
Aku dan Dillah kini sedang dalam perjalanan kerumah orang tuaku, juga diikuti mobil om ku dari belakang. Kami sama-sama mengendarai dengan santai, dan saat lelah kami memutuskan untuk istirahat sejenak sambil mengisi perut yang mulai keroncongan.
Sekitar hampir ashar kami baru tiba dirumah orang tuaku. Mereka menyambut hangat kedatangan kami, juga dengan keluarga April yang memang selalu ada berama keluarga bapakku. Ya tentunya April adalah sepupu, teman kecil sekaligus tetanggaku ya.
April tersenyum kala menatapku sambil memainkan alisnya naik turun. Aku tak mengerti mengapa ia bersikap sangat menjijikan sekali sekarang. Entahlah ?
Ia mengeluarkan sebuah undangan berwarna coklat muda dan memberikannya padaku. Aku membuka undangan tersebut dan membaca nya perlahan.
"Lo serius ?" Teriakku gembira dan memeluk tubuh April. "Serius gue Nyet !!" Sahutnya.
"Hari sabtu gue lamaran, dan minggu depan nya langsung akad. Dillah, bini lo nginep disini aja sampe acara nikahan gue ya !"
Dillah tersenyum senang dengan berita menggbirakan ini. Ia mengangguk menyetujui permintaan April, dan aku tersenyum pada Dillah. "Tahu begitu gue bawa baju yang banyak ! Kan baju gue disini tinggal kaos sama celana kolor doang."
"Tinggal beli apa susahnya si. Jangan kaya orang susah deh lo nyet !" Sahut April menimpali.
"Ga begitu juga gong ! Kalo gue beli banyak sayang duitnya, baju gue banyak dirumah. Kalo gue beli cuma dua setel kaga cukup gong !" Timpalku.
Huuhhh.. Masalah baju aja pake segal diributin !!
Dillah tertawa melihat perdebatan kami, sedangkan para orang tua melerai kami agar tak kembali ribut.
"Kumpul yuck besok. Kasih pengumuman buat temen-temen gue !" Ajak April. Aku dan Dillah mengangguk.
Tunggu. Seperti ada yang terlupakan ! Tentu, kemana Alva ? Ya Alva tak asa sedari aku datang hingga malam. Dia sedang pergi kerumah Rini untuk diperkenalkan pada kerabat Rini, dan malamnya ia akan pulang dengan Rini yang akan menginap.
×××××
Pagi hari, aku sedang membuatkan kopi serta teh hangat untuk para tamu dibantu oleh Rini. Ya, Rini sudah datang sedari malam dan menginap di rumah ku.
"Lo jadi ceritanya serius ni sama abang gue ?" Tanyaku mulai serius pada Rini.
"Iya gue beneran sayang sama kak Alva. Walau awalnya gue agak risih sama dia tapi gue suka perlakuan dia yang lembut ke gue. Juga, ortu gue setuju sama dia Des."
__ADS_1
Aku tersenyum senang. Karena aku tahu benar seperti apa Rini. Dia gadis yang bawel tapi sangat baik hati. Tak pernah memandang rendah orang lain, dan selalu bisa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Tak sepertiku yang selalu dan selalu terbawa emosi.
"Gue bersyukur orang yang bakalan jadi kakak ipar gue itu lo Rin. Gue kenal banget siapa lo, dan gue bahagia amat sangat bahagia !"
"Gue tahu juga ya tentang lo, yang 11-12 sama gue." Sahut Rini. Aku tertawa mendengarnya, pasalnya aku dan Rini mempunya sifat dan sikap yang berbeda.
×××××
Aku, Dillah, Alva dan Rini serta April kini sedang berada dirumah Sania sambil menunggu kedatangan Deny setelah sebelumnya menunggu om, tante dan adik iparku pulang. Rencananya, kami akan pergi berkumpul di Situ tempat biasa kami. Kami juga mengajak Antoni dan Bunga serta teman-teman yang lainnya. Alias Alva-Deny CS.
Saat kami sedang duduk santai setelah April memberi pengumumannya, terlihat dari kejauhan ada satu badut yang sedang berjalan kearah kami. Aku segera beringsut kebelakang suamiku dan menyembunyikan wajahku. Entah mengapa melihat sosok badut sangatlah aneh, padahal biasanya aku tak pernah begini.
