Cerita Masa Laluku

Cerita Masa Laluku
14. Datang lagi


__ADS_3

"Lo si. Hayo loh nangis kan ?"


"Ya kam gue cuma bercanda May. Des maaf Des !" Bujuk Antoni menarik kedua tanganku.


Aku hanya menunduk masih mengeluarkan air mataku. Ia meraih daguku dan mengalihkannya untuk menatapnya. "Maaf Des. Gue cuma bercanda !" Ucapnya menghapus air mataku.


"Ga mau maafin !" Sahutku ketus.


"Yaudah kalo ga mau maafin gue nyanyiin lagi ni !" Bukannya membujuk ku tapi dia malah mengancamku dan membuatku berteriak sambil menggerakkan kedua kakiku. (kelojotan maksudnya. Hahaha)


Dan sukses. Aku membuat semua menertawakan ku karena sungguh aku sangat konyol dimata mereka. "Iya gue maafin, tapi beliin gue wonogiri yang didepan pasar !"


"Buset dah. Cakep amat ngambek lo pe'a ?"


"Bodo. Ngambek, gue ngambek !"


Aku beranjak dan menuju kamar mandi untuk mencuci wajahku yang sedikit berantakan karena menangis tadi. Setelahnya aku bersama para anggota OSIS dan ekskul berkumpul dilapangan untuk diberikan interupsi dari pak Sobari, yang di lanjut oleh pak Rahmat yang sebagai kepala sekolah.


Kami membubarkan diri setelah mendapat perintah dari pak Sobari setelah sebelumnya peserta MOPD dan kami saling bersalaman untuk meminta maaf satu sama lain dengan kami yang berbaris berjejer sejajar dengan para guru.


×××××


Diruang OSIS, pak Sobari memberikan kami sebuah amplop yanh berisi yang sebanyak 25 ribu rupiah. Katanya si sebagai uang lelah untuk kami, dan itu memang sudah menjadi tradisi bagi para anggota OSIS dan ekskul yang menjadi panitia penyelenggara penyambutan Siswa/Siswi baru.


Setelah kepergian pak Sobari, kami masih terus bercanda sambil membereskan barang milik kami. Walau ada sebagian dari kami yang sudah pulang duluan, tapi aku, Rizal, Rini, Maya, Asri, Adi, Jaya, Syarif dan Antoni masih betah berlama-lama diruang OSIS.


"Wonogiri, i'am coming !" Teriakku sambil memakai tas ransel berukuran sedang milikku.


"Rame-rame yuck. Pada bawa motor kan lo pada ?" Tanya Maya pada mereka.


"Des, lo sama gue aja yak !" Ajak Toni padaku. "Ga mau, ngambek ?"


"Tenang, ni kan tadi dapat duit dari pak Sobari, berarti bisa gue traktir lo dong !"

__ADS_1


Tanpa menjawab aku berjalan mendahului Antoni dan kemudian berdiri disamping motor Antoni. Antoni yang melihatku tersenyum dan berlarian kecil menyusul ku. Juga disusul oleh yang lain.


Sekitar sepuluh menit perjalanan ke tukang bakso wonogiri yang berada didepan pasar, kami langsung memesan delapan mangkuk bakso, karena Asri tak bisa ikut bersama kami. Setelahnya kami menyantap bakso tersebut dengan lahap, dan kemudian Antoni membayarkan jatah baksoku.


×××××


Seminggu berlalu. Kini jak istirahat setelah pelajaran olahraga, aku dan Lia sedang asik bermain basket dilapangan tanpa rasa lelah. Tiba-tiba Antoni datang dan langsung merebut bola dariku dan mengopernya pada Syarif


"Ah udah yu Lia, kesel di gangguin mulu !" Ucapku mengajak Lia.


"Satu lawan satu yu !" Tantang Antoni melempat bola basket padaku.


Tanpa menjawab aku menantul-mantulkan bola basket di tangan ku dan mulai melangkah maju ring sambil memperebutkan bola dengan Antoni.


Kini, beberapa siswa/siswi mulai ramai menonton pertandingan kami. Hingga aku berhasil mencetak skor pertamaku.


"Gapapa. Gue mah ngalah sama cewek !" Ucap Antoni padaku. "Ga usah belagu jadi orang." Sahutku mulai memantulkan kembali bola tersebut.


