
Katakanlah sesuatu yang bisa membuatku menjadi semangat untuk menjalani kehidupan ku dimasa depan. Janjikanlah aku kebahagiaan diakhir cerita indah dalam setiap baris kesedihanku.
Tuhan. Hanya satu pintaku, bahagiakan dia. Bahagiakan kedua malaikat kecilku yang telah Engkau titipkan bersama dengan air mata ku.
💞💞💞💞💞
Mencoba bangkit, mencoba berdamai dengan nasib dan hati, mencoba membuat semuanya menjadi biasa saja. Adalah sebuah perjuangan keras yang telah aku lewati.
Kini, setelah sekian hari, minggu bahkan bulan. Aku mencoba memberi senyum terindah ku untuk mereka yang benar-benar menyayangiku, untuk mereka yang selalu ada dikala sedihku.
"Jadi kapan lo mau buka hati lo buat si Antoni ? Kasian dia, ini yang kesekian kalinya dia lo tolak !"
Aku terdiam tak menjawab pertanyaan Rini yang begitu membuatku bingung.
"Kenapa diem ?" Tanyanya lagi padaku.
"Gue ga tau Rin. Gue masih belom yakin !"
"Apa yang buat lo ga yakin si Des ? Lo tau kan selama beberapa tahun ini dia selalu dan selalu mengalah demi kebahagiaan lo, sampe-sampe dia rela nikah sama Bunga karena lo yang minta. Padahal lo tau, kalo hati dia cuma buat lo, lo dan lo. Walaupun dia cuma anggap Bunga kaya adeknya, tapi dia coba buat bahagiakan Bunga dan semua demi lo Des !"
Aku menunduk tak dapat menjawab.
Apa segitunya dia ke gue ? Kenapa gue buta selama ini.
"Lo fikirin baik-baik ucapan gue ya Des. Dan gue harap lo bisa terima Antoni kali ini !"
Rini beranjak pergi ke kamar nya, sedangkan aku masih betah berdiam mencerna semuanya.
"Bukan gue gak yakin akan cinta nya Antoni, Rin. Tapi gue ga yakin sama diri gue sendiri apa bisa gue kasih cinta gue ke dia !"
"Des. Kamu kenapa ?"
"Eh.. Bu ! Gapapa ko. Sini bu, biar Desi aja yang bawa Adara kekamar."
Ibuku hanya mengangguk dan aku langsung mengambil alih Adara kedalam gendonganku dan membawanya kekamar. Tapi didalam kamar aku malah ikut berbaring dan memikirkan apa yang diucapkan oleh Rini.
"Apa secepat ini ?" Batinku bertanya.
~
"Ya Des kenapa ?"
"Jay, ditempat kerja lo ada lowongan ga ?"
"Buat sekarang sih belum ada Des. Tapi nanti kalo udah ada gue kabarin lagi deh ke lo ya !"
"Yaudah Jay gapapa. Thanks ya sebelumnya."
__ADS_1
"Santai lah. Kaya sama siapa aja sih lo. Nanti w cari info juga deh ke anak-anak, kali aja ditempat mereka kerja lagi buka loker ya."
"Oke Jay. Sekali lagi thanks ya."
Akupun menutup panggilan telpon ku dengan Jaya.
Bukan karena uang tabunganku sudah habis, tapi karena aku tak mungkin hanya berharap dengan uang yang dikirim Dillah. Sedangkan bukan cuma Azka dan Adara, tapi akupun mempunyai keperluan untukku sendiri hingga aku berfikir untuk bekerja.
Bukan pula aku tega dengan Adara yang masih membutuhkan aku dengan usianya yang belum genap setahun, tapi apalah dayaku yang sekarang menjadi single parents.
"Udah dapet ?" Tanya Rini padaku yang langsung masuk kekamar karena pintu kamarku yang terbuka.
Aku menggeleng. "Belum rezeki ni gue !" Sahutku.
"Yang sabar aja lah. Lagi juga masih kasian si Dara, Des. Dia masih ASI kan !"
"Iya. Gue juga ga terburu-buru banget ko, tabungan gue masih cukup buat dua tahun kedepan kayanya. Uang sekolah juga kan masih ditanggung sama Dillah, Rin !"
"Kedepan deh yuk cari angin, biar otak lo fresh ga ngebul !"
"Sialan lo !"
"Hahaha"
"Oh iya. Katanya mau ngadain reuni ya anak-anak ?"
"Iyah minggu depan. Lo ikut aja, nanti bareng gue !"
"Yaelah. Anak-anak juga pasti ngertiin keadaan lo lah. Bukan lo doang ko, ada beberapa juga yang bernasib sama. Salah satunya si Antoni !"
"Beda dia mah, lah kalo gue kan cerei idup."
