiku sekarang. Entah keputusan yang kubuat benar atau salah, yang jelas aku tak mau mengulang rasa sakit hatiku lagi untuk yang kedua kalinya.
Bercerai ? Entah. Mungkin jika memang Dillah masih tak melepaskan Elisa, aku yang akan mundur. Tapi jika Dillah mau melepaskannya aku akan bertahan. Aku tunggu hingga kelahiran anak Elisa, dan aku akan tahu jawabannya.
Hari minggu. Tepat dengan ucapan ku pada Dillah, Alva datang dengan bapakku untuk menjemput ku. Dillah menangis di kaki bapakku dan meminta maaf padanya. Alva sempat hampir ke kehilangan kesabarannya, ia hampir melayangkan pukulannya pada Dillah jika tak dihalangi bapakku.
Aku memeluk Alva dan menangis dalam pelukannya, ia mengusap punggungku dengan lembut. "Lo yang sabar ya, gue yakin lo kuat !"
"Azka mana ?" Tanyanya lagi padaku. "Sama bu Nilam !"
Alva menggandeng bahuku dan membawaku duduk di sofa, ia juga mengajak Dillah dan bapakku.
__ADS_1
"Jujur Dil, gue pengen banget gebukin lo sampe mati sekarang. Gue gak nyangka dibalik kasih sayang lo sam adek gue, ada kebusukan di dalem nya !"
"Maafin gue Va. Gue salah !"
"Lo emang salah. Harusnya lo udahin ini semua sari awal, dan jangan pernah lo ngelakuin hal lebih ke adek gue !"
"Sabar Va, sabar !" Bapakku mencoba melerai.
"Dil. Bapak juga kecewa sama kamu, kecewa banget. Dan bapakku harap, kamu ikhlasin Desi buat bapak bawa pulang ! Dan kalo kamu udah nentuin pilihan kamu, kamu bisa jemput Desi lagi setelah kamu benar-benar ninggalin perempuan itu."
"Dillah ngerti pak. Maafin Dillah !"
Tak lama, orang tua dan kakak Dillah datang kerumahku, mereka langsung berunding tentang aku dan Dillah bagaimana kedepannya. Aku bertekad tetap kembali bersama bapak dan kakakku, walau ibu bersikeras melarangnya.
"Kunci rumah sama mobil kamu bawa aja, itu milik kamu. Kakak akan tinggal sama ibu !" Ucap Dillah memberikan sertifikat juga surat-surat berharga, tabungan serta perhiasan dan barang lain berharga milikku.
"Kakak masih bisa tinggal disini, ini rumah kakak juga. Ini kakak beli pakai uang kakak !" Tolak ku padanya kembali menyerahkan semua itu.
"Simpan aja, itu semua buat Azka !" Sahutnya kembali menolak.
Aku memeluk Dillah erat dan mencium punggung tangannya. Dillah juga membalas pelukanku dan mencium keningku lama. Aku memeluk keluarga Dillah bergantian.
"Kalo ibu kangen saka Azka, ibu boleh dateng kerumah bapak. Desi ga akan halangin kalian, termasuk kakak. Kakak jangan pernah ngebuang Azka ya kak. Gimana pun juga Azka anak kandung kakak, kakak ayahnya Azka !"
Dillah menangis sambil memeluk dan menciumi Azka yang ikut menangis. Azka memeluk erat Dillah saat akan aku bawa masuk ke dalam mobilku.
Dillah membujuknya dan akhirnya ia mau masuk ke dalam mobil yang dikendarai Alva.
"Jangan lupain bapak sama ibu ya nak. Jangan lupa kabarin kalo udah sampe. Kapan-kapan bapak sama ibu mampir kesana !" Ucap pak Burhan padaku.
"Maafin Desi ya, pak, bu. Selama ini Desi sering ngerepotin kalian ?"
Mobil melaju perlahan diikuti dengan mobil mertuaku yang dikendarai mas Andi. Kak Dina dan Dillah serta pak Burhan dan bu Nilam hanya bisa memandangi kepergianku.
__ADS_1