Cerita Masa Laluku

Cerita Masa Laluku
33. TAMAT


__ADS_3

"DESI NIKAH YUK !"


Teriak Antoni padaku yang mengundang gelak tawa teman-temanku.


Sumpah demi apapun. Antoni dan geng bobroknya tak pernah merubah sikap konyol nya hingga usia yang hampir kepala 3.


Aku menatap sinis padanya karena membuatku kesal. Tapi beberapa dari mereka malah mengolok-olokku dan memintaku menerima Antoni.


"Gak lucu !" Kataku memukul bahu Antoni kencang.


Aku menoleh ke Alva, ternyata ia sedang mengulum senyum. "Ga usah senyum lo, makin jelek !"


"Apa salah gue coba, Des !"


Mereka yang belum tahu jika suami Rini adalah kakakku merasa heran karena aku langsung mengatai Alva.


"Bodo amat !"


"Yah payah dah, ngambek." Cibir Lia padaku.


"Ga si. Wlee."


Mereka tertawa melihat wajah jengkel ku. Apa lucunya coba ?


Selesai acara, Kania tertidur di pangkuanku karena ia merengek padaku. Aku bukan seorang yang kejam yang membiarkan anak kecil menangis karena ku, bahkan Azka juga membiarkan Kania tidur di pelukan ku.


"Lo gapapa ni ikut pulang sama gue ?"


"Udah sih buruan, pegel ni. Anak lo lumayan berat tau !" Keluhku pada Antoni yang menunda-nunda.


"Eh iya-iya sorry !"


Antoni membukakan pintu mobil miliknya dan membiarkan aku masuk sambil menggendong Kania. Sedangkan Azka diajak pulang oleh Alva dan Rini, mereka membiarkan aku berduaan dengan Antoni. Ah sungguh mereka membuatku kesal.


Aku membaringkan Kania dikamar pribadinya, kemudian aku keluar menuju ruang tamu Antoni. Ya, kini aku sudah berada di rumah Antoni.


"Nih minum dulu. Pasti haus kan ?"


"Makasih." Ucapku mengedarkan mataku kesemua penjuru.


Rumah Antoni masih sangat lengkap, banyak foto dirinya dan Bunga yang dipajang ditembok disetiap sudut.


"Gue jadi kangen sama tuh anak." Gumamku ketika mataku berhenti pada foto berukuran besar dengan gambar Bunga yang sedang tersenyum manis sambil memangku Kania.


"Doain aja disetiap solat lo ya Des. Doain semoga Bunga diampuni dosanya."


Aku mengangguk dan mengusap air mataku yang meleleh dipelupuk mataku. "Kakak kangen Bunga !" Ucapku sambil tersenyum pada foto tersebut.


"Hmm.. Ton." Panggilku dan Antoni menoleh padaku. "Apa ?"


"Katanya Bunga bikin vidio. Vidio apa sih ?"


Antoni terdiam tak menjawab. "Toni !"


"Nanti aja ya lo liatnya, kayanya sekarang bukan waktu yang tepat. Gue ga mau nanti lo kecewa kalo udah liat vidionya. Pokoknya jangan sekarang aja !"


Aku memanyunkan bibirku dan menatap malas pda Antoni. Sedangkan Antoni malah terlihat gelisah.


"Gue balik ya !"


"Lo marah ?"

__ADS_1


"Ga. Ini udah sore, kasian Adara kelamaan gue tinggal !"


"Yaudah gue anterin aja yuk sekalian gue mau liat di gembul."


"Kania ?"


"Ada si mbak ko. Tenang aja !"


Ya, semenjak kepergian Bunga, Antoni menyewa baby siter untuk merawat Kania saat Antoni pergi bekerja. Padahal orang tua Antoni menawarkan diri, bahkan ibu mertuanya pun sama. Tapi Antoni menolak, dan menyanggupi untuk mengurus sendiri Kania hingga dewasa.


Sungguh, Antoni menjadi sosok ayah yang sangat bertanggung jawab. Berbeda ketika ia harus berhadapan dengan trio cunguk sahabat nya.


~


"Ayo masuk !" Ucapku pada Antoni.


Antoni disambut oleh ocehan Adara yang sedang berada diruang tamu bersama ibuku dan Rini.


"Bbbbrrrr....." Sambil bertepuk tangan Adara memainkan bibirnya hingga memuncratkan air liurnya kemana-mana.


"Eh anak Mimi." Sambutku mengambil alih Adara.


Antoni mencium punggung tangan ibuku. "Bapak mana bu ?" Tanya nya.


Ya, masih seperti dulu. Antoni masih sangat akrab pada orang tua ku. Ia tak canggung sedikitpun.


"Dibelakang tuh, lagi benerin motornya." Sahut ibuku.


