Cerita Masa Laluku

Cerita Masa Laluku
2. Bersama kedua sahabatku.


__ADS_3

"Astaghfirullah." Ucapku memegang dadaku.


"Eh.. Sorry-sorry." Ucap seseorang itu membuka penutup wajahnya.


Aku mengelus dadaku sambil membuka lebar pintu kamar dan mempersilahkan ia masuk dan bergantian aku yang keluar. "Numpang ya sebentar doang ko !" Ucapnya dan aku hanya mengangguk.


Aku duduk di kursi yang berada didepan pintu kamar sambil memijat kakiku yang terasa sangat pegal. Tak lama Dillah pun keluar dan menegurku.


"Kenapa, pegal ?" Aku mengangguk sambil terus memijat mijat kakiku. "Mau dipijat ga sama aku ?"


"Ga mau. Dosa, bukan muhrim !" Sahutku ketus tanpa mau menoleh padanya. "Kalo udah muhrim mah mau ya ?"


Aku mendongakkan kepalaku dan menatapnya tajam. Ia hanya tersenyum menampilkan deretan giginya yang terlihat rapi.


"Desi. Mandi sana, sebentar lagi adzan tuh !" Titah bapakku sambil menunjuk jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 17.20.


Aku beranjak dan masuk ke kamar mengambil pakaian ganti dan handuk. Tak lupa aku membuka hijab yang aku pakai sedari pagi hingga sekarang, karena kata tanteku tak enak jika aku tak memakainya. Padahal aku sangat tak nyaman, walaupun aku seorang muslim tapi aku belum berniat untuk memakai hijab. (Memang aku gadis manja yang sedikit nakal.) Padahal aku sangatlah cocok dan begitu cantik ketika memakai hijab. Begitu yang mereka katakan padaku.


Setelah selesai, aku hanya duduk santai dikamar sambil menunggu waktu maghrib tiba. Aku hanya memainkan rambut panjang ku didepan cermin. Mengikatnya satu, dan memakai jepit berbentuk kupu-kupu disamping kiri dan kanan. Terlihat sangat imut tentunya dengan poni yang terurai.


Waktu adzan maghrib pun tiba, aku membuka jepit kupu-kupu ku. Aku beranjak kekamar mandi dan berwudhu lalu melanjutkan sholat maghrib ku. Setelahnya aku merapikan kembali rambutku seperti sebelumnya.


Aku keluar, sambil membawa sekantung keripik pisang kesukaanku. Aku meletakkannya didepan ibuku yang sedang mengobrol dengan seorang wanita paruh baya yang mungkin usianya diatas ibuku 10 tahun.


"Ini anak bungsu saya teh, namanya Desi." Ucap ibuku. Aku yang mengerti langsung meraih tangannya dan menciumnya. "Aduh cantiknya." Ucapnya memuji.


Aku duduk dihadapan ibuku dan membuka bungkus kripik pisang ku. "Silahkan." Ucapku menuang keripik ku keatas piring.


"Aku ga ditawarin ni ?" Tanya seorang pria dari belakangku berjalan beriringan bersama Fikri.


"saya mau dong teh." Ucap Fikri menyodorkan piring berukuran kecil padaku. "Berdua ya !" Sahutku pada Fikri dan menatap Dillah.


Hingga malam hari tiba kami terus mengobrol kesana kesini menceritakan tentang diri kami masing-masing.


×××××


Hari Senin. Saatnya aku kembali pulang kerumahku bersama ayah dan ibuku. Aku tak menemukan sosok Dillah karena ia hari ini pergi bekerja. Fikri dan suami tanteku mengantar kami hingga terminal, karena kami harus menggunakan bis untuk sampai ke kota kamu dengan memakan waktu perjalanan kurang lebih 6 jam didalam bis.

__ADS_1


Sore hari kami sampai di rumah dan disambut oleh sahabatku, April. "Wuihh.. yang pulang liburan sampe ga ngasih kabar !" Ucapnya meledekku.


"Jangan ngeledek lu. Gue sambit ni !" Sahutku padanya sambil tertawa.


Aku membuka sepatuku dan menggantinya dengan sandal jepit. Kemudian aku pergi kerumah Sania untuk meminjam ponsel miliknya. Ya, memang hanya Sania yang baru memiliki ponsel, karena diantara kami bertiga (aku, April, Sania) dialah yang paling kaya.


Sania dengan suka rela meminjamkan p


Handphone lamanya, Nokia type 3315. Karena ia sudah membeli Handphone baru, yaitu Nokia N-gage. Wkwkwkwkwk


"Kemarin gue kenalan sama cowok, ganteng dah. Tapi sayang medok ngomongnya !" Ucapku sambil menerima Handphone Sania.


"Ah lo mah, tukang bakso aja dibilang ganteng. Hahaha" Sahut Sania mengejekku.


