
Minggu sore. Dillah sudah bersiap untuk kembali pulang kerumah kami. Bukan rumah orang tua Dillah ya, inget rumah kami. hehehe
Ada rasa berat di hati ketika harus ditinggal selama satu minggu oleh suami tercinta. Tapi karena memang Dillah sudah harus kembali bekerja pada hari senin, jadi mau tak mau Dillah harus pulang.
Aku langsung kerumah April dan merebahkan tubuhku disofa ruang tamu rumah April sambil menyambar kacang goreng. "Baru beberapa menit tapi udah kangen aja gue !"
April menoleh kearah ku dan menoyor kepalaku. "Jangan manja. Laki mau gawe tuh didoain !"
"Tar lo ngerasain gimana jadi gue. Sekarang aja lo masih bebas, kalo lo udah nikah baru dah lo nyesel bilang gini ke gue !" Sahutku merauk kacang tersebut dan melahapnya sekali gus.
"Des kebiasaan deh ish jorok !" Desis April memarahiku karena kebiasaan ku yang tak pernah hilang. Aku hanya cengengesan padanya tanpa merasa berdosa.
Aku dan April terus bercerita tentang kehidupan baruku bersama Dillah. Dari awal hingga saat ini tak ada yang terlewatkan. Walau sepertinya kehidupan pernikahan sangatlah didambakan semua orang, tapi sungguh setelah beberapa bulan merasakan hidup dan tinggal bersama setelah sebelumnya selama dua tahun kami menjalani pernikahan yang tinggal terpisah aku bisa membedakan perbedaannya. Rasa bosan setiap kali ditinggal dirumah oleh suami yang pergi bekerja, rasa capek ketika harus bergelut dengan pekerjaan rumah. Oh.. tentu saja itu semua akan terjadi pada setiap istri.
Namun, rasa senang ketika menunggu kepulangan suami dan bisa menyiapkan semua keperluannya. Itu ada rasa bahagia tersendiri bagiku.
Seperti kemarin, saat hari sudah semakin sore aku merasakan ada sesuatu yang berdesakan dalam perutku yang segera minta dikeluarkan. Aku berlari kecil menuju kamar mandi yang berada didekat dapur dan memuntahkan semua yang ada didalam perutku.
"uwek.. uwek.."
"Des lo kenapa ?" Panik April yang menyusul ku lalu membantu memijat bahuku dan tengkukku.
"Masuk angin ni gue dari kemarin. Padahal udah dikerik sama ibu !"
Aku langsung berkumur dan mencuci wajahku, kemudian aku meraih gelas dan menuang air pans Dari dalam termos,mencampur sedikit dengan air dari dispenser.
Glek glek glek
"Masuk angin atau..........."
April tak melanjutkan perkataannya dan malah menunjukkan ekspresi wajah yang terkejut.
"Ga ! Ga mungkin Pril !" Elakku.
Sejenak kami terdiam beberapa saat.
__ADS_1
"Sekarang tanggal berapa ?" Tanyaku pada April.
"tanggal 12."
"Hah !" Aku terkejut karena jawaban April. "Beliin tespeck ?"
April mengangguk dan aku segera merogoh kantong celanaku memberikan April uang satu lembar dua puluh ribu. April segera beranjak mengendarai motor miliknya dan aku menunggunya di rumah.
Dua puluh menit April sudah kembali, ia segera memberikan tespeck tersebut dan juga uang kembalinya.
"Thanks. Besok w mau coba !"
April mengangguk dengan senyum mengembang. Ia segera keluar dari kamarku dan kembali ke rumah nya. Aku yang merasa mual lagi langsung lagi kekamar mandi dan muntah-muntah lagi.
Aku yang merasa pusing dan lemas langsung dibantu Alva berbaring dikamar, ia memijat kepalaku dan mengoleskan minyak kayu putih. Ibuku membawakan teh manis hangat untukku.
Keesokan harinya.
