
Perkenalkan namaku Qiana Larasati, hidupku terbilang lumayan berada saat itu, sebelum ketika usaha Ayahku bangkrut, dan memiliki hutang-hutang yang menumpuk. Ayah tak bisa menerima keadaan ini dan tak lama Ayah meninggal dunia karena mendapatkan serangan jantung.
Semua harta dan aset-aset milik Ayah disita untuk membayar hutang-hutang Ayah. Kini aku hidup berdua saja dengan Ibu, Ibu harus bekerja membanting tulang agar dapat terus melangsungkan hidup kita berdua.
"Kring... kring..." dering ponselku berbunyi dan tertera nomor Ibu di layar ponselku.
"Hallo, Ibu dimana? Kenapa belum pulang-pulang?" jawabku yang sedang sendiri menunggu Ibu pulang bekerja.
"Ini benar dengan anak Ibu Ria?" tanya seseorang dari telpon.
"Iya benar, ini siapa ya? mana Ibu?" tanyaku bingung karena bukan suara Ibu yang terdengar.
"Ibu Ria mengalami kecelakaan lalu lintas, dan sekarang berada di Rumah Sakit Sehat Sentosa," jelasnya. Tak menunggu lama, setelah mendengarnya akupun langsung bergegas dan pergi menuju rumah sakit untuk melihat keadaan Ibu.
Tetapi sepertinya ujian hidupku belum usai sampai disini.
"Ibu, Ibu bangun," tangisku pun kembali pecah saat melihat ibu yg sudah terbujur kaku di kamar jenazah. Seperti deja vu, aku harus kembali kehilangan Ibu, setelah kematian Ayah.
"Ibu jangan tinggalkan aku sendiri, Ibu aku mohon bangun Ibu, bangun Bu." air mata ku tak terhenti mengalir dan terus membanjiri pipiku.
__ADS_1
"yang sabar dik," ucap seorang perawat yang sedari tadi menemaniku di dalam kamar jenazah. tapi bukan malah berhenti saat mendengarnya tetapi membuat tangisku semakin menjadi, tangisku kembali pecah memenuhi ruangan jenazah yang sepi.
"Ibu, haruskah aku ikut bersamamu? Bagaimana hidupku nanti, Bu? Ibu, ku mohon jangan tinggalkan aku," rancauan yang keluar dari mulutku, memikirkan hidupku yang sekarang hanya sebatang kara membuat tangis dan air mata tak pernah berhenti dari mataku..
Saat ini aku sudah lulus Sekolah Menengah Pertama, tetapi dengan keadaan seperti ini, aku tidak tahu harus melanjutnya Sekolah Menengah Atas atau tidak, walaupun aku selalu termasuk murid berprestasi di sekolah. Jangankan memikirkan sekolah, memikirkan bagaimana hari esok pun aku tidak tahu. bagaimana aku harus melewati hari-hari tanpa Ibu. Dan Apakah aku masih pantas untuk hidup?
Karena aku dari kecil selalu mendapatkan kasih sayang orangtua yang terlalu berlebihan membuatku semakin manja, aku tidak pernah diperintah untuk melakukan pekerjaan rumah seperti menyapu, mengepel ataupun memasak. Dan sekarang aku tidak bisa melakukan apapun dan tidak bisa bergantung pada mereka lagi. Aku merutuki diriku yang sangat tidak mandiri.
Tiba saatnya keluarga tanteku datang, Tante sebenarnya hanya adik sepupu dari Nenekku. Karena Ibuku hanya anak semata wayang. Jadi walau aku mengenalnya tapi tidak terlalu dekat.
"Qiana, sekarang kamu ikut sama Tante saja ke jakarta, nanti disana kamu bisa melanjutkan Sekolah kamu disana," ucap Tante Ida namanya.
