
Hari berganti hari. Aku dan Dillah semakin sibuk satu sama lain. Aku yang harus mempersiapkan ujian akhir dan Dillah yang sedang mengurus pabrik tempatnya bekerja. Kami jarang saling memberi kabar, bahkan Dillah hanya datang sebulan dua kali kerumahku. Membuatku semakin dan semakin merindukannya, namun sungguh kami sama-sama tak dapat terus-menerus setiap waktu memberi kabar. Hanya saat malam hari kami mengirim pesan dan itupun hanya sekedar menanyakan kabar.
Saat-saat seperti inilah yang membuatku merasa kesepian dan sangat hampa.
Seminggu sebelum ujian Dillah datang kerumahku untuk memberikan uang padaku membayar ujian yang jumlahnya sekitar satu setengah juta rupiah. Padahal bapakku sudah memberiku setengah dan aku mempunyai sedikit tabungan dari hasil mengumpulkan uang yanh selalu Dillah beri padaku. Tapi tak apalah, aku tetap menerimanya dan aku modalkn untukku berjualan pulsa dan sisanya akan aku tabung lagi untuk kebutuhan mendesak.
Ia datang pada sabtu sore dan ia tak mengajakku kemana-mana. Walau ada hasratku untuk melakukan hubungan suami-istri untuk melepas rinduku selama dua minggu ini. Tapi yasudahlah.
Minggu pagi, Dillah berpamitan padaku karena ia harus segera datang ke pabrik pada minggu malam. Aku mengangguk pasrah dan dengan sangat berat hati melepasnya.
"Huufft.." Aku menghembuskan nafas kasar.
Aku mengambil Hpku dari dalam kantong celanaku dan mengirim pesan pada April dan Sania, mengajak mereka untuk nongkrong dipinggir situ (danau) yang tak jauh dari rumahku. Biasanya si banyak pada pasangan yang kesana, bahkan itu jadi tempat piknik para keluarga karena sekeliling danau banyak pohon pinus dan membuatnya jadi sangat digemari untuk berpiknik.
Aku membawa sekantung makanan dan minuman yang sebelumnya aku beli di minimarket (alfamart yakk). Kami duduk dibawah pohon pinus yang cukup rindang tepat diujung pinggir situ.
"Bete gue !" Ucapku memulai curhatan kecilku.
"Ngapah si ? Kan baru ketemu Des !" Sahut April yang memang tahu kedatangan Dillah.
"Semakin kesini dia semakin sibuk. Gue bete dah ihh !"
"Yaudah si jalanin apa adanya. Entar juga kalo urusan pabriknya udah selesai terus dia balik kerja lapangan dia punya banyak waktu buat lo Des !"
__ADS_1
Aku mengangguk mengiyakan jawaban Sania. Memang benar adanya, aku harus mengerti tentang keadaan Dillah dan bersabar selama setahun lagi untuk selalu bersama dengannya.
Saat kami sedang menikmati bungkusan snack, segerombol pria berusia 20 tahunan datang pada kami sambil membawa alat musik, seperti gitar dan tam-tam. Mereka berhamburan duduk dekat kami dan menyapa kami. Ya siapa lagi, jika bukan Alva Deny cs. Hahaha
"Pril. Nyanyi Pril." Ucap Mumuh selaku pemain gitar.
Ya, memang diantara aku, April dan Sania. Suara April lah yang paling merdu jika bernyanyi. Walau April sering menolak, tapi mereka tetap memaksa April.
"Oke oke. Gue bakalan keluarin suara emas gue. Lagu kertas band dah, kekasih tak dianggap." Sahut April.
Petikan gitar dan tabuhan tam-tam mulai terdengar. Suara sendu April mulai meramaikan suasana yang memng sudah ramai. Hahaha
Kami menikmati nyanyian April sambil ikut bernyanyi tanpa suara dengan memberikan ekspresi yang sangat lebay. Beberapa lagu kami nyanyikan bergantian, walau suara aku dan Sania tak semerdu suara April. Sampai-sampai kami tak sadar jika sudah ada beberapa pasangan muda yang juga duduk disebelah kami ikut menikmati nyanyian dari kami.
