Cerita Masa Laluku

Cerita Masa Laluku
7. Akhirnya


__ADS_3

Setelah hampir setengah jam, pak penghulu yang memang akan menikahkan pasangan pengantin ditempat lain pun meminta ayah Dillah memanggil kami. Dengan perasaan yang entah bagaimana, akupun hanya menuruti permintaan Dillah dan ibunya.


Aku duduk bersebelahan dengan Dillah dihadapan pak penghulu dan wali hakim. Aku hanya terus menunduk tanpa mau melihat kedepan, kenakan atau ke kiri.


"Bisa dimulai ?" Tanya pak penghulu. Kami semua mengangguk dan Dillah menjabat tangan pak penghulu.


"Saudara Abdillah Hasan bin Amir. Saya nikah kan dan kawinkan engkau dengan Ananda Desiana Maurina binti Syahid, dengan maskawin cincin segera tiga gram dibayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawin nya, Desiana Maurina binti Syahid, dengan maskawin tersebut dibayar tunai."


Satu kali tarikan nafas Dillah bisa langsung menyelesaikan ijab kabul nya. Tanpa kupinta dan kuperintah, buliran bening berlomba-lomba keluar dari mataku. Dillah meraih tanganku dan memasang kan cincin dijariku, dan aku mencium punggung tangannya. Kemudian aku segera menghapus air mataku dan segera menandatangani sura keterangan nikah sirih kami yang memang sudah disiapkan oleh pak penghulu atas permintaan ayah Dillah.


Sepeninggal pak penghulu, aku meminta izin untuk kembali kekamar menenangkan fikiran ku. Aku masih sangat terkejut dengan hari ini. Seluruh keluarga Dillah mengiyakan karena memang mereka faham benar dengan keadaanku saat ini. Dillah mengantar ku kekamar.


1_


Aku terus berdiam dan meneteskan air mata saat sudah sampai dikamar. Dillah yang sedari tadi berjongkok dihadapan ku hanya bisa menatap ku yang sedang menangis, membiatkanku mengeluarkan semua sesak di dada ku atas perbuatannya.


Saat aku berhenti menangis karena lelah, barulah Dillah mulai berbicara padaku.


"Maafin kakak ya." Ucapnya sambil menggenggam kedua tanganku. "Maafin kakak karna udah seenaknya ngelakuin hal kaya gini ke Desi, ga bilang dulu ke Desi sama ke ibu bapak."


Aku hanya menggelengkan kepala. "Desi ga mau maafin kakak ?"


"Bu-kan gi-tu kak." Sahutku terbata-bata karena masih sedikit sesenggukan.


"Terus ?"

__ADS_1


"Ta-u ah !" Kesalku padanya yang tak bisa mengungkapkan apa yang sekarang ada dihatiku.


Bahagia ? Mungkin iya. Bahagia bisa menikah dengan orang yang mulai aku cintai. Tapi sungguh, tak secepat ini. Sedih ? Pasti sedih. Sedih karena menikah tanpa dihadiri keduo orang tua dan kakak satu-satunya.


Dillah mendekapku kedalam pelukannya sangat erat, tapi aku hanya diam tak membalasnya. Rasanya masih sangat amat malu bagiku untuk menerima semua ini. Sungguh tak pernah terfikir sedikitpun olehku menikah bahkan saat usiaku belum genap 17 tahun. Ya, kini usiaku masih 16 tahun dan akan genap berusia 17 tahun pada bulan oktober mendatang.


"Kakak sayang banget sama Desi. Kakak ga mau kehilangan Desi, cuma dengan cara ini kakak bisa tenang saat jauh dari Desi !"


"Desi juga sayang banget sama kakak." Balasku dan membalas pelukannya.


Beberapa saat kami hanyut dalam pelukan, menumpahkan seluruh rasa bahagia kami berdua dan rasa kasih sayang yang sama-sama kami miliki. Sampai akhirnya Dillah melepaskan pelukannya dan mengecup keningku dalam. Aku begitu menikmati kehangatan yang kurasakan sekarang. Rasa yang sama sekali belum pernah aku dapatkan dari lelaki manapun kecuali bapakku.


Dillah menatap intens mataku dan menyelidik seluruh wajahku yang terlihat sangat ayu dengan riasan sederhana. Ia mangusap perlahan bibir merah lu menggunakan satu jari telunjuknya sambil berkata. "Ini cuma buat kakak !"


