Cerita Masa Laluku

Cerita Masa Laluku
8. Dipantai


__ADS_3

Pagi ini, aku bangun terlebih dahulu saat mendengar suara adzan subuh. Aku menggoyangkan bahu Dillah untuk membangunkannya. Sesaat kemudian Dillah mengerjap dan beranjak dari posisi tidurnya menjadi duduk.


"Jam berapa ?" Tanya Dillah sambil mengucek-ngucek matanya. "Subuh kak."


Dillah beranjak dan menuju kekamar mandi. Dan setelahnya aku bergantian. Kami melakukan solat subuh didalam kamar kami dengan Dillah sebagai imam dan aku makmum.


Selesai solat subuh, aku menuju ke dapur dan membantu kak Dina (kakak Dillah) menyiapkan sarapan. Walaupun kak Dina melarang, namun aku tetap memaksa. Walau hanya sekedar memotong sayuran dan yang memasak tetap kak Dina, tapi aku merasa senang bisa membantu. Sebenarnya aku bukan gadis malas seperti yang mereka bayangkan, aku dirumah biasa membantu ibuku memasak. Bahkan ibuku membiasakan ku untuk mencuci pakaian setiap harinya sebelum aku bersiap kesekolah. Dan pada sore hari kadang aku diminta memasak oleh ibuku.


"Eh.. Ada Desi juga di dapur ?" Tegus mas Andi, suami kak Dina. "Iya mas. Bantuin aja !" Sahutku tersenyum.


"Ini Des, kamu taro sebelah sana !" Suruh Dina padaku memberikan lauk yang sudah matang.


Aku memanggil Dillah yang sedang bersiap pergi bekerja hari ini, karena ia tak mengambil cuti.


Kini kami sudah duduk dimeja makan, dan sedang memakan sarapan yang sudah dimasak oleh kak Dina dan dibantu olehku.


"Dil, besok mah libur atuh. Ajak Desi jalan-jalan lah !" Ucap mas Andi pada Dillah.


"Iya mas. Entar niatnya emang mau minta izin sama si bos. Paling 3 hari izinnya !" Sahut Dillah.


"Seminggu aja, entar mas bantuin ngomong lah !"


Dillah mengangguk menyetujui usul mas Andi. Sungguh kakak ipar idaman, bagiku. Hahaha


Sepeninggal Dillah bekerja, aku bingung apa yang harus aku lakukan. Pekerjaan sudah dipegang oleh Dina, aku hanya duduk manis sambil membalas pesan masul dari April dan Sania. Ingin sekali rasanya aku bercerita pada mereka, tapi aku takut mereka akan mengatakannya pada ayah ibuku dan akan membuat mereka kecewa. Aku tersenyum sendiri sambil menatap layar Hpku mendapat balasan SMS dari April yang mengatakan untukku hati-hati takut diterkam singa jantan. Hahaha.


"Des. Mau ikut kakak ga ?"

__ADS_1


"Kemana ?"


"Kedepan. Ajak Dinda main di taman." Aku mengangguk dan meraih sweaterku dari balik pintu dan memakainya.


"Emang ada taman ya kak disini ?" Tanyaku pada kak Dina. Karena kemarin, saat aku memasuki daerah rumah Dillah tak menemukan taman.


"ada. Tapi kayanya kemarin kamu ga lewatin deh, soalnya kamu diajak lewat gang belakang !"


Aku hanya mengangguk. Kemudian kami pun sampai di sebuah taman yang cukup luas dan ada banyak mainan untuk anak-anak. Seperti seluncur, jungkat-jungkit dan pasir serta gawang bola.


Aku duduk di kursi pinggir taman untuk melihat anak-anak kecil bermain, sedangkan kak Dina sedang menemani Dinda bermain pasir.


×××××


Pukul lima sore kami kembali kerumah dan mendapati Dillah juga mas Andi sudah berada dirumah. Aku yang lupa mengabari juga tak membawa Hpku merasa tak enak hati.


Dillah menepuk kursi sebelahnya dan akupun hanya menurut. "Maaf." cicitku.


Aku tersenyum dan mengangguk. Pasalnya aku sudah lama sekali tak pergi ke pantai, pertama dan terakhir aku ke pantai pada saat aku merayakan kelulusan SD. Dan saat lulus SMP aku hanya pergi ke air terjun yang berada dipuncak, yang diadakan oleh sekolah SMP ku dulu.


