Cerita Masa Laluku

Cerita Masa Laluku
26. Awal


__ADS_3

Hari berganti hari. Dua bulan setelah aku melahirkan, Alva dan Rini menikah. Disusul oleh Antoni pada beberapa bulan berikutnya. Juga sati tahun usia Azka, Sania juga menikah dengan lelaki pilihannya.


Sudah empat tahun usia pernikahan aku dan Dillah. Juga sudah tiga tahun empat bulan usia Azka sekarang. Ia semakin menjadi anak yang pandai. Mulai belajar membaca dan mengaji, serta ingin tahu segala hal yang baru ia lihat. Walau bicaranya masih belum bisa lancar atau bisa dibilang masih cadel, tapi sungguh anakku Azka adalah anak yang pintar.


Malam ini, ia belajar mengaji bersama ku selepas solat maghrib. Ia sudah mengenal beberapa huruf hijaiyah yang aku dan Dillah ajarkan. Bahkan ia sudah bisa berhitung hingga angka ke 20 dan sudah bisa menghafal huruf abjad walau kadang masih ada yang terlewatkan.


Hampir isya Dillah pulang ketika ia mengetuk pintu dan mengucap salam.


"Pipi pulang !" Ucapku pada Azka.


"Pipi puyang.." Teriak Azka sambil berlarian menggunakan setelan koko berwarna hijau tua menuju pintu.


Aku membukakan kunci pintu dan membukanya, menampakkan sosok Dillah yang terlihat lelah dengan senyumnya. "Anak Pipi !" Ia langsung menggendong Azka dan menciumnya. Aku langsung menyambut tangan Dillah dan mencium punggung tangannya.


"Aku buatin teh aja ya kak !" Tawarku yang diangguki olehnya sambil membawa Azka menuju ruang tv.


Aku mengunci kembali pintu dan segera menuju ke dapur. Begitu terdengar obrolan ayah dan anak ini di telinga ku. Dillah yang bertanya dan Azka yang menjawab.


×××××


Setiap hari Dillah selalu pulang malam, bahkan pernah beberapa kali hingga larut malam. Aku dan Azka setia menunggu kepulangannya diruang tv menemani Azka yang menonton kartun di DVD.


"Assalamualaikum." Ucapnya dibalik pintu sambil mengetuk.


"Waalaikum salam." Sahutku dan berjalan menuju kedepan untuk membukakan pintu. "Malem banget sih kak, ya Allah !" lanjut ku menyambut tangan Dillah dan menciumnya.


"Maaf ya. Kerjaan aku numpuk soalnya ! Mana Azka ?"

__ADS_1


"Didepan tv ketiduran nungguin kakak."


Dillah langsung menuju ruang tv dan aku langsung ke dapur. Ia melihat anaknya sebentar dan langsung kekamar mandi untuk membersihkan dirinya. Selesai, ia menggendong Azka menuju kekamar dan menidurkannya dikasur. Aku datang membawa segelas teh hangat dan roti selai coklat untuk Dillah. Karena jika sudah malam Dillah tak mau makan makanan berat.


"Makasih sayang." Ucapnya manis padaku. "Sama-sama."


Dillah menepuk kasur disebelahnya yang mengisyaratkan aku untuk duduk disebelahnya. Ia merengkuh tubuh ku kedalam pelukannya, aku yang sudah terbiasa dengan perlakuannya hanya membalasnya saja.


Tapi. Kali ini Dillah memelukku begitu erat dan mengatakan jika aku tak boleh pergi meninggalkannya. Aku bingung sendiri mengapa Dillah mengatakan hal itu. Tapi yasudahlah aku hanya mengiyakan saja, fikirku mungkin Dillah takut aku marah karena sekarang-sekarang ini ia selalu sibuk dengan dunia kerjanya.


Tiga bulan berlalu dengan Dillah yang selalu dan selalu pulang hingga larut malam, dan harus bekerja dihari sabtu hingga sore hari. Tapi itu semua tak sia-sia karena hasil kerjanya Dillah membelikan aku sebuah mobil keluaran terbaru.