Aku tersenyum dan kemudian mengangguk. Dillah mendekatkan wajahnya ke wajah ku, dan sesaat kemudian ia mengecup bibirku. Aku tertunduk malu karena ulah nya, tapi ia hanya tersenyum melihatku yang merasa malu. Lagi, ia mendekatkan wajahnya ke wajah ku, sebelah tangannya meraih daguku.


Dillah benar-benar mencium bibirku. Tapi bukan hanya mencium, tapi ia mengulum dan ******* bibirku dengan rakusnya. Aku yang sama sekali belum pernah merasakan ciuman hanya bisa pasrah tanpa bisa membalasnya karena belum mengerti apapun. Hingga beberapa menit aku hampir kehabisan nafas, aku memukul-mukul bahunya dan sedikit mendorongnya.


"Hah.. hah.. hah.." Nafasku tersengal sengal karwna benar-benar hampir kehabisan oksigen karenanya.


"Kenapa ?" Tanyanya dengan wajah yang tersenyum mengejek padaku. "Nge-se-lin !" Sahutku dengan masih mengatur nafas.


Dillah mendekapku kedalam pelukannya lagi dan ia berkali-kali mengecup puncak kepalaku. "Makasih ya !" Aku pun mengangguk.


"Sekarang kamu ganti baju, kakak tunggu diluar terus kita makan !" Suruh nya padaku. Dan aku hanya bisa mengikuti apa katanya.


×××××

__ADS_1


Malam hari setelah selesai makan bersama, Dillah mengajakku duduk di teras depan rumahnya. Ia membawakan kue dan teh hangat untukku dan untuknya. Aku melihatnya dan memberi senyumku. Senyum yang sulit diartikan antara sedih dan bahagia.


"Ga nyangka sekarang aku udah jadi istri orang !" Ucapku sambil mengalihkan tatapan ku lurus kedepan.


"Nyesel Des ?"


Aku menggeleng. "Bukan nyesel kak. Cuma masih ga nyangka aja !" Ucapku meyakinkan.


"Tenang aja. Kakak ga bakalan macem-macem ko. Kakak ga bakalan paksa kamu, kakak tau kamu masih pengen sekolah !"


"Kakak yakin ?"


"Insya Allah. hehehe"


Aku menatap malas pada pria yang kini sudah sah secara agama menjadi suamiku. Walau sebenarnya aku memang menerima pernikahan ini, tapi aku juga merasa sangat takut dengan dirinya yang mungkin akan memaksaku melayaninya sebagai suami.


Pukul 9 malam, ayah Dillah menyuruh kami masuk karena cuaca semakin dingin. Memang benar, malam ini terasa sangat dingin dibanding malam kemarin.


"Kamu tidur aja duluan. Kakak mau ngobrol dulu sama ayah." Ucapnya padaku sambil mengelus sebelah pipiku.


Aku merebahkan diriku dikasur berukuran sedang didalam kamar yang kini akan menjadi kamarku dan kamar Dillah. Ia menutup pintu dan aku mulai memejamkan mataku.


Hingga jam 11 malam, Dillah kembali masuk kedalam kamar. Aku yang memang belum benar-benar pulas tidur, mendengat suara pintu yang terbuka. Dillah duduk disampingku tertidur, ia mengelus kepalaku dan membenarkan rambutku yang sedikit berantakan. Aku sengaja tak membuka mata, karena memang sebenarnya aku mengantuk tapi entar mengapa tak dapat tertidur lelap.


Jantungku berdegup begitu kencang, rasa takut menyerang ku kala Dillah menarik selimut yang aku pakai. Fikiranku sudah kesana kemari membayangkan apa yang akan dilakukan Dillah padaku malam ini. Rasanya ingin aku bangun dan berlari keluar menghindar darinya. Tapi apalah dayaku, memang aku sudah sah menjadi istrinya dan memang sudah seharusnya aku melayaninya sebagai suamiku.


Dillah merebahkan tubuhnya disampingku dan menarik kembali selimut yang tadi ia tarik dari tubuhku dan memakaikannya padaku juga pada tubuhnya. Ia memelukku dari samping dan mengucapkan sesuatu. "Kakak bakal minta hak kakak kalo kamu memang udah kau sepenuhnya kakak sentuh.

__ADS_1


__ADS_2