Cerita Masa Laluku

Cerita Masa Laluku
6. Rencana Dillah


__ADS_3

Sepulang Dillah dari rumahku. Antoni mengirim SMS padaku dan mengajakku bertemu dirumah Syarif, teman satu kelompok belajarku dan Antoni. Tapi aku tak sendiri, tapi aku juga mengajak Lia, teman dekatku disekolah.


Aku sampai di rumah Syarif, dan ternyata Lia sudah sampai lebih dulu. Aku dan Antoni kini berada dihalaman samping rumah Syarif, karena Antoni memaksaku untuk berbicara empat mata dengannya.


"Ngapa lagi bae si ?" Cablakku padanya. Tak ada kata jaga image dihadapannya.


"Itu pacar lo ?" Tanyanya menyelidik.


Aku menganggukkan kepala mengiyakan. "Kenapa, cemburu lo ?"


"Jelas cemburu lah gue. Kan lo tau gue suka sama lo dari dulu." Sahutnya blak-blakan.


"Tapi kan udah gue bilang, gue ga bisa terima lo soalnya gue cuma nganggap lo temen. Lagi juga gue ga mau kalo sampe si Amira buat ulah lagi. Dia kan masih ngarepin lo !"


"Tapi lo tau kan kalo gue tulus sama lo ?"


"Gue tau. Tapi maaf gue ga bisa !"


"Iya udah gapapa kalo emang lo udah jadian sama cowok yang kemaren. Orang mana ?"


"Mau tau banget apa mau tau aja ?" Ledekku sambil tersenyum padanya.


"Terserah."


"Dia orang .......... keponakan tante gue !"


"Masih sepupuan dong ? Bukannya ga boleh ya kalo sepupuan nikah ?"


"Emang iya gitu ? kan dia keponakan om gue. Yang sepupuan sama ibu gue kan tante. Gapapa sih katanya !"


"Des. Sama gue be si, jangan sama yang lain elah." Ucapnya lagi memaksaku.

__ADS_1


"Udah ah. Jabeg banget gue mah !"


Aku beranjak dan kembali kedepan menemui Lia dan Syarif.


"Udah kelar ?" Tanya Syarif.


"Patah hati gue !" Sahut Antoni tiba-tiba mendramatisir dengan memegang dadanya dan duduk di kursi samping Syarif


"Dih." Cebikku. "Ditolak ni jadinya ? Jahat banget lo Des." Ucap Lia memarahiku.


"Lah kan gue udah punya pacar. Masa gue ngeduain si ? Emang dia mau gitu diselingkuhin ?" Jawabku dengan polosnya. Karena memang tak ada kata selingkuh atau mendua didalam kamusku. Walau aku sering dekat dengan teman priaku, tapi aku tak pernah sampai sejauh itu.


×××××


Singkat ceritaku, satu setengah tahun kemudian.


Kini, aku sudah libur kenaikan kelas ke kelas 3 SMA. Dillah yang selalu datang dua bulan sekali kerumahku, dan aku yang tak pernah berhenti diganggu oleh Antoni walau dia sudah tahu aku sudah punya pacar tapi ia tak pernah menyerah. Dan juga aku yang selalu dekat dengan teman pria ku walau Dillah selalu melarangku tapi aku selalu berdalih jika mereka semua adalah sahabatku. Walau hubungan kami sering putus nyambung. Putus ketika Dillah cemburu, dan kami balikan saat Dillah datang berkunjung kerumahku.


Kami naik motor yang dipakai Dillah untuk menjemputku. Aku merasa senang dan sangat bahagia karena ia akan mengenal kan ku kepada seluruh keluarganya. Fikirku tanpa berfikiran jelek sedikitpun.


Hampir 10 jam perjalanan yang kami lakukan, karena kami harus berhenti untuk beristirahat saat Dillah merasa lelah dalam mengemudi. Aku tak keberatan sama sekali, karena memang aku senang diajak jalan-jalan seperti ini.


Sore hari kami sampai dirumah Dillah. Dan keluarganya menyambut ku dengan hangat, terutama ibunya. Mereka yang tahu dirikudari cerita Dillah selalu memuji kecantikan ku, membandingkan dengan mantan pacar Dillah yang dulu. Aku sedikit tersipu karena ternyata diriku lebih baik dari mantan pacar Dillah.


