Cerita Masa Laluku

Cerita Masa Laluku
25. Baby Azka


__ADS_3

Delapan bulan berlalu. Perutku semakin membesar, dan hanya tinggal menghitung hari untukku melahirkan. Ibuku sudah memutuskan untuk menginap dirumahku, karena ingin menemaniku ketika melahirkan. Sedangkan ibu mertuaku selalu datang berkunjung dan melihat perkembangan ku. Bapakku dan Alva, tentu saja Rini selalu menyempatkan datang di pagi hari sebelum berangkat kuliah untuk membawakan sarapan. Dan pada sore hari Rini juga membawakan makann untuk bapak dan Alva makan malam.


Dua bulan lagi mereka akan menikah, jadi tak masalah jika Rini melakukan semua hal ini. Kecuali melakukan hal-hal yang bertentangan.


Sore ini, perutku mulai terasa tak enak. Rasanya perutku keram, tapi kadang terasa kencang dan kendur. Aku mengusap lembut perutku yang sudah sangat bulat seperti balon. Jangan bayangkan fisik ku seperti apa sekarang, karena pasti kalian sudah tahu jika perempuan memiliki badan yang tak tinggi sedang hamil. Hahaha


Malam hari, rasa sakit di perut ku semakin terasa dan sungguh ini bukanlah hanya sekedar keram. Aku juga merasa ada cairan yang keluar dari pangkal pahaku. Aku membangunkan Dillah, dan menyuruhnya membangunkan ibuku.


"Kenapa Des ?" Tanya Ibuku khawatir.


Wajahku penuh dengan keringat sebesar biji jagung. Aku meringis menahan sakit yang teramat.


"Dil, kayanya Desi udah harus ke bidan !" Ucap ibuku.


Dillah langsung keluar dan mengetuk pintu rumah pak Burhan untuk meminjam mobil yang akan membawaku ke klinik bersalin. Sebenarnya aku merasa tak enak karena harus merepotkan orang lain, tapi pak Burhan selalu menawariku. Katanya jangan pernah sungkan padanya, karena ia dan istrinya telah menganggap aku dan Dillah seperti anak.


Mobil sudah ada, Dillah menggendongku kedalam mobil disusul Ibuku dan istri pak Burhan, ibu Nilam. Sedangkan pak Burhan yang mengemudikan mobil.


"Sakit bu." Rintihku menggenggam tangan Ibuku.


"Sabar yak nak Desi." Sahut ibu Nilam.


"Emang kaya gitu Des rasanya, ibu juga sama kaya kamu. Semua cewek juga yang hamil pasti sama rasanya !" Sahut Ibuku.


"Tahan ya sayang."


Lima belas menit perjalanan, mobil kami sampai didepan klinik bersalin. Sebenarnya Dillah sudah menelpon dokter kandungan di rumah sakit, tapi aku kekeh hanya mau ditangani oleh bidan biasa tempatku memeriksakam kehamilanku.


"Dua orang aja ya ibu, bapak yang boleh masuk !"


Ibuku dan Dillah yang menemaniku didalam. Pak Burhan dan ibu Nilam menunggu diluar. Dillah mengabari keluarganya, juga bapakku.


"Bu, ini ga dibawa kerumah sakit aja ? Kasian Desi bu, kita oprasi sesar aja deh bu !" Rengek Dillah pada ibuku.

__ADS_1


"Hhuuussstttt !! Kalo ngomong jangan sembarangan Dillah."


"Aku ga mau di oprasi kak. Aku mau normal aja !"


Beberapa jam berlalu, pemukaan sudah sempurna. Dengan tenaga yang tersisa aku bisa melahirkan dengan sempurna. Walau da sedikit drama dari Dillah yang tak tahan melihat kesakitan ku dan malah menangis. Hingga akhirnya ia disuruh keluar dan digantikan oleh ibu mertuaku.


oek oek oek


Tangisan bayi menggema, aku tersenyum ditengah-tengah peluhku mengucap syukur pada Allah karena telah menyelamatkan aku dan bayiku. Tangisan bahagia, air mata meluncur sdari sudut mataku.


Ibu mertuaku mencium kening ku. "Lelaki sayang !"


Aku mengangguk sambil menggenggam tangan ibu mertuaku, sedangkan ibuku sedang melihat bayiku yang mulai dibersihkan. Setelahnya ibuku menyuruh Dillah untuk mengadzani nya.


