
Setelah perdebatan tentang makan, akupun mengalah dan membiarkan Antoni menyuapiku hingga aku kenyang baru dia memakan nasi kotak miliknya.
"Pacar lo kapan kesini lagi ?" Tanya Antoni sambil menikmati makan siangnya sambil duduk berselonjor dilantai bersamaku dan disaksikan oleh peserta MOPD regu cewe rese.
"Kenapa emangnya kalo kak Dillah dateng ?"
"Nanya aja. Kan ini kita lagi nginep disini, entar tiba-tiba dia datang kan kasian lo nya ga ada !" Sahut Antoni dan aku hanya mengangguk.
"Sabtu depan. Aturan sekarang si, tapi ga jadi karena kan kemarin pak Sobari ngerubah rencana kita dadakan."
"Oh." Antoni membalas ucapanku hanya dengan ber'oh ria.
"Lo berdua ngapain ngegempor disitu ?" Tanya Rini yang heran melihat kami yang malah duduk dibawah padahal masih banyak kursi berjejer.
"Hehehe. Kaki gue keram Rin." Sahutku sambil pura-pura memijat kakiku.
"Rin. Mana yang tadi ?" Tanya Rizal yang juga baru datang setelah mereka dari ruang pak Sobari sebelumnya.
Rizal dan Rini meneruskan diskusi mereka yang ditimbrungi oleh aku dan Antoni. Karena entah dari mana pak Sobari menyuruh Rini menyelipkan ekskul dance diantara ekskul lain, padahal hanya beberapa yang mau mengikuti ekskul dance tersebut.
"Siapa aja yang mau promo ? Kan kemarin ga ada yang nawarin dah perasaan ?" Tanyaku benar-benar merasa heran.
"Lo inget kak Hera ga anak IPS yang dulu ikut dance ? Nah dia yang pengen promosi in dancenya bego." Tutur Rini menjelaskan.
"Jiiakh.. Berarti entar gue juga kudu ikutan ngedance ya sama si Karmilla sama Panji ? Hahaha" Tawaku pecah saat membayangkan bagaimana kami menari dan malah ditertawakan oleh anak-anak ekskul lain karena aku tak bisa melakukan gerakan kayang. Padahal setahuku gerakan kayang adalah gerakan dalam senam, tapi kenapa dilakukan saat dance ?
"Hahaha. Iya lo malah nyungseb kebelakang ya Des !"
"Hahaha" Tawa kami berempat pecah membayangkan aku yang malah terjatuh kebelakang dengan posisi terlentang tapi bagian kaki melekuk. Dan parahnya aku tak bisa bangun sendiri hingga pelatih ku membantuku.
×××××
Sekitar pukul empat sore, kami mengumpulkan para peserta MOPD dilapangan karena akan mengadakan acara Dance dan band. Dengan aku yang ikut andil mempresentasikan ekskul dance, sedikit berjoged mengikuti alunan musik yang dimainkan oleh anak-anak band dari anggota OSIS dan anggota ekskul band bersama kak Hera dan yang lain.
Pukul 17.30 kami menghentikan kegiatan kami karena sebentar lagi masuk waktu maghrib. Jadi kami pun bersiap untuk melaksanakan solat maghrib berjamaah. Setalahnya dilanjut dengan makan malam bersama sebelum melanjutkan acara band dan drama komedi.
Setelah acara api unggun yang juga menyuguhkan drama komedi dan pertunjukkan band selesai, kami mengarahkan para peserta segera masuk ke kelas yang telah disediakan untuk tidur. Kami pun segera masuk kedalam rumah OSIS untuk beristirahat.
Pagi hari, anggota OSIS lain membawa tiga gerobak tukang bubur menuju kelapangan sekolah, karena memang disekolah kami menyediakan dana untuk para peserta MOPD sarapan sebelum mereka kami bubarkan untuk pulang kerumah masing-masing. Sekitar 40 orang panitia membagikan mangkok-mangkok bubur kepada seluruh peserta.
Aku, Rini, Rizal, Adi, Jaya, Lia, Asri sedang menikmati bubur dipinggir lapangan sambil duduk asal tanpa alas apapun. Sudah menjadi kebiasaan kami yang memang hampir setiap hari seperti ini, disetiap pulang sekolah sambil menikmati sepiring batagor yang suka lewat depan sekolah. Tiba-tiba Antoni memainkan gitarnya sambil berjalan dari ruang OSIS menuju kearah kami.
