
Suatu pagi di jalan dekat rumah ku. Aku sedang mendorong kereta bayi Adara dengan Azka yang sedang mengikuti langkahku, aku melihat mobil berwarna putih berhenti tepat didepan rumahku. Sosok lelaki yang sangat aku kenal turun dari mobil tersebut dengan menggendong seorang anak laki-laki berusia sekitar satu setengah tahun, disusul dengan wanita berambut hitam sepunggung.
Aku terkejut, tapi sesaat kemudian aku membuang perasaan itu dan tersenyum ketika lelaki itu tersenyum padaku. Azka berteriak sambil berlarian menghampirinya.
"Pipi !" Pekiknya merentangkan tangannya. Dengan segera Dillah memberikan anak tersebut pada Elisa.
"Azka sayang. Pipi kangen !" Balas Dillah sedikit berteriak menyambut putra pertamanya. Diciumi wajah Azka dan memeluknya erat.
Elisa mengajakku bersalaman dan ia bercipika-cipiki padaku. "Apa kabar mbak ?" Tanya nya padaku berbasa basi, tapi disorot matanya aku melihat ketulusan yang terpancar.
"Alhamdulilah aku baik. Gimana kabar kamu ? Dan ini, pasti Abidzar ya ? Udah besar." Sahutku mencubit pipi gembil anak lelaki tersebut.
"Iya mbak !"
"Apa kabar kak ?" Tanyaku pada Dillah sambil mencium tangan Dillah. "Baik Des."
"Ayo masuk !"
Aku, Dillah, dan Elisa segera masuk kedalam. Kedatangan mereka disambut oleh ibuku dan bapakku. Tapi tidak dengan Alva dan Rini yang terlihat agak cuek dengan kedatangan Dillah dan Elisa.
"Va, Rin !" Tegurku.
"Maaf ya kedatangan Dillah sama Elisa kesini bikin kalian kaget. Tapi Dillah mau ketemu sama Azka juga sama Laluna !" Ucapnya pada kami.
Aku tak bisa melarang nya untuk datang, karena sedari awal memang aku tak pernah melarangnya kecuali ia datang dengan Elisa. Tapi kenapa sekarang ia berani sekali membawa Elisa datang kesini.
"Iya Des, bu, pak, kak. Maaf ya kalo saya ikut dateng kesini. Saya cuma mau minta maaf sama Desi sama kalian juga semuanya karena perbuatan saya. Saya bener-bener nyesel sama apa yang saya lakuin sama mbak Desi !"
Aku menoleh pada Elisa yang memang tulus meminta maaf padaku. Bapakku dan ibuku mengangguk sambil tersenyum padaku.
"Hmm.. Ga usah dibahas lagi ya, aku udah lupain semuanya. Yang terpenting sekarang, kalian harus hidup bahagia tanpa harus ada orang ketiga lagi ya kak !" Dillah menoleh padaku. "Aku cuma minta sama kalian jangan pernah lupain Azka sama Adara yang juga anak kandung kamu kak. Walau kamu ga sempat dateng, seenggaknya kamu bisa luangin waktu kamu buat telpon Azka sekedar tanyain kabar dia !"
__ADS_1
"Maaf ya Des. Kakak bukannya lupain Azka sana Laluna, tapi kemarin kakak masih ngimbangin Elisa."
Aku mengangguk mengiyakan. Aku mengerti posisi sulit Dillah ketika harus memilih antara anak atau istri.
"Iya mbak. Mulai sekarang, aku bakalan sering-sering kesini buat jengukin Azka sama Lalu-
"Adara. Panggil aja Adara ya !" Potong ku ketika Elisa akan memanggil Adara dengan Laluna.
"Iya mbak !" Sahut Elisa mengangguk mengiyakan.
"Juga kedatangan Dillah kesini, mau kasih ini buat kalian. Dua minggu lagi Dillah bakalan ngeresmiin hubungan Dillah sama Elisa ke pernikahan sah secara hukum dan Agama. Mudah-mudahan bapak, ibu, Alva, Rini sama kamu Des, bisa dateng. Ya walaupun mungkin ga sepantasnya aku ngundang kalian. Juga, aku pengen ajak Azka menginap selama sebulan dirumah saya !"
((deg))
Sungguh aku begitu terkejut dengan niatan Dillah dan Elisa yang akan melangsungkan pernikahannya. Tapi, ya mau bagaimana pun aku ga bisa ngelarang dia buat bahagia.
