Cerita Masa Laluku

Cerita Masa Laluku
9. Berhasil


__ADS_3

(Cerita kali ini sedikit vulgar. Harap bagi yang masih berumur dibawah 18 tahun agar tak membacanya..🙏🙏)


×××××


Dillah membalik tubuhku dan menatapku dari wajah hingga turun kebawah. Aku hanya menunduk menahan malu karena perbuatannya.


"Des." Ia memegang daguku dan mengangkatnya membuatku dapat melihatnya. "Boleh ?"


Aku terdiam sejenak lalu menganggukkan kepala. Dengan perlahan Dillah memegang tengkukku dan mendekatkan wajahnya padaku. Ia mengecup kening ku, lalu ia mengecup bibirku.


"Kalo kakak minta ini boleh ga ?" Tanyanya lagi sambil menunjuk dada ku. Aku dengan cepat menyilangkan kedua tangannya didada. la terkekeh melihat wajah panik ku.


"Kakak mau Des." Lirihnya menurunkan tanganku perlahan.


"Desi malu kak." Lirihku menunduk. "Ga usah malu, Desi kam sekarang udah jadi istri kakak."


"Takut." Lirihku lagi. Dillah malah terkekeh mendengarnya. Kemudian ia memelukku dengan erat. "Kakak cuma minta yang atas ga yang bawah ko. Paling cuma pegang-pegang dikit !"


((blush))


Rasanya semakin tak karuan mendengan ucapannya barusan. Malu yang amat sangat kurasakan serta rasa takut, takut jika ia sampai menjebol pertahanan ku. Sumpah, rasanya aku masih belum mau memberikan hak itu padanya, walau sekarang aku sudah sah dan sangat sah untuknya.


Memang selama kami menjalani hubungan dan Dillah selalu datang berkunjung, ia sama sekali tak pernah berbuat macam-macam padaku. Hanya sekedar minta dipeluk ketika diatas motor, dan memegang tanganku disaat kami sedang bersama. Sesekali ia mengelus-elus kepalaku, melimpahkan kasih sayangnya.


"Boleh ya ?" Tanya lagi ketika sudah melepaskan pelukannya dan menatap kembali wajahku. Aku hanya mengangguk mengiyakan, karena aku tak mau dikatakan durhaka pada suamiku karena menolak permintaannya.

__ADS_1


Ia mulai mendekatkan wajahnya dan mencium bibirku lama. Tangannya yang satu memegang tengkukku dan yang satu mulai membuka satu persatu kancing kemejaku. Sayangnya aku tak memakai tangtop karena aku memakai kemeja berwarna hitam polos, jadi ketika semua kancing kemejaku sudah terbuka semuanya kedua gunung kembarku terpampang sangat nyata dan hanya dibalut bra berwarna pink yang aku pakai.


"Hheemmppttt..."


Hanya itu suara yang terdengar kala Dillah memainkan jari telunjuk nya yang mulai menyusuri setiap inci tubuh atasku. Kemudian ia melepaskan pagutannya dan menempelkan keningnya di kening ku. Aku mengatur nafasku yang terengah-engah karena ulah nya.


"Mulutnya dibuka aja sayang !" Ucapnya padaku yang menurutku terlalu vulgar.


Dengan perlahan Dillah memegang kedua bahuku dan menuntunku untuk berbaring. Kini posisiku berada dibawahnya. Dillah mulai memainkan tangannya dibahuku dan mengelusnya perlahan sambil sesekali ia menciumnya. Bukan, ia bukan hanya mencium bahuku, melainkan menggigit dan meninggalkan jejak kemerahan disana.


"Kak." Lirihku memanggilnya. "Jangan takut sayang. Ga akan kenapa-kenapa ko !" Sahutnya meyakinkan aku.


Entah sejak kapan tanganku sudah mengalung pada leher Dillah. Tapi yang jelas, Dillah lah pelakunya. Dan kini, ia sudah sangat berhasil membuat darahku mendidih dan mengalir sangat cepat merasakan sentuhan-sentuhan hangat yang ia berikan dari tangan dan juga bibirnya. Ia masih terus saja bermain diarea leher dan pundak ku sebelum akhirnya ia menurunkan tangannya pada kedua gundukkan dukung kembarku yang masih tertutup rapat.


