Cerita Masa Laluku

Cerita Masa Laluku
27. Aku terjatuh (lagi)


__ADS_3

Hari-hari yang aku jalani masih sama dengan hari kemarin. Bangun tidur menyiapkan sarapan setelah menjalankan solat subuh ku, mengantar suamiku kedepan ketika berangkat kerja, mengantar Azka ketempat ia mengaji karena ia belum cukup usia jika masuk sekolah. Siang harinya aku dan Azka tidur siang, mengajak Azka bermain hingga sore menjelang. Menyambut kepulangan Dillah dan tentu saja melayani Dillah sebagai suamiku.


Hingga suatu saat aku merasa aku terjatuh ke lubang yang teramat dalam dan gelap. Karena mengetahui kebenaran tentang Dillah yang sesungguhnya. Kenyataan jika ternyata aku bukanlah satu-satunya istri Dillah membuatku terjatuh berkali kali dan berkali-kali pula harus dilarikn kerumah sakit.


Hampir depresi. Mungkin iya !


"Des maafin kakak Des !" Tangisnya pecah saat itu, kala Dillah mencoba menjelaskan semuanya padaku dua bulan yang lalu.


Aku terdiam mencerna semua ucapannya. Kelu, lidahku terasa kelu. Tubuhku bergetar hebat dan rasanya aku tak dapat berkata apapun. Isak tangis ku begitu terdengar, hingga Azka yang sudah tidur pun terbangun dan langsung memelukku ikut menangis.


"Se-jak ka-pan kak ?" Tanyaku sambil terisak, ketika Azka sudah mulai tenang dan terlelap di pangkuanku.


Aku berjalan dengan tubuh yang masih bergetar menggendong tubuh Azka kedalam kamar. Dillah mencoba mengambil alih Azka dariku, tapi aku menepisnya.


"Ja-wab !"


"Sebelum kita nikah secara negara."


Jeder !!


Dadaku terasa semakin sesak. Tubuhku luluh kelantai, rasanya sudah tak kuat lagi kedua kakiku untuk menopang tubuhku. Aku menangis dengan kencang sambil menangkup wajahku.


Dillah duduk bersimpuh dihadapan ku dan mengatakan maaf, maaf dan maaf. Hanya itu yang terlontar dari bibirnya yang bergetar sambil menangis.


Sungguh, duniaku seketika runtuh. Serapi itu ia menyembunyikan semuanya tanpa sepengetahuanku.


Tunggu !!


Apakah hanya aku yang belum mengetahuinya ? Bagaimana dengan keluarganya, apakah mereka juga menyembunyikan nya dariku ?


Semalaman aku menghabiskan waktu hanya untuk menangis dan Dillah juga terjaga bersamaku. Ia begitu menyesali perbuatannya tapi entahlah itu semua benar atau tidak. Tapi yang jelas saat ini hatiku benar-benar hancur karenanya.


~


~~





Seminggu yang lalu Dillah mengambil cuti. Ia hanya berdiam diri dirumah tak sedikitpun meninggalkan aku, bahkan Dillah juga selalu ikut menemaniku ketika mengantar Azka mengaji. Padahal sungguh, aku masih sangat marah dan kecewa padanya, tapi apalah dayaku yang memang terlalu mencintai nya dan menahan sakit hatiku demi Azka juga tentunya.



Beberapa hari yang lalu, akue memaksa Dillah untuk mengatakan yang sejujurnya kepada keluarganya. Karena memang, keluarganya benar-benar tak mengetahui apapun. Bahkan mas Andi sendiri pun yang satu kantor dengannya tak tahu menahu tentang hubungan Dillah dan Elisa.



Benar-benar serapi itu kah Dillah menyembunyikannya hingga tak ada seorang pun yang tahu ?



Orang tua dan juga kakak Dillah menyuruh untuk mengakhiri hubungannya dengan Elisa. Tapi jawaban Dillah sungguhbdiluat dugaan ku, ia tetap mempertahankan Elisa menjadi istri sirihnya.



Dan disinilah aku meras benar-benar terjatuh.



Aku masih setia mendiami Dillah, walau Dillah selalu dan selalu mancari perhatian padaku. Hingga aku mulai merasa jenuh, dan merasa rindu sendiri dengan perhatian-perhatiannya padaku.



Senin. Dimana aku kembali merasa sesak karena kedatangan Elisa yang mencari keberadaan Dillah kerumahku. Benar-benar wanita tak tahu diri. Fikirku.


__ADS_1


Dengan teramat terpaksa aku mempersilahkan Elisa masuk kerumahku, dan membiarkan suamiku berbincang dengan istri sirihnya. Sungguh, rasanya aku ingin membanting semua barang yang ada di hadapanku memprotesnya.



