
Aku yang hanya berani memandanginya dari belakang. Terus menatapnya kembali berjalan menuju ke arah teman-temannya. Senang rasanya dapat melihat Kak Fian bercanda-gurau dengan teman-temannya. Memiliki banyak teman dan dapat berkumpul-kumpul sesuai kemauan mereka, berbeda jauh denganku yang selalu dikekang oleh keluarga Tanteku.
Mungkin Kak Fian menghampiriku hanya karena kasihan melihatku jalan sendirian. Andai aku seperti nurul yang mudah bergaul, mungkin Kak Fian juga akan cepat akrab denganku. Tetapi aku hanyalah gadis yang kaku, jika ada yang bertanya sedikit saja sudah membuatku gemetar, menundukan kepala, dan tidak berani menatap matanya langsung. Tapi sudah disapa Kak Fian saja sudah membuatku bahagia tak karuan.
*********
Ketika aku sampai rumah, seperti biasa Dinda hanya mau tidur siang bersamaku mungkin karena Dinda yang sepertinya sudah nyaman bersamaku. Aku tidak ingin kejadian kemarin terulang kembali, sehingga ketika Dinda sudah mulai terlelap akupun langsung keluar kamar Tante Ida.
Aku melihat Mba Narti sedang menyetrika pakaian, akupun menghampirinya dan duduk di dekatnya. Disela-sela pekerjaaanya, Mba Narti mengajakku berbincang.
"Betah neng disini?" tanya Mba Narti padaku saat sedang asyik menonton televisi.
"Iya dibetah-betahin saja, Mba. Daripada nanti di kampung ga bisa lanjut sekolah," jawabku jujur. Dan Mba Narti pun mengangguk seakan-akan mengerti dengan yang aku ucapkan.
"Tring," tiba-tiba ponselku berbunyi tanda ada pesan masuk. Aku pun mengambil ponsel yang sedari tadi ada disakuku dan membaca isi pesannya yang ternyata dari Arin. Arin memberitahukan sosial media milik Kak Fian.
"Buat apa?" balasku penasaran.
"Ya buat pdkt lah," jawab chat Arin.
"Mank siapa yang suka sama kak fian?" balasku karena aku belum pernah cerita soal rasa kagumku pada Kak Fian.
"Kamu lah." tambah emotion ketawa balas chat Arin.
"Kata siapa?" kataku mengelak.
"Kata mata kamu" emoticon ketawa puas.
"Masa sih?" balasku tidak mau mengaku.
"Iya, soalnya kamu paling ga berani menatap mata Kak Fian langsung," balas pesan Arin
__ADS_1
"Biasa saja sih," balasku agar Arin tidak tahu perasaannya.
"Ya sudah lah, terserah kamu deh. Pokoknya aku sudah kasih sosmed Kak Fian." balas Arin dengan emoticon sedih.
Akupun mulai penasaran dan membuka akun sosmedku, ku mencari nama Alfiansyah Fian. Ku mencari nama yang cocok dengan fotonya. Ketika aku menemukannya, kulihat dia berulang tahun tanggal 25 oktober. Dan kulihat beberapa foto-foto digalerinya sebelum aku mengenalnya. Foto-foto Kak Fian membuatku tersenyum sendiri, melihat gaya kocak Kak Fian bersama teman-temannya. Dan aku pun melihat beberapa status diberanda miliknya.
Tanggal 15 juni pukul 06.40
Kembali ke sekolah..
Semangat !!!
Tanggal 15 juni pukul 11.30
Heii kamu...
Kenapa kamu mengalihkan perhatianku??
Tanggal 16 juni pukul 10.00
Melihatmu berbeda dengan yang lainnya,
I like...
"Jangan-jangan Kak Fian lagi suka sama seseorang?" lagi lagi aku dibuat penasaran dengan update statusnya yang tidak memberikan penjelasan yang lengkap.
Tanggal 16 juni pukul 13.20
Ku beranikan diri untuk menyapamu.. Walau sesungguhnya mulut ini tak mampu berkata-kata dihadapanmu..
"Hmmm, sepertinya kak fian sudah punya gebetan!" pikirku.
__ADS_1
"Ya sudahlah." Dan aku pun menutup akun sosmed ku lagi dan melanjutkan menonton televisi lagi. Aku melihat mba narti hampir menyelesaikan pekerjaannya menyetrika pakaian.
"Mba mau lanjut beres-beres dulu ya, neng," ujar Mba Narti ketika ia telah menyelesaikan setrikaannya yang menumpuk.
"Iya, Mba." kataku sembari menganggukan kepala kepadanya.
"Tring," bunyi pesan dari ponselku lagi.
"Apaan Lagi sih?" gumamku saat kupikir adel yang kembali mengirimiku pesan.
Dan ketika aku membaca pesan yang ternyata dari Om Edi.
Aku mengernyitkan keningku bingung dengan maksudnya.
"Jangan lupa mencukur rambut bawahnya ya sayang," isi pesan Om Edi. Aku yang tak mengerti maksudnya pun memilih untuk tak membalas pesannya lagi.
"Kringgggg..." tak lama ponselku kini berdering dan kulihat di layar ponselku tertera nama Om Edi disana.
"Tapi jangan-jangan Om Edi hanya sedang bercanda saja." gumamku dalam hati.
"Apaan sih, Om? jawabku ketus.
"Kamu jangan lupa ya cukur rambut bawah kamu." sambungnya lagi. Ini membuatku semakin kesal, marah dan malu menjadi satu, akupun tak menjawabnya dan langsung mematikan ponselnya.
"Rambut apaan sih? dasar ga jelas! dasar Om mesummm" jawabku kesal dan membanting bantal yang ada di sofa.
"Ada apa, Neng?" tanya Mba Narti saat melihatku membuang semua bantal ke lantai.
"Ga ada apa-apa, Mba?" jawabku malu karena perbuatanku sedari tadi dilihat Mba Narti
Saat malam datang, seperti sebuah keharusan aku memeriksa kembali kunci jendela dan pintu. Aku meminimalisir kemungkinan untuk Om Edi masuk kedalam kamarku lagi.
__ADS_1
"semoga tidak terjadi apa-apa terhadapku seperti yang aku bayangkan." doaku sebelum tidur.