Ia menarik tubuhku menjadi sedikit miring, dan dengan sebelah tangannya ia mencoba membuka pengait belakang bra ku. Dengan sedikit usaha akhirnya ia bisa membukanya dan segera melemparnya sembarang arah. Aku yang masih merasakan malu, hendak menutup gunung kembar ku dengan tanganku. Tapi segera Dillah kembali menarik tanganku dan mengalungkan dilehernya lagi. Ia mulai menciumi bagian atas dadaku perlahan dan semakin dan semakin turun. Aku berdesis kemudian menutup rapat mulutku dengan cara mengigit bibir bawahku.


"Kakak." Panggilku dengan suara yang sangat berat, ingin mendesah tapi tertahan. Dillah menghentikannya sesaat dan beralih melahap bibirku sambil terus tangannya bermain-main dikedua gunung kembar ku.


Ya Allah. Apa Desi harus nyerahin keperawanan Desi sekarang sama kak Dillah ? Tanyaku membatin sambil terus menikmati yang dilakukan Dillah padaku.


"Des, boleh ya ?" Kembali ia bertanya padaku dengan suara yang terbata-bata dan memeluk tubuhku dengan posisi masih menindihku.


"Desi takut kak !" Jawabku masih seperti tadi. "Jangan takut Des. Sumpah, kakak udah ga tahan !" Rengeknya padaku.


"Tapi pelan-pelan ya. Kan katanya sakit kak kalo baru pertama kali, terus juga katanya pasti keluar darah !" Jawabku dengan sangat polos yang pernah mendengar cerita orang lain yang sudah pernah melakukan malam pertama dengan suaminya.

__ADS_1


Dillah merubah posisinya dengan raut wajah yang sedikit terkejut. BAGAIMANA BISA DESI TAHU ? Mungkin itu fikirnya.


"Kakak janji bakalan pelan-pelan ko. Desi nikmatin aja, ga bakalan sakit sayang." Aku mengangguk menyetujui.


Dillah tersenyum menang saat aku mengangguk. Dan dengan segera ia menanggalkan pakaiannya dan kini sekarang ia benar-benar tak menggunakan sehelai benang pun. Kemudian ia juga melucuti tubuhku yang bagian atasnya memang sudah tak memakai apapun.


Ia kembali menindihku dan bermain dengan bagian atasku. Aku menahan nafas dan menggigit bibir bawahku. "Lepasin aja !" Ucapnya.


"Aaahhh..."


Dillah semakin tersenyum senang kala mendengar lenguhan keluar dari mulutku. Ia mengalihkan satu tangannya untuk bermain diarea sensitif ku. Aku semakin tak dapat menahan diriku dan lenguhan demi lenguhan keluar secara berirama dari mulutku.


Kini saatnya Dillah menancapkan pedang miliknya kedalam diriku. Aku sedikit merintis kesakitan dan menahan dadanya sambil berkata sambil meringis. "Sakit kak." Tapi Dillah seakan tak perduli ia masih saja berusaha mendorong-dorong pedang miliknya kedalam tubuhku.


Sepersekian menit dengan diriku yang selalu menahan-nahan Dillah agar menghentikannya karen begitu sakit kuterima, akhirnya ia bisa juga menjebol pertahanan ku. Aku mengeluarkan air mataku ketika sudah tak dapat menahan rasa sakit. Sakit disekunur tubuhku juga sakit dihatiku. Rasanya benar masih tak ikhlas memberikannya pada Dillah, walau kini memang dia sudah sepenuh nya memiliki diriku.


Ibu bapak. Maafin Desi ! Batinku lagi merasa sangat menyesal, seperti melakukan zina.


Setelah pergulatan yang hampir memakan waktu satu jam lamanya, Dillah menyelesaikan ritual nya dan berbaring di sebelah ku sambil mengatur nafasnya. Aku menghapus sisa-sisa air mataku yang masih membasah di pipi.


Dillah bangkit dan duduk. Ia melihat bercak darah yang kini menjadi sebuah lukisan diatas kasur yang menjadi saksi bisu atas perbuatan kami berdua.


"Des. Berdarah !" Ucapnya menakutiku.


"Kak." Sahutku begitu takut dan hampir menangis lagi Aku berusaha bangun, tapi sangat sulit rasanya karena sekarang seluruh tubuhku terasa sangat sakit. Tapi Dillah membantuku dan aku sekarang bisa duduk disamping Dillah

__ADS_1


Aku begitu terkejut dengan pemandangan dari pangkal pahaku, darah segar terlihat sangat banyak diatas seprai berwarna putih tersebut. Aku segera menarik selimut dan menutupi bercak darah tersebut juga menutupi diriku.


__ADS_2