Untunglah saat ini Azka sedang dibawa pergi oleh Pak Burhan dan bu Nilam.



Terdengar suara Elisa yang memaksa Dillah untuk menemaninya sore ini, tapi Dillah menolaknya dengan beralasan sedang tak enak badan. Aku hanya bisa berurai air mata mendengarkan pembicaraan mereka dari dalam kamar.



Mendengar nada bicara Elisa yang sangat manja pada Dillah sungguh membuat hatiku sangat sakit. Tapi aku juga tak bisa melarangnya, karena memang Elisa juga istri sah dari suamiku.



Elisa mengetuk pintu kamar ku dan menarik tanganku keluar. Aku tersentak, mencoba melepaskan tangannya. Dillah mencoba menahan Elisa, namun Elisa malah semakin kencang mencengkram tanganku hingga kukunya sedikit membuat kulitku terkelupas.



"Lepasin saya !" Pekikku.



"Elisa, lepasin Desi !" Bentak Dillah pada Elisa namun tetap saja Elisa tak memperdulikannya.



Sungguh, jika saja aku tak menahan diri mungkin saat ini juga aku sudah menghabisi Elisa.



"Aku ga bakalan lepasin dia Mas, pokoknya aku mau dia yang kalah !" Balas Elisa.




Elisa menghempaskan tanganku kasar hingga aku jatuh tersungkur. Aku menghapus air mataku dan berusaha bangun, aku melihat pergelangan tanganku dan tersenyum miring.



"Mau kamu apa ?" Tanyaku pada Elisa.



"Aku mau mbak lepasin mas Dillah, biarin mas Dillah bahagia sama aku !" Sahutnya dengan to the point.



"Jangan sembarangan kamu Sa !" Bentak Dillah.



Aku menghapus sisa-sisa air mataku. Rasanya begitu berharga sekarang melihat tingkah Elisa yang sesungguhnya.



*Plak*



Satu tamparan kudaratkan di pipi mulus Elisa. Dillah tersentak kaget dan membentakku.



"Desi. Kamu apaan sih ?"


__ADS_1


Dillah langsung mengelus pipi Elisa yang memerah. "Sakit mas !" Ucapnya manja.



"Kamu bentak aku kak ?" Tanyaku dengan nada tinggi.



"Kamu keterlaluan Des. Liat, pipi Elisa jadi merah gara-gara kamu !"



"Hahaha. Kamu tau ga kalo hati aku lebih merah dan bahkan mungkin berdarah karena ulah kamu sama dia ? Sekarang aku cuma tampar dia terus pipinya merah kamu salahin aku kak !"



Dillah terdiam menatap ku. Aku menatapnya tajam.



"Sekarang cepet bawa istri kedua kamu pergi dari sini sebelum aku ngelakuin hal yang lebih sama dia. Bahkan aku ga segan-segan buat bunuh dia buat bales rasa sakit yang kamu ciptain ke aku kak !"



Aku langsung masuk ke dalam dan mengunci pintu. Dillah menggedor dan berteriak memanggil nama aku. Aku menutup telingaku dengan kedua tangan ku dibalik pintu sambil menangis se jadi-jadinya mengeluarkan semua yang mengganjal dihatiku.



"Astaghfirullah.. Astaghfirullah.."



Hanya itu yang bisa aku ucapkan sekarang.



×××××



Malam hari. Aku menjemput Azka di rumah bu Nilam dan pak Burhan. Mereka sudah mengetahui kejadian tadi siang dari ceritaku, saat mereka mengantarkan Azka.



"Kamu nginap aja dulu disini nak. Tidur disini !" Bujuk pak Burhan padaku.



Aku menggeleng sambil tersenyum kecut pada pak Burhan.



"Yaudah biarin Azka malam ini nginap disini, kamu selesain dulu masalah kamu sama nak Dillah. Bapak harap kamu bisa berbaikan sama nak Dillah !"



"Iya udah bu. Desi titip Azka ya buat malam ini. Maaf kalo Desi ngerepotin ibu sama bapak. Desi ga tau lagi harus gimana, Desi ga mau buat orang tua Dillah semakin kecewa karena perbuatan anaknya. Kemarin Desi liat ibu nangis, hati Desi sakit banget bu !"



"yang sabar ya nak. Ibu yakin, nak Desi bisa lewatin semuanya !"



Aku menghapus air mataku yang terjun dikedua belah pipiku. Aku mengangguk.



"Yaudah ya pak, bu. Desi pamit pulang, titip Azka !"

__ADS_1


__ADS_2