Badut tersebut menggoyangkan badannya sambil bernyanyi seperti biasa. tapi sungguh. rasanya aku sangat amat aneh melihatnya, bahkan rasanya ingin muntah.
"Lo kenapa si Des. Biasanya juga ga begitu ?" Heran April bertanya padaku.
"Enek gue ! Huwek.." Sahutku sambil membekap mulutku.
Aku berkali-kali ingin muntah saat melihat badut tersebut. Tapi ketila badut tersebut pergi, aku kembali seperti biasa. Sehat walafiat.
Aku kembali bernyanyi dan tertawa bersama pada mereka. Tanpa ada rasa apapun seperti tadi saat ada badut.
Keesokan harinya.
Keluarga pacar April sudah berada dirumah April untuk acara lamaran. Aku dan Sania sedang membantu April bersiap, mendandaninya asal agar tak terlihat pucat. (Padahal cuma pake bedak, lipstik sama mascara doang.)
Dari balik pintu kamar April, aku dan Sania mendengarkan penuturan niat dari keluarga pacar April yaitu Awan. Namanya si Kurniawan, tapi dari kecil biasa dipanggil Awan.
Rasa haru campur bahagia aku dan Sania rasakan. Kami berpelukan kala April mengatakan iya saat bapak Awan bertanya tentang lamaran ini diterima atau tidak. Tetes air mataku dan Sania luluh di pipi kami berdua.
Rasanya sungguh tak bisa diungkapkan dengan kata-kata kala sahabat tercinta merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Dan kebahagiaan itu dirasakan juga oleh ketiga pria tampan dan satu gadis cantik yang sedari tadi menatap pada kami, yaitu Alva, Dillah dan Deny tentunya juga Rini. Mereka bertiga memang ada didalam bersama kami, dan Rini yang selalu membuntuti Alva.
Setelah acara lamaran selesai. Aku, April dan Sania sedang berada didalam kamar April. Rini yang selalu dibuat sibuk oleh Alva sedikit mendengus padanya, sebab Rini ingin ikut nimbrung dengan kami dikamar April.
__ADS_1
"Rin. Lo jangan mau dibudakin sama si Alva !" Teriakku pada Rini dari halaman rumah April.
"Enak aja lo gue budak." Dengus Rini menyahut.
Aku keluar dan kembali kerumahku mencium punggung tangan om dan tante April yang akan berpamitan. Kini waktu telah menunjukkan pukul dua sore.
Aku merebahkan diri setelah sebelumnya mencuci wajahku dan mengganti pakaian. Dillah menyusul ku dan berbaring di sebelah ku sambil memeluk tubuhku.
"Kak. Ko kamu bau sih ?" Ucapku sambil mengendus badan Dillah.
"Ah ga ko. Aku baru ganti baju juga !" Elaknya.
"Ganti baju lagi deh sana. Sumpah kak kamu bau ish."
Dengan rasa heran dibenaknya, Dillah segera membuka kaosnya dan membuka lemari untuk mengambil baju yang lain. Setelah selesai, ia kembali berbaring disampingku.
"Udah kan ga bau ?" Tanyanya dan kujawab dengan anggukan.
Kami berdua memejamkan mata dan tertidur dengan pulas. Semalam kami bergadang membantu ibu April membuat kue, dan sambil mengobrol ria dengan para orang tua dan yang lainnya.
Pada pukul lima sore. Aku terbangun karena merasakan ada yang aneh di perut ku dan berdesakan ingin keluar. Aku berlari menuju kekamar mandi dan memuntahkan semua yang ada didalamnya.
"uwekk.. uwekk.."
"Bu. Ibu !" Teriakku memanggil ibuku untuk meminta dipijit tengkukku.
"Kenapa Des ?"
"Ga tau bu. Pijitin dong bu, enek banget Desi !"
Ibuku membantu memijat tengkukku dan mengoleskan minyak kayu putih, juga menolesnya dibagian perutku.
"Dikerik enak deh bu kayanya !" Rengekku sambil mencium bau minyak kayu putih tersebut.
__ADS_1
"Kenapa sayang ?" Tanya Dillah khawatir memegang dahiku yang tak panas.
Aku hanya bisa menggeleng. "Masuk angin kali kak, semalem kan bergadang udah gitu ga ikut makan malem."