
Aku mengerjap saat sinar matahari mulai memasuki ruang kamarku melakui celah dibalik jendela. Agak sedikit kesulitan disaat aku akan beranjak karena tangan kekar pria yang sudah dua hari menjadi suamiku masih erat memeluk tubuh mungilku. Aku mencoba memindahkannya perlahan, takut ia terganggu lalu terbangun. Aku berhasil, dan aku terduduk. Aku berdiri dengan sempurna, namun saat akan melangkah aku merasakan nyeri dibagian sensitif ku.
"Sakit banget si !" Keluhku sendiri. Aku kembali duduk dan membangunkan Dillah dengan lembut.
"Apa sayang ?" Tanya nya dengan suara serak. "Kak tolongin, sakit !"
Dillah segera bangun dan melihatku, sedikit terkejut ketika aku mengatakan sakit. Mungkin !
"Apanya yang sakit sayang ?" Tanya nya lagi. Entah sejak kapan memanggilku sayang menjadi hobinya.
"Aku mau ke kamar mandi kak, tapi kalo jalan masih sakit !" Keluhku dengan manja.
"Emang sakit banget ya ?" Ejekknya padaku tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Kaaaakkkkk !!!" balasku merengek.
Dillah membopong tubuhku dan membawanya kekamar mandi, sama seperti semalam saat setelah melakukan gulat ranjang. Ia menunggumu diluar pintu, setelahnya ia kembali menggendongku ke kasur.
"Kakak keluar dulu ya beli sarapan. Desi mau dibawain apa ?"
"Apa aja deh kak. Sama susu kotak ya dua. hehehe"
"Anak kecil." Ejeknya sambil mengusap pipiku. "Udah tau anak kecil kenapa dinikahin ?"
"Kakak mau. Yaudah tunggu sebentar ya !" Aku mengangguk dan Dillah segera keluar untuk membeli sarapan.
Sekitar hampir setengah jam lamanya aku menunggu, Dillah kembali dengan dua bungkus bubur ayam, susu kotak, lima bungkus kopi instan dan satu kaleng susu kental manis, beberapa bungkus mie instan beserta telur serta beberapa bungkus roti dan cemilan. Ia sengaja membawa semua itu karena ia merasa jika aku masih merasa sakit dan pasti tak bisa berjalan untuk menikmati indahnya pantai hari ini karena ulah nya.
×××××
Seharian didalam villa dan hanya mondar mandir kamar, ruang depan serta balkon saja membuatku merasa sangat jenuh. Aku merengek pada Dillah memintanya mengajakku keluar sebentar untuk melihat sunset.
Dillah menyetujui tapi hanya didekat villa, karena ia tak mau jika sampai aku kesusahan berjalan. Padahal rasanya sudah tak sesakit tadi pagi.
Dillah mengajakku duduk ditepian pantai yang begitu dekat dengan air laut, membuat aku basah walau hanya sedikit.
__ADS_1
"Kak. Mau nanya !"
"Tanya apaan ?"
"Kakak kenapa mau nikahin Desi ? Padahal Desi kan jelek, pendek, buntek, anak orang kismin lagi." Tuturku yang malah membuat Dillah tertawa mendengarnya. "Serius kak !" tuntutku.
"Ga tau, kakak juga bingung kenapa kakak mau nikahin Desi. Yang jelas kakak cuma ga mau kehilangan Desi, dan mau Desi jadi istrinya kakak. Gitu aja ?"
"Ga ada penjelasan lain gitu, yang lebih masuk akal ?" Rasanya sangat tak puas bagiku mendengarnya. "Ya karena kakak sayang, kakak cinta sama Desi. Gitu kali jawabannya. Atau ada hal lain atau apa gitu loh kak !"
Dillah tersenyum sambil menggaruk kepalanya. "Ga tau. Iya kali karna kakak terlalu sayang dan terlalu cinta sama Desi."
Bukan. Bukan itu jawaban yang aku inginkan. Entah apa yang aku ingin dengar dari mulut suamiku, tapi rasanya masih belum puas dengan jawabannya.
Kami terus bercengkrama kesana kemari hingga malam hati tiba.
Kriyuuukkk
Aku memegang perut rataku dan menampilkan gigiku pada Dillah. Dillah tertawa sambil mencubit kedua pipiku.
