
hSaatnya tiba untukku juga keluargaku datang ke acara pernikahan Dillah dan Elisa. Dillah tak hanya mengundang keluargaku, tapi ia juga mengundang beberapa sahabatku yang dianggapnya sudah sebagai sahabatnya sendiri. Walaupun mereka sebenarnya tak mau datang, tapi aku sedikit memaksanya karena aku beralasan minta ditemani. Seperti April, Sania, Antoni, Jaya, Rika, Maya, Syarif, Adi, juga Asri.
Kami datang pada hari sabtu dan menginap dirumah om dan tanteku. Walau jarak rumah mereka berdekatan, tapi tak apalah besok saja kami datang ke rumah nya.
Aku sedang berada dihalaman samping rumah tanteku dengan Azka yang dijemput oleh Fikri. Aku dan Fikri sedang berbagi cerita dengan Fikri yang tak tahu sebenarnya apa yang terjadi.
Fikri begitu marah pada Dillah, hingga saat ini ia masih tak mau menyapa Dillah sama sekali. Padahal dulu, Fikri dan Dillah saling menyayangi, bahkan Fikri cenderung bergantung pada Dillah dalam berbagai hal. Tapi setelah ia tahu jika aku telah di khianati oleh Dillah, Fikri sama sekali tak menganggap keberadaan Dillah.
"Ga boleh gitu lo Ki. Mau gimana juga dia tetap kakak sepupu lo ! Gue aja udah maafin dia, yang penting kan dia masih mau tanggung jawab sama anak gue."
Fikri hanya menatapku dalam. "Segampang itu teh ?"
"Fikri. Ga semua kemarahan, kekecewaan harus dibales sama dendam. Ya gue sampe sekarang belum bisa terima semuanya, cuma gue ga mau terus-terusan jatuh kelubang yang sama kalo gue terus nyimpen rasa marah sama kecewa gue ! Ayolah Ki, lo udah dewasa kan, semua kesalahan ga cuma ada di diri Dillah yang kelihatan nyata, tapi ada jug dari gue yang mungkin lo bahkan gue sendiri ga pernah tau apa kesalahan gue !"
"Tau deh teh. Saya ga tau lagi mau ngomong apa. Intinya sama kecewa sama dia !"
"Terserah Lo aja deh. Tapi gue harap lo jangan pernah benci sama anak mereka, anak mereka ga tau tentang kelakuan orang tuanya. inget tuh pesan gue !"
"Insya Allah."
"Ekhm.. Serius amat kalo udah ngobrol sampe lupa sama yang lain !"
"Kalo mau ikutan ya ikutan aja kali Va." Ketusku pada Alva yang mengagetkan.
"Noh si Adara bangun, lagi digendong sama calon Papa barunya !" Sahut Alva sambil senyum-senyum tak jelas.
"Calon Papa ? Siapa ? Dan sejak kapan gue punya pasangan ! Jan ngadi-ngadi lo Va, ga ada gue kepikiran buat nikah lagi." Sahutku meninggikan suaranya dan meninggalkan Alva, Fikri dan Azka yang sedang bermain mobilan.
Aku memperlambat langkahku ketika melihat siapa yang sedang menggendong Adara sekarang. Aku memijat kening ku sambil menggelengkan kepala.
"Tuh Mimi datang." Ucapnya menujukku sambil menggendong Adara.
"Nangis ya ?" Tanyaku sambil mengambil alih Adara. "Bentaran doang, gue Gending juga diem !"
"Uh sayang-sayang. Anak Mimi udah bangun ya." Aku menghapus sisa-sisa air mata Adara.
__ADS_1
"Azka mana ?"
"Disamping lagi main mobilan sama Fikri, sama Alva juga !"
"Yaudah sana, nanti gue buatin kopi. Ajak sekalian si Adi sama Syarif sana !" Suruh ku pada Antoni.
Malam hari, ayah dan ibu datang kerumah tanteku dan memelukku untuk menumpahkan rindu mereka. Ibu menangis, akupun jadi ikut menangis.
"Desi kangen sama ibu. Maafin Desi ya ga bisa datang setiap waktu kesini sama Azka sama Adara !"