Setelah selesai, asisten bidan memberikan bayiku dan menyuruhku untuk memberikan ASI. Tapi sayangnya ASI ku belum keluar. Uhh menyebalkan. Tapi ia mengatakan tak apa-apa, jika terus dirangsang akan cepat keluar. Tapi sungguh, bayiku sepertinya tak sabar, ia malah menangis dan mau tak mau asisten bidan tersebut memberinya susu formula selama ASI ku belum keluar.


Dillah tak bergeser sedikitpun dariku, katanya ia masih tak tega denganku melihatku kesakitan seperti itu. Padahal rasa sakit ku bilang dalam sekejap setelah mendengar tangisan putra pertamaku.


"Udah gapapa sayang. Sana liat bayi kamu tuh !" Suruh ku padanya. Terlalu risih dengan Dillah.


Bahagia. Sungguh amat sangat bahagia yang aku rasakan. Rasa sakit dan lelah yang aku rasakan berangsur hilang dengan sendirinya melihat kebahagiaan mereka karena kehadiran malaikat kecil yang baru saja aku lahirkan.


Azka Alrasha Pratama Hasan


Nama itu aku buat kan untuk putra pertamaku, dan Dillah pun menyetujuinya.


Welcome baby Azka. 😘😘


~


Seminggu berlalu, ternyata Alva datang membawa pasukan nya datang ke rumah ku untuk menjenguk keponakan mereka. Aku merasa tambah bahagia bisa bertemu dengan para sahabatku, setelah tiga bulan lamanya tak bertemu dengan mereka. Hanya dengan ber chat ria melalui HP ku sekedar memberi kabar.


Sore ini, Alva dan ayahku sudah sampai dirumahku dan menginap. Dillah menyiapkan segala keperluan mereka untuk mengadangan bakar-bakar dibantu oleh mas Andi yang juga datang.

__ADS_1


"Wah rame banget ni Dil ?"


"Eh pak. Ayo lah gabung, kenalin ini sahabat-sahabatnya Desi dan yang ini kakak ipar, itu mertua saya." Sahut Dillah pada pak Burhan.


Pak Burhan menyalami mereka satu persatu.


"Ibu mana pak ? Suruh keluar lah, biar ga bosan di rumah." Tanya Dillah.


"Sebentar lagi juga keluar Dil, kaya yang ga tau ibu aja !"


"Bapak !" Panggil ibu Nilam dari dalam.


"Nahkan bener apa kata saya. Hahaha"


"Hahahaha"


Ibu Nilam keluar dan menghampiri pak Burhan. Dillah kembali memperkenalkan mereka pada ibu Nilam.


"Duh enaknya bisa kumpul sama yang muda gini ya pak. Berasa jadi tiga puluh tahun lebih muda ini ibu !" Ucap canda bu Nilam.


"Inget rambut bu Nilam, malu akh !" Sahut ibuku padanya.


Kami tertawa dengan candaan ibuku dan ibu Nilam.


Aku langsung masuk kedalam ketika mendengar tangisan Azka, aku menggendongnya dan membawanya ke ruang tamu karena tak mungkin membiarkannya sendirian didalam kamar.


"Eh cucu oma bangun ya. Sini-sini oma gendong sebentar !"


Kini Azka berada dalam dekapan ibu Nilam. Sungguh, aku merasa memiliki tiga ibu sekarang. Walaupun kami hanya bertetangga, tapi ibu Nilam selalu memperlakukan aku selayaknya putri kandungnya. Karena satu-satunya anak ibu Nilam sudah berumah tangga dan tinggal diluar negeri karena mengikuti jejak suami bulenya.


Tak lama Azka kembali tertidur, bu Nilam meletakkannya diatas kasur yang sudah aku pasang diatas sofa.


"Kamu tidur aja dulu, nanti kalo udah matang aku bangunin !"

__ADS_1


Aku mengangguk, dan Dillah mengambilkan beberapa bantal untukku tidur dengan menyangga tubuhku. Tau kan kalo orang abis lahiran katanya ga boleh tidur terlentang, bolehnya nyanda ? hehehe


Susasna malam ini sangat riuh, aku hanya memejamkan mataku agar tak merasa lelah. Mengantuk ? pasti, tapi sungguh aku tak bisa nyenyak karena kebisingan mereka. Untungnya Azka tak kembali terbangun dengan keriuhan mereka semua.


__ADS_2