Cerita Masa Laluku

Cerita Masa Laluku
20. Kebahagiaan terindahku


__ADS_3

Seminggu berlalu, kini hari yang kutunggu sudah tiba. Dimana aku sedang dirias oleh perias pengantin dan teman-teman dekatku juga akan kut dirias untuk menjadi pager ayu. Sedangkan teman-teman lelakiku sudah rapi dengan seragam batik yang dipilih oleh Alva.


Haru dan bahagia ketika membayangkan apa yang menjadi impianku terwujud. Rasa sukur terus kupanjatkan pada sang pencipta.


Aku bercermin melihat pantulan wajahku yang tak pernah berdandan, yang hanya menggunakan bedak tabur dan lipglos. Ingin meneteskan air mata dari mataku yang mulai berkaca.


"Ya Allah sayang gue akhirnya nikah duluan !" Ucap April yang sedang memandang kagum pada ku.


"Cepetan nyusul. Bilang si mas, minta dilamar gitu !" Sahutku mengejek April merasa menang dari nya.


"Tau lu. Bentar lagi kan gue, terus si Rini, habis si Bunga lulus dilamar dah sama si Toni !" Timpal Sania.


"Kok Bunga dibawa-bawa si kak !" Sahut Bunga pada Sania sambil menatap dalam pantulan kaca karena dirinya belum selesai dirias.


"Lah emang bener kan Nga, habis lulus Antoni mau lamar Bunga ?" Tanya Rini mengedipkan sebelah mata.


"Iya sih bilangnya gitu. doain aja yang terbaik ya kak buat Bunga sama kak Antoni ?" Bunga yang mengerti akan kode yang diberikan Oleh Rini pun ikut berakting.


"Tar malem gue bilang sama si mas dah !" Timpal April.


Aku, Sania, Rini, dan Bunga tertawa melihat April. Tapi yang ditertawakan merasa tak berdosa sama sekali karena memang tak menunjukkan ekspresi apapun.


Pukul 9.24 rombongan kelurga besar Dillah sudah datang termasuk tante dan om aku, juga Fikri dan kakak sepupuku. Aku semakin dag dig dug, walau ini bukan pertama kali bagiku.


Keluargaku menyambut hangat kedatangan keluarga Dillah. Dan menyambut seserahan yang telah dibawa.


Aku diapit oleh April dan Sania juga Bunga, Rini serta Rika yang berada dibelakang kami. Padahal seharusnya mereka kan sudah berada dimeja yang terhidang berbagai macam makanan. Huufft..

__ADS_1


Bapakku menyambut ku dan mengajakku duduk didepan pak penghulu dan pak amil yang memang sudah datang sedari tadi, tentunya di sebelah ku sudah ada Dillah yang terlihat sangat tampan dengan setelan jasnya juga dasi yang bertengger dilehernya dan peci hitam diatas kepala. Tak lupa, ia mencukur bulu halus yang biasanya ia biarkan tumbuh diatas bibirnya dan dagunya.


Aku mencium tangan Dillah sambil tersenyum malu kala ia menatap lekat wajahku yang kali ini benar-benar dirias sedemikian rupa.


Pak penghulu memulai acara akad kami dan Bapak menyambut tangan Dillah. Aku melihat wajah Dillah yang mulai berkeringat, karena merasa gugup mungkin.


"Bismillah hirrohman nirrohim. Ananda Abdillah Hasan Bin Amir. Saya nikah kan dan kawinkan engkau dengan putri saya yang bernama Desiana Maurina binti Syahid, dengan maskawin seperangkat perhiasan sebesar 20 gram dibayar tunai."


"Saya nikah kan engkau Desiana Mau ri-


Dillah menghentikan ucapan akad nya saat menyadari kesalahannya. Bapakku serta yang lain malah tertawa dan bukannya marah, karena merasa lucu melihat wajah Dillah.


"Kita ulang ya mas. Jangan gugup, kan udah pernah toh ?" Ucap pak amil menggoda Dillah.


"Sekali lagi Dil. Jangan gugup, bapak ga bakalan terkam kamu !"


Mereka semua tertawa kecil mendengar godaan Bapakku pada Dillah yang malah garing.


"Bismillah hirrohman nirrohim. Ananda Abdillah Hasan Bin Amir. Saya nikah kan dan kawinkan engkau dengan putri saya yang bernama Desiana Maurina binti Syahid, dengan maskawin seperangkat perhiasan sebesar 20 gram dibayar tunai."


"Bagaimana saksi ?" Tanya pak penghulu pada om ku yang menjadi saksi.


