
Kami bertiga sampai dirumah Rika. Ternyata, Rika juga mengundang beberapa temannya yang juga akan ikut merayakan ulang tahun nya yang ke 17 di tahun ini.
Kami bertiga menyalami mereka dengan cara ber tos ria, walau diantara kami ada yang belum mengenal sebelumnya.
Disini, aku mau mengenalkan sosok Rika pada kalian. Rika adalah salah satu teman April, tepatnya ia teman dekat April disekolah. Kenapa aku juga Sania bisa sedekat ini dengan Rika ? Karena beberapa kali April mengajak Rika bergabung bersama kami, dan beberapa kali pula aku dan Sania diajak main kerumah Rika. Jadi begitulah cara kami menjadi dekat.
Aku memberikan sebuah kado pada Rika yang tadi sempat kamu beli di jalan menuju rumah Rika, uga Sania dan April.
Saat aku tengah tertawa karena ulah salah satu teman Rika yang mencoba melawak, tiba-tiba aku terdiam dengan kedatangan sosok pria kurus tinggi berwajah lumayan tampan. Dengan tatapannya dia menyapaku.
"Hai Des. Lo disini juga ?" Sapa nya. Aku hanya menganggukkan kepala. Aku menjadi membatu karenanya. Sumpah demi apapun, aku tak pernah mengharapkan kehadirannya.
"Selamat sweet seventeen sepupu gue yang paling cantik." Ucapnya pada Rika sambil bercipika cipiki.
"Makasih sepupu gue yang ganteng. Uweeek !" Sahut Rika yang ujungnya menunjukkan ekpressi wajah yang ingin muntah.
Peka tersebut duduk di sebelah ku dan mencoba berbasa basi padaku. Aku hanya menyahuti iya dan tidak, karena memang sama sekali aku tak ingin melihat wajahnya. Malu ? Tentu aku malu karena yang mereka tahu (Sania dan April) pria ini menyukaimlku, tapi tidak denganku.
"Udah deh, jadian aja kenapa sih ?" Ucap Sania menggodaku. "Maunya sih iya, tapi Desi kan nolak gue !" Sahutnya dengan senyum getirnya.
"Des, nih hp getar terus !" Sania memberikan Hp nya padaku. Tentu HP Nokia 3315 ya.
Aku melihat layar kecil Hp tersebut, tertera nama Kak Dillah disana. Antoni yang penasaran mencoba mengintip, tapi segera aku menjauhkan Hp Sania dari nya dan mengangkat telpon tersebut.
"Halo kak. Ada apa ?"
"..............."
__ADS_1
"Lagi dirumah temen, diundang ultah ni. kenapa emang ?"
"..............."
"oh.. Yaudah nanti Desi SMS deh kalo udah selesai. Paling sore gapapa ?"
Aku mengakhiri telpon tersebut dan berpindah tempat duduk di kursi plastik yang kosong, sedikit jauh dari Antoni.
"Des, sini !" Ucap Antoni sambil melambaikan tangannya padaku. Aku mengedikaan bahuku tanda tak mau. Kemudian Antoni mendekati ku dan mengajakku kesamping rumah Rika.
"Pacar lo yak ?" Tanya nya padaku menyelidik. "Bukan !" Sahutku singkat.
"Seneng banget si keliatannya. Kalo emang itu pacar lo ya ngaku aja, gue juga ga akan maksa lo ko buat terima gue jadi pacar lo !"
"Iya gue tau. Mending lo urusin si Amira sana, jangan sampe dia dateng lagi kerumah gue terus labrak gue. Enak ga sih jadi gue, pacaran ga sama lo tapi dituduh kaya gitu !" Ucapku begitu ketus padanya.
"Ya kan dia mikirnya lo putusin dia karna lo ngejar gue. Ya kan jelas banget semuanya. Udah ah gue ga mau bahas lagi, yanh jelas gue ga mau lo deket-deket sama gue !"
Aku meninggalkan Antoni begitu saja dan buru-buru mengajak April dan Sania pulang. Aku tak mau terlalu lama dirumah Rika jika harus terus berhadapan dengan Antoni. Fikirku. Untungnya Sania dan April begitu peka terhadap perasaanku.
