Cerita Masa Laluku

Cerita Masa Laluku
29. Berakhir


__ADS_3

Lima bulan berlalu, aku mendapat kabar tentang Elisa yang melahirkan. Walaupun Dillah selalu berkunjung setiap bulan, tapi aku tak pernah mau berbicara padanya.


Hari dimana saat yang aku tunggu, bisakah aku kembali membangun rumah tanggaku yang aku anggap beluk berakhir ?


Malam ini Dillah datang setelah seminggu lalu Elisa melahirkan. Ia memelukku meluapkan rasa rindunya padaku, asa sedikit kebahagiaan dan harapan didal hatiku akan bisa bersama kembali dengan Dillah.


Ia berusaha menguasai diriku malam ini, padahal aku sudah menolaknya namun ia tetap memaksa. Aku tak tahu apakah aku masih boleh melayaninya atau tidak setelah beberapa bulan ini kami tak saling betegur sapa dan pisah rumah. Entahlah.


Pagi hari, Dillah berpamitan padaku setelah ia puas bermain dengan Azka juga memberikan hak Azka padaku.


Sebelumnya Dillah, aku, bapak juga ibu berunding tentang bagaimana hubungan ku dan Dillah. Tapi jawaban Dillah begitu menusuk, ia menjawab tak bisa meninggalkan Elisa. Akhir nya aku memutuskan untuk segera mengurus surat perceraian ku dengan Dillah. Walau sebelumnya Dillah menolak dengan berbagai alasan, tapi aku tetap bersikukuh untuk melanjutkan niatku.


Singkat cerita.


Kini statusku sudah diujung tanduk, surat cerai telah disiapkan dan sebentar lagi statusku menjadi janda hanya tinggal menunggu keputusan pak hakim. Aku dan Dillah sama-sama menyepakati surat perjanjian yang diajukan oleh pengacara Dillah.


Aku yang harus menerima uang tanggungan untuk Azka dan tidak boleh menghalangi Dillah maupun keluarga untuk bertemu dan membawa Azka menginap. Dillah fikir aku ibu yang kejam ? Tanpa Dillah harus memberiku surat perjanjian pun aku tak akan melakukan hal itu padanya.


Karena faktanya adalah Dillah ayah kandung dari putraku Azka Alrasya Hasan.


~


"Maafin kesalahan Desi ya bu, yah, kak, mas. Adek sini !" Aku memeluk adik Dillah yang kini mulai beranjak dewasa.


"Kak. adek boleh kan kapan-kapan nginap disini ?"


Aku mengangguk sambil tersenyum. "Kamu tetap adeknya kakak."


Aku kembali berpelukan dengan seluruh keluarga Dillah. Aku mencium telapak tangan Dillah untuk yanh terakhir kalinya dan juga memeluknya erat.


"Terima kasih ya Des, buat cinta dan kasih sayang kamu ke kakak selama ini. Maafin kakak dan kakak harap kamu ga dendam sama kakak !"


"Desi ga dendam sama kakak. Desi udah maafin semua kesalahan kakak. Desi juga terima kasih banget buat semua yang udah pernah kakak kasih ke Desi, Desi ga akan pernah lupain itu semua. Desi juga minta maaf sama kakak selama ini belum bisa jadi istri yang baik buat kakak." Sahutku padanya mencoba tersenyum selebar mungkin menunjukkan ketegaranku. Dan entah dari mana aku mendapatkan kata-kata sebijak itu, padahal ingin sekali aku memakinya saat ini.

__ADS_1


"Makasih ya. Kakak janji setiap bulan kakak bakalan dateng buat nengokin Azka dan kasih biaya buay keperluan Azka."


Aku hanya mengangguk. "Yaudah ya semuanya, Desi pamit pulang. Kasian Rini takut repot ngurus Azka sama Alesha !"


Aku, bapak, ibu juga Alva masuk kedalam mobilku yanh dikendarai Alva. Sedangkan Dillah dan keluarganya juga langsung pulang kerumah mereka.


Bebas tanpa beban fikiran apapun, rasanya hatiku merasa sangat bahagia. Tinggal aku memikirkan tentang pendidikan Azka nantinya, juga bagaiman kehidupanku kedepannya seperti apa. Tapi yang jelas sekarang aku harus bisa memanfaatkan tabunganku untuk memulai usaha kecil-kecilan agar aku bisa menghidupi kehidupan putra semata wayangku.