"Sah !" Ucapnya dengan wajah sumringah.


"Sah !" Ulang pak penghulu sedikit berteriak.


"Alhamdulillah." Ucap kami semua.

__ADS_1


Doa pun dipanjatkan untuk kami berdua. Dan kami segera menandatangani buku nikah berwarna merah dan hijau yang kini menandakan kami telah sah menikah secara agama maupun negara. Aku sedikit meneteskan air mata bahagiaku saat aku diminta untuk menerima mahar, dan Dillah memakaikan cincin serta kalung padaku. Setelahnya aku mencium punggung tangan Dillah dengan sedikit isakan, Dillah mencium kening ku. Yang berlanjut aku dan Dillah mencium punggung tangan kedua orang tuaku, orang tua Dillah sebagai tanda meminta restu.


Setelah acara akad, kami melanjutkan dengan acara resepsi yang akan terlaksana hingga malam hari nanti. Aku dihampiri lima bidadari yang memberiku selamat, siapa lagi kalau bukan April, Sania, Bunga, Rini dan Rika. Juga beberapa pangeran tampan yang memang selalu setia padaku. Alva, Deny dan para CS mereka serta Antoni yang terlihat menunjukkan senyum lebar tapi tatapan matanya terlihat begitu sendu.


Ah sungguh, rasanya aku ingin sekali memeluk Antoni sambil mengucapkan kata maaf lagi padanya.


Kelima bidadari tersebut memelukku bergantian dan bersalaman pada Dillah. Alva memelukku dan mengecup kening ku dalam, dan itu disaksikan oleh kedua keluarga besar kami. Kembali, aku menangis bahagia, dan Alva pun ikut meneteskan air mata bahagianya atas pernikahanku. Deny juga memelukku namun tak berani mencium kening ku, karena ia tahu batasan. Disusul oleh para CS mereka. Terakhir Antoni, ia berusaha sekuat tenaga untuk tegar sedari kemarin. Ia memelukku dan mengucapkan selamat, juga ia memeluk Dillah dan juga memberinya selamat dan menitipkan aku pada Dillah. Dillah berterima kasih pada Antoni karena sudah bisa mengikhlaskan aku untuknya.


Bunga yang melihat ada gurat kesedihan di wajah Antoni lantas mendekat dan memeluk lengan Antoni.


"Kak." Ucapnya sambil mengelus lengan Antoni. Antoni tersenyum dan mengedipkan matanya sekejap, lalu ia mengangguk.


Ternyata, bapak dan ibuku menyadarinya. Bapakku menghampiri Antoni dan menepuk-nepuk bahunya seraya memberi kekuatan sambil menggoda Bunga. Antoni hanya tertawa kecil mencoba menetralkan perasaannya.


"Des. Are you okay ?" Tanya Dillah dengan lebay nya menggunakan bahasa inggris padaku. Aku terkekeh karena nya.


"Mungkin emang terasa sakit banget ya kak. Tapi mau gimana lagi, sedari dulu aku ga pernah punya perasaan apa-apa sama dia." Sahutku menjelaskan pada Dillah.


Dillah merangkul bahuku dan mengelusnya. "Jangan difikirin. Kakak lihat, ceweknya sayang banget sama dia, sabar banget pula ngehadapin Toni."


"Bunga tahu cerita tentang aku sama dia, kak. Tapi Bunga ga berhenti disitu, dia terus berusaha buat ngeluluhin Antoni."


"Semoga Antoni bahagia sama ceweknya !"


"Aamiin.."


Satu persatu keluargaku dan keluarga Dillah mengucapkan selamat dan melakukan foto bersama kami. Dilanjut dengan tamu undangan bapak ibuku dan teman-temanku. Mulai dari teman SD, SMP, SMA, teman kerja hingga teman-teman sekampungku pun ikut berdatangan. Ada yang membawa kado yang berukuran kecil, sedang hingga besar. Ada juga yang memberikan rangkaian bunga mawar padaku seperti yang dilakukan orang-orang gedongan. Hahaha.

__ADS_1


Sungguh, bahagia hatiku sekarang benar-benar tak bisa mengungkapkan dalam bentuk kata apapun. Hanya bisa mengucap rasa syukur pada sang maha kuasa.


(Di part ini aku ga menceritakan secara detil tentang kejadian pernikahanku yang sedikit kacau sebenarnya, karena ulah para sahabat ku, Alva CS juga Bungan dan Antoni yang sedikit mendrama diatas panggung dangdut yang menjadi penghibur acara pernikahan kami. Hahaha)


__ADS_2