Pertandingan ku semakin sengit ketika lagi-lagi Antoni mencetak skor dan aku tertinggal beberapa poin. Kuakui, memang Antoni sangatlah jago dengan basketnya, dan apalah daya ku yang mempunyai tinggi badan Semampai alias semester tak sampai. Hahaha


Ternyata eh ternyata. Diujung gerbang, di pangkalan ojek seberang sekolahku, ada sepasang mata yang melihat kegiatan ku sedari awal aku bermain basket hingga aku digendong oleh Antoni.


Aku membuka SMS di HP ku dan aku begitu terkejut ketika membaca pesan singkat dari suamiku, Dillah.


Dillah


📩 Enak ya digendong sama cowok lain ?


"Buset !" Pekikku setelah membaca pesan. Dan kemudian aku meneguk habis air mineral yang diberikan oleh Lia padaku.


"Ngapah lo ?" Tanya Lia penasaran.


"Kak Dillah liat gue digendong sama lo, Ton !" Sahutku beranjak dan mencari sosok Dillah.

__ADS_1


"Mampus lo. mampus !" Cebik Antoni merasa puas membuat Dillah marah pada Desi.


Aku berdiri didepan pintu gerbang dan menoleh ke kiri dan ke kanan mencari sosok Dillah. Sayangnya ia sembunyi ketika menyadari kedatanganku kedepan gerbang.


"Dimana si ?" Gumamku masih menoleh kiri-kanan.


"Hayo. Cari siapa ?" Kejutnya yang membuatku berlonjak. "Astaghfirullah."


"Ngapain ?" Tanya Dillah padaku. "Nyari kakak lah. kakak dimana emang ?"


"Tuh di pangkalan. Pas liat kamu mau ke gerbang, kakak kesini aja !"


Dillah menyodorkan minuman berion padaku, aku menerimanya dengan senang hati. Dan ternyata, sedari tadi banyak pasang mata yang melihatku, tak terkecuali Antoni.


Bel masuk berbunyi, aku segera berpamitan pada Dillah dan mencium punggung tangannya. Aku sedikit berlari mengejar langkah kaki Lia, Antoni dan Syarif yang telah terlebih dahulu menuju ke kelas.


Setelah bel pulang sekolah berbunyi, aku langsung berlari keluar kelas tanpa menunggu siapapun. Karena mereka tahu jika pacarku sudah menunggumu sedari tadi, jadi mereka tak memprotes padaku.


"Udah ?" Tanyanya padaku. "Udah, yuk pulang !" Ajakku yang langsung nangkring diatas motor Dillah.


"SAKIT HAAAAATTTTIIII... BIKIN SAKIT HATI. SEMUA INI TERJADI BERKALI KALI. TAK PERNAH AKU MENGERTI MENGAPA BEGINI, MASIH SAJA KAU SELALU CUEKIN AKU !!"


Oh my god !! Syarif bernyanyi begitu keras sambil berjalan beriringan dengan Antoni, Lia, Rini, dan juga Jaya. Dan mereka menjadi pusat perhatian, termasuk dari Dillah.


"Udah ayo ih buruan jalan !" Suruh ku pada Dillah dan mendorong pipinya untuk fokus kedepan saja jangan oerdulikan mereka.


Dijalan, Dillah masih saja penasaran dengan sosok Antoni. Pasalnya, ia melihat sorot mata Antoni yang begitu dendam padanya, seakan tak rela jika aku dengannya.


Memang benar bukan !


Sesampainya kamu dirumah, Dillah langsung meminta izin kepada ibuku untuk membawaku pergi kerumah sepupunya yang sedang mengadakan pernikahan. Sejujurnya aku tak mau karena merasa kasihan dengan Dillah. Entah ia berangkat sejak jam berapa untuk datang kesini, karena sejak aku istirahat dia sudah berada disekitar sekolahku.


Setelah mendapat izin, aku bersiap dengan memakai celana jeans panjang dan kemejaku. Aku bukan gadis feminin yang memiliki banyak pakaian seperti dress atau blouse dan semacamnya.

__ADS_1


Selesai bersiap, kami berangkat pada pukul dua sore hari. Karena jarak yang tak terlalu jauh, kami sampai pada pukul empat sore hari. Aku fikir ini hanya alsan Dillah saja untuk dapat membawaku pergi agar bisa leluasa berduaan denganku, tapi aku salah karena memang Dillah membawaku ke acara pernikahan sepupunya.


__ADS_2