Bulan pertama dan kedua, Dillah selalu datang menengok putranya yang mulai masuk TK. Ia membiayai keperluan Azka dari hal kecil hingga yang besar. Dan itu semua tak luput dari pengawasan Elisa.


Padahal jika Dillah tak membantuku juga uang tabunganku cukup untuk nya, karena totalnya yang mencapai hampir 40 juta. Cukuplah untuk membiayai sekolah dan kehidupan Azka tiga tahun kedepan. Fikir aku.


~


Sudah tiga bulan berlalu. Banyak kisah baru yang kualami disini. Haru, bahagia bahkan sedih pun sudah pernah aku alami. Mulai dari kehamilan kedua April, kepergian Bunga untuk selama-lamanya dan membuat Antoni berada di kursi roda selama sebulan akibat kecelakaan yang ia alami bersama Bunga juga kabar tentang diriku yang ternyata sedang hamil selama empat bulan.


Entahlah salah apa aku pada Tuhan ?


Lima bulan kemudian aku melahirkan. Kabar ini sampai pada telinga Dillah yang memang tak pernah datang semenjak bulan ketiga kami bercerai. Dillah datang kerumahku dan menanyakan perihal anak yang aku kandung. Aku mengakui jika memang dia anak dari Dillah yang terakhir kali kami melakukan hubungan suami istri dirumahku saat itu.


Dillah menangis menyesal, mengapa ini terjadi padanya. Seorang putri berwajah mungil dan cantik lahir dari rahimku, dan naasnya tanpa sosok seorang ayah yang menemaninya. Bahkan ia lahir tanpa punya sosok ayah yang harus ia akui.


Batinku menangis, ingin rasanya berteriak namun tak bisa. Aku menangis dan menangis dalam diam.


Miris sekali hidupku ya Allah. Apakah dosaku sebesar ini kepada-Mu hingga Engkau memberikan aku penderitaan sebesar ini.


Jika tak ada bapak, ibu, Alva, Rini dan semua sahabatku yang menguatkan, mungkin aku sudah gila karena terlalu stress memikirkan putri kecilku.


Sebelum Dillah pergi, ia berpesan padaku untuk memberikan nama Laluna Adara Mauriska pada putriku. Aku mengiyakan, walau status kamu sudah bercerai, tapi secara biologis Dillah adalah ayah kandung putriku. Walau nanti ia tak bisa mengakuinya bahkan ketika putriku menikah ia tak bisa mewalikannya, tapi aku tetap menganggap Dillah adalah ayah kandung dati putriku. Dan itu semua dibenarkan oleh keluargaku.


Mertuaku, aku masih menganggapnya sebagai orang tuaku. Mereka menangis haru dan sedih melihat putriku. "Jangan nangis bu, yah."


"Maafin ibu ya Des, maafin ibu sama ayah."

__ADS_1


"Gak bu. ini udah takdir Desi dari Allah. Mau ga mau, terima ga terima Desi harus jalanin semuanya." Sahutku ikut menangis dalam pelukan ibu mertuaku. Bukan, mantan ibu mertuaku.


Ah.. Tidak ! Mereka adalah orang tua keduaku, selamanya akan menjadi orang tuaku.


~


~~





Kini. Usia putriku menginjak dua bulan. Ia sudah semakin bertambah besar dari sebelumnya. Aku sudah bisa menerima keadaanku yang memang sudah digariskan oleh Allah.



Aku harus kuat, aku harus bangkit. Demi putra putriku, demi kehidupan kedua malaikat kecilku.



**Azka Alrasya Hasan


Laluna Adara Mauriska**



Hanya mereka berdua yang menjadi penyemangat hidupku, dan hanya untuk mereka pula aku hidup. Aku mulai menata hatiku dan juga hidupku. Untuk kedepannya, aku serahkan semuanya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.



Terima kasih Tuhan karena telah memberiku jalan hidup yang sudah kau ciptakan sebaik mungkin. Terima kasih atas pelajaran hidup yang harus kuterima. Terima kasih yang sebesar-besarnya karena telah menghadirkan dua malaikat kecil yang telah Kau percayai dan titipkan padaku.

__ADS_1


__ADS_2