"Yaudah kalo lo ga percaya mah. Kali aja nanti gue bisa jadian sama dia. Wleee." Sahutku membalas.


"Ahh.. Gue aja yang punya pacar kaya vokalis Band Letto diem-diem bae." Timpal April.


"Ganteng doang mah percuma, kalo ga punya duit !"


Baru saja lima menit aku mengaktifkan nomor cellular ku menggunakan handphone Sania, sudah ada panggilan masuk. Aku langsung mengangkatnya.


"Halo. Siapa ni ?" Tanyaku dengan galak.


"................."


"Oh. Maaf ga tau. Yaudah nanti Desi simpan ya nomor kakak."


"..............."


"Iya. Bye."


Aku meletakkannya handphone Sania dimeja sambil tersenyum. Sania dan April melihatku menatap menyelidik. "Ngapa lo senyum-senyum ?" Tanya April.


"Pucuk dicinta ulampun tiba. Tapi ga ngarep si gue. Jauh !" Sahutku to the point.


"Jangan gila. Noh yang temen SMP lo mau dikemanain ?" Tanya Sania padaku.

__ADS_1


Ya, memang aku, Sania dan April berbeda sekolah. April yang usianya paling tua dariku dan Sania, kini ia sudah menginjak kelas 3 SMA. Aku baru akan masuk SMA dan Sania baru menginjak kelas 3 SMP.


"Antoni ?" Tanyaku. April mengangguk mengiyakan. "Kelaut aja deh !" Sahutku. Aku memang tak pernah menyukai pria manapun, walau kebanyakan aku mempunyai teman lelaki.


Aku dan April menghabiskan waktu di rumah Sania hingga pukul 10 malam. Sampai kakak ku Alva, menjemput ku dirumah Sania.


"Des, Desi. Bukannya pulang lo udah jam 10 juga. Pril pulang, tadi mama lo nyariin tuh." Ucap Alva padaku.


Aku, April dan Alva berpamitan pada Sania. Kami berjalan beriringan hingga sampai dirumah. Ternyata dirumahku begitu ramai sedang kumpul, aku dan April tak jadi masuk kedalam rumah dan malah bergantung dengan Alva dan teman-temannya.


Denis, salah satu teman Alva yang cukup nakal menuangkan satu gelas minuman dan memberikannya padaku. "Minum kalo mau !" Ucapnya mengejek.


"Ogah amat. Entar gue teler kaya lo !" Sahut April ketus. Denis hanya tertawa melihat wajah kami.


Ya, Alva dan beberapa temannya sedang menikmati minuman beralkohol. Tapi walau Alva suka meminum itu, ia sangat melarang keras aku dan April untuk menyentuhnya. Bahkan Alva pernah menamparku waktu aku sedang mencoba coba menghisap rokok yang sudah di nyalakan.


"Sekali lagi lo berani, gue potong tangan lo !" Ancam nya waktu itu.


Jadi, walau aku sering bergabung dengan mereka yang memang nakal, tapi diantara mereka tak ada yang pernah memaksaku, April atau Sania untuk bersentuhan dengan semuanya.


Tepat pukul satu, aku dan April sama-sama masuk kedalam rumah masing-masing. Setelah tadi kami bernyanyi dan bergantian bermain gitar.


×××××


Pagi ini. Aku sengaja mengatakan pada ibuku jangan membangunkan aku, jadi aku bisa bangun pada jam 10 pagi. Padahal sedari tadi Alva sudah bermain gitar, memukul mukul tam-tam yang ada didalam kamar ku. Tapi aku masih asik tertidur pulas hingga April menggoyang goyangkan badanku membangunkan.


"Des bangun wouyy.. Katanya mau main kerumah Rika. Udah jam 10 ni !" Ucapnya membuatku terkejut dan aku langsung bangun menyambar handuk dan pergi kekamar mandi.


Sepuluh menit. Hanya sepuluh menit bagiku untuk mandi. Itu waktu yang sangat amat singkat bagiku dan April, sampai April mengataiku jorok.


"Bodo amat. Yang penting gue sikat gigi sama keramas !" Sahutku sambil memakai pakaian tanpa rasa malu didepan April.


"Udah ayo. Kerumah Sania, pake motor lo aja !" Ajak April yang mengomandaiku.


Aku meminta kunci motor pada ibuku dan menyerahkannya pada April. Karena aku memang belum bisa mengendarai motor. Aku dibonceng April menuju rumah Sania menggunakan motor Bunda Fit S milik ayahku yang kebetulan memang tak pernah dibawa bekerja sejak ayahku diantara jemput oleh teman satu kerjanya.


Untunglah jok motornya cukup luas, dan kamu bertiga memiliki badan yang cukup imut jadi kami bertiga naik di motor yang sama. (kalo sekarang si disebut cabe-cabean yakk.. hahahaha)

__ADS_1


__ADS_2