
Alva mengelus kepalaku. "Sabar aja, nanti juga suami lo bakalan selalu ada disamping lo !"
What !! Bagaimana Alva tahu semuanya ? Sedangkan aku tak pernah menceritakan apapun dan pada siapapun.
"Ga usah kaget. dillah udah cerita semuanya sama gue. Bahkan bapak ibu juga udah tahu !"
Aku bangun dan langsung memeluk Alva. Rasa bersalah semakin bersarang di benakku. "Maafin gue !"
Alva terdiam hanya mengelus-elus kepala dan punggungku. Aku terisak di pelukan nya merasa malu dan sangat amat bersalah.
"Dillah udah cerita langsung sama bapak, ibu dan gue. Awalnya kita juga kaget, ko Dillah ga mandang banget sama bapak sama ibu. Tapi mau gimana lagi, nasi udah jadi bubur. Tinggal nanti tunggu Alva melamar lo yang bener aja terus ada in resepsi !"
"Kapan Dillah ngomong ke ibu sama bapak ? Ko gue ga tau si."
"Lo inget ga waktu lo diminta anter Sania ke klinik yang Sania sakit ?" Aku mengangguk mengingat. "Disitu Dillah nyoba buat ngomong dan minta maaf sama ibu bapak sama gue. Tadinya mau gue tonjok tuh anak, karena udah bikin adek gue jadi ngelunjak ngelangkahin abangnya nikah. Tapi ya gue mikir lagi, gue udah putus dari pacar gue dan lagi usaha buat dapet temen lo si Rini !"
Aku melepaskan pelukannya dan menghapus air mata ku. Aku menatap lekat wajah Alva. "Va, lo beneran suka sama Rini temen gue ?"
Alva mengangguk. "Seribu rius malah. Makanya lo bantuin gue buat dapetin si Rini !"
"Hahaha. Ngebet amat lu Va, kecintaan banget lu sama Rini ?"
"Gue serius Des. Elah !"
"iya iya. Tapi lo jangan kaget aja kalo udah tau dia setrress nya kaya apa."
Alva hanya mengangguk pasrah mendengar ucapanku. Ia mulai bisa melupakan mantan pacarnya yang sudah tega menduakan nya, padahal Alva selalu memanjakannya. Ya mungkin emang belom jodoh kali ya, jadi susah. Tapi untungnya sekarang Alva suka sama temenku sendiri, jadi aku sih setuju-setuju aja.
__ADS_1
Aku merebahkan tubuhku lagi merasakan lelah melanda. Perlahan aku merebahkan tubuhku kasur tanpa dipan milik Alva. Alva mendengus dengan kebiasaan ku yang selalu mengganggu istirahatnya, hingga ia harus mengalah tidur beralaskan tikar.
Gini deh aku manjanya sama abang aku. Walau aku udah gede tapi aku ga pernah merasa takut untuk tidur berdua dengan Alva, karena Alva begitu amat sangat menyayangiku jadi aku yakin Alva takkan pernah melecehkan ku.
×××××
Dua bulan berlalu, Dillah memenuhi janjinya tentang ia akan selalu datang setelah urusan pabriknya selesai. Bahagia ? Tentu saja iya aku sangat bahagia, bisa selalu bertemu di setia penghujung minggu dengan orang yang teramat aku cintai.
Setiap sabtu Dillah selalu datang dan kini kami tak lagi mengumpat dan tidur bersama dalam satu kamar tanpa rasa malu.
Aku yang mulai bekerja setelah mendapat izin dari Dillah, walau sebelumnya aku sedikit memaksa padanya. Dan sungguh, aku sudah tak pernah diganggu lagi oleh Antoni yang mulai di sibuk kan dengan pekerjaan dari pamannya dan tentunya ia mulai menyibukkan diri untuk mendekatkan diri pasa seorang gadis yang selalu berusaha mendekatinya. sedikit dorongan kecil dariku juga, Antoni menerima cinta Bunga. Dan aku sangat meyakinkan Antoni, jika aku akam menikah tahun depan.