Tanpa permisi, Antoni langsung menghampiri bapakku kebelakang.


"Kania mana ?" Tanya Rini padaku. "Ditinggal dirumah, di titip sama baby siter nya."


"Oh."


"Ga usah bu. Entar juga dia mah nyelonong dewek !" Sahut Rini sambil tertawa.


Aku dan ibuku juga menjadi tertawa. Memang benar, Antoni yang tak tahu malunya main serobot apa saja yang ada dirumahku. Tak memperdulikan posisinya ada dimana. Begitupun sama dengan sahabatnya si trio cunguk, siapa lagi kalo bukan Jaya, Adi dan Syarif.


"Rin, panggil Alva !"


"Iya pak."


Aku menoleh pada bapakku yang sudah duduk disofa ruang tengah dengan Antoni. Sepertinya ada hal penting yang akan mereka bicarakan.


"Bu, Desi ganti baju dulu ya, gerah !"


Aku yang terbiasa di rumah menggunakan daster pun memilih mengganti pakaian. Saat aku sedang berada dikamar, Rini mengetuk dan langsung masuk.


"Ngapah ?" Tanyaku melihat wajah Rini yang sumringah.


"Buruan keluar. Bapak mau ngomong katanya !"


"Kayanya ada yang ga beres ni. Pasti si Antoni yak ?" Tebak ku.


"Udah si buruan !"


Rini menariku keluar dan membawaku ke ruang tengah. "Ngapah pak ?" Yang aku yang langsung duduk disamping ibuku dan mengambil alih lagi Adara.


"Tadi Toni bilang, dia mau minta izin sama bapak sama ibu buat lamar kamu."


Mataku melotot pada Antoni yang kebetulan ada di hadapanku.

__ADS_1


"Jadi, bapak minta Desi yang jawab. Soalnya kan bapak ga bisa kasih jawaban sama Toni."


Aku terdiam, menatap tajam lelaki yang benar-benar membuatku ingin sekali memakinya. Aku melihat sedikit kegelisahan dalam dirinya saat ini. Aku menghembuskan nafas panjang ku sebelum aku berbicara.


"Bisa ga Desi ngomong dulu berdua sama Toni, bentar aja ?"


Bapakku menoleh pada Antoni, Antoni mengangguk mengiyakan.


"Yaudah jangan lama-lama ?"


Aku beranjak diikuti oleh Antoni mengajaknya ke halaman belakang rumahku.


"Maksudnya apa si ?"


"Sorry. Tapi gue ga mau kehilangan lo buat yang kedua kalinya Des."


"Tapi ga secepat ini juga Ton. Gue masih butuh waktu !"


"Udah setahun setengah Des. Apa itu ga cukup buat lo move on ?"


"Gue ga tau Ton. Tapi yang jelas, gue masih belom yakin sama hati gue. Dan lagi, apa lo ga memikirkan tentang Bunga ?"


"Suatu saat lo pasti ngerti kenapa gue buru-buru ngelamar lo. Yang jelas gue ga mau kehilangan lo buat yang kedua kalinya !"


"Maaf. Kasih gue waktu lagi sampai gue siap terima lo jadi suami gue !"


"Huufftt.." Toni menghembuskan nafas beratnya. "Oke. Gue tunggu sampe lo bener-bener siap. Dan gue akan benar-benar pergi dari hidup lo kalo lo lebih milih orang lain lagi dibanding gue."


Antoni langsung beranjak pergi tanpa menunggu jawabanku. Mau tak mau aku mengikuti langkahnya dan kembali masuk kedalam menemui orang tua ku dan kakakku.


"Pak, Bu. Antoni pamit ya !"


"Loh ko cepet banget ? Des, kamu apain si ?" Tanya ibuku dengan nada sedikit tinggi.


"Ga ko bu. Cuma udah hampir maghrib aja. Ibu tenang aja, Toni bakalan nungguin Desi ko !"


Bapak ibuku bernafas lega mendengat sahutan Antoni. mereka mengira aku memberi kesempatan pada Antoni.


Aku mengantar Antoni hingga kedepan pintu. Ia menarik tanganku.


"Gue harap, lo terima gue jadi suami lo ya Des."


Aku terdiam tak menjawab. "Des !"


"Eh.. Iya-iya. Gue akan coba buka hati gue buat lo. Tapi gue harap lo sabar ya nunggu gue terima lo jadi suami gue ?"


Antoni mengangguk dan menarik tanganku. Aku menabrak tubuh tingginya, dan ia langsung memelukku.


"Gue janji, gue bakalan bikin lo cinta sama gue dalam waktu dekat."


"Pede banget lo !"


"Jadi, kita nikah aja yuck !


~


~~



__ADS_1



**SELESAI**


__ADS_2