Malam hari tiba. Aku sedikit terheran karena ada beberapa orang yang mendekor rumah Dillah menggunakan background berwarna pink dan sedikit hiasan bunga disudut ruangan. Bahkan sampai kamar yang akan kutempati untukku menginap juga dihias. Mungkin akan ada acara besok. Fikirku yang tak tahu apa-apa.


Setelah orang-orang selesai menghias aku segera masuk kedalam kamar dan tidur, karena memang tas kantuk yang sudah tak tertahan. Dillah mencium kening ku dan mengecup bibirku sebelum aku memejamkan mataku. Aku tersentak dan memukul Dillah, tapi Dillah hanya tersenyum padaku. Sungguh ini adalah ciuman pertamaku.


"Mulai besok, bukan cuma ini. Tapi semua yang kamu punya itu akan jadi milikku. Aku bakalan bebas buat ngelakuin apa aja ke kamu."


Aku berfikir keras mencerna kata-kata Dillah barusan, tapi aku tak bisa berfikir dan selalu positif padanya. Mungki Dillah merasa dia berhak karena aku memang pacarnya. Itulah fikirku.

__ADS_1


Esok hari. Dillah membangunkan ku dan mengajakku solat subuh berjamaah. Aku bangun dan langsung menuju kamar mandi kemudian menyusul ke ruang musholla didalam rumah Dillah. Selesai sholat aku diminta masuk kedalam kamar, karena sudah ada tukang rias yang datang. Kata kakaknya Dillah padaku. Aku hanya menurut tanpa menolak sedikitpun, karena benar dugaan ku disini akan ada acara.


Tapi aku sangat terkejut saat dirimu dirias bagai pengantin dan disuruh menggunakan kebaya putih dan memakai sanggul. Aku bingung, kenapa dandanan aku seperti ini ?


"Mbak. Ini kenapa saya pake kebaya kaya pengantin ya ?" Tanyaku pada sang perias. "Saya disuruhnya kaya gini sayy." Sahutnya dengan santai.


Ah yasudahlah ikutin aja. Toh, memang mau ada acara kan. Fikirku masih dengan positif.


Setelah selesai, ibu Dillah masuk dan menyuruh tukang rias keluar dari kamar. Ibu Dillah memujiku dan mengatakan calon mantu ibu beneran cantik. Aku hanya tersipu malu karenanya.


Dillah masuk, aku terkagum dengannya yang menggunakan setelah jas berwarna hitam lengkap dengan peci dan dasi. Dillah meraih tanganku dan mengatakan. "Yuk keluar, pak amil udah nungguin tuh. Akad nya mau dimulai."


((deg))


Perasaanku campur aduk menjadi kacau. Aku baru sadar jika ini bukan acara lain, melainkan acara pernikahanku dengan Dillah. Mataku memanas dan wajahku menjadi berubah. Aku diam tak mau mengikuti perkataan Dillah.


"Apa ini ?" Tanyaku dengan nada yang sangat dingin.


"Nikah lah. Apa lagi emang ?" Sahut Dillah masih dengan wajah sumringahnya.


"Nikah ? Aku nikah sama kakak ?" Tebakku.


"Kan kakak udah pernah bilang sama Desi. Kalo kakak berhasil aja Desi kerumah, kakak mau langsung ajak Desi nikah. Kakak udah buktiin semuanya kan sekarang, kakak ga main-main !"


"Astaghfirullah." Ucapku sambil menangkup wajahku menggunakan kedua tanganku. "Tapi ga sekarang kak. Desi masih sekolah dan ga mungkin Desi nikah tanpa bapak ibu." Aku sedikit terisak karena merasa telah dijebak oleh Dillah.


"Maafik kakak karena kakak ga jujur sama Desi. Tapi sumpah, kakak cuma ga mau kehilangan Desi. Kakak mau Desi jadi istri kakak."


"Desi. Gapapa sekarang mah nikah sirih doang, nanti kalo Desi udah lulus sekolah baru ibu dateng lamar Desi terua Desi nikah kantor sama Dillah. Ibu ga mau Dillah nanti khilaf sama Desi."


Benar, memang sangat benar ucapan ibu Dillah. Tapi bukan begini caranya, aku mau pernikahan ini dibatalkan. Aku hanya bisa terus menangis dan Dillah masih berusaha membujuk ku.

__ADS_1


__ADS_2