Aku terbangun saat mendengar suara adzan berkumandang. Segera aku menyambar handuk ku dan masuk kedalam kamar mandi, tak lupa aku juga membawa tespack yang kemarin dibelikan oleh April. Aku tampung sedikit air kencingku kedalam wadah dan memasukan alat berukuran kecil panjang tersebut kedalamnya. Sambil menunggu aku menyikat gigiku terlebih dahulu. Aku melirik benda tersebut yang mulai menunjukkan hasilnya, aku memelotot kan mataku. Aku meraihnya dan membuang sisa air kencingku. Hampir saja aku berteriak kegirangan melihat dua harus merah (bukan dua garis biru ya !! wkwkwkwk) di benda tersebut.
Aku mengirim pesan pada April dan meminta April menyembunyikan hingga suami ku datang lagi kesini saat akhir pekan.
×××××
Hari sabtu.
Kini, aku dan April tengah pergi ke peternakan ayam untuk membeli lima ekor ayam. Sebelumnya aku dan April sudah berbelanja dipasar.
Malam ini, aku ingin mengadakan acara bakar-bakar untuk memberi tahu kan tentang kehamilanku. Dan tentunya aku sudah pergi memeriksakan kehamilanku di klinik bersalin terdekat dari rumahku, dan ya April yang menemaniku. Orang tua dan kakakku belum ada yang tahu, bahkan Sania sahabatku sendiri pun belum tahu.
Aku sudah mengbari suami juga para sahabatku, aku beralasan hanya ingin berkumpul bersama saja. Dan mereka menyetujuinya.
Sepulang aku berbelanja dengan April, ternyata suamiku sudah ada di rumah. Aku segera mencium tangannya dan memeluknya. Sudah terbiasa seperti ini, jadi tak ada lagi yang malu atau canggung melihat adegan mesra kami.
"Udah dari tadi lo Dil ?" Sapa April padanya tanpa basa basi.
__ADS_1
"Bapak sama ibu kemana ?" Tanyaku. "Bapak beli ikan, ibu mah di dapur tuh !" Sahut Dillah.
Aku dan April membawa belanjaan kami ke dapur, dan merapikannya kedalam kulkas. Setelahnya aku kembali dengan membawa tiga gelas es sirop dan makanan ringan.
"Des, gue balik dulu deh mau mandi. Udah ga tahan gue gerah !"
"Ya lagian. Gue bilang mandi dulu, lo nya ga mau. Dasar jorok !"
"Biarin. Yang penting cakep !"
"Najeeessssss !!"
Aku, April dan Dillab tertawa. April segera pulang setelah menghabiskan satu gelas es sirop nya. Sedangkan aku berpamitan pada Dillah untuk berganti pakaian. Tapi Dillah malah mengikuti ku kedalam kamar. Ka memeluk tubuhku dan mencium bibirku.
"Kakak kangen kamu !" Ucapnya dan kembali mencium bibirku. Tapi tak hanya itu, tangannya mulai nakal dan bergerayang kesana sini.
Aku yang tahan karena dibuat geli olehnya pun mencoba menghentikannya, namun ku kalah dan mau tak mau aku pasrah. Akhirnya terjadilah pergulatan di pagi hari menjelang siang.
"Sayang."
"Hmm.."
"Kamu gemukan ya ?"
Aku berbalik badan menghadap Dillah yang masih sama-sama mengatur nafas setelah pergulatan panas kami.
"Ga deh kak. Kenapa ?"
"Kayanya badan kamu sekelan, udah gitu tuh gedean yang. Masa ga muat ditangan kakak !"
Aku menoleh pada arah tunjuk Dillah. Ya memang benar, akh terlihat seperti lebih berisi dan ya tentunya kedua gunung kembar ku juga. Kehamilan yang masuk 6 minggu membuatku terlihat semakin berisi.
"iya sih. Tapi yaudah lah biarin, bukannya kakk suka ?" Godaku.
Adzan dzuhur. Aku dan Dillah solat berjamaah setelah sebelumnya kami sudah membersihkan diri dan mandi hajat. Aku segera menyiapkan makan siang, walau hanya dengan tumis kangkung, ikan asin, tahu goreng dan sambal yang sudah dimasak oleh ibuku. Dan kami pun makam siang bersama.
__ADS_1