"Gapapa. Justru ibu sama ayah yang harus minta maaf sama Desi karena ga pernah nengokin cucu ibu."
Ibu menggendong Adara kedalam pangkuannya bergantian dengan ayah. Aku merasa sangat beruntung karena mereka benar-benar menyayangi putra putriku.
~
Pagi ini, kami semua bersiap untuk hadir di acara pernikahan Dillah.
"Selamat ya kak !" Ucapku bercipika cipiki pada Dillah. "Makasih ya Des."
"Selamat ya Sa, semoga langgeng sampai tua, sakinah, mawaddah, warrohmah. Jaga kak Dillah, jangan sampai kamu ngalamin hal yang sama kaya aku !"
"Jangan nangis ah, jangan bahas yang udah lalu juga." Aku membalas pelukan erat Elisa.
"Selamat ya Dil. Semoga kali ini lo ga gampang buat lepas apa yang lo punya !" Antoni yang berada di belakang ku memberi selamat pada Dillah dengan wajah masamnya.
"Thanks Ton. Sorry ya gue ga bisa jaga amanah lo, tapi gue yakin lo bisa jaga dia lebih dari gue !"
"Gue boleh ga si kubur lo idup-idup sekarang juga ? Rasanya gue pengen banget bunuh lo Dil sekarang."
"Hahaha. Dendam banget lo sama gue ?"
"Banget. Gue dendam banget sama lo !"
"Ton. Gue yakin lo bisa jagain di buat gue, gue titip dia ya ke lo. Jaga dia dan sayang in dia lebih dari apa yang pernah gue kasih. Gue tau, rasa lo ga akan pernah berubah !"
__ADS_1
Aku memelototkan mataku pada Dillah, sedangkan Antoni menatapku dalam.
"Pasti. Gue pasti akan buat dia lebih bahagia saat bersama gue !"
"Ck. Perdebatan macam apa si ni ? Gak lucu tau ga kak. Ton !" Kesalku. Toni dan Dillah malah tertawa renyah disusul oleh beberapa sahabatku dibelakang.
"Udah ah. Lama-lama aku disini bisa mati berdiri sama mereka. Sa, semoga bahagia selalu ya !"
"Makasih mbak."
Disalah satu kursi. "Emang dikata gue apahan si pake segala dititipin kaya gitu ?" Gumamku dengan kesal.
"Ada hikmah dibalik semua ucapan !" Sahut Jaya.
"Ga usah ngarang Jay. Lo mah sama aja kaya mereka, ga pernah berubah sama keadaan !"
"Ayolah Des. Lo ga tau kan selama ini perjuangan Antoni gimana ? Dia tetap memikirkan lo walau dia bahagia sama Bunga. Dan juga, Bunga pengen lo bisa berdampingan sama Antoni !"
"Sembarangan lo kalo ngomong !"
"Kapan-kapan lo harus lihat vidio kebersamaan Antoni sama Bunga sebelum kecelakaan mereka terjadi."
"Udah ya ga usah bahas lagi. Gue ga mau semuanya berubah, gue udah nyaman sama keadaan gue yang sekarang. Jadi please, jangan pernah bahas apa-apa lagi !"
"Oke. Gue ganteng, gue diam !"
"Narsis teroos."
"Hahahaha."
~
Sore menjelang malam, aku dan keluargaku sampai dirumah. Begitu juga dengan para sahabat-sahabatku.
Sebenarnya diantara mereka ada yang mengajak kami melanjutkan untuk berlibur, tapi diantara mereka juga ada yang menolak karena beralasan sudah harus masuk kerja esok hari. Ya, aku sih santai aja karena aku masih betah berdiam dirumah dengan putri kecilku yang sedang belajar banyak hal. Kufikir aku akan bekerja saat tabungan ku yang diberikan Dillah mulai menipis saja. Hahaha
__ADS_1
Aku hanya tidur berdua dengan Adara. Saat seperti inilah aku benar-benar merindukan sosok Dillah yang selalu ada disampingku ketika aku tidur berdua dengan Azka. Membayangkan kehadiran Dillah disisiku.
Huss.. Ayolah Desi, kamu sudah bukan istri dari Dillah. Jadi jangan berharap lagi untuknya !!