Entah karena ujian hidup yang datang bertubi-tubi menghampiriku, sehingga membuatku menjadi sosok yang pendiam. Aku yang duhulu selalu ceria, kini menjadi sosok yang selalu memendam perasaan. Apa yang kurasakan, sedih atau marah hanya bisa aku pendam. Karena yang aku tahu, sekarang aku hidup sendiri di dunia yang fana ini.
Keluarga Tante Ida yang mengurus pemakaman Ibuku, seandainya tidak ada mereka, aku mungkin tidak bisa melakukan pemakaman yang layak untuk Ibuku.
"Qiana, ayo kita mandikan Ibu untuk terakhir kalinya," ucap Tante Ida menghentikanku yang sedari tadi diam meratapi nasibnya.
"Aku ga mau, Tante," ujarku, karena tidak tega melihat Ibu.
__ADS_1
"Ini adalah bentuk baktimu kepada orangtua untuk terakhir kalinya, Qiana," ucap tante ida sembari memegang lenganku untuk bangun dan bergegas ikut membantu memandikan jenazah Ibu.
Selesai dimandikan, aku pun dipersilahkan untuk mencium Ibu untuk terakhir kalinya.
"Air matamu, jangan sampai menetes dipipi Ibumu ya nduk." nasehat seseorang sesepuh didaerah kami. Aku pun membersihkan sisa-sisa airmata dengan tanganku. Aku mencium kedua pipi Ibu dan kucium juga kening Ibu. selesai mencium, tangisku pun kembali pecah. Dan Tante membawaku beristirahat dan selanjutnya Tante ida yang mengurusnya.
Saat akan melakukan pemakaman, aku selalu mendapatkan nasehat agar dapat mengiklaskan Ibu dari para tetangga.
"Jangan nangis terus, nduk. Kasihan Ibumu nanti berat meninggalkanmu. Lebih baik kamu banyak berdoa untuk ibu, agar ibumu tenang di surga." nasehat tetangga yang selalu ku dengar saat mereka akan pergi meninggalkanku di pemakaman.
"Ibu, aku tidak tahu harus sedih, marah atau tidak. Aku sangat sedih Bu, bagaimana bisa Ibu tega meninggalkanku sekarang? Kenapa sepertinya Tuhan tidak memberikanku kesempatan untuk membahagiakanmu terkahir kali. Kenapa Tuhan mengambil orang-orang yang ku sayang, Bu? kenapa Tuhan sangat kejam kepadaku, Bu?" tangiskupun kembali pecah yang sedari tadi sudah kutahan.
"Sudah Qiana, Ibumu sudah tenang, jangan kamu menyalahkan Tuhan. Hidup dan mati seseorang sudah ditetapkan sebelum dilahirkan. Ini sudah takdir dari Tuhan, kamu harus kuat dan tabah menerimanya," nasehat Tante Ida. Akupun terdiam dan hanya bisa terus menangis meratapi takdir yang memilukan ini.
*********
"Ayo, kita berangkat," ajak Tante Ida setelah aku selesai berkemas kemas membawa pakaianku dan surat-surat lainnya untuk keperluan melanjutkan sekolah disana.
Tante ida pun membukakan mobilnya. Hanya mobil keluarga biasa saja. Tidak ada kesan mewah dari keluarga Tante Ida. Aku melirik ke bagian sopir, tenyata dia Om Edi, suami Tante Ida. umur om edi sekitar empat puluh tahunan, mungkin. Dan masih terlihat tampan dengan wajah yang putih, hidung mancung dan rahang yang tegas, alis mata yang hitam senada dengan warna rambutnya yang tertata rapi. Entah apa yang ada dalam pikirannya, dia terus menatapku dari balik kaca.
__ADS_1
Tante Ida yang duduk disampingku, terlihat sibuk dengan menggendong anaknya yang masih balita, sekitar dua atau tiga tahun usianya yang sedang rewel. Dan mobil kami pun melaju menuju kediaman Tante Ida di Jakarta.