Cerita Masa Laluku

Cerita Masa Laluku
5. handphone untukku


__ADS_3

Dua bulan berlalu semenjak aku masuk di SMA. Dengan selalu Antoni yang tak henti mengganggu ku, walau aku sudah mengatakan jika aku sudah memiliki pacar. Tapi tetap saja Antoni tak berhenti mengajak ku. Aoa salahku tuhan ? Fikirku yang semakin jenuh dengan sikap Antoni yang sedikit memaksa.


Sore ini. Dengan sedikit paksaan Antoni mengantar ku pulang padahal aku sudah mengatakan aku akan dijemput oleh April, tapi tetap saja Antoni memaksaku untuk pulang dengannya.


"Besok mah gue mau bilang sama pak Syam, mau ganti regu kelompok aja !" Ucapku menggerutu diatas motor Antoni. "Yaudah si ga usah ngomel !" Sahutnya ikut meninggikan suara.


"Makasih." Aku langsung turun dari motornya dan masuk kedalam rumah. Ibuku melihat dan menegurku, tapi aku tak memperdulikannya.


"Maaf ya Ton. Desi mah begitu orangnya, ngeselin emang !" Ucap ibuku meminta maaf pada Antoni.


"Iya bu gapapa. Yaudah bu, Toni langsung pulang ya. Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam."


Ibuku masuk dan memarahiku karena selalu bersikap seperti itu pada Antoni, padahal Antoni selalu bersikap baik kepadaku. Tapi jika Ibuku tahu yang sebenarnya mungkin ia juga akan menyuruhku untuk tidak dekat-dekat dengannya. Tapi yaudah lah ya, ini mah urusan anak ABG, yang tua ga perlu tahu !


"Iya. Maaf !" Sahutku pasrah. Aku tak mau berdebat dengan ibuku, karna tak akan ada habisnya.


×××××


"Des, Bapak masuk ya !"


"Iya Pak masuk aja."


Klik. Pintu terbuka menampakkan sosok lelaki paruh baya dengan rambut yang sudah ada bercak putih di kepala nya. "Ada PR ?"


Aku mengangguk dan bangun dari kursi kej belajarku. "Ada apa Pak ?"


"Nih duit buat bayarin Hp nya Sania, Bapak ga enak sama Ayahnya Sania kalo kamu minjem Hp Sania terus." Ucap bapakku memberiku uang dua ratus ribu rupiah.


"Ga deh pak. Gapapa, nanti Desi ga pinjem-pinjem Hp Sania lagi deh. Biar Desi kumpulin duit aja buat beli Hp nya." Sahutku menolak uang yanh diberikan bapakku.


"Udah gapapa, ambil aja. Lagian kan kamu butuh juga kalo lagi janjian bikin tugas apa kerja kelompok. Jadi bisa juga ngabarin ke Alva kalo kamu pulanh telat."


Dengan terpaksa aku menerima uang pemberian bapakku, aku tak mau hasil kerja bapakku sia-sia jika aku menolaknya. "Makasih bapak."

__ADS_1


"Tapi harus janji sama bapak, tetap pertahanin nilai kamu. Jangan sampai anjlok ya !" Aku mengangguk mantap dengan ucapan bapakku. Rasanya aku semakin bersemangat.


×××××


Keesokan harinya, aku mengajak April untuk kerumah Sania pada sore hari untuk membayar Hp yang sudah aku pakai beberapa hari ini. Biasanya aku meminjam hanya pada hari sabtu sampai hari minggu.


"Assalamualaikum. Sania, main yuck !" Ucapku dengan April seperti anak kecil.


"Waalaikum salam. Sanianya lagi mandi, tungguin aja sini didalem." Sahut Mama Sania.


"Diluar aja deh tan." Tolak April.


Hanya sepuluh menit kami berdua menunggu Sania yang sedang mandi, ia keluar sambil membawa sisir juga handbody.


"Asiik ni. lagi banyak duit kayanya !" Ejek Sania yang sudah kuberi tahu semalam melalui SMS.


"Ngeselin !" Sahutku merogoh saku celanaku dan memberikan uang tersebut pada Sania.


"Makasih ya. Kita makan bakso entar !" Ucap Sania menerima uang dariku.


Kami bertiga berjalan kaki menuju tukang bakso yang letaknya tak jauh dari rumah Sania. Karena motor ku dan motor Sania sedang tak ada, jadi kami hanya pergi ke tukang bakso yang dekat saja.


Setelahnya kami bertiga langsung pulang kerumah masing-masing karena waktu maghrib segera tiba. Sesampainya aku dirumah langsung mandi dan menjalankan sholat maghrib yang ku lanjut dengan membaca sedikit ayat suci Al-Quran. Walau aku adalah gadis yang tak mau menutup aurat, tapi jika urusan sholat dan mengaji aku selalu mengutamakannya.


