
Selesai ujian akhir dan hanya tinggal menunggu surat kelulusan. Aku sudah tak tahan menanggung rindu pada kekasih halalku yang sudah beberapa minggu tak datang berkunjung dan membuatku benar-benar merasa ingin menemuinya.
Dengan rasa sedikit takut, aku meminta izin pada bapakku untuk pergi ke kota dimana Dillah tinggal. Bapakku begitu saja mengizinkan ku tanpa mau melarangku, tapi dengan syarat harus ditemani oleh Sania atau April. Oh tuhan, itu sih namanya sama aja. Sedangkan Sania atau April tak mau menemaniku.
"Kenapa ga sama Alva aja atuh si Pak ?" ucap ibu memberi saran.
Bapak menyetujui, tapi Alva hanya bisa mengantar tak bisa ikut menginap karena harus bekerja. Aku sih setuju aja, enak malah ga ada yang gangguin. hehehe
Besok paginya, Alva izin pada bosnya untuk libur hari ini, ia bilang jika ia sedang ada urusan keluarga. Sekitar pukul sembilan, aku dan Alva langsung menuju kota tempat tinggal Dillah memakai motor milik Alva.
"Kalo buka demi hubungan lo sama tuh anak gue ogah ya Des, nganter lo kesono mana jauh banget lagi !" Gerutunya dijalan.
"Yaudah si. Gue minta anter juga ga gratis Va, ada duit bensin nya bahkan lima kali lipat dari gaji lo sehari." Sombong ku padanya.
Kami sampai hanya dalam waktu lima jam, karena Alva benar-benar tak berhenti sama sekali kecuali untuk sholat dzuhur. Lelah dan pegal, sampai rasanya keram kaki ku. Tapi aku mengeluh pun tak diperdulikan, karena memang aku yang memaksa Alva untuk mengantar ku.
Kami disambut hangat oleh ibu dan kak Dina. Bahkan Alva yang belum pernah bertemu pun langsung akrab tanpa rasa canggung. Beginilah Alva, ia orang yang memang tak pernah angkuh pada siapapun. Berbeda denganku, yang sedikit diam pada orang yang baru di kenal.
Setelah menunaikan solat ashar, Alva berpamitan kepada ibu dan kak Dina. Aku memeluk dan mencium tangan Alva dan mengantar ia sampai didepan.
"Hati-hati. Jangan lupa lo makan dulu dijalan !" Ucapku mengingatkan.
"Iya adekku yang bawel. Yaudah ya gue balik. Assalamualaikum bu, kak."
"Waalaikumsalam." Sahut kami bertiga.
×××××
__ADS_1
Pukul 9 malam hari, ayah menyuruhku beristirahat karena melihatku yang sudah menahan kantuk karena masih menunggu kepulangan Dillah.
"Gapapa yah. Ayah duluan aja istirahatnya, Desi mau tunggu kak Dillah." Sahutku menolak dengan lembut.
"Yaudah. Ayah duluan ya, kalo kamu udah ngantuk kamu kekamar aja !"
"Iya yah."
Ayah masuk kedalam kamar menyusul ibu yang sudah terlebih dahulu masuk dan beristirahat. Aku masih setia menunggu kepulangan Dillah yang sebelumnya mengatakan sudah akan pulang pada pukul delapan melalui telpon tadi. Tapi ini sudah satu jam aku menunggu, bahkan dari tempat Dillah bekerja hanya memakan waktu lima belas menit dengan motor. Dan, mas Andi bahkan sudah sampai kerumah pasa pukul tujuh malam tadi. Apa sesibuk itu dia ?
Ceklek
Suara pintu terbuka pada pukul 10 malam. Dengan mata mengantuk aku melihat keluar dan langsung memghambur memeluk tubuh kekar Dillah yang terlihat sangat lelah.
"Kakak kangen kamu !" Ucapnya menyambut pelukanku. "Desi kita kangen kakak !"
Beberapa menit kamu berpelukan melepas rindu. Setelahnya aku pergi ke dapur untuk membuatkan teh hangat, dan Dillah kekamar mandi membersihkan dirinya. Aku mengajak Dillah untuk makan, karena aku juga tak ikut makan malam menunggu Dillah untuk bisa makan bersama.