Awalnya Antoni menolak dan menolak, ia selalu mengatakan jika ia akan menungguku sampai kapan pun. Tapi aku yang memang melihat perjuangan Bunga yang tak ada hentinya, merasa jika Antoni patut bahagia tanpa hadirnya diriku bersama wanita lain.
Singkat cerita. Setahun berlalu, kini Dillah sudah melamar ku dan meminta izin untuk melaksanakan pernikahan ulang secara sah dalam agama dan negara kepada kedua orang tuaku. Bahkan keluarga Dillah meminta maaf atas apa yang telah mereka perbuat selama dua tahun ini. Tapi bapak mengerti, dibandingkan aku dan Dillah melakukan zina lebih baik Dillah segera menikahiku. Mungkin yang membuat bapak marah dan kecewa hanya karena aku dan Dillah Menyembunyikannya.
Setelah tiga bulan berlalu setelah acara lamaran. Kini aku tengah mempersiapkan acara pernikahan yang tentunya dibantu para sahabatku. Siapa lagi kalo bukan Deny, Sania, April, Antoni dan Rini. Ya Rini, karena kini ia telah menerima cinta Alva tepat sehari setelah acara lamaranku.
"Sialan lo nyet !!" Cebik Alva memukul kepalaku menggunakan botor air mineral.
"Sakit bego !!"
"Lo tanya aja sama abang lo, kenapa gue sampe bisa terima dia gitu aja."
"Lah yank, kok kamu malah nimpalin adek aku sih ?"
"Hahahaha" Tawaku pecah saat melihat lelaki berusia 24 tahun tersebut memperlihatkan wajah konyol nya pada kami.
__ADS_1
"Lo ga jemput si Bunga, Ton ?" Tanya April sambil mengelus perutnya yang kekenyangan.
"Astaghfirullah !! Tuhkan gue lupa !!" Pekik Antoni yang langsung memandang sinis padaku. "Lo si telpon-telpon ga jelas minta dibawain ini itu, lupa kan gue jemput tuh anak. Ngambek dah ah !"
Antoni langsung menyambar konci motor nya dan memakai helm sebelum ia melajukan motornya menuju kerumah Bunga.
"Akhirnya gue bisa hidup dengan tenang tanpa rasa bersalah sama Antoni !" Lirihku.
"Hhuufftt.." Rini menghembuskan nafas beratnya. Sedangkan yang lain hanya bisa menyimak.
"Sebenernya dia ga beneran sepenuhnya lupain lo Des. Dia pernah bilang sama gue kalo kebahagiaan dia terletak di lo, tapi dia juga ga mau egois buat rebut lo dari Dillah. Dia bilang dia bakalan bahagia kalo lo selalu bahagia sama orang yang lo cinta dan mencintai lo !"
((deg))
Aku terharu mendengar penjelasan Rini tentang curahan hati Antoni.
"Ya dia si bilangnya bukan ke gue, tapi ke Lia. Dan Lia cerita semuanya sama gue." Lanjut Rini.
"Ya gue tau. Dia pernah bilang ke gue juga kaya gitu. Gue terlalu jahat sama dia dan selalu mengabaikan dia. Tapi gue gak mau buat dia semakin sakit hati kalo gue terima dia dan ngeduain kak Dillah. ga mungkin kan ?"
"Udah lah. Yang lalu biar aja berlalu. Sekarang yang terpenting pernikahan lo,dan kedepannya kita sama-sama doain Antoni supaya dia bisa bahagia sama si Bunga."
Kami mengamini doa Alva untuk Antoni. Karena Alva tahu persis bagaimana perasaan Antoni padaku.
Setengah jam berlalu kami berbagi cerita tentang Antoni. Tapi kami harus menghentikannya saat Antoni datang bersama dengan Bunga yang kini berstatus sebagai pacarnya.
"Ngambek tuh dia !" Ucap kencang Antoni ketika ditinggal duluan oleh Bunga.
__ADS_1
"Kasian !" Sahut kami berbarengan.
Aku segera mengangkat telpon ketika HPku berdering dan sedikit menjauh dari mereka yang mulai ramai dengan kedatangan Bunga diantara kami yang semalin gencar membuat Antoni semakin tersudut.