Seperti hari-hati sebelumnya yang ku jalani hanya dengan pergi kesekolah, bermain bersama April dan Sania, malam harinya aku mengerjakan tugas-tugas sekolah. Begitu dan begitu selalu yang aku jalani. Dengan sosok Antoni yang tak pernah bosan mengganggu ku dan terus mengganggu.


Hingga tiba libur semester pertama selama dua minggu lamanya. Dillah mengabari jika ia akan datang berkunjung kerumahku pada hati sabtu dan menginap semalam hingga minggu pagi ia akan kembali pulang. Aku meminta izin pada bapak dan ibuku, dan mereka mengizinkan nya.


Hingga sampai hati sabtu tiba, Dillah pun diantar oleh ojek stasiun hingga kerumah. Untungnya sang tukang ojek tinggal dikampung sebelah jadi mereka berdua tak kesulitan mencari alamatku.


Aku tersenyum malu-malu saat menyambut kedatangan Dillah. Karena baru pertama kali saat aku menerima cinta Dillah, dia datang berkunjung kerumahku. Bapak dan ibuku juga Alva menyambut hangat kedatangan Dillah, bahkan Alva yang memang seumuran dengan Dillah langsung nyambung dengan obrolan mereka.


"Nanti kakak tidur sama Alva aja ya. Maaf cuma ada tiga kamar disini soalnya." Ucapku pada Dillah karena merasa tak enak, dirumahku hanya ada tiga kamar.


"Iya gapapa. Kakak mah tidur diruang tamu juga ga masalah." Sahutnya padaku.

__ADS_1


Pukul tiga sore, April memanggilku dari depan rumahnya. Sudah menjadi kebiasaan kita berdua memang, selalu berteriak sesuka kami. Padahal bapak ibuku juga bapak ibu April sering memarahiku dan April, tapi ya beginilah aku dan April.


"Berisik wouyy !" Ucapku dari depan pintu. "Ngapa si Pril ?"


"Hayuck lah. Katanya mau ngebakso ?" Ucap April mengingatkanku. "Oh iya. Ayo lah cabut !" Sahutku.


Aku mengajak Dillah dan memberikan kunci motor bapakku padanya. Dillah memasang kembali topi yang tadi sempat ia buka karena tak sopan katanya jika sedang mengobrol menggunakan topi, kecuali peci. Yang bukan aja. Fikirku.


Aku izin pada ibuku dan tak lupa mengajak Alva, karena takut nanti Dillah merasa canggung jika harus menjadi yang paling tampan diantara ketiga bidadari cantik. Alva mengajak Deny untuk ikut.


Kami berkumpul di rumah Sania sambil menunggu Deny datang. Setelah kedatangan Deny, kami langsung menancap gas motor masing-masing dengan posisi Aku-Dillah, April-Alva dan Sania-Deny.


Tanpa kusangka dan tanpa kuduga, ternyata diwarung bakso ada Antoni yang sedang bersama Rika. Sedikit tak enak pada Antoni, tapi aku tetap tak perduli padanya.


Antoni menatapku, aku hanya bis menundukkan kepalaku. Karena sekarang kami bergabung dengan Antoni dan Rika.


"Ekhm.. Kenalin dong !" Sindir Rika padaku.


"Oh iya. Kak kenalin, ini Rika temen sekolahnya April, yang ini Antoni sepupunya sekaligus temen sekolah Aku." Ucapku memperkenalkan Antoni dan Rika.


"Abdillah." Sahut Dillah sambil tersenyum.


"Neng, biasa ?" Tanya mamang bakso padaku, April dan Sania. Kami bertiga menyahuti bersama. "Iya mang."


"Kalo akang-akang campur ga ?" Tanya Mamang bakso lagi pada Alva, Dillah, dan Deny.


"Saya campur mang. Lo berdua samain ga ni ?" Tanya Alva.


"iya campur."


"Samain aja. Biar ga ribet !"


Sahut Deny dan Dillah bersamaan.


Suasananya begitu canggung bagiku dan Antoni. Walau aku selalu tak perduli pada Antoni, tapi sejujurnya aku juga memendam rasa suka padanya. Tapi karena aku selalu bermasalah dengan Amiramamtan pacar Antoni, jadi aku sama sekali tak pernah menunjukkan rasa sukaku padanya. Makanya aku menerima Dillah sebagai pacarku dan membuatku sedikit demi sedikit melupakan Antoni dan mulai menyukai Dillah karena perhatian-perhatian yang ua berikan.

__ADS_1


__ADS_2