Cerita Masa Laluku

Cerita Masa Laluku
4. Gadis cantik


__ADS_3

Saat istirahat. Mitha mengajak ku pergi ke kantin, padahal aku sangat malas jika harus mengantri untuk membeli makanan. Tapi aku merasa tidak enak dengan Mitha, jadi aku mengiyakan ajakannya.


"Tumben ke kantin. Biasanya juga bawa bekel sendiri atau ga titip temen." Tanya Antoni yang memang tahu kebiasaan ku di SMP.


"Serah gue dong. Kaki sama tangan ya punya gue !" Sahutku selalu ketus terhadap Antoni.


"Jangan jutek gitu kenapa si ? Entar cantiknya ilang loh Des !" Godanya padaku. Beberapa pria yang bersamanya menyoraki gombalan Antoni padaku.


"Bodo amat !" Sahutku lagi sambil menghentakkan kaki membawa semangkuk bakso yang sudah ku pesan. Aku dan Mitha mengedarkan pandangan mencari kursi kosong untuk ke duduki. Tapi sayangnya semua sudah penuh.


"Desi." Panggil seseorang padaku. Akupun menoleh.


Aku dan Mitha menghampiri kak Ryan setelah ia memberi kode untuk bergabung bersamanya.


"Makasih kak." Ucapku pada kak Ryan. "Sama-sama." Sahutnya tersenyum padaku.


"Oya Des. Kenalin ni temen-temen kakak. Mereka anak-anak basket !" Ucapnya lagi. "Hai kak. Desi." Sahutku.


"Aku Mitha." Ucap Mitha melambaikan tangannya pasa keempat teman kak Ryan.


Mereka menyebutkan nama mereja satu persatu. Dan sedikit terkejut ketika salah satu teman kak Ryan menyebutkan bahwa ia adalah ketua OSIS.


"Mitha imut banget sih !" Goda kak Erwin pada Mitha. Mitha hanya membalas dengan tersenyum malu-malu kucing. Aku jadi sedikit tertawa melihat ekspresi wajah Mitha yang malu.


"Desi sama Mitha dari SMP mana ?" Tanya Erwin lagi.


"Desi dari SMP xx kak."


"Kalo aku dari SMP xy."


"Oh iya. Kalian udah catat apa-apa yang besok harus di bawa kan ? Jangan sampe salah lo, nanti kena hukuman dari kakak-kakak senior soalnya." Ucap kak Adi selaku ketua OSIS yang juga anak basket.


"Oh iya kak tadi kita udah catat semua ko. Mudah-mudahan ga susah deh cari nya !" Sahut Mitha.

__ADS_1


"Des. Boleh minta nomor HPnya ga ?" Tanya kak Adi padaku. Aku terdiam tak menjawab.


"Kalo ga boleh juga gapapa ko." Ucapnya lagi. Aku bingung harus menjawab apa, karena memang sesungguhnya aku tak memiliki HP.


"Hehehe. Desi ya punya HP kak." Akupun mengatakan yang sejujurnya pada kak Adi. Kak Adi hanya mengangguk mengiyakan.


"Tapi nanti kalo udah punya HP kasih tau kakak dulu ya nomornya sebelum Desi kasih tau yang lain !" Kali ini Ryan yang meminta padaku. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Menang banyak lo !" Cebik para teman-temannya.


Bel tanda masuk kembali berbunyi. Aku dan Mitha segera menghabiskan minumanku dan menuju ke jelas sambil melangkah cepat. Takut jika aku dan Mitha terlambat. Padahal kak Ryan yang menjadi pembina dikelas ku masih berada dikantin bersamaku. tapi tidak dengan kak Dimas dan kak Hani.


"Alhamdulillah.." Ucapku mengelus dada. Aku dan Mitha langsung duduk di kursi kami. Antoni menyodorkan minumannya padaku.


"Ambil." Suruh nya. Aku pun mengambil air minum yang ia berikan dan meneguknya perlahan, lalu aku menawarkan pada Mitha tapi Mitha menggeleng.


"Makasih." ucapku sambil mengembalikan botol air tersebut pada Antoni. "Iya."


Kakak pembina datang dan kamu mulai bermain game sambil melakukan beberapa tebakan tentang sekolah. Aku yang ditanya tak dapat menjawab pun mendapat hukuman bernyanyi.


Aku terkekeh sesaat sebelum memulai. Hingga akhirnya aku memulai bernyanyi.


"Potong bobok ongso, ongso dokowolo. Nono monto donso, donso ompot kolo. Sorong kokoro, sorong kokonon. Lololololololo.."