Aku sangat bahagia karena selalu dimanjakan oleh suamiku. Aku merasa menjadi wanita paling beruntung didunia karena memiliki suami yang super penyayang padaku dan anakku. Dillah bilang, itu kado ulang tahun ku yang tertunda beberapa bulan lalu.


Dari rumah, motor, mobil, perhiasan, uang bonus dan uang lemburan hingga uang gaji semua diberikan kepadaku. Bahkan, semuanya ia alihkan atas namaku. Lantas, dari mana Dillah bisa membeli mobil itu ? Ya, tentunya ia memiliki uang tabungannya sendiri. Karena semua yanh diberikan padaku hanya 50% dari uangnya.


×××××


"Sa, kenalin ini Desi istri saya." Ucap Dillah pada wanita cantik tersebut.


"Elisa, bu !" Ucapnya mengulurkan tangan.


"Desi." Sahutku menyambutnya dan tersenyum.


"Kamu dari mana ? Ko rame-rame ?" Tanya Dillah padaku.


"Habis hadirin pengajian di majlis lain kak. Kebetulan aku lewat sini terus liat kakak. Yaudah aku ajak aja sekalian ibu-ibu disini makan siang, sekalian aku temuin kakak."

__ADS_1


"oh gitu. Yaudah kamu pesen sana mau apa ?"


"Iya. Kakak sama Elisa ngapain disini ? Ini jauh loh dari pabrik ?"


"Kita tadi habis ketemu klien sayang. Yaudah sekalian aja kita makan siang disini ya Sa ?"


Elisa mengangguk cepat, tapi tatapannya terlihat canggung padaku. Aku mencoba mencairkan suasana dengan mengajak ngobrol Elisa sekedar bertanya tentangnya. Masih muda, usianya masih 23 tahun. Ya memang hanya berbeda dua tahun denganku.


"Pak, Bu. Elisa duluan ya, ga enak deh jadi nyamuk ini !" Canda nya padaku dan Dillah.


"Eh jangan Sa, kamu kan kesini bareng suami saya, masa pulangnya duluan sih. Biar barengan aja, saya kan ada ibu-ibu disana jadi gapapa kamu sama suami saya aja sekalian kepabriknya."


"Yakin Des ?" Tanya Dillah memastikan. Aku hanya mengangguk.


"Yaudah aku duluan ya. Kamu hati-hati dijalan, jangan ngebut-ngebut ya !"


"Tenang aja, bukan aku ko yang nyetir tapi bu Vita sayang !" Sahutku.


Dillah mengecup kening ku dan aku meraih tangannya dan kucium. Elisa menyalamiku dan menundukkan kepalanya sambil tersenyum, aku membalasnya dengan senyuman.


Setelah kepergian Dillah dan Elisa, aku ikut bergabung dengan ibu-ibu yang sedang asik bergibah. Hahaha


Pukul tiga sore, aku sampai dirumah mertuaku dan menjemput Azka yang tadi pagi aku titipkan disana. Karena aku takut Azka akn bosan jika ikut pengajian denganku.


Setelah beberapa saat aku berbincang dengan ibu mertuaku, aku langsung berpamitan karena waktu sudah lewat ashar. Aku melajukan mobilku perlahan, hingga butuh waktu hampir setengah jam perjalanan.


Aku tak mau bermalas-malasan. Selesai aku memandikan Azka dan menjalankan solat ashar yang hampir terlambat karena sekarang sudah jam lima sore. Aku langsung menuju ke dapur memasak untuk makan malam. Azka sedang bermain dengan mainan miliknya diruang tv. Aku hanya memasak ayam goreng, tempe goreng serta sayur sop dan sambal. Tentu saja yang aku masak tak memakan waktu lama.

__ADS_1


Hingga terdengar suara ketukan pintu saat adzan maghrib berkumandang dan dibarengi kata dalam. Aku membuka pintu dan tersenyum pasa suamiku dan meraih tangannya menciumnya. Ia langsung masuk dan disambut oleh Azka yang sudah siap dengan koko warna coklat nya.


Dillah segera menuju kekamar mandi membersihkan dirinya, kemudian ia berganti pakaian dengan memakai koko dan sarung. Kamipun solat maghrib berjamaah.


__ADS_2