×××××
Sore hari sesuai janjiku pada Dillah. Aku kembali meminjam Hp Sania dan menelpon Dillah. Aku mengobrol sampai hampir dua jam, untungnya kami bertiga sekarang sedang berada dipinggir danau tempat biasa kami nongkrong. Jadi aku leluasa.
Aku mengiyakan ucapan Dillah ketika dia menyatakan perasaannya padaku. Padahal aku tak benar-benar ada rasa terhadap Dillah, hanya mengagumi wajah tampan nya saja. Dillah berjanji bulan depan ia akan datang berkunjung kerumahku sebagai pacar bukan sebagai teman.
Singkat, dan tak ada suasana romantis ketika Dillah menyatakan perasaannya padaku. Hanya berkata "Des, kayanya aku suka deh sama kamu. Kalo misalkan aku nembak kamu mau ga jadi pacar aku ?"
__ADS_1
Hanya kata itu, tapi aku dengan mudahnya mengiyakan. Jadi, jika ada yang bertanya apakah aku sudah punya pacar, aku bisa menjawab Sudah. Dan dengan begitu Antoni tak akan lagi mengejar ku. Fikirku lagi.
Sania dan April mengataiku bodoh. Cewek bodoh. Mengapa ? Karena baginya aku seperti orang bodoh dan sangat bodoh. Mau saja menerima cinta orang yang belum seminggu ia kenal. Bahkan jarang untuk bertemu. Tapi aku nasa bodo, toh kalo aku sudah menemukan orang yang aku suka disini aku bisa saja berpacaran dan menduakan Dillah.
×××××
Singkat cerita. Hari ini hari pertama aku masuk di SMA, aku hanya sendiri tanpa ada teman satu SMP ku yang masuk di SMA tempat aku melanjutkan pendidikan ku.
"Selamat pagi murid-murid semua." Sapa kepala sekolah diatas podium. Ia berpidato dan bergantian dengan guru yang mulai mengatur pembagian kelompok untuk peserta didik tahun ajaran baru.
Namaku terpanggil di kelompok 4 yang diberi nama Eagle Bolang. Lucu, hanya itu yang ada di benak ku. Aku beserta yang lain digiring naik kelantai 3 dan masuk ke salah satu kelas. Tentunya dipimpin oleh tiga orang kakak kelas yang menjabat sebagai anggota OSIS. Sebut mereka Kak Hani, kak Dimas dan kak Ryan.
Mereka memulai mengenalkan diri mereka satu persatu dan mengenalkan asal muasal sekolah tercinta. Dan disaat akan memulai game, seseorang datang didampingi satu senior ke kelompok ku. Aku sedikit terkejut dengan sosok tersebut, namun kemudian aku mengalihkan wajahku ke sisi yang lain.
"Kenapa ?" Tanya Mitha teman baruku yang duduk disampingku. "Gapapa." Sahutku singkat.
"Kenalin diri dulu !" Titah kak Dimas.
"Baik kak." Sahut orang tersebut. "Hai semua. Maaf saya terlambat. Perkenalkan, nama saya Antoni Kurniawan, panggil saya Toni. Saya dari SMP xx, satu sekolah sama cewek yang bernama Desiana."
Aku memelototkan mataku pada Antoni. Aku begitu terkejut karena ia sampai mengatakan jika ia satu sekolah denganku. Tapi yasudahlah memang itu kenyataannya bukan !
Antoni dipersilahkan duduk di kursi yang masih kosong di belakang ku. Baginya ini sangat menguntungkan, karena ia bisa berdekatan denganku. Tapi tidak denganku yang memang tak suka jika berdekatan dengannya.
"Jumpa lagi." Ucapnya menepuk pundak ku dari belakang. "Bodo amat." Sahutku kesal padanya tanpa menoleh sama sekali.
Mitha melihatku kemudian menoleh kebelakang. "Mitha." Ucapnya menyodorkan tangan mengajak kenalan.
__ADS_1
Ganjen banget ni bocah ! Umpatku mengatai Mitha. Ada rasa tak suka saat melihat Mitha tersenyum manis pada Antoni.