
malam semakin larut, om edi yang mengantar tante ida ke sekolah pun belum juga pulang.
"mau bobo kak." rengek dinda membuatku semakin gusar.
"dinda bobo sama kak ana saja yuk di atas." rayuku yang sebenarnya aku yang ketakutan.
"ga mau, kamar kak dinda ga ada ac." jawanya polos.
"tapi dibawah ga ada mama lho, mama kan lagi pergi." lanjut merayu dinda agar mau tidur menemaniku.
"ya sudah, kakak bobo di bawah saja temenin aku." jawabnya lagi yang membuat aku kaget.
"ga boleh dong de, nanti ayah bobo dimana?" tanyaku lagi.
"ya ayah bobo bareng dinda lah." jawabnya lagi yang membuatku semakin pusing.
"ya sudah kakak temenin kamu bobo." berpikir kalau dinda sudah tidur, dia akan keluar kamar dan naik ke kamarnya sendiri.
akupun mengelus-elus dan menepuk-nepuk punggung dinda agar cepat terlelap. dan benar saja, dinda tak lama sudah tertidur. aku pun keluar kamar, menuju kamarku. tapi bunyi mobil om edi mengagetkanku.
__ADS_1
"tok.. tok.." suara om edi mengetuk pintu.
"memangnya om edi ga bawa kunci rumah apa ya? padahal mobil sudah masuk garasi koq, ahh biarin sajalah." gumamku dalam hati dan kembali naik ke atas.
"tok.. tok.." suara om edi mengetuk pintu lagi dan lagi. dan akupun akhirnya turun kembali untuk membuka pintu depan.
"kenapa sih lama sekali buka pintunya?" tanya om edi saat ku buka pintunya.
"memang om edi ga bawa kunci?" aku berbalik bertanya.
"ketinggalan kunci rumahnya." jawabnya singkat. akupun bergegas masuk kedalam, tapi sebuah pelukan dari belakang menahanku.
"Om, jangan seperti ini. Aku adalah keponakan om. Om tidak seharusnya berbuat seperti ini kepadaku." ucapku terus berusaha menolak perlakuan Om Edi kepadaku.
Akhirnya Om Edi melonggarkan pelukannya kepadaku, dan aku pun tanpa berpikir segera melepaskan diri dari pelukan Om Edi. Aku segera pergi dan menaiki tangga menuju kamarku.
Aku mengunci rapat pintu dan jendela segera setelah aku memasuki kamarku. Aku berharap Tante Ida segera pulang walaupun itu tidak mungkin terjadi.
Memikirkan hanya akan bertiga bersama Om Edi dan Dinda membuatku merasa tidak nyaman. Tapi aku harus berbuat apa, aku tidak mempunyai tujuan lagi jika aku pergi dari sini.
__ADS_1
Aku pun berusaha memejamkan mataku, berharap malam ini berlalu dengan cepat. Aku merasa tidak aman berada serumah dengan Om Edi tanpa ada Tante Ida.
*********
Pagi pun menjelang, seperti biasa aku akan pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan, tetapi pikiranku pun kembali melayang. Mengingat kejadian semalam membuatku sedikit ketakutan, walau aku tahu perbuatan Om Edi bukan untuk yang pertama kalinya tapi sekarang disini tidak ada orang lain yang dapat menolongku jika terjadi sesuatu kepadaku.
Aku pun memutuskan untuk menunggu Mba Narti datang, sehingga aku merasa aman jika aku keluar kamar.
Tak lama setelah aku menunggu, terdengar suara bel berbunyi. Tak pernah aku melihat Mba Narti membunyikan bel, Mungkin karena Om Edi belum terbangun dari tidurnya sehingga pintu depan masih terkunci.
Aku pun memberanikan diri untuk keluar dari kamarku untuk melihat dari jendela, untuk melihat siapakah yang telah membunyikan bel dirumah. Dengan penuh kewaspadaan aku membuka pintu dan melihat sekeliling ruangan, untuk memastikan tidak ada sosok Om Edi disini.
Aku pun keluar ke balkon dan melihat kebawah, ternyata benar yang datang adalah Mba Narti.
"Mba, tunggu ya. Nanti aku yang buka pintu," teriakku senang. Tidak pernah aku sesenang ini bertemu dengan Mba Narti.
******
maaf ya cerita sedikit berubah...
__ADS_1