
Pagipun menjelang. Tante ida seperti biasa membangunkanku pagi-pagi sekali, dia seperti alarm hidup untukku, yang selalu berbunyi tepat waktu.
"Hari ini masak apa ya?" tanya Tante Ida melihat isi kulkas. aku yang diam bagaikan robot saja, tidak bisa berbuat apa-apa tanpa ada komando dari tanteku.
"Qiana, daripada kamu bengong mending kamu lap-lap meja dulu." suruh tante ida yang melihatku diam saja.
"kenapa sepertinya tante ida ga suka kalau aku diam, dikit-dikit nyuci piring, dikit-dikit bersihin rumah dan memasak," gerutuku dalam hati tapi tetap harus aku lakukan sebagai balas budiku kepada Tante Ida.
Kulihat Om Edi juga sudah bangun dari tidurnya, dia hanya menatapku tersenyum ketika aku sedang membersihkan meja makan.
"Kenapa lagi Om Edi senyum-senyum sendiri, dasar Om Edi *****," bathinku melihatnya keluar kamar dan ada perasaan takut karena ulahnya semalam.
Ingin rasanya aku mengadu ke Tante Ida atas perilaku Om Edi kepadaku semalam. Tetapi terlalu banyak yang aku pikirkan. Bagaimana kalau Tante Ida nanti marah terhadapku? Atau Tante Ida malah marah ke Om Edi? Paling buruk lagi bagaimana kalau mahligai pernikahan mereka harus kandas karenaku.
aku tidak mau melihat Tante Ida sedih karena Tante Ida sudah terlalu baik terhadapku. Akhirnya aku pun memutuskan untuk diam.
Usai sarapan bersama, tante ida pamit untuk berangkat kerja karena masih harus mengurus persiapan murid baru.
__ADS_1
"Qiana, mba narti hari ini izin ga masuk kerja, jadi kamu sementara yang jagain dinda ya." perintah tante ida.
"apa lagi ini, sekarang aku juga harus jadi baby sitter." bathinku menjerit tetapi aku hanya bisa mengangguk tanda setuju tanpa berani mengeluh.
Akupun memulai dengan memandikan Dinda. Dinda yang tidak mau diam pun membuatku sedikit kewalahan karena baru pertama kalinya aku harus memandikan anak kecil. Kemudian aku memakaikannya pakaian yang cantik dan lucu menurutku, karena melihat koleksi pakaian Dinda yang lucu-lucu membuatku sedikit bingung. Akhinya kupakaikan baju pilihanku ke dinda. Dan benar saja, dinda menjadi gadis mungil yang lucu dan menggemaskan dan membuatku menyukai sosok malaikat kecil ini.
Jadwal berikutnya adalah memberikannya sarapan, aku pun menyuapi Dinda dengan bubur bayi sehat yang sudah dibuat oleh Tante Ida sendiri.
"Wah benar-benar Tante hebat sekali dalam mengurus rumah tangganya, dia tidak mau memberikan makanan yang sembarangan untuk keluarganya." gumamku semakin bangga terhadap Tante Ida.
Selesai menyuapin Dinda, aku melihat Om Edi keluar dari kamarnya dengan mengenakan pakaian seragam dinasnya. Seragamnya yang hampir ketat di tubuhnya memperlihatkan sedikit otot-otot ditangan Om Edi.
"Om Edi pun mulai mendekat ke arahku,
"Dinda hari ini cantik banget, sayang." puji Om Edi kepada Dinda yang berada di sampingku.
"Gendong ayah," rengek Dinda manja, dan Om Edi pun mengangkat tubuh Dinda dan menggendongnya. Dinda yang diperlakukan seperti itu terlihat sangat gembira. Apa lagi saat Om Edi memberikan ciuman tanpa henti ke seluruh wajahnya. Terdengar gelak tawa dari mereka berdua.
__ADS_1
Om Edi pun menurunkan Dinda, "Anak ayah semakin berat ya. Ayah cape gendong Dinda. Nanti Dinda pijitin Ayah ya," kata Om Edi saat menurunkan Dinda dan agar Dinda tidak terus merengek untuk di gendong. Karena waktu yang mengharuskan Om Edi untuk pergi bekerja.
"Oke, Ayah." jawab dinda dengan polosnya.
****
Pagi-pagi ketika Tante Ida membangunkanku,
akupun turun kebawah mengikuti Tante Ida.
akupun memberanikan diri untuk bertanya, "Tante, kenapa Mba Narti tidak disuruh masak?" tanyaku.
"Memang kenapa? kamu ga mau memasak?" tanya tante ida kepadaku.
"Bukan begitu Tan, aku kan tidak pandai memasak." jelasku yang tidak enak hati kalau harus terus menerus bertanya cara memasak.
"Ini tante lakukan buat bekal kamu kelak berumah tangga. kamu harus bisa melayani suami kamu dengan masakan masakan yang enak." jelas Tante Ida yang membuat ku tak bisa berkata-kata lagi tentang tante ida.
__ADS_1
****
maaf, aku sensor dikit cerita'y....