"Ga ada alesan. Ga ada lo ga rame !"
"Uukkhh.. Iya iya gue ikut. Eh, Alesha mana ?"
"Tidur juga. Makanya gue santai !"
"oh.."
~
Seminggu berlalu. Kini hari dimana yang tak aku nantikan pun tiba. Berkumpul disalah satu cafe yang sudah menjadi pilihan teman sekelas ku untuk melakukan reuni. Dengan malas aku memoles wajahku dengan bedak, lipstik juga mascara serta sedikit memoles blush-on agar wajahku tak terlihat pucat.
Aku memutar badanku yang kini terlihat kurus. Aku menggunakan kaos lengan pendek yang dimasukkan dan celana jeans panjang juga sneakers. Rambut yang kubiarkan terurai.
"Des. Lo udah selesai belum ?" Teriak Rini dari luar kamarku.
__ADS_1
"Bentar, gue gantiin baju Azka dulu !" Sahutku sambil mengganti pakaian Azka.
"Emang mau kemana Mi ?" Tanya Azka. "Mau ketemu sama temen Mimi sama tante Rini juga. Nanti Azka ga boleh nakal ya sayang."
Azka mengangguk mengerti. Ia menyisir sendiri rambutnya yang mulai terlihat panjang. Ia memakai sepatu kesayangannya, dan kemudian mengambil tas gemblok miliknya yang sudah aku isi dengan beberapa cemilan untuknya nanti. Walau pasti disana aku akan membebaskan Azka untuk memakan apapun.
"Bu, titip Adara ya. Desi berangkat." Ucapku mencium punggung tangan ibuku dan mengecup pipi gembul Adara yang terbangun.
"Azka jangan nakal ya, jagain Alesha ya !" Ucap ibuku saat Azka mencium punggung tangannya. "iya nenek !" Sahutnya.
Alva melajukan mobilnya perlahan, kami menunggu beberapa teman kami yang sebelumnya mengajak pergi bersama. Setelahnya Alva kembali melajukan mobilnya menuju cafe.
Sesampainya disana, Azka langsung disambut oleh Jaya. Ya, memang Azka mulai dekat dengan Jaya, Antoni, Adi dan Syarif. Karena mereka selalu menyempatkan datang berkunjung kerumahku hanya untuk sekedar menanyakan kabar.
"Udah Jay, lo tuh udah pantes jadi bapak-bapak. Mau tunggu apa lagi coba ?" Ucapku mengejek Jaya yang hingga sekarang belum juga menikah, padahal usianya sudah 28 tahun. Setahun lebih tua dariku.
"Nanti lah Des, belom ada yang cocok. Udah ayo masuk-masuk. Ayo bang !" sahutnya padaku dan langsung mengajak Alva kedalam cafe.
Ternyata disana sudah ada beberapa orang, salah satunya Lia dan Maya. Aku dan Rini langsung memeluk dan bercipika cipiki pada Lia dan Maya, yang disusul oleh beberapa teman wanita kami.
"Beda-beda banget lo pada. Pangling gue liatnya ya Allah !" Ucap Rini memperhatikan beberapa teman kami.
"Lo juga tambah cantik Rin. Apa lagi si Desi tuh, makin aduhai aja !"
"Gue mah dari dulu emang cakep." Sahutku sombong.
"Tapi sayang ga bisa gue miliki !"
Kami menoleh pada sumber suara.
"Acie cie.." Seru semua teman ketika melihat Antoni yang sedang menggendong Kania.
"Ante." Sapa Kania padaku, dan aku langsung menggendong Kania.
"Cocok lo berdua. Udah lah jadian aja !" Celetuk Syarif yang berada dibelakang Antoni.
"Maunya gue sih gitu. Tapi kan dianya yang ga mau !"
"Ga usah mulai. Baru aja ketemu lagi ni akh." Sahutku kesal. "Azka, coba ambilin susu kotak buat Kania sini !"
Azka memberikan tasnya pada ku dan aku langsung mengambil susu kotak yang aku serahkan pada Azka, Kania juga Alesha. (Alesha sama Kania seumuran ya, cuma beda beberapa bulan doang !)
Azka terlihat senang saat aku menurunkan Kania, dan Rini yang menurunkan Alesha. Hingga mereka bertiga bisa bermain. Disusul dengan anak-anak dari teman-temanku.
Acara ini hanya sekedar acara makan bersama, tak ada karaoke, tak ada permainan atau unjuk bakat.
Antoni berpindah duduk di dekat ku ketika Kania bermain dengan Azka juga Alesha. Ia menyeringai melihatku, kemudian ia menoleh pada Adi, Jaya dan Syarif yang menjadi teman dekatnya.
__ADS_1
"Udah gas !" Teriak Rizal padanya.
"DESI. NIKAH YUK !"