Adzan subuh berkumandang. Aku membangunkan Dillah mengajaknya solat subuh. Dillah yang memang masih lelah kembali tidur selesai solat, ia memintaku membangunkannya pada pukul 7 nanti. Ia akan berangkat pada pukul 8, karena hari ini ia harus mengecek pekerjaan dilapangan. Beda dengan mas Andi yang harus mengurus dipabrik.
Aku membuat kue dan kak Dina sedang membuat sarapan. Sedangkan ibu sedang berada dihalaman depan menyirami tanaman-tanaman miliknya.
Tepat pada pukul 7 aku membangunkan suamiku, menyuruhnya mandi dan aku menyiapkan pakaiannya dan meletakkannya diatas kasur. Kemudian aku membuatkan teh hangat untuk nya dan membawanya kekamar.
"Duh istri siapa sih ni, perhatian banget ?" Godanya padaku sambil mengacup keningku.
"Nyonya Abdillah Hasan. Hahaha" Sahutku padanya mengejek.
__ADS_1
"Ngaku-ngaku sih !" Elaknya. "Hahahaha"
Kami keluar bersama, menuju kemeja makan untuk sarapan. Aku menaruh kue kedalam wadah dan memberikannya pada Dillah, untuk menemani meminum kopi di siang hari.
"Kakak berangkat ya." Aku mengangguk dan mencium punggung tangan Dillah, ia mencium keningku. "Kakak ga tau pulang jam berapa, kamu ga usah tungguin kakak !"
"Iya bawel ish.. Udah sana berangkat, udah siang !" Sahutku.
"Jadi ngusir suami sendiri ni ? Hehehe"
"Hehehe."
Ibu hanya tersenyum melihat aku dan Dillah. Entah mengapa ibu langsung menyukaiku dari pertama bertemu, ibu menganggap aku gadis baik-baik dan tak akan melakukan hal-hal yang aneh. Ah ibu. Aku emang ga pernah aneh-aneh ko ! hehehe
×××××
Tiga hari berlalu dengan aku yang masih betah menginap dirumah mertuaku, dan tentunya masih dengan setia menunggu kepulangan suamiku ditengah malam.
Sungguh. Jika dikatakan bosan, ya aku sangat bosan tak melakukan apa-apa dan tak bisa berbuat apa-apa. Hanya sesekali aku dan kak Dina pergi keluar sekedar berbelanja atau jajan ke warung terdekat.
Dan kini, lagi-lagi Dillah pulang kerumah pukul 10 malam dan aku sudah tertidur diruang tamu menunggunya. Ia menggendongku menuju kekamar dan merebahkan ku diranjangnya. Ia kekamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Setelah selesai, ia langsung menyerang ku yang masih tak sadar dan membuatku terkejut dibuatnya.
Seminggu, tepat hari ini seminggu aku sudah berada dirumah Dillah, dan waktunya aku pulang kerumah orang tuaku. Dengan amat sangat berat hati aku meninggalkan keluarga mertuaku dan juga suamiku yang tak bisa mengantar ku. Ingin sekali aku menangis, tapi aku malu dan aku tak mau egois. Karena kemarin Dillah sudah memenuhi janjinya saat hari minggu ia akan menghabiskan waktu untukku. Dillah hanya bisa mengantarku sampai terminal dan ia harus segera kembali ke pabrik.
Sungguh sangat berat rasanya. Tapi Dillah berjanji jika minggu depan ia akan datang. Karena minggu depan tanggung jawabnya sudah selesai mengurus pabrik dan kembali bekerja dilapangan. Setidaknya ia bisa memberikan ku waktu lebih leluasa untuk bisa melepas rinduku walau hanya melalui sambungan telpon atau pesan SMS.
Malam hari aku sampai dirumah dengan dijemput oleh Alva di stasiun. Aku langsung merebahkan diriku dikamar Alva. Alva mengerti kenapa aku seperti ini, berarti aku butuh sandaran.
__ADS_1
Alva mengelus kepalaku. "Sabar aja, nanti juga suami lo bakalan selalu ada disamping lo !"
What !!