"Kak sakiiit !" Rengekku sambil mencoba melepaskan tangan Dillah. Aku mengelus elus kedua belah pipiku yang terasa panas akibatnya, ia mencium pipiku. "Biar cepat ilang sakitnya." Ucapnya.
"Mau makan apa ?" Tanya nya mengajakku ke beberapa gubuk para pedagang yang berada dibelakang villa. "Bakso aja yuck kak."
Dillah membawaku ke gubuk yang berjualan bakso, Dillah memesan dua porsi bakso dan 2 botol Fanta.
"Kok fanta si minumnya ?" Heranku bertanya padanya. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga ku. "Katanya bisa nunda hamil !"
Oh astaga. Aku benar-benar tak tau apa yang akan terjadi setelah ini. Kami melakukan hubungan suami istri tanpa pengaman apapun.
"Serius bisa ?" Tanyaku sambil ikut berbisik.
Entah mendengar dari mana tentang minuman berdosa bisa menunda kehamilan, tapi aku yang memang benar-benar tak tahu apa-apa hanya bisa mengiyakan. Bodoh ? Mungkin kami berdua memang sangat bodoh jika dihadapkan dengan dokter sekarang.
__ADS_1
(ini ni part yang aku paling ga pengen buat ceritain. Tapi ini juga kan emang bagian dari semua cerita aku, jadi yaudah lah aku beberkan aja apa adanya. Hahaha 🤣🤣🤣
Please ya abis ini jangan bully aku karena memang dulu aku beneran ga tau apa-apa diumurku yang masih remaja. wkwkwkwkwk)
Setelah menyelesaikan makan bakso, kami berdua kembali ke villa karena aku sudah merasakan dingin dibagian bawahku karena dari kaki hingga perutku semua basah karena tadi kamu duduk ditepian air laut.
Didalam villa.
"Nih pake !" Dillah memberiku kantong kresek berwarna hitam. Aku membukanya dan terkejut karena ia memberiku daster selutut beetali satu berwarna merah bermotif pemandangan pantai.
"Idih !" Cebikku melempar daster tersebut ke kasur. "Pake sayang, biar seksi !" Dillah kembali memberikannya padaku.
"Baju kurang bahan gitu kak. Ish.."
"Kan pakenya cuma didepan kakak, sayang. Biar kakak bergairah gitu loh !"
What !! Aku ga salah denger kan ? Fikirku menjadi menerawang kejadian kemarin malam. Rasanya saja masih sakit, sekarang sudah mau di ajak gituan lagi ? Pasti entar berdarah lagi dah pasti. Fikirku dalam batin.
"Udah sana cepetan !" Dillah mendorong tubuh ku masuk kekamar mandi. Setelahnya aku keluar dengan menutup dadaku menyilangkan kedua tanganku didepan dada.
"Seksi banget !" Ucapnya melirikku dari atas hingga bawah dan sebaliknya dari bawah keatas.
Dillah beranjak dari kasur dan menghampiriku, ia menurunkan kedua tanganku dan kemudian melihat belahan dadaku yang memang sangat terekspos. Ia menyentuhnya dan memainkan jari-jarinya disana.
"Sssshhhh..."
Dillah tersenyum melihatku mulai menikmati permainan jarinya, ia mendorong tubuhku hingga mentok ke tembok dan mulai menjamah seluruh tubuhku. Kini kami berdua sudah tak memakai benang sehelaipun.
Dillah menarik satu kakiku keatas dan ia mulai menusuk kan pedang miliknya padaku. Aku yang masih merasakan sedikit sakit pun meringis dan kembali mendorong dadanya untuk menjauh. Ia melihat kebawah dan ada sedikit bercak darah diujung pedangnya yang tadi belum masuk sempurna kedalam tubuhku.
"Berdarah lagi, Des !" Ucapnya. "Kakak ihh.." Rengekku yang malah memeluk tubuhnya erat.
"Kita pindah yuck ke kasur." Bukannya berniat menyudahi, tapi Dillah malah mencari tempat yang lebih nyaman. Dan kembali, diatas kasur kami melakukan pergulatan kami hingga selesai.
__ADS_1
Tidak. Tidak selesai bahkan Dillah melakukannya berulang kali. Mungkin 3 atau 4 kali dalam semalam ini hingga pukul 3 dini hari ia baru menyudahi kegiatannya menyiksa diriku dan membuatku sangat kelelahan meladeninya karena ia juga merasa kelelahan.