
Karena sekarang sedang liburan, Tante Ida sepertinya enggan memberikan ku waktu untuk beristirahat. Karena Mba Narti minta izin libur kerja.
Setiap hari Tante Ida selalu menyuruhku melakukan semua pekerjaan rumah rumah, dari pagi.
Sepertinya Tante Ida tidak menyukai jika aku terlihat santai.
"Na, tolong kupasin wortel-wortel ini semua," perintah Tante Ida saat aku sedang menonton televisi bersama Dinda dan Adit.
"Iya," hanya itu jawabku. Aku tak berani membantah bahkan mengeluh seperti diriku yang dahulu aku menahannya.
Selesai menggerjakan tugas yang diberikan Tante Ida, aku berencana akan naik ke atas ke kamarku saja, tetapi lagi dan lagi Tante Ida selalu memerintahku melakukan sesuatu.
"Andai, Tante Ida adalah orangtuaku sudah pasti aku akan mengeluh bahkan marah," gerutuku dalam hati dan hanya bisa mengeluh dalam hati.
*****
"Ma, jalan-jalan dong ma," rengek Adit kepada Tante Ida saat siang hari.
__ADS_1
"Mama ada arisan sama ibu-ibu komplek nanti sore, nanti saja ya kalau ayah libur, biar bisa jalan sama-sama," kata Tante Ida mencoba menjanjikan.
"Tapi masih lama ayah libur kerja, harus tunggu hari minggu kan masih lama ma," lanjut rengek Adit.
"Ya sabar dong sayang," kata Tante Ida.
"Ya sudah, Adit pergi saja sendiri saja sama teman-teman adit," kata Adit sedikit mengancam.
"Jangan dong sayang, Mama mana bisa biarin kamu pergi sama teman-teman kamu yang sama-sama masih kecil," kata Tante Ida mencari alasan menolak ajakan Adit.
"Iya, anak mama memang sudah besar tapi mama takut terjadi sesuatu sama kamu dijalan kalau tidak ada mama," kata Tante Ida mulai sedikit sedih, air matanya hampir menetes.
"Ma, kalau Adit selalu dalam pengawasan mama, kapan Adit akan belajar menghadapi masalah? Adit sengaja mau sekolah di pondok pesantren biar mama berubah, diluar sana ga seburuk itu mama selama aku bisa menjaga diri," kata Adit yang selalu aku ingin sampaikan kepada Tante Ida.
"Ya sudah tapi pergi sama kak Ana saja ya," kata Tante Ida dengan suara yang terdengar sedikit parau. Aku sendiri bingung, sebagai seorang guru, seharusnya Tante Ida jauh lebih paham tentang ini mungkin karena kecintaan kepada anak-anaknya sepertinya telah menghilangkan akal pikirnya.
"Terima kasih, Ma," kata Adit sembari memeluk Tante Ida.
__ADS_1
Tante Ida pun membiarkan kami pergi dan tak lupa memberikan uang jajan untuk Adit. Tante Ida memberikan Adit uang sejumlah lima ratus ribu sedangkan aku hanya seratus ribu. Ya lagi-lagi aku hanya bisa bersyukur dengan pemberian Tante Ida setidaknya selama ini aku mempunyai uang simpananku sendiri dan bisa untuk tambahan jika aku ingin membeli sesuatu disana.
Aku dan Adit pun pergi hanya berdua saja, kami memutuskan untuk pergi ke mall yang lumayan besar di jakarta. Selama setahun terakhir, aku pergi ke mall hanya beberapa kali saja. Itu pun bersama Tante Ida dan Om Edi untuk belanja kebutuhan keluarga.
Disana aku dan Adit seperti anak dari desa yang baru pertama kali masuk ke mall jakarta. Aku selalu mengikuti kemana Adit pergi untuk menjaganya seperti pesan Tante Ida kepadaku.
"Kak Ana, aku mau pergi main dulu ya disana," kata Adit menunjuk ke sebuah tempat bermain.
"Kak Ana kalu masih mau lihat-lihat baju, Adit kesana sendiri saja juga gak apa-apa kak," sambung Adit saat melihatku yang masih asyik melihat-lihat pakaian.
"Sudah, Kak Ana ikut Adit saja ya," kataku.
"Gak usak Kak, Adit gak kemana-mana! Adit cuma mau main disana saja. Kak Ana disini saja kalau sudah selesai baru kesana cari Adit. Adit takut nanti Kak Ana bosan lihat Adit main disana," kata Adit menyakiniku.
"Ya sudah, tapi janji ya jangan kemana-mana, nanti kalau ada apa-apa sama kamu, Kak Ana nanti yang dimarahi mama kamu!" ancamku kepada Adit.
******
__ADS_1