Bapakku mengambil undangan tersebut dan membacanya. "Semoga Allah kasih kebahagiaan buat kalian berdua. Jadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warrohmah."
"Aamiin.. makasih pak !" Sahut Elisa tersenyum pada bapakku.
"Tanya Azka nya aja mau apa ga !" kali ini Alva yang menyahuti dengan wajah kesalnya yang sedari tadi hanya menyimak saja dengan Rini.
"Va !" Lagi-lagi aku menegur Alva yang terlihat emosi.
"Ngapain si lo masih bersikap baik sama dia, sedangkan dia yang bikin lo jadi janda !"
"Sayang !" Bentak Rini padanya.
Alva beranjak kedalam kamarnya, ia masih tak terima dengan perlakuan Dillah padaku waktu lalu.
"Maafin Alva ya !" Kata ibuku pada Dillah dan Elisa. "Gapapa bu." Sahut Elisa.
__ADS_1
Aku bertanya pada Azka, tapi Azka malah bertanya balik padaku. Aku mengangguk dan barulah Azka mengiyakan. Aku tersenyum pada Azka.
"Mimi ga ikut ?" Tanya nya polos. "Mimi dirumah sama Adara ya, nanti Mimi nyusul Azka kalo Pipi sama Mama Elisa nikah !"
"Itu dedek nya Azka juga ya Mi ?" Aku mengangguk. "Iya. Itu dedeknya Azka juga, namanya Abidzar. Azka harus sayang ya sama dedek Abidzar !"
Azka mengangguk sambil berlonjak kegirangan karena mempunyai dua adik.
"Udah selesai. Ini tasnya !" Sahutku memakaikan tas pada Azka.
Aku mengantar Azka sampai kedalam mobil Dillah. Dan berpesan padanya agar jangan nakal.
Selepas kepergian mereka, aku hanya duduk termenung didepan tv. Otakku memaksa mengingat kejadian-kejadian indah bersama dengan Dillah semasa aku masih bersamanya. Tanpa terasa air mataku lulih mengajak sungai dipipiku. Aku terisak, kembali mengingat berapa sakitnya sebuah pengkhianatan.
"Astaghfirullah haladzim." Ucapku saat sadar dan segera menghapus air mataku.
Aku beranjak menuju ke kamar mandi mengambil wudhu untuk menjalankan solat dzuhurku yang tertunda. Aku mengadu kepada sang pencipta tentang hatiku yang kembali merasa sakit.
Tenang. Perasaanku merasa sedikit lebih tenang setelah aku meluapkan semuanya pada Allah. Hingga Rini kembali membawa Adara padaku setelah ia ajak bermain di rumah April.
"Jangan terlalu difikirin. Allah udah kasih yang terbaik buat lo dimasa depan !" Ucapnya mengelus pipiku mencurahkan kasih sayangnya padaku.
"Ga ko. Gue cuma ga tega aja sama anak-anak gue !" Elakku pada Rini.
"Lo ga bisa bohong sama gue, mau lo sembunyiin sampe ke cium bau busuknya juga Des !"
Aku hanya tersenyum masam pada Rini. Ia tahu betul tentang diriku karena bukan hanya sehari dua hari ia mengenalku, sudah 10 tahun saat aku masuk di SMA.
"Berdamai sama hati lo. Maafin dengan ikhlas. Lupain semua tentang dia. Cuma itu yang harus lo lakuin !"
"Gue udah bener-bener maafin dia ataupun Elisa ko Rin. Tinggal berdamai sama hati gue aja yang masih belum bisa. Gue belum sepenuhnya move on dari situasi ini. Ya lo tau lah, ga segampang membalikkan telapak tangan. Butuh perjuangan keras setelah beberapa tahun gue menjalani kehidupan berdua sama dia !"
__ADS_1
Rini membenarkan ucapanku. Tapi buatnya tetap saja aku harus segera move on supaya aku tak melulu menangisi nasib ku yang sekarang. Kata Rini, aku hanya boleh memikirkan kebahagiaan aku dimasa depan dengan kedua malaikat ku disisiku. Itu saja sudah cukup. Sukur-sukur aku bisa segera mendapat pengganti Dillah. Katanya.
Hadeh !! Masih teringat jelas pengkhianatan didepan mataku, masa iya aku secepat itu bisa move on ? Ya gak mungkin lah !!