Kedua orang tua serta kakak Dillah tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajahku. Sungguh, jika dikatakan beruntung, ya aku memang beruntung.


Keesokan harinya, aku sudah bersiap dan sedang memasukkan beberapa pakaian ku dan Dillah kedalam tas ransel. Tak lupa aku membawa keperluan kewanitaanku yang selalu ada didalam tas kecil milikku, jaga-jaga jika tamu bulanan ku tiba-tiba datang.


Kami berpamitan kepada ibu dan kak Dina. Kemudian kami menaiki motor untuk menuju ke pantai anyer, sesuai permintaanku. Padahal jarak tempuhnya sungguh sangatlah jauh dan memakan waktu hampir satu hari penuh, tapi aku tak masalah karena itu memanglah keinginanku.


Dua jam perjalanan kami, Dillah menghentikan motornya tepat didepan restoran Padang. Kami mengisi perut padahal ini baru jam 10, dan memang tadi kami sarapan sebelum jam 7 pagi. Jadi ya wajarlah jika sekarang Dillah merasa lapar lagi, terlebih ia yang mengendarai motornya.

__ADS_1


Setelah selesai, kami melanjutkan perjalanan kami hingga adzan Dzuhur berkumandang saat kami melewati masjid. Kami berhenti dan melaksanakan kewajiban kami. Setelahnya kami kembali melanjutkan perjalanan kami hingga sampai ke pantai anyer.


Dillah menyewa sebuah villa yang menghadap langsung ke pantai hingga empat hari kedepan. Tanpa tasa ragu aku melangkahkan kakiku kedalam villa yang ternyata sangat nyaman, tak hanya sebuah kamar tapi juga ada ruang santai dan dapur kecil lengkap dengan peralatannya. Entah ia tahu dari mana, tapi yang jelas aku meras sangat nyaman.


"Suka ga ?" Tanyanya sambil merangkul bahu ku dan mencium puncak kepalaku.


"Suka dong !" Sahutku bersemangat.


Kami berdua merapikan barang-barang bawaan kami dan kemudian kami keluar untuk mencari makan siang yang sudah sangat terlambat. Karena sekarang sudah hampir makan malam pastinya karena sudah hampir jam 5 sore.


Kami menikmati sore menjelang malam kami disebuah rumah makan sederhana di pinggiran pantai yang menyediakan berbagai menu dari ikan laut.


Sekitar pukul delapan malam, Dillah mengajakku kembali ke Villa. Aku yang merasa sangat tak nyaman karena seharian berada dibawah terik matahari pun memutuskan untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Begitupun Dillah yang bergantian denganku.


Aku duduk ditepi ranjang ku sambil membuka beberapa pesan masuk dari Sania, April dan juga Antoni tentunya. Juga pesan masuk dari Lia yang selalu menanyakan kabar ku disaat libur sekolah. Terlebih aku tak bisa berjumpa dengan Lia selama dua pekan.


Dillah memperhatikanku saat aku tersenyum senyum sendiri karena sedang bercanda melalui pesan SMS pada temanku. "Kaya orang gila !"


"Hehehe. Enak aja Desi di katain gila !"


"Itu ketawa sendiri dari tadi ?"


"Oh. Ni lagi bercanda sama Sania sama April. Pada rese jadi anak !"


Dillah duduk di belakang ku dan melingkarkan kedua tangannya diperutku. Aku begitu terkejut dengan perlakuannya, karena sungguh ini semua terjadi untuk yang pertama kali bagiku.


"Ko diem ?" Tanyanya padaku yang mematung dan sedikit gemetar. "Yaudah lanjutin lagi SMS'an nya !" Tanpa berkata apapun aku membalas pesan dari Sania dengan sedikit bergetar aku sambil mengetik.

__ADS_1


Dillah semakin mendekatkan wajahnya ke pipi ku, dan aku semakin gugup dibuatnya. Ia mengecup pipiku dengan posisinya. "Kak." Lirihku yang malah semakin membuatnya semakin menjadi. Bukan hanya pipi tapi semakin turun ke leher dan pundak ku.


Satu tangannya ia lepas dan menarik kerah bajuku dan menurunkannya membuat pundak mulusku terekspos sempurna. Dengan perlahan ia mengecupinya yang semakin membuatku merasakan rasa yang tak karuan.


__ADS_2