
riniSesuai dengan apa yang diharapkan oleh Desi dan April. Para sahabatnya pun berdatangan, walau diantara mereka tak cukup saling mengenal namun mereka bisa membaur dengan tanpa memandang fisik maupun derajat.
Rasa tak sabar sudah menjalar padaku. Aku yang sedari tadi terus tersenyum menatap bergantian pada sahabat dan keluargaku. Dillah yang memperhatikanku merasa sangat bingung padaku sedari tadi.
"Kenapa si udah kaya orang gila ?"
"Gak apa-apa sayang. Seneng aja liat mereka akur." Sahutku penuh dengan misteri.
Dillah tak bertanya lagi padaku, karena makan benar apa yang aku katakan. Dillah pun turut bahagia melihat orang-orang terdekatnya merasa bahagia.
Bapakku dan bapak April sedang membakar ikan, sedangkan Deny Alva cs sedang membakar ayam dan menyiapkan yang lainnya. Kami, para wanita hanya berdiam santai dimanjakan pada lelaki hebat yang sedang berperang dengan asap yang berasal dari pembakaran. Sesekali mereka saling usil mengusili.
Ah.. Jadi sedih aku ingat kejadian dahulu, i miss you all.. ðŸ˜ðŸ˜
Setelah semua matang, April yang sudah bersiap memulai acara kejutan pun berdiri dan memberi pengumuman.
"Perhatian semuanya." Ucapnya sambil sedikit berteriak.
Semua menoleh dengan tanda tanya.
"Ekhm.. Sebelumnya April mengucapkan banyak terima kasih sama semuanya karena udah sempetin dateng ke acara Desi. Tapi, semuanya ini bukan karena Desi sama April pengen kumpul aja sih. Tapi ada sesuatu hal yang harus Desi sampaikan buat kita semua !"
Semua menoleh padaku termasuk suamiku. "Ada apa ?" Tanyanya padaku penasaran.
Aku hanya menggeleng.
"Des, sini lah. Kan lo yang punya kabar bahagia." April memanggilku. Aku menggeleng karena sedikit malu, tapi April terus memaksaku.
Aku menarik Dillah untuk ikut bersamaku. Dillah menolak tapi aku memaksanya.
__ADS_1
"April, ada apa sih ?" Tanya mama April padanya.
April menunjukku menggunakan bibir bawahn nya yang ia manyunkam kedepan. Mama April menoleh padaku dan aku hanya tersenyum.
"Maaf ya semuanya jadi ada adegan drama sedikit hehehe" Ucapku setelah maju kedepan.
"Ada apa sih ?" Tanya Dillah lagi yang sepertinya mulai jengkel.
"Desi punya kejutan buat kalian semua, terutama buat suami Desi. Kakak tutup mata sebentar deh !"
"Jangan macem-macem kamu Des !" Sahut Dillah lagi.
"Udah tutup aja dulu, bentaran doang sih kak !"
Dillah menutup matanya dengan sebelah tangan. "Jangan ngintip ya kak !" Dillah hanya mengangguk.
"Ya Allah sayang. akhirnya !" Ibuku memelukku dan memberiku selamat, begitu pula dengan Mama April.
"Bu, apaan si bu ?" Dillah bertanya penasaran karena masih dalam keadaan menutup mata.
"Desi !" Teriak Sania dan memeluk Rini.
Para lelaki sih diem aja karena emang ga faham ya, kecuali yang udah nikah ni.
Dillah yang semakin penasaran karena suasana semakin riuh pun membuka matanya dan menarik benda yang ada ditangan ku. Ia bergemetar melihat ada dua garis merah di sana.
Dillah langsung memelukku dan menciumi keningku sambil meneteskan air matanya. "Makasih sayang, makasih !"
Aku yang terharu langsung memeluk erat suamiku dan menangis. Aku menumpahkan kebahagiaanku bersama dengan mereka.
__ADS_1
(Sumpah deh. Rasanya gimana ya menceritakan part ini. Kaya lagi nostalgia, tapi ada sakit-sakitnya gitu !)