Desiana, kasihku
Kau menyinari ruang hidupku
Syahdunya bersamamu
Mengenang di hatiku
Desiana
Desiana, sayangku
Mengukir indahnya bersamamu
Jalinan rasa rindu
Memburu di hatiku
desiana
O-o-o-oh
__ADS_1
desiana
desiana, engkaulah gadis pujaan
Siramilah rasa rindu
Andai engkau dapat mengerti
Betapa 'ku menyayangi
Dan bila pada suatu hari nanti
Engkau dapat kumiliki
Takkan pernah aku lepaskan
Dirimu oh desianan
O-o-o-oh
desiana
Itulah lagu yang ia nyanyikan untukku dengan suara yang cukup kencang membuat beberapa peserta berhamburan keluar, bahkan pak Sobari yang memang berada didalam ruang OSIS pun menggelengkan kepala dengan apa yang dilakukan oleh Antoni.
Memang cerita tentang aku dan Antoni bukan lah hal yang baru, bahkan semua siswa siswi bahkan guru serta satpam sudah tahu semua tentant kisah ku dengan Antoni. Bahkan, tak banyak dari mereka yang turut memintaku menjadi pacar Antoni, tapi aku tetap saja menolaknya.
"Antoni ihh.. malu-maluin lo mah !" Gerutuku menggetok kepala Antoni menggunakan sendok buburku.
"Kotor Des !" Ngelesnya memiringkan kepalanya.
Lagi. Antoni memetikkan gitarnya dan menyanyi lagu yang liriknya diganti.
Desiana sayangilah aku
Desiana cintailah aku
Seperti aku cinta kamu
Tapi kamu kok tolak aku
Tapi kamu kok tokak aku
Desianan mengertilah aku
Seperti aku ngerti kamu
Dan Desiana pahamilah aku
Sepertiku memahamimu
Tapi kamu kok tolak aku
Tapi kamu kok tolak aku
Andaikan bulan, andaikan bintang dapat berbicara
Tentu dia 'kan tahu yang sesungguhnya
Andaikan bulan, andaikan bintang mereka saling berbisik
Tentu cinta kita takkan terusik
"Astaghfirullah. Antoni !" Kesalku beranjak dari tempatku dan menghentakkan kakiku dengan kencang.
__ADS_1
Tapi Antoni tak henti mengganggu ku, ia malah mengikutiku dan sambil memetik kan gitar lagi sambil terus bernyanyi dengan lagu ST12 yang berjudul PUSPA.
Kau gadisku yang cantik
Coba lihat aku di sini
Di sini ada aku yang cinta padamu
Kau gadisku yang manis
Coba lihat aku di sini
Di sini ada aku yang sayang padamu
O-ho ...
Walau kutahu bahwa dirimu
Sudah ada yang punya
Namun 'kan kutunggu
Sampai kau mau
Wow-wow
Jangan jangan kau menolak cintaku
Jangan jangan kau ragukan hatiku
'Ku 'kan selalu setia menunggu
Untuk jadi pacarmu
Wow-wow
Jangan jangan kau tak terima cintaku
Jangan jangan kau hiraukan pacarmu
Putuskanlah saja pacarmu
Lalu bilang I love you
Padaku
Aku merasa kali ini Antoni sangat keterlaluan dan begitu membuat kegaduhan. Aku keluar dari ruang OSIS sambil membawa sapu dan mengarahkan padanya. Ia yang merasa terancam pun berlarian mengelilingi lapangan sambil terus terkekeh dan meminta ampun padaku, tapi aku tak perduli dengannya karena sudah merasa sangat amat kesal. Dan kami berdua menjadi tontonan hangat bagi semua anggota OSIS, ekskul dan juga peserta MOPD.
Serasa kakiku sudah pegal dan lelah, aku menghentikan mengejar Antoni dan duduk di pinggiran lapangan sambil membenarkan ikat rambutku yang berantakan dan membuka almamater yang masih kukenakan menyisakan kaos hitam lengan pendek milikku.
"DESI. WO AI NI. KITA SELINGKUH YUK !"
Sumpah demi apapun rasanya urat maluku sudah putus dan masih dengan nafas yang terengah-engah karena kelelahan mengejar tubuh tinggi Antoni, kali ini aku kembali dibuat malu olehnya yang berteriak semaunya didepan umum mengajakku berselingkuh.
Konyol. Bahkan sangat konyol. Tapi inilah Antoni, ia tak akan segan membuatku malu. Bahkan ia sering mengatakan suka walau di depan guru-guru. Dan dengan inilah nama kami menjadi sangat di kenal oleh sekolah, mungkin akan menjadi sejarah. Hahaha
Aku menangkup wajahku dengan kedua tanganku menahan malu, dan bahkan aku menangis dibuatnya.
"Hiks.. hiks.. hiks.."
Maya yang memang sedang berada di dekat ku menyadari isakanku dan langsung berteriak memanggil nama Toni.
"Lo si. Hayo loh nangis kan ?"
__ADS_1