×××××
Sebulan berlalu dengan tanpa kedatangan Dillah kerumahku. Mau bagaimana lagi, jika sudah menyangkut pekerjaan yang mengharuskan Dillah lembur dihari sabtu dan minggu. Ia menjelaskan jika uang lembur akan ia kumpulkan untuk mencicil rumah kecil untuk aku dan Dillah tinggali ketika kami sudah menikah. (kan emang kita udah nikah ya.) Maksud ku sudah menikah dan diakui negara. Ah itulah pokoknya, ngerti kan maksud aku ?
Aku hanya bisa pasrah jika Dillah sudah mengatakan itu, lagi pula apa yang aku takuti sekarang ? Dia sudah punya aku sebagai istrinya, jadi tak mungkin ia dekat dengan wanita lain kecuali masalah pekerjaan. Siapa yang tahu memang ? Tapi aku selalu berfikir positif. Dan disetiap kekosongan waktuku, Antoni selalu ada mengisi luang waktuku. Jangan sampai aku berfikir untuk menduakan Dillah, karena ini bukan hanya status pacaran tapi pernikahan. Fikirku sudah sangat jauh jika sampai berselingkuh.
Aku tak segan menceritakan apapun pada Antoni. Tapi bukan berarti aku menceritakan pernikahan dan masalah ranjang ku ya. Aku hanya menceritakan tentang masalah ku dengan Dillah sekarang.
"Bunga ga lo ajak Ton ?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan yang melulu tentang ku dan Dillah.
__ADS_1
Antoni hanya tersenyum kecut padaku. "Bunga ya ? Bunga, bunga, bunga. Gue bingung jawabnya !"
Aku mengernyit. "Status gue pacaran emang sama dia, tapi gue ga tega juga lama-lama sama dia yang cuma gue jadiin pelarian doang Des !"
Aku terdiam tak dapat menjawab apa-apa. Karena aku tahu jawaban dari ucapan Antoni tersebut. Mungkin saat ini memang Antoni belum bisa melupakan ku, tapi mungkin suatu saat dia bisa benar-benar mencintai Bunga dan sudah benar-benar melupakan ku.
"Ton. Lo ha-
"Gue tau Des. Dan gue akan selalu coba buat cinta sama dia, walau hati gue sakit !"
"Segitu banget ya emang lo cinta sama gue Ton ?"
"Lo tahu. Pasti tahu. Ga perlu gue ungkapin apapun sama lo, lo pasti tau jawabannya." Aku mengangguk dan tersenyum kecut pada Antoni. "Lo tahu kalo gue susah jatuh cinta sama orang. Tapi sekalinya gue cinta sama orang, gue susah buat lupainnya. Tapi gue bukan kaya orang kebanyakan yang egois dan ingin memiliki orang yang dia cinta bahkan sampai terobsesi. Gue akan bahagia liat orang yang gue cintai bahagia Des."
Kembali, aku hanya bisa tersenyum penuh kepalsuan. Rasa bersalah melanda hatiku karena selalu dan selalu aku tak bisa melihat cinta dari Antoni. Bukan, aku yang tak bisa memberi cinta padanya. Itu tepatnya.
Aku kembali diantar pulang oleh Antoni ketika hari sudah semakin sore.
Ya, aku dan Antoni habis pergi jalan-jalan sore ketempat biasa aku dan teman sekolah berkumpul. Antoni selalu mengajakku kesini jika suasana hatiku sedang tak menentu. Sungguh, Antoni sangatlah menjadi tipe cowok idaman bagi para wanita, tapi tidak lah untukku. Dan tentu saja, tempat itu hanya aku, Antoni dan teman satu gengku yang tahu, tak boleh ada orang lain yang tahu selain kami.
"Assalamualaikum." Ucapku dan Antoni ketika sudah sampai dirumah ku. Antoni mencium punggung tangan kedua orang tuaku.
"Dari mana Ton ?" Tanya bapak ku sambil mengajak Antoni duduk di dekat nya. "Habis muter-muter aja pak. Ada yang lagi jabeg katanya gara-gara pacarnya ga datang."
__ADS_1
Aku menoleh pada Antoni dan mengacungkan kepalan tanganku padanya. Bapak dan Antoni hanya bisa tertawa karwnaku.