×××××
Keesokan paginya, aku ditemani Dillah untuk kembali memeriksakan kehamilanku. Dillah bilang, ia masih penasaran dengan kebenaran kehamilanku. Oh my god ! Apakah kabar se bahagia ini hanya untuk bahan lelucon. Dedek utun, maafin Pipih kamu ya nak ! Hehehe
Ibu Bidan sudah selesai memeriksa ku, ia menjelaskan segala hal pada Dillah. Dillah hanya menjawab iya dengan beberapa anggukkan ketika ibu bidan bertanya padanya. Angguk-angguk geleng-geleng.
Selesai dari klinik bersalin, aku segera beristirahat. Karena rasanya aku sangat mengantuk, padahal ink baru jam 11 siang. ya, bagaimana tidak mengantuk ? Semalam aku bergadang hingga pagi. Bahkan pergi ke klinik saja aku belum mandi dan hanya menyikat gigi ku dan mencuci wajahku yang ku lanjut merias sedikit wajahku agar tak terlihat pucat. Jorok bukan ? Tapi ya begitulah aku, jika habis bergadang semalaman suntuk aku tak bisa mandi. Jika aku mandi maka aku akan masuk angin. Aneh bukan ?
Pukul satu siang. Dillah membangunkan aku untuk makan siang, sebelumnya ia menyuruhku untuk solat dzuhur terlebih dahulu yang aku lanjut dengan membaca alquran dengan beberapa ayat. Setelahnya aku langsung menyantap makan siang ku dengan disuapi Dillah. Ia ingin memanjakan aku katanya. Sweet banget ga sih punya suami kaya Dillah !!
Sekitar jam empat sore, Dillah berpamitan kepadaku untuk segera pulang. Aku menitipkan tespeck kepadanya untuk diberikan kepada orang tuanya sebagai kejutan. Karena aku tak dapat mengatakannya sendiri, jadi mau tak mau aku hanya menitipkan benda kecil tersebut dan mengatakan pada Dillah agar ayah dan ibu mertuaku selalu mendoakan kesehatan aku dan dedek utun selama disini. Karena minggu depan adalah acara pernikahan April. Dan pastinya aku akan sangat sibuk membantunya.
Keesokan harinya, Dillah menelpon ku saat ia akan berangkat ketempat kerjanya dan menanyakan keadaanku. Tentu aku baik-baik saja. Ia juga mengingatkanku untuk meminum obat serta vitamin yang diberikan bidan padaku. Sungguh, suamiku adalah suami idaman bagi para wanita. Mungkin jika dari tampang, ya biasa aja kali ya. hahaha
Hari jumat.
Sedari pagi hingga sore aku sibuk membantu. Aku kesana, aku kesini, aku begini, aku begitu, mengambil ini, mengambil itu, tolong ini, tolong itu. Ah sungguh melelahkan ! Untung saja bayi dalam perutku sangat kuat dan sehat, hingga aku tak merasa sakit dibagian perutku yang masih sangat rata. Pegal dan lelah juga haus dan lapar. Hanya itu yang aku rasakan. Aku hanya beristirahat ketika masuk waktu solat, dan dilanjut dengan makan. Walau sebenarnya si kegiatan ku hanya mondar mandir, tapi setidaknya cukup membantu untuk mereka yang memerlukan bantuanku.
Selepas solat maghrib aku merebahkan tubuhku di kursi panjang yang terbuat dari bambu didepan rumahku. Tentu saja diluar sangat ramai, karena rumahku bersebelahan dengan rumah April.
Aku ikut menimbrung pembicaraan para orang tua yang entah apa aku tak terlalu mengerti. Tapi saat mereka sama-sama berpendapat akupun sok-sok an mengeluarkan pendapatku. Sok tua gitu deh aku ! Hahaha
Pada sekitar pukul sepuluh malam, motor suamiku terparkir rapi dihalaman rumahku. Aku fikir suamiku akan datang besok, tapi ternyata malam ini juga ia datang.
Aku langsung membuatkan nya teh hangat dan menyiapkan makanan. Hanya kue sih bukan nasi beserta lauknya. Aku yakin jika suamiku pasti sudah makan sehabis maghrib.
(udah kek cenayang ! Wkwkwk)
__ADS_1