Prok prok prok


Mereka memberiku tepuk tangan meriah, walau banyak diantara mereka saling menertawakanku karena wajahku yang menjadi aneh. Aku menutup wajahku karena malu. Kemudian aku menundukkan kepala dan setelahnya kembali kekursiku.


"Yang cantik mah emang beda ya. Mau gaya apa juga tetap cantik." Seloroh kak Ryan saat ia hendak kembali memulai game.


"Hhhuuu..." Sorakan kak Hani dan kak Dimas berikan pada kak Ryan membuatku sangat malu.


•.•.•.•.•.•.•.•.•.•.•.•.•

__ADS_1


Selama seminggu aku tak mengaktifkan nomor cellularku karena aku tak pernah berkunjung kerumah Sania atau Sania kerumahku. Karena aku malas dan sangat sibuk mempersiapkan bahan-bahan MOPD yang harus aku bawa setiap hari nya.


Hari ini hari sabtu. Aku yang baru saja bangun dari tidur siang ku langsung pergi bersama April dan Sania untuk makan bakso ditempat langganan kami. Walau sebenarnya aku enggan namun aku tetap pergi bersama mereka. Seperti biasa, aku nail motor yang sama bertiga.


Selesai makan bakso, kami kembali pulang kerumahku dan ikut berkumpul bersama Alva dan yang lainnya. Seperti biasa, kegiatan kami dimalam minggu hanyalah nongkrong dirumah sambil bermain alat musik seperti gitar dan tam-tam.


Sania kembali meminjamkan Hp miliknya padaku tanpa kuminta. Aku tersenyum kegirangan pada Sania dan mengecupi kedua belah pipinya. "Jijik !" Pekiknya sambil mengusap jejak kecupanku.


"Ngapain si lo ?" Tanya Alva yang keheranan melihat tingkah konyol ku yang menjijikan.


Aku segera memasukkan nomor cellularku kedalam Hp Sania. Baru saja beberapa menit, tapi sudah banyak pesan masuk sampai-sampai hp Sania tidak dapat menampung pesan. (Tahukan kaya gimana ?)


Aku membuka satu persatu pesan yang masuk, lalu setelah membacanya aku langsung menghapusnya agar pesan yang tertunda segera masuk.


Ternyata tak hanya Dillah yang mengirim pesan karena tak mendapat kabar dariku, tapi juga Antoni yanh hanya sekedar menanyakan tentang tugas-tugasku. Aku hanya membalas pesan Dillah dan mengabaikan pesan dari Antoni.


Hingga pukul 11 malam, Deny menyuruh Sania pulang dan mengatakan akan mengantarnya. Sania menurut tanpa sedikit pun membantah, karena memang sekarang sudah sangat larut. Aku yang akan mengembalikan hp milik Sania pun tertahan karena Sania mengatakan besok saja ia akan mengbilnya sekalian main kerumahku. Akupun mengangguk dan melanjutkan berbalas pesan dengan Dillah.


Pagi hari.


Aku terbangun karena Alva yang menggedor pintu kamarku dengan kencang. Katanya ada temanku yang datang untuk mengajak ku olahraga pagi. Padahal yang kuingat semalam aku tak membuat janji dengan Sania maupun April.


Dengan masih mengucek kedua mataku, aku keluar untuk menemui yang dibilang temanku. Aku terkejut melihat siapa yang ada di hadapanku sekarang.


"Ngapain lo ?" ketusku bertanya pada Antoni. "Ngajak lari lah. Emang mau ngapain ?" Sahutnya santai.


"Ogah. Udah sana lo pulang aja !" Usirku dengan mengibaskan kedua tanganku. Antoni hanya tersenyum padaku dan memberikan sebungkus bubur ayam yang dibelinya untukku.


"Dimakan jangan dibuang. Gue beli pake duit !" Ucapnya. "Bawel ! Makasih. Udah sana lo pulang !"


Antoni melangkah pergi meninggalkan rumahku dan akupun kembali masuk kedalam rumah sambil membawa sebungkus bubur ayam pemberian Antoni.


Aku menuju ke dapur dan mencuci wajahku diwastafel. Setelahnya aku mengambil gelas dan membuat susu coklat. Aku menuang bubur tersebut kedalam mangkuk dan memakannya hingga habis tak tersisa.

__ADS_1


"Makanannya aja diterima, orang nya mah ditolak !" Ejek Alva padaku.


Ya, Alva memang mengetahui tentang aku yang menolak ajakan Antoni untuk menjadi pacarnya. Karena Alva memang sudah mengenal Antoni sejak kami masih